Seminar Desain dalam lndustri Kreatif

Planning and explanation of the task, the concept of product design, product design forms, and design detail. ... tenda lainnya, secara modular...

0 downloads 5 Views 3MB Size
Seminar Desain dalam lndustri Kreatif

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Desain Rancang Bangun Dapur Umum Protable Dalam Penanggulangan Bencana Alam 1

Andi Farid Hidayanto1, Anna Rulia2 Program Studi Desain Produk, Jurusan Desain, Politeknik Negeri Samarinda 2 Program Studi Arsitektur, Jurusan Desain, Politeknik Negeri Samarinda Jl. Ciptomangunkusumo, Samarinda, 75131Telp 0541260588 [email protected], [email protected]

Abstract Indonesia is a disaster-prone areas. In disaster management, particularly in meeting the needs of the dining logistics for the victims and officials needed a common kitchen. Soup kitchen that exists today is generally in the form of tents, houses (buildings) were used as shelters, or modified car. Common kitchen there is an emergency nature, improvise and location could not approach the scene.These problems need to be in the design of a common kitchen for natural disaster management, which can meet the needs, the officer and the victim. In designing the common kitchen is done with methods Pahl and Beitz in designing products with the steps that Planning and explanation of the task, the concept of product design, product design forms, and design detail. For data collection using the Individual Questionnaire and Focus Group Discussion that this result will be obtained attributes required in the design.Results of the research is a common kitchen design for portable natural disaster easily assembled and disassembled, can be erected at the site of diverse, easy to operate, and is able to accommodate facilities and needs.Common kitchen design produced in the form of large-scale three-dimensional model, a blueprint for the technical specifications, and the protoype. The soup kitchen design can accommodate logistics taste, room for officers, protected from external environmental conditions, and can be placed in a location close to the scene.

Keywords: natural disasters; design; soup kitchen; portable

Abstrak Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Dalam menangani bencana, utamanya dalam pemenuhan kebutuhan logistik makan untuk para korban dan petugas diperlukan dapur umum. Dapur umum yang ada saat ini umumnya berupa tenda peleton, rumah (bangunan) yang dijadikan posko, atau mobil yang dimodifikasi. Dapur umum yang ada sifatnya darurat, seadanya dan lokasinya tidak bisa mendekati tempat kejadian. Dari masalah tersebut perlu didesain dapur umum untuk penanggulangan bencana alam, yang bisa memenuhi kebutuhan, petugas maupun korban. Dalam mendesain dapur umum ini dilakukan dengan metode Pahl dan Beitz dalam perancangan produk dengan langkah-langkah yaitu Perencanaan dan penjelasan tugas, Perancangan konsep produk, Perancangan bentuk produk, dan Perancangan detail. Hasil dari penelitian berupa desain dapur umum untuk penanggulangan bencana alam yang portable mudah dirakit dan dibongkar, bisa didirikan di lokasi yang beraneka ragam, mudah dioperasikan, serta mampu menampung fasilitas dan kebutuhan. Desain dapur umum yang dihasilkan dalam bentuk model tiga dimensi berskala, blue print spesifikasi teknis, dan protoype. Desain dapur umum ini mampu menampung logistik secukupnya, ruang untuk petugas, terlindungi dari kondisi lingkungan luar, dan bisa ditempatkan di lokasi dekat kejadian. Kata-kata kunci : bencana alam, desain, dapur umum, portable.

DS| 1

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

1.Pendahuluan Indonesia merupakan daerah rawan bencana. Akhir-akhir ini sering terdengar berita bencana yang melanda di wilayah Indonesia. Antara lain banjir, kebakaran, gempa, gunung meletus, longsor, kecelakaan di sungai, daerah terisolir, kerusakan alam akibat tambang. Dalam menangani penanggulangan bencana, seperti dalam pemenuhan kebutuhan logistik, utamanya makan untuk para korban dan petugas, diperlukan dapur umum. Dapur umum untuk penanggulangan bencana alam yang ada saat ini biasanya dari tenda peleton, rumah/posko yang dijadikan dapur atau mobil lapangan. Pendirian dapur umum saat ini masih dianggap seadanya, seperti tenda yang diikat ke pohon, rumah penduduk yang dijadikan posko, atau mobil terbuka. Dapur umum yang ada juga belum bisa menampung fasilitas pendukung, misalnya ruang istirahat, peralatan, tempat logistik, dan ruang beraktifitas. Dimensi dan ruang dapur umum juga terbatas sehingga gerak aktiftas tidak leluasa. [1] Lantai dapur umum yang ada sekarang umumnya kontak langsung dengan tanah dan tidak terlindungi dari efek hujan, becek, tanah gembur dan tanah tidak rata. Akibatnya lantai mudah kotor dan tidak higienis. Posisi petugas beraktifitas di dalamnya tidak ergonomis, sehingga jika dilakukan dalam jangka waktu lama tidak nyaman dan menimbulkan kelelahan [2]. Karena bersifat darurat, pendirian dapur umum mengutamakan kecepatan yang sering tanpa diimbangi persiapan matang. Tidak jarang fasilitas yang ada tidak memadai dan ribet dalam penataan peralatan[3]. Pendirian dapur umum juga jauh dari lokasi bencana, karena tidak bisa dirakit di tempat kejadian bencana. Dari kondisi tersebut diperlukan dapur umum untuk bencana, dimana dapur umum tersebut bersifat kompak, mudah dalam pengoperasian, dapat dipindah-pindah, mampu menampung peralatan yang diperlukan, dan fasilitas yang dibutuhkan petugas. Dapur umum bisa dikomposisikan dengan tenda – tenda lainnya, secara modular. Dapur umum hasil desain bisa diaplikasikan untuk beberapa pengguna, antara lain pemerintah daerah, PMI, Dinas Sosial, dan lembaga yang berkepentingan dengan dapur umum. Dapur umum yang didesain bersifat portable, sehingga bisa dikirim ke tempat yang memerlukan. Proses pembuatannya bisa di industri manufaktur sederhana, sehingga bisa diproduksi massal untuk menekan biaya produksi.

2. Bahan dan Metode Penelitian Perancangan merupakan kegiatan awal dari usaha merealisasikan suatu produk yang kebutuhannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Setelah perancangan selesai maka kegiatan yang menyusul adalah pembuatan produk. Kedua kegiatan tersebut dilakukan dua orang atau dua kelompok orang dengan keahlian masing-masing, yaitu perancangan dilakukan oleh tim perancang dan pembuatan produk oleh tim kelompok pembuat produk. Dalam merancang dapur umum untuk bencana alam ini penulis menggunakan metode dan langkah-langkah desain dari Pahl, dkk [4]. Cara merancang tersebut terdiri dari 4 kegiatan atau fase, yang masing-masing terdiri dari beberapa langkah yaitu: 1. Perencanaan dan penjelasan tugas 2. Perancangan konsep produk 3. Perancangan bentuk produk (embodiment design) 4. Perancangan detail Setiap fase proses perancangan berakhir pada hasil fase, seperti fase pertama menghasilkan daftar persyaratan dan spesifikasi perancangan. Hasil setiap fase tersebut kemudian menjadi masukan untuk fase berikutnya dan menjadi umpan balik untuk fase yang mendahului. Perlu dicatat pula bahwa hasil fase itu sendiri setiap saat dapat berubah oleh umpan balik yang diterima dari hasil fase-fase berikutnya.

3. Hasil dan Pembahasan Dalam mendesain tenda dapur umum ini ditentukan dulu kriteria-kriteria desainnya. Hal ini digunakan sebagai acuan desain yang akan dihasilkan. Adapun kriteria tersebut yaitu:

DS| 2

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

a. b.

c. d.

e. f.

g.

Material. Dapur dari metarial yang aman. Tidak mudah terbakar, tidak mudah sobek. Mudah didapatkan di pasaran. Ruang. Dimensi cukup memenuhi untuk beraktifitas petugas di dalamnya. Mampu menampung logistik dan peralatan memasak. Tersedia ruang terbuka dan ruang tertutup untuk hal-hal yang tidak diakses oleh umum. Proses produksi. Dapur bisa diproduksi di industri manufaktur sederhana Alur sirkulasi. Dapur mempertimbangan faktor ergonomi, serta ruang sirkulasi keluar masuk, alur beraktifitas di dalamnya. Memiliki area pandang yang bebas, serta memberikan kenyamanan. Tersedia sirkulasi udara, sehingga suhu di dalamnya nyaman untuk aktifitas. Tanda/sign. Dapur memiliki tanda-tanda yang menunjukkan dapur, area, serta papan penunjuk yang diperlukan Pemasangan. Tenda didesain mudah untuk dibongkar/pasang. Tenda terdiri dari beberapa komponen, yaitu alas, kerangka, badan tenda. Tenda juga bisa dirangkai dengan tenda sejenis di sebelahnya, bila komposisi terdiri dari beberapa tenda. Dapur bersifat mobile dan portable, agar bisa dikirim ke lokasi dengan medan berbagai kondisi. Desain. Dapur umum memiliki unsur estetika (desain) yang indah sesuai kaidah desain yang baku.

Dalam desain dapur umum perlu didata aktiftas yang terjadi di dalamnya. Dari aktifitas-aktifitas tersebut akan diperoleh kebutuhan yang diperlukan. Beberapa aktifitas tersebut antara lain: Tabel 1. Aktiftas di dapur No

Aktifitas

Kebutuhan

1

Keluar/masuk tenda

Pintu

2

Jalan, jongkok

Area sirkulasi

3

Duduk, berdiri

Kursi, area sirkulasi

4

Mengambil, menaruh barang

Lemari, rak, meja

5

Mengambil, membuang sampah

Tempat sampah

6

Melihat tanda

Tanda petunjuk

7

Proteksi dari tanah

Alas, lantai

8

Memasak

Perkakas dapur

9

Meracik

Perkakas dapur

10

Mendirikan/membongkar dapur

System

11

Menyimpan dapur

System

Dari aktifitas tersebut akan didapat data kebutuhan dalam dapur yang memerlukan fasilitas. Kebutuhan tersebut bisa merupakan bagian dari desain dapur, namun bisa juga bukan dari desain dapur. Tentunya dengan menempatkan fasilitas dalam dapur, dan fasilitas tersebut diperoleh dari luar. Sehingga fasilitas tersebut bukan merupakan bagian dari desain dapur umum. Fasilitas tersebut antara lain: meja, kursi, tempat sampah, perkakas memasak.

DS| 3

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 1. Acuan dimensi ruang

No 1 2 3 4 5

Kode A G K M N

Tabel 2. Acuan dimensi ruang Keterangan Jarak antar peralatan Jangkauan tangan Lebar meja kerja/jarak perkakas ke dinding Jarak sirkulasi Tinggi meja kerja

Dimensi (cm) 121,9 min 200 61 – 66 76,2 88,9 – 91,4

Dalam mendesain produk, pertama yang ditekankan adalah penentuan konsepnya. Karena dari konsep ini, semua unsur desain akan mengancu pada konsep tersebut. Selanjutnya dilakukan desain awal, yang terdiri dari beberapa alternatif desain. Dari beberapa alternatif desain, dipilih satu desain terpilih. Selanjutnya desain terpilih tersebut dikembangkan sehingga menjadi desain final. Desain final tersebut dilengkapi spesifikasi teknis baku agar bisa diproduksi. Dari beberapa alternatif desain, terpilih desain final seperti gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Beberapa Kombinasi desain

Dari desain terpilih, disusun beberapa alternatif konfigurasi ruang dalam dapur umum (lay-out) atau blocking area yang menunjukkan penempatan/akomodasi aktifitas dan fasilitas di dalamnya. Alokasi

DS| 4

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

blocking area mengacu pada data ergonomi untuk menentukan dimensi-dimensinya. Konfigurasi

ruang tersebut seperti ditunjukkan dalam gambar 3 di bawah ini:

Gambar 3. Lay-out ruang Dari blocking area, dikembangkan area sirkulasi aktifitas di dalamnya. Dilanjutnya dengan penentuan ukuran dimensi baku sesuai acuan data anthropometri serta toleransinya. Maka didapatkan ukuran teknis produk hasil desain. Hasil desain produk tersebut bisa dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 4. Tampak Atas

Gambar 6. Isometri produk

Gambar 5. Tampak samping

Gambar 7. Konstruksi tenda

DS| 5

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 8. Model skala produk Pemberian warna pada produk merupakan hal mutlak sebagai bagian dari desin. Dengan penggunaan warna maka produk akan dikenali oleh konsumen. Baik bentuk, kegunaan, fungsi, kepemilikan. Pemberian warna meliputi warna produk, asesoris (grafis), tanda-tanda (sign) petunjuk, keterangan, label. Pemberian warna tersebut yaitu: 1. Bodi. Menggunakan warna yang cerah, mudah dilihat. Bodi meliputi dinding, atap. Warna yang cerah antara lain putih, oranye, hijau toska. Dalam hal ini digunakan warna oranye, sebagai pertimbangan warna ini lazim dipakai oleh badan penangggulangan bencana. Warna oranye mudah dilihat, tidak menyilaukan mata, memancarkan cahaya, sehingga cepat menarik perhatian. Bersifat hangat. 2. Kerangka menggunakan warna Material sendiri yang diekspos, yaitu warna galvanis. Untuk penguat dinding menggunakan warna mirip kerangka. 3. Ilustrasi dan tanda. Dalam tenda diberi ilustrasi dan tanda-tanda sebagai petunjuk. Tanda-tanda tersebut bisa menjadi bagian dari tenda, atau bisa berdiri sendiri yang diletakkan di dalam tenda. Tanda petunjuk tersebut umumnya adalah: masuk, keluar, tempat sampah, tempat cuci, awas bahaya api, dan lain-lain. Diberi Lambang institusi sebagai identitas bahwa produk ini didesain oleh institusi yang bersangkutan. Lambang PMI dan tulisan “Dapur Umum” sebagai identitas fungsi produk tersebut. Dalam produk dapur umum ini material penyusunnya, yaitu: 1. Lantai, menggunakan flooring sebagai alas dengan system puzzle knockdown, sehingga mudah dibawa dan dibersihkan. Dimensi flooring adalah panjang 60 cm, lebar 60 cm, dan tebal 5 cm. lebar dan panjang lantai ini disesuaikan dengan dimensi keramik yang ada, sehingga bila kondisi tertentu bisa diganti dengan keramik yang ukurannya umum di pasaran. 2. Dinding, kain. Material untuk dinding dari kain. Kain yang tersedia antara lain terpal jenis Uno, nylon, Terpal Plastik /Tarpauline Plastic. Bahan yang dipakai adalah terpal jenis Uno. Bahan jenis ini memiliki jaringan serat kuat, dan tahan terhadap jamur. 3. Atap. Bahan untuk atap sama dengan bahan untuk dinding, karena dapurnya jenis tenda. 4. Kerangka atap. Kerangka atap menggunakan pipa hollow 25 mm. 5. Kerangka dinding. Menggunakan pipa hollow 45mm, disusupi pipa hollow 40mm, supaya bisa disetting tinggi rendahnya. 6. Kerangka penguat. Menggunakan pipa hollow 25mm. Hasil desain dapur umum berupa prototype produk yang ini mudah untuk dirangkai, mudah dirakit, bisa didirikan di lokasi dekat bencana, mampu mengakomodasi kebutuhan dan aktifitas petugas.

DS| 6

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Dengan bentuk yang modular sehingga portable, mudah dibawa untuk didistribusikan. Diharapkan dengan konstruksi ini mudah untuk perawatan sehingga menekan biaya perawatan.

Gambar 9. Prototype produk

Gambar 10. Prototype produk 4. Kesimpulan Salah satu unsur dalam manajemen penanggulangan bencana alam adalah dapur umum. Dapur umum digunakan untuk mobilisai bantuan berupa penyaluran kebutuhan makanan dan logistik. Ada bermacam-macam jenis dapur umum, dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dari penelitian ini dihasilkan desain dapur umum untuk bencana alam. Dapur umum yang dihasilkan dalam bentuk tenda, karena bentuk tenda memiliki beberapa kelebihan. Antara lain, mudah dipasang, mudah dibongkar, portable, modular, bisa didistrubusikan ke lokasi bencana. Dapur umum ini bisa dikombinasikan beberapa dapur sejenis membentuk formasi bangunan sesuai kondisi dan kebutuhan di lapangan. Tentunya bentuk dengan sifat dan konsep ini masih memerlukan beberapa pembenahan agar lebih sempurna. Dapur umum perlu penyempurnaan dengan bahannya yang lebih kuat, susunan kerangkanya, sistem perakitannya, serta strukturnya, sehingga mudah diterjemahkan oleh industri manufaktur untuk diproduksi massal. Warna interior dapur diberi warna yang menyejukkan, bukan warna terang seperti warna luar, karena membikin mata cepat lelah, dan terkesan panas.

DS| 7

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Daftar Pustaka [1] Sulistiyanto, Arie, 2009. Desain Dapur Umum Dengan Konsep Kompaktor, Jurnal Desain Idea, Vol 7. No. 2, 2009 [2] Setya, Setya, 2013, Desain dapur Umum Untuk Penanganan Bencana Alam Dengan Konsep Modulwww.digilib.its.ac.id/Terbit Setya/Desain dapur Umum Untuk Penanganan Bencana Alam Dengan Konsep Modul.htm, diakses 10 Agustus 2015 [3] Syahputra, Dyat Agung, 2013, Desain Dapur Umum untuk Pasca Bencana Dengan Konsep Karavan, www.digilib.its.ac.id/Dyat Agung Syahputra/Desain dapur Umum Untuk Pasca Bencana Dengan Konsep Karavan.htm, diakses 10Agustus 2015 [4] Pahl, G., Beizt, W., Feldhusen, J., Grote, Karl-Henrich, 2007. Engineering Design: A Systematic Approach. Springer Verlag, London.

DS| 8

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Analisis Potensi Karakteristik Material Pada Permainan Tradisional Wayang (Gogolekan) Berbahan Baku Ranting Daun Singkong Dedy Ismail Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 [email protected]

Abstrak Lazimnya wayang sebagai permainan anak-anak, mainan ini mempunyai keunikan, tidak seperti wayang yang dipakai dalam pertunjukan yang berbasis material kayu atau kulit. Bentuk dan permainan wayang berbahan baku tangkai daun singkong cenderung mempunyai karakter khas yang muncul dari material tersebut, terinspirasi dari wayang pertunjukan. Permainan wayang berbahan tangkai daun singkong mempunyai kearifan lokal (local genuine) yang telah muncul sejak dulu dimasyarakat dan disampaikan secara turun menurun, sehingga menjadi hiburan anak-anak diwaktu senggang dengan memanfaatkan bahan baku yang ada disekitarnya. Menurut Keraf (2002) menegaskan bahwa kearifan lokal adalah semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman atau wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntun perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Dengan dasar pengetahuan tersebut, penelitian ini berupaya menggali potensi material yang dipakai dalam mainan wayang berbahan baku tangkai daun singkong sebagai objek analisis. Untuk tujuan tersebut, dalam penelitian ini digunakan pendekatan qualitatif untuk menelusuri potensi material dengan keterampilan lokal dalam kemampuan proses pemilahan bahan baku dan pengolahan tangkai daun singkong menjadi mainan tersebut. Hasil dari penelitian ini, dapat disimpulkan potensi material mainan wayang tangkai daun singkong mempunyai karakteristik fisik dengan bentuk batang kecil yang lentur dan empuk seperti gabus, serta karakteristik visual dari hasil perlakuan fisik dengan tekukan dan penumpukan yang menghasilkan sebuah bidang. Dengan hasil penelitian potensi material tangkai daun singkong diharapkan dapat dijadikan alternatif bahan baku dalam perancangan produk, selain mainan tradisional anak-anak. Kata-kata kunci : Budaya, Mainan Wayang, Tangkai Daun Singkong.

1. Pendahuluan Sumber daya alam di indonesia masih menyimpan potensi yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan dan dijadikan bahan baku industri, baik dari kawasan perhutanan, perkebunan, pertanian dan potensi alam lainnya. Disetiap daerah mempunyai kekhasan yang bersumber dari alam yang mempengaruhi masyarakat sekitarnya. Alam menjadi bagian hidup setiap aktivitas manusia, bahkan bisa dijadikan inspirasi bagi masyarakat, contohnya dalam permainan tradisional. Selama ini permainan tradisional sudah banyak diteliti oleh banyak orang, karena mempunyai dampak positif terhadap anak-anak baik secara fisik dan psikis, serta mempunyai nilai-nilai moral yang secara tradisi disampaikan dan diterapkan kepada anak-anak secara turun menurun. Namun masih banyak yang belum digali secara menyeluruh mengenai permainan tradisional ini, yaitu media permainan yang sering memanfaatkan lingkungan atau alam sekitarnya sebagai bahan baku dalam permainan tersebut. Salah satu pemanfaatan bahan baku alam yang dipakai dalam permainan tradisional adalah ranting daun singkong sebagai mainan gogolekan atau wayang. Bahan baku ini termasuk yang mempunyai nilai pemanfaatannya sangat kecil dibandingkan dengan bagian utamanya seperti akar singkong dan daun yang dikomsumsi masyarakat, serta batang utama

DS| 9

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

yang dimanfaatkan kembali untuk ditanam. Bahkan ranting daun singkong menjadi limbah alam karena terlalu fokus pada akar singkong untuk dikonsumsi manusia sebagai bahan makanan pokok kedua setelah beras dan jenis olahan makanan lainnya. Dengan kondisi seperti ini, kita bisa coba gali kembali dengan melihat keterampilan lokal (local genuine), untuk memunculkan potensi yang ada dalam material ranting daun singkong tersebut, selain difungsikan sebagai mainan tradisional.

2. Metodologi Konteks persoalan diatas mengenai penggalian potensi lain dari material ranting daun singkong sebagai limbah alam yang dimanfaatkan saat ini sebagai mainan tradisional seperti wayang atau gogolekan. Memaknai hasil penelitiannya dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dengan pendekatan induktif. Proses dan makna lebih ditonjolkan dalam penelitian kualitatif. Penelitian ini fokus pada rumusan masalah, “Apakah pemanfaatan ranting daun singkong ini bisa digunakan menjadi alternatif produk selain mainan tradisional?”. Kemudian untuk menjawab rumusan masalah tersebut maka dapat diambil pertanyaan penelitian yang berguna, meliputi bagaimana sifat material batang daun singkong yang digunakan dalam mainan tradisional, bagaimana proses pengolahan bahan baku mainan tradisional dengan menggunakan ranting daun singkong, dan bagaimana mencari potensi lain ranting daun singkong. Hal ini dapat diketahui, berupa karakteristik material ranting daun singkong dengan ekperimen perlakuan fisik untuk memunculkan responsrespons positif yang keluar dari material tersebut, sehingga dapat diaplikasikan dalam konsep produk fungsional.

Gambar 1. Model Desain Produk Budaya Proses analisis material mainan tradisional gogolekan, dibagi menjadi 3 bagian analisis; (1) model konsep, (2) metode penelitian, dan (3) Proses Desain. Masing- masing tahapan tersebut dikorelasikan menjadi tahapan penelitian yang menekankan pada hasil penelitian dengan pendekatan kualitatif yang dibarengi metode pengembangan eksplorasi material, dengan menggali kreativitas dalam proses desain. Dengan menggali potensi budaya kita dalam memanfaatkan limbah alam dalam salah satu produk budayanya menjadi inspirasi untuk mengembangkan produk yang lebih baik secara proporsional. Proporsional disini dilihat dari karakteristik material yang dipakai dari hasil perlakuan

DS| 10

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

fisik dalam produk terdahulunya sehingga dapat diterapkan dalam fungsi yang lain, dengan mengamati produk budaya yang mempunyai kemiripan dalam memperlakukan bahan baku. Dengan hasil yang dicapai dalam tahap identifikasi objek tersebut, memunculkan hipotesa dalam bentuk gagasan awal dengan berbagai alternatif, baik dilihat dari fungsi, sistem atau penempatan produk, bahkan penggabungan dari ide-ide yang muncul.

3. Pembahasan Bahan baku mainan tradisional gogolekan merupakan mainan yang muncul karena spontanitas yang terbentuk secara kumulatif dari pengalaman individu atau kelompok masyarakat, sehingga memunculkan objek produk budaya yang dikemas dalam permainan, sehingga membentuk sebuah nilai (value) yang melekat pada perilaku suatu masyarakat. Dalam jurnal dalam jurnal lin, R. T., (2007) berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai material budaya (Moalosi, Popovic, & Hudson, 2004; Wu, Hsu, & Lin, 2004; K. Lee, 2004; Leong & Clark, 2003), di mana budaya dapat diklasifikasikan ke dalam tiga lapisan: (1) fisik atau materi budaya termasuk makanan, pakaian, dan benda-transportasi terkait, (2) sosial budaya atau perilaku - termasuk hubungan manusia dan organisasi sosial, dan (3) budaya spiritual atau ideal – termasuk seni dan agama. Ketiga lapisan budaya dapat dipasang ke tiga tingkat budaya ‘Leong’, yang diberikan di atas. Ketika material budayadapat dimasukkan ke dalam desain budaya (cultural design), tiga fitur desain dapat diidentifikasi, sebagai berikut: (1) Tingkat batin (inner level), yang berisi khusus konten seperti cerita, emosi, dan fitur budaya, (2) tingkat menengah, berurusan dengan fungsi, pertimbangan operasional, kegunaan, dan keamanan, dan (3) tingkat terluar (Outer Level), berurusan dengan warna, tekstur, bentuk, dekorasi, pola permukaan, kualitas saluran, dan detail1.

Gambar2. Tiga layer dan tingkatan objek budaya dan fitur budaya Sumber: Lin, R. T. (2007). International Journal of Design, 1(2), 45-53. Dengan dasar diatas, gogolekan bisa dianalisis melalui tiga tingkatan material budaya. Dengan hasil analisis tersebut membantu proses desain sehingga memunculkan gagasan awal mengacu pada karaktreristik material gogolekan. Namun dalam makalah ini penulis ingin mengkorelasikan antara metode analisis material yang dipakai dalam mainan tradisional gogolekan, untuk mengembangkan potensi lain dengan dasar material tersebut, sehingga tidak stagnan hanya satu fungsi produk. Dengan mengetahui karakteritik material yang muncul analisis produk mainan tradisional gogolekan, dapat diterapkan sistem tekukan atau lipatan yang ada dalam mainan tersebut dikorelasikan dalam bentuk yang berbeda sehingga menghasilkan fungsi yang lain. Karena dasar masyarakat di Indonesia,

DS| 11

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

terutama dalam produk kerajinannya, terkenal dengan berbagai macam ayaman dengan berbagai material. Salah satu korelasi dengan mainan gogolekan ini mempunyai kemiripan dalam melakukan perlakuan bahan bakunya atau material.

4. Kesimpulan Menurut Utami Munandar (2002), “kreativitas juga tidak berkembang dalam kebudayaan yang terlalu menekankan konformitas dan tradisi, dan kurang terbuka terhadap perubahan atau perkembangan baru”2. Dalam kalimat ini sangat berkaitan dengan penulisan makalah ini, menyimpulkan bahwa sebaik-baiknya karya produk budaya yang dihasilkan masyarakat tersebut dan menjadi sebuah simbol dan dijadikan komoditi suatu daerah, menjadi hanya sekedar ‘etalase’ yang lambat laun menghilang karena tergusur oleh globalisasi yang terus berkembang, sehingga berdampak pada stagnan dalam kreativitas, baik secara pikiran maupun dalam tindakannya. Hal tersebut jangan sampai terjadi pada karya-karya budaya kita yang sekarang terjebak pada ‘tradisi’, yang dikemas dalam paket parawisata. Pemanfaatan limbah alam dalam produk budaya mainan gogolekan merupakan hasil kreativitas yang dilakukan pendahulu kita, yang bisa kita terapkan dalam kondisi sekarang dengan memanfaatkan mulai dari fisik atau material budayanya, perilaku masyarakat dalam hubungannya dengan alam dan Penciptanya, serta nilai-nilai (value) yang terkandung dalam produk budaya tersebut. Menurut Muhammad Zaini Alif (2006) dalam mainan tradisionalnya, yang salah satunya adalah tentang gogolekan atau wayang, dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa bentuk dan jenis desain mainan rakyat yang ada di Indonesia berjumlah ratusan jumlahnya, dalam penamaan. Media dan alatnya pun berbeda tergantung keberadaan media yang ada dilingkungannya. Perbedaan keragaman dan kekayaan alam yang ada, menciptakan perbedaan permainan atau mainan yang ada di daerah tersebut. Pada masa anak-anak, gogolekan atau wayang tersebut merupakan permainan anak yang dimainkan ketika ikut bersama orang tuanya ke kebun atau ke sawah meskipun dengan menggunakan material yang berlainan³. Gogolekan yang selama ini dibuat untuk mengisi waktu luang anak-anak, menjadi potensi yang sangat besar ketika diterapkan dengan berbagai fungsi yang cukup beragam, sehingga tidak terpaku pada satu fungsi dan saja seperti, mainan tradisional. Dengan hasil analisis material ranting daun singkong yang mempunyai karakteristik fisik yang unik, dapat diterapkan dalam bentuk perupaan lain yang berbeda sehingga dapat diimplementasikan dalam fungsi lain dengan berbagai konsep (gagasan awal) mengacu pada karakter material tersebut. Hal ini bisa dikembangkan oleh produk budaya lainnya yang menghasilkan kreativitas yang manfaat melalui pengembangan produk baru.

Daftar Pustaka [1] Lin, R. T. (2007). Transforming Taiwan aboriginal cultural features into modern product design: A case study of a cross- cultural product design model. International Journal of Design, 1(2), 4553. [2] Munandar, U. 2002. Kreativitas dan Keberbakatan, Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. [3] Alif, Zaini, Agus Sachari, Ichsan. 2006. “Perubahan Dan Pergeseran Bentuk Mainan Anak Masyarakat Sunda”; Jurnal Rekacipta Volume II No. 2. Kelompok Keilmuan Desain & Budaya Visual-ITB. Bandung.

DS| 12

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Ipteks Bagi Masyarakat Usaha Kecil Menengah: Perancangan Desain Kemasan Amplang dan Keripik Pisang Di Samarinda Dita Andansari¹, Etwin Fibrianie¹ dan Asrina Astagani² ¹Program Studi Desain Produk, Jurusan Desain ²Jurusan Teknik Informasi Politeknik Negeri Samarinda Jl. Dr. Ciptomangunkusumo Kampus Gunung Lipan Po. Box. 1293, Samarinda 75131 [email protected], [email protected], [email protected]

Abstrak Kemasan atau packaging bukan hanya sekadar pembungkus, tetapi packaging is branding. Kemasan merupakan refleksi identifikasi merek produk yang dijual. Di Samarinda masih sedikit sekali keberadaan usaha di bidang grafis yang khusus untuk pembuatan desain kemasan makanan sehingga terdapat beberapa UKM amplang yang memesan desain kemasannya dari luar Samarinda salah satunya dari Bandung. UKM Keripik Pisang sebagai pemain baru di Samarinda juga kesulitan dalam merencanakan desain kemasan untuk produknya karena tidak mempunyai ilmu di bidang grafis. Ipteks bagi Masyarakata Usaha Kecil Menengah Amplang dan Keripik Pisang di Samarinda melalui Perancangan Desain Kemasan telah dilakukan pada UKM amplang di Kecamatan Sungai Kunjang dan UKM keripik pisang di Kecamatan Samarinda Seberang. Kegiatan dilakukan sebagai alih teknologi tepat guna pembuatan kemasan dengan metode pelatihan. Metode yang digunakan pada kegiatan ini adalah 1. Kegiatan pendahuluan,2. Ceramah, dan 3. Praktek langsung pembuatan kemasan. Kegiatan pendahuluan dilakukan dengan menjelaskan contoh-contoh kemasan yang mempunyai inovasi yang dapat menarik minat pembeli, serta memberikan keilmuan dasar tentang kemasan seperti pengenalan kemasan, struktur kemasan dan kuncian serta proses produksi kemasan. Dan kegiatan praktek dilakukan dalam dua tahap yaitu pembuatan desain grafis dengan bantuan software coreldraw serta proses produksi baik sablon manual maupun percetakan. Target akhir yang diharapkan adalah UKM dapat mendesain dan membuat kemasan sendiri, sehingga dapat meningkatkan nilai jual produk baik amplang maupun keripik pisang. Kata-kata kunci : desain Kemasan, amplang, keripik pisang , samarinda

1. Pendahuluan Samarinda adalah salah satu kota jasa dan perdagangan di Indonesia yang mengalami peningkatan dalam bidang perindustrian termasuk dalam kategori pesat. Selain pasar tradisional dan modern, Usaha Kecil dan Menengah juga ikut memegang peranan dalam pertumbuhan perekonomian Kota Samarinda. Menurut data Bappeda Samarinda, perkembangan yang sangat pesat terjadi pada pengusaha UKM sektor perdagangan, pada tahun 2004 jumlah pengusaha hampir mencapai 1,600 orang. Memasuki tahun 2010, jumlah pengusaha UKM seluruh sektor mencapai 3,905 orang di mana 2,560 diantaranya adalah pengusaha sektor perdagangan. UKM amplang adalah salah satu usaha yang ikut berkontribusi dalam sektor perdagangan di Samarinda karena sudah berkembang sejak tahun 1970-an. Amplang adalah sejenis kerupuk yang menyerupai bentuk ujung jari kelingking yang meruncing dan terbuat dari campuran tepung tapioka, bumbu rempah-rempah dan gilingan ikan pipih atau tengiri. Usaha produksi amplang diwariskan secara turun temurun dan sampai saat ini menurut data Dinas Perindustrian dan Koperasi Tingkat II Kota Samarinda, tercatat kurang lebih 39 perusahaan yang bergerak di bidang ini. Meskipun produksi amplang tergantung pada ketersediaan bahan baku ikan, amplang tetap merupakan salah satu pilihan oleh-oleh khas Kalimantan Timur yang masih diproduksi sampai saat ini.

DS| 13

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Ketersediaan amplang kurang didukung dengan kesiapan desain kemasan di mana selain sebagai pelindung produk di dalamnya, kemasan juga dapat dijadikan sebagai media promosi dan faktor daya tarik visual bagi konsumen. Sebagian besar kemasan amplang terbuat dari bahan plastik yang diberi grafis dengan ukuran yang beraneka ragam. Permasalahan dalam hal kemasan yang dihadapi oleh pengusaha amplang selain mereka sebagian besar tidak memiliki keterampilan di bidang grafis, di Samarinda masih sedikit sekali keberadaan konsultan grafis terutama untuk kemasan, permasalahan yang lain adalah sebagian besar percetakan di Samarinda memiliki keterbatasan dalam hal permesinan sehingga harga cetak menjadi mahal, hal ini menyebabkan UKM Amplang memesan grafis kemasannya di luar Kalimantan seperti di Jawa Timur atau Jawa Barat. Permasalahan yang sering terjadi adalah hasil desain yang ada kurang sesuai dengan harapan UKM karena diskusi dilakukan tidak secara langsung bertatap muka. Selain UKM Amplang yang telah berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian Kota Samarinda karena keberadaannya sudah cukup lama dan turun temurun, UKM Keripik Pisang sebagai pemain baru juga berpotensi memberikan kontribusi dalam peningkatan perekonomian. UKM Keripik Pisang semakin bertambah dan saat ini sudah kurang lebih hampir 20-an UKM Keripik Pisang yang tersebar di Kota Samarinda. Keberadaan UKM Keripik Pisang ini sangat didukung oleh produksi pisang itu sendiri. Menurut data Bappeda Kota Samarinda, pada tahun 2007 produksi tertinggi komoditi buahbuahan di Kota Samarinda adalah pisang yaitu sebanyak 1.298,1 ton. Permasalahan kemasan yang dialami oleh UKM Keripik Pisang sama dengan yang dialami oleh UKM Amplang, sebagian besar masih belum mempunyai merk dan atau logo khusus untuk produk yang mereka jual. Permasalahan dari UKM Amplang dan UKM Keripik Pisang mengenai kemasan ini perlu diberikan solusi. Dari beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan kemasan dapat menyebabkan peningkatan penjualan.[1] Hal ini dapat dijadikan dasar sehingga perlunya memberikan pelatihan pembuatan desain kemasan bagi UKM Amplang dan UKM Keripik Pisang di Samarinda. Tujuan dari pelatihan pembuatan desain kemasan ini adalah baik UKM Amplang maupun UKM Kripik Pisang dapat mendesain sendiri grafis kemasan sesuai dengan harapan mereka yang didasari ilmu desain seperti komposisi desain baik warna maupun lay out.

2. Metodologi Kemasan makanan adalah salah satu faktor yang dapat meningkatkan nilai jual dari sebuah produk. Amplang sebagai makanan khas Kalimantan Timur adalah salah satu pilihan oleh-oleh khas Samarinda yang banyak dibuat oleh UKM tetapi belum banyak dibuat kemasan yang estetis karena kurangnya jasa desain grafis dan produk kemasan. Begitu juga dengan Keripik Pisang sebagai pemain baru. Sebagian besar masih menggunakan kemasan plastik dan beberapa memesan kemasan kertas dari luar Samarinda seperti Bandung. Persoalan tersebut membutuhkan pendekatan-pendekatan yang sederhana, efisien dan mudah diterima oleh masyarakat secara umum. Metode pendekatan yang dilakukan adalah : 1. Ceramah dan Penyuluhan Metode ceramah digunakan untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya kemasan sebagai salah satu faktor peningkatan nii jual. 2. Workshop/Pelatihan Workshop dilakukan dengan cara praktik langsung pembuatan kemasan mulai dari proses desain sampai finishing.

3. Hasil dan Pembahasan Kegiatan Ipteks Bagi Masyarakat Usaha Kecil Menengah Amplang dan Keripik Pisang di Samarinda Melalui Perancangan Desain Kemasan yang dilakukan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada UKM Amplang dan Keripik Pisang tentang pentingnya desain kemasan yang estetis dan inovatif guna meningkatkan penjualan. Selain pemahaman yang diberikan, mitra UKM juga diberikan pelatihan pembuatan kemasan mulai dari desain grafisnya sampai kepada finishing.

DS| 14

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Proses Ceramah dan Penyuluhan Ceramah dan penyuluhan dilakukan terhadap kedua UKM yaitu UKM Amplang Usaha Melati serta UKM Keripik Pisang Hj. Salmiah. Proses penjelasan tentang desain kemasan yang estetis dan inovatif serta pemberian materi-materi dasar tentang Desain Kemasan dilakukan di tempat masing-masing UKM. Pada proses ini dijelaskan dan diberikan contoh-contoh desain kemasan yang mempunyai nilai estetis dan inovatif. Contoh-contoh desain kemasan diambilkan dari tugas-tugas mahasiswa Program Studi Desain Produk, Jurusan Desain, Politeknik Negeri Samarinda yang pernah menang lomba desain kemasan yang diadakan tiap tahun oleh UPTD Disperindagkop Provinsi Kalimantan Timur. Dari proses penyuluhan dan ceramah ini menunjukkan bahwa kedua UKM mendapatkan wawasan baru tentang gambaran contoh-contoh desain kemasan yang mempunyai nilai estetis dan inovatif serta kedua UKM berminat untuk mengembangkan kemasan mereka. Kedua UKM juga mempunyai gambaran bagaimana rencana pengembangan dan perubahan kemasan mereka.

Gambar 1. Penjelasan materi dan contoh-contoh desain kemasan Proses Pelatihan Desain Grafis Kemasan Proses pelatihan desain kemasan dilakukan terhadap kedua mitra UKM di masing-masing tempat UKM. Pelatihan dilakukan dengan beberapa tahapan yaitu tahapan pertama adalah pengenalan dasar tentang software Coreldraw X4 [2][3] yang akan digunakan untuk membuat desain grafis kemasan nantinya. Pengenalan dasar mulai dari tampilan awal, fungsi-fungsi tool dan pembuatan bentukbentuk sederhana sampai membuat pola kemasan. Pada intinya kedua UKM mitra dapat dengan segera memahami software Coreldraw X4 dengan cepat karena sebelumnya pernah mengikuti pelatihan desain grafis kemasan yang diadakan oleh beberapa dinas di Kalimantan Timur.

Gambar 2. Pelatihan Desain Grafis Kemasan di UKM Kripik Pisang Salmiah

DS| 15

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 3. Pelatihan Desain Grafis Kemasan di UKM Amplang Usaha Melati Proses Pelatihan Kemasan Proses pelatihan desain kemasan dilakukan melalui beberapa tahapan, tahapan yang pertama adalah pelatihan pembuatan kemasan dengan cara disablon manual. Hal ini dilakukan supaya mitra UKM memahami teknik-teknik cetak baik manual maupun dengan mesin. Dan juga mengenalkan kepada mitra UKM bahwa dengan adanya teknik cetak baik manual maupun mesin, desain grafis kemasan bisa dibuat dengan warna-warna yang blok untuk cetak dengan cara sablon manual, sedangkan dengan mesin maka desain grafis tidak harus dengan warna-warna yang blok. Pelatihan sablon manual dilakukan di UPTD UMKM Disperindagkop Provinsi Kalimantan Timur karena terdapat fasilitas workshop kemasan. Pelatihan dimulai dengan pengenalan bahan-bahan dan peralatan yang dibutuhkan, setelah itu diajarkan proses menyablon mulai dari membuat master cetak sampai pemotongan ola kemasan menggunakan mesin potong. Setelah diajarkan tentang proses penyablonan manual maka mitra UKM mencoba mempraktekkan proses sablon manual mulai dari pembuatan master sampai dengan pemotongan pola kemasan.

Gambar 4. Pelatihan Sablon Manual Proses Pembuatan Master

DS| 16

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 5. Pelatihan Sablon Manual Proses Pewarnaan

Gambar 6. Pelatihan Sablon Manual Proses Pemotongan Pola Kemasan Pelatihan Desain Kemasan Sesuai Kebutuhan UKM Setelah dilakukan pelatihan desain grafis kemasan dan proses pembuatan kemasan baik secara manual maupun print, kedua UKM mendapatkan tambahan wawasan dan keterampilan tentang pembuatan desain kemasan.[4][5] [6] Proses selanjutnya adalah diskusi tentang desain kemasan yang dibutuhkan baik oleh UKM Amplang Usaha Melati maupun UKM Kripik Pisang Hj. Salmiah. Dari hasil diskusi, kemasan yang diharapkan oleh UKM Amplang Usaha Melati adalah kemasan sekunder dari bahan kardus untuk mengemas amplang ukuran besar yang dikemas dengan mika besar dengan kapasitas 3 buah. Sedangkan kemasan yang diharapkan oleh UKM Kripik Pisang Hj. Salmiah adalah kemasan kertas untuk berat 200 gram kripik pisang.

Gambar 7. Desain Pola dan Grafis Kemasan yang akan dibuat oleh UKM Amplang Usaha Melati

DS| 17

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 8. Desain Pola dan Grafis Kemasan yang akan dibuat oleh UKM Kripik Pisang Hj. Salmiah

4. Kesimpulan Setelah dilakukan pelatihan desain kemasan baik desain grafis maupun pembuatan kemasan, maka dapat disimpulkan : 1. Mitra UKM mendapatkan wawasan baru tentang desain kemasan yang estetis dan inovatif yang diharapkan dapat meningkatkan penjualan produk. 2. Mitra UKM paling tidak dapat menentukan sendiri baik bentuk maupun desain grafis dari kemasan yang digunakan untuk membungkus produk yang dijual baik amplang maupun keripik pisang .

Daftar Pustaka [1] Retnani, Dwi. 2003. Perubahan Kemasan dan Implikasinya bagi Penetapan Strategi Pemasaran (Studi kasus Pada KUD DAU Kecamatan Dau Kabupaten Malang.) [2] Aghoufur, Modul Dasar Desain Grafis. 2008, https://aghofur.files.wordpress.com/2008/07/modul-1- dasar-desain-grafis.pdfdiakses 12 Juni 2015 [3] Basuki,Heru. Pengembangan Kreativitas,. Fheru.staff.gunadarma.ac.id [4] Iswidhyarmanjaya, Derry. 2007. Desain Undangan Seremonial dengan CorelDRAW X3. Jakarta : Elex Media Komputindo.. [5] Rahardyanto, Taufan. Perancangan Desain Grafis. Jakarta : SMK BPS&K 2. [6] Suyanto,M. 2004. Aplikasi Desain Grafis untuk periklanan dilengkapi sampel iklan terbaik kelas dunia. Yogyakarta : Andi

DS| 18

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Desain Workstation Kuliner Melalui Kajian Ergokultural Sunda Edi Setiadi Putra Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 [email protected]

Abstrak Pemberdayaan wirausaha kuliner di Kota Bandung yang berjuluk kota wisata kuliner, dilakukan melalui pembentukan sentra-sentra kuliner sebagai langkah taktis praktis guna mengatasi kesemrawutan, kemacetan lalulintas dan kekumuhan kota. Kota Bandung menghadapi masalah sosiokultural, yang penanganannya memerlukan kajian ergonomi makro melalui penerapan budaya, partisipasi masyarakat urban dan kolaborasi multidisiplin. Kajian ini menggunakan metode fenomenologi dan etnografi, yang berfokus pada pengamatan dan analisis terhadap perilaku manusia dan gaya hidup masyarakat urban. Dalam keilmuan Desain Produk terdapat konsep penerapan ilmu ergonomi modern dan budaya lokal, yang disebut ergokultural (ergonomi budaya atau ergoculture) yang relevan untuk mencari dan menemukan produk atau sarana kerja yang ergonomis berdasarkan nilai-nilai budaya. Dalam fenomena proses tumbuh kumuh dan reduksi estetis pada tenda kuliner saat ini, maka perhatian ergokultural terfokus pada perancangan sarana wirausaha kuliner pengganti warung tenda. Melalui desain workstation kuliner ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan produktivitas pedagang kuliner, dengan menerapkan solusi ergonomi disertai sentuhan estetika dan kearifan budaya lokal.

Key words : ergokultural, Sunda, Desain Produk, Kuliner, Bandung

1. Pendahuluan Program penanganan kesemerawutan, kekumuhan dan kemacetan lalu lintas di Kota Bandung, dilaksanakan melalui penataan ulang infrastruktur kota. Salah satu biang permasalahan kekumuhan kota adalah keberadaan warung-warung tenda PKL yang berserakan di beberapa ruas jalan, berjumlah banyak yang tersebar luas di sekeliling kota. Kekumuhan yang disebabkan warung tenda PKL yang tidak terpelihara dan cepat usang, menjadi prioritas perhatian masyarakat. Pemerintah Kota Bandung melakukan upaya peningkatan keindahan dan ketertiban kota, melalui optimalisasi fungsi tamantaman kota, alun-alun dan pusat-pusat niaga. Salah-satu program andalan adalah membangun pusatpusat perniagaan kuliner dalam rangka mencapai Bandung Kota Wisata Kuliner yang terkemuka di Indonesia. Pusat-pusat kuliner tradisional dan modern dibangun di beberapa kawasan strategis dengan mengusung tema berbeda. Kegiatan ‘Bandung Culinary Night’ diselenggarakan setiap akhir pekan di setiap kelurahan dan kecamatan, untuk memperkenalkan kuliner khas tradisional Sunda serta kuliner unik dari berbagai bangsa. Kegiatan ini telah mampu meningkatkan perekonomian masyarakat PKL kuliner, namun belum dapat meningkatkan kesadaran masyarakat PKL untuk berperan aktif dalam menjaga keindahan, kebersihan dan kesehatan kota. Hal ini disebabkan sebagian besar PKL masih menggunakan warung-warung tenda sederhana yang terlihat lusuh, kumuh dan tampak sangat usang. Fenomena ini memperlihatkan adanya ketidakpahaman masyarakat PKL kuliner Kota Bandung terhadap fungsi dan manfaat tenda. Hunian tenda pada asalnya adalah untuk tempat berlindung sementara dari cuaca dengan jangka waktu pemakaian yang sangat pendek, namun sebagian besar PKL menggunakan warung-warung tenda untuk waktu yang panjang sehingga bersifat permanen. Karena tidak memahami cara pemeliharaan tenda yang benar, Warung tenda yang tidak terpelihara telah menyebabkan kain tenda menjadi cepat lusuh, kotor, dan mudah usang, sehingga menimbulkan

DS| 19

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

kekumuhan lingkungan. Tenda diyakini bukan merupakan budaya Sunda, karena sebagian besar masyarakat Jawa Barat tidak memahami cara memelihara tenda dengan baik, serta tidak ditemukan literatur tentang budaya tenda. Apabila hunian sementara untuk berniaga seperti warung tenda sangat tidak cocok dengan lingkungan hidup di Kota Bandung, bahkan tidak dikenal dalam khazanah budaya Sunda, maka perlu ditemukan produk pengganti tenda yang berasal dari akar budaya Sunda. Dalam khazanah budaya Sunda, dikenal adanya ‘saung’ yaitu bangunan kecil dari bambu atau kayu yang dipergunakan untuk melakukan ragam aktivitas kerja di luar pekerjaan di rumah, saung juga berfungsi sebagai tempat istirahat setelah bekerja di ladang atau di sawah. Saung dipergunakan untuk latihan bekerja secara mandiri, sehingga saung menjadi wahana penting dalam mendidik diri. Pada konsep kebudayaan Sunda buhun, saung adalah sarana untuk belajar mandiri, karena bersifat individu dan berada jauh dari masyarakat. Setiap kaum peladang (pahuma) Sunda memiliki saung pribadi di lahan ladangnya yang disebut saung huma. Saung huma ini sangat relevan dengan keperluan untuk mendidik dan menempa diri, sehingga mencapai jati diri yang hakiki. Konsep saung huma dapat dipergunakan untuk kegiatan niaga kuliner, dimana pedagang dapat berwirausaha dan bekerja secara individu untuk mencapai kemandirian. Di setiap pelosok Jawa Barat, terdapat jenis kedai (warung kecil) yang bersumber dari sosok saung huma, bahkan banyak yang dibangun menyerupai rumah-rumah panggung dalam skala yang lebih kecil. Kedai atau warung nasi khas Sunda pada dasarnya berasal dari pawon atau dapur sebagai segmen rumah tinggal tradisional yang berfungsi untuk menyimpan bahan makanan, mengolah masakan dan menyajikan hidangan. Dalam budaya Sunda, pawon bersifat feminim dan merupakan area pribadi para ibu. Terletak di segmen belakang rumah dengan pintu masuk khusus dari arah belakang rumah, sedangkan ruang tengah adalah ruang bersama sebagai area keluarga, dan bagian depan rumah adalah area maskulin, dimana kaum pria menerima tamu dan keluar masuk rumah. Hanya tamu sesama wanita atau kerabat terdekat yang dapat masuk melalui pintu dapur atau pintu belakang.[1] Pola budaya kerja tradisional ini ternyata sangat relevan dalam sistematika niaga kuliner Sunda, dimana dapur harus terpisah dari area umum (area saji atau area makan). Konsumen atau pelanggan tidak dilibatkan dalam kesibukan dapur, hanya cukup memesan dan menunggu hidangannya tersaji di atas meja makan yang tersedia. Pola ini sangat berbeda dengan pola sirkulasi interior restoran Tionghoa yang biasa menampilkan dapur di area depan atau pintu masuk. Juga berbeda dengan pola saji masakan gaya Rumah Makan Padang yang menghadirkan aneka hidangan di depan namun tidak pernah memperlihatkan dapur, ataupun Warung Nasi Tegal yang menghadirkan aneka hidangan di sekitar dapur dan para pengunjung. Keunikan pola kerja niaga kuliner khas Sunda ini dapat dilengkapi dengan desain sarana dan prasarana olah masakan, yang berasal dari tata kerja dapur Sunda dengan ruang kerja yang efektif dan efisien sebesar saung atau pawon, sebagai suatu stasiun kerja (workstation) kuliner yang ergonomis dengan sentuhan estetika Sunda yang sangat mampu dalam menggantikan sistem dan pola kerja warung tenda yang bukan berasal dari budaya Sunda.

2. Metodologi Dalam mengkaji data-data yang sifatnya deskriptif kualitatif, maka dilaksanakan upaya pemahaman melalui proses pengamatan dan pendalaman wawasan melalui proses metode penelitian etnografi yang dikembangkan Spradley [2] dan Paul Skaggs [3]. Metode etnografi ini cukup relevan dalam mengkaji data fenomena sosiokultural yang hidup di masyarakat Kota Bandung yang sebagian besar berakar budaya Sunda. Dalam rangka memperoleh data etnografis yang komprehensif digunakan teknik observasi lapangan (field work observation) dan wawancara terstruktur (ethnographic interviews) yang sifatnya terbuka (open interview), dalam arti memberi keleluasaan bagi para informan untuk menjawab pertanyaan dan pandangan secara bebas, terbuka dan mendalam (in-depth interview),

DS| 20

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

dimana informan ditentukan secara purposive, yaitu tipe sampling yang didasarkan atas pertimbangan atau penilaian peneliti yang menganggap informan yang dipilih cukup representatif untuk populasi.[2] Pola kajian seperti pada skema berikut:

. Gambar 1.Konsep kajian partisipatori etnografi (sumber: http://www.yainal.web.id dan elaborasi penulis) Implementasi etnografi di bidang Desain Produk adalah mengenai pengamatan terhadap perilaku kerja manusia (observing what people do) sebagai paradigma sosio-cultural yang berpengaruh dalam keputusan desain. Fenomena penggunaan teknologi dan sains dalam pola kerja masyarakat pedagang kuliner dilihat berdasarkan kemampuan kreasi dan produksi (what people make) yang dipengaruhi oleh kebiasaan (habit) dan budayanya (what people say they do) [3]. Hubungan antara etnografi dengan body knowledge bidang Desain Produk, mencakup implementasi temuan kreatif yang diilhami filosofi desain dari akar budaya masyarakat lokal yang sarat dengan kearifan lokal (local wisdom), kecerdasan lokal (local intellegence), keaslian lokal (local genue) sebagai kejeniusan lokal (local genius) yang hidup dan lestari. Temuan etnografis yang sangat penting adalah adanya prinsip kenyamanan kerja, tata cara kerja, sistematika kerja yang didasari oleh sistem etos kerja berlandaskan nilai budaya. Pola hubungan antara nilai ergonomis dengan nilai budaya tercakup dalam prinsip kolaborasi ergonomi-kultural (ergocultural), yang sangat mempengaruhi penerapan estetika dan filosofis suatu kreasi desain produk.

3. Hasil Dan Pembahasan Masyarakat berbudaya Sunda merupakan penduduk asli Kota Bandung, yang jati diri dan akar budayanya masih terjaga baik, sehingga nilai-nilai budaya Sunda masih melekat dan dapat diterima dengan terbuka oleh generasi mudanya. Masyarakat Sunda cenderung dekat dengan ekosistemnya, sehingga dapat memaknai alam dan memahami hubungan mutualisma antara manusia dengan alam lingkungan. Khazanah budaya Sunda pada umumnya berkaitan dengan hubungan manusia dan alam[4]. Hasil pengamatan terhadap perilaku pedagang kuliner di Kota Bandung, menunjukkan bahwa Budaya Sunda masih sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Beberapa konsep cara melayani pelanggan dengan prinsip ‘gek-sor’ (prinsip pelayanan prima dengan mengutamakan kecepatan dalam pelayanan, dimana saat pelanggan duduk maka segera minuman ataupun hidangan tersaji). Pola cepat saji ini merupakan pelaksanaan dari prinsip hidup masyarakat Sunda yaitu ‘genahmerenah-tumaninah’. Genah adalah kenyamanan pada level pribadi, merenah adalah kenyamanan untuk keluarga dan orang lain, sedangkan tumaninah adalah kenyamanan untuk lingkungan dan masyarakat umum. Status kenyamanan pribadi (genah) diperoleh dari latihan diri untuk mandiri dan berinteraksi dengan orang lain. Seperti yang tergambar dalam proses pencapaian jatidiri dan aktualisasi diri dalam khazanah budaya Sunda:

DS| 21

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 2.Tahapan kualitas kenyamanan masyarakat Sunda Saung adalah hunian individual yang berperan dalam pelatihan diri untuk meraih perilaku terpuji seperti cageur-bageur (baik dan sopan) sehingga dapat menjalin kerjasama (silih ajenan ku kaheman), seperti tergambar pada skema berikut:

Gambar 3.Tahapan dan struktur pemahaman nilai kehidupan Sunda Dalam konsep hunian masyarakat tradisional Sunda, memperlihatkan hanya saung yang berfungsi sebagai sarana berlatih diri agar mencapai swadaya dan swasembada, sehingga dapat hidup di masyarakat dan mencapai tingkatan kemakmuran tertentu. Tingkatan keberhasilan hidup ditandai dengan perubahan jenis dan kualitas hunian, dari saung menuju imah (rumah panggung) dan menjadi gedong (rumah gedung). Tampilan itu ditandai melalui jenis dan bentuk atap, dimana saung beratap sederhana dalam tipe badak heuay atau jogo anjing, sedangkan imah banyak variasinya tergantung ekosistemnya, dan rumah besar ditandai dengan atap bergaya sayap unggas sebagai cerminan dari kemampuan lepas landas dalam mencapai kemakmuran. Seperti gambar berikut:

Gambar 4.Spesifikasiatap rumah Sunda

DS| 22

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Konsep hunian masyarakat Sunda dalam penggunaan sebagai sarana niaga kuliner, berkembang berdasarkan perkembangan omset dan pendapatannya yang berbanding lurus dengan kapasitas menu dan jumlah pelanggannya, seperti gambar berikut:

Gambar 5. Konsep perkembangan usaha kuliner Berdasarkan konsep budaya saung kedai sebagai sarana perintis usaha, maka saung ini dapat menggantikan warung tenda yang dikembangkan lagi sesuai dengan kebutuhan lingkungan kerja, dengan persyaratan-persyaratan higienis, aman (safety), nyaman, dan produktif. Konsep peralihan dari tenda ke saung dan menuju desain sarana niaga kuliner khusus, tergambar seperti pada gambar di bawah ini :

Gambar 6.Konsep peralihan bentuk & fungsi, dari tenda menuju workstation Workstation wisata kuliner memiliki dimensi yang cukup untuk bekerja individu dalam ruang kerja yang berisi peralatan memasak dan mengolah sajian makanan dan minuman. Proses kerja dalam workstation disesuaikan dengan posisi kerja di dapur. Seperti gambar 7.

Gambar 7. Dimensi optimal berdasar aktivitas kuliner dalam workstation Alternatif desain workstation wisata kuliner dengan mengambil citra atap rumah adat sebagai penanda identifikasi budaya darimana kuliner berasal. Pola ini akan berlaku untuk berbagai budaya daerah lain yang memiliki jenis atap yang khas. Khusus untuk kuliner Sunda menggunakan jenis atap badak heuay atau joglo anjing yang menjadi karakteristik saung huma. Pusat Kuliner di Kota Bandung, mengarah pada konsep Pujasera (Pusat jajanan serba ada), yaitu berupa kluster tematis dari beberapa jenis kuliner atau hanya jenis kuliner unik tertentu yang disajikan secara khas di suatu kawasan. Pusat kuliner ini menempati area yang resmi dengan diperlengkapi fasilitas umum antara lain: toilet, musholla, ruang makan bersama, area parkir, yang dikelola oleh tim manajemen profesional. Dengan demikian terjadi perubahan konsep desain workstation yang asalnya terbuka (tipe tanpa dinding), mengalami perubahan mendasar karena konsep workstation mandiri akan berubah menjadi workstation dapur kolektif, dimana semua jenis kuliner berada dalam suatu area yang

DS| 23

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

sama dengan berbagi fasilitas publik. Konsepsi pusat wisata kuliner ini, melahirkan alternatif yang berbeda, dimana workstation kuliner lebih berfungsi sebagai dapur tanpa meja display atau sarana saji mandiri. Konsep ini lebih mendekati ergokultur Sunda, dimana dapur khas Sunda memiliki posisi yang sentral yang tidak terbuka untuk umum. Alternatif bentuk workstation kuliner yang sifatnya tertutup atau memiliki dinding, berkecenderungan menggunakan material logam yang lebih kokoh, free maintenance, yang diperlengkapi dengan komponen fungsi yang praktis untuk aktivitas siang dan malam hari dalam berbagai kondisi cuaca. Wujud desain alternatif awal sebagai berikut.

Gambar 8. Desain workstation wisata kuliner tipe dapur tertutup

4. Kesimpulan Desain workstation wisata kuliner untuk Kota Bandung merupakan penjabaran dari kebutuhan masyarakat kota akan lingkungan kota yang bersih, tertib, nyaman dan sehat. Beberapa prototipe desain yang telah diujicoba memperlihatkan adanya antusias dari para pedagang kuliner untuk berperan serta dalam pembangunan kenyamanan kota, sehingga mencapai kondisi genah-merenahtumaninah yang menjadi jargon ergokultural Sunda.

Daftar Pustaka [1] Sumardjo, Jakob. 2006. Estetika Paradoks. STSI Bandung [2] Spradley, James.P. 1980. Ethnography and Culture in Participant Observation. Holt, Rheinheart and Winston, Inc. [3] Skagg, Paul. 2012. Ethnography in Product Design: Looking For Compensatory Behaviors. Journal of Management and Marketing Research. Brigham Young University [4] Ekajati, Edi S. 1984. Masyarakat Sunda dan Kebudayaannya. Jakarta: Girimukti Pasaka

DS| 24

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Dari Kukusan ke Tudung Lampu, Potensi Transformasi Kriya ke Desain Jamaludin Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional (ITENAS) Bandung Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 [email protected]

Abstrak Perkembangan peralatan rumah tangga modern berbasis listrik (home appliances) telah menggeser penggunaan peralatan rumah tangga tradisional yang umumnya merupakan produk kriya. Fenomena ini tidak hanya terjadi di perkotaan tetapi telah sampai ke pedesaan. Akibatnya peralatan tradisional produk kriya tersisihkan. Di sisi lain, dewasa ini muncul fenomena penggunaan produk kriya peralatan menanak nasi seperti kukusan menjadi elemen desain lampu. Makalah ini menggunakan metode observasi untuk meninjau fenomena yang ada khususnya di kota Bandung dan metode eksperimen berupa sketsa dan montase sebagai upaya kreatif dalam konteks transformasi lebih jauh dari fenomena dengan kukusan sebagai objek studi kasus. Dengan contoh tranformasi kukusan menjadi tudung lampu, diharapkan akan muncul gagasan baru agar setiap kriya yang telah diganti produk modern dapat ditransformasikan menjadi elemen desain dan asesoris interior agar kelangsungan hidupnya dapat terus dipertahankan dan sebagai representasi desain berbasis budaya lokal.Sebagai salah satu alternatif desain berbasis kearifan lokal, transformasi kriya ke desain menjadi potensi yang dapat dikembangkan dengan peningkatan kualitas bahan, proses pembuatan dan pengemasan. Kata-kata kunci : transformasi, kriya, desain lampu, asesoris interior

1. Pendahuluan Perkembangan produk industri modern berbasis listrik untuk rumah tangga (house hold equipment atau home appliances) telah merambah ke peralatan memasak di rumah tangga Indonesia. Mananak nasi dengan peralatan tradisional telah tergeser digantikan dengan alat penanak nasi listrik seperti rice cooker atau magic com. Penetrasi produk modern ini telah merambah hingga ke pedesaan, karena memberikan lebih banyak kemudahan dan kepraktisan di dalam proses menanak nasi. Dengan kondisi itu otomatis berbagai peralatan menanak nasi tradisional kini tidak lagi terpakai, sebagaimana banyak peralatan produk kriya lainnya yang tergeser oleh produk desain industri. Peran peralatan memasak nasi tradisional, seperti juga produk kriya lainnya akan segera berakhir sebagaimana telah lama diprediksi oleh John A. Walker bahwa sebagian besar produk kriya akan lenyap.[1] Hilang atau berkurangnya penggunaan peralatan menanak nasi ini tentu merugikan pembuat peralatan memasak tradisional karena kehilangan mata pencaharian. Di sisi lain, peralatan menanak nasi tradisional, karena kekhususan dan keunikan bentuk serta perannya telah menjadi bagian integral dari budaya kuliner setiap suku bangsa. Sangat disayangkan apabila kriya peralatan memasak nasi hilang begitu saja tanpa ada upaya untuk membuatnya tetap hadir di dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satu peralatan memasak nasi tradisional di Jawa Barat adalah kukusan yang dalam bahasa Sunda disebut aseupan. Bentuk kukusan adalah kerucut dengan ukuran mulut lingkaran rata-rata 30 cm dan panjang 28cm. Kukusan dibuat dari bambu tali yang dianyam dengan dua tipe anyaman. Pada bagian atas anyaman rapat sedang pada bagian bawah dibuat jarang untuk memudahkan proses pengukusan

DS| 25

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

nasi, yaitu uap panas dari air di bawah masuk ke kukusan untuk memanaskan beras hingga matang menjadi nasi. Pada bagian mulut terdapat pengikat anyaman yang disebut wengku. Dalam proses menanak nasi, kukusan dimasukan ke dalam dandang di atas tungku.

Gambar 1. Peralatan menanak nasi tradisional, seeng (dandang) dan aseupan (kukusan)

Gambar 2. Aseupan (kukusan) Di sisi lain, Peter Dormer [2] menyatakan bahwa dewasa ini semakin banyak orang yang menjadi lebih tertarik pada kriya karena mereka menginginkan gaya hidup yang berbeda. Ada keinginan untuk tidak melulu menggunakan peralatan buatan pabrik yang serba plastik tetapi dengan sesuatu yang mampu menjadi alternatif dalam menyatakan selera yang berbeda. Pernyataan Dormer ini memberi angin segar bagi pengembangan produk kirya juga dengan kreativitas desainer, memungkinkan adanya upaya untuk mentrasformasikan produk kriya ke dalam dunia desain dengan inovasi sejauh memungkinkan. Salah satu gagasan itu adalah merubah fungsi peralatan memasak nasi menjadi bagian dari desain produk. Di Kota Bandung, upaya alihfungsi kukusan ke dalam ranah desain telah dilakukan dan menjadi fenomena baru yang unik. Ini merupakan hal kreatif di dalam upaya transformasi dari kriya ke desain. Dari hasil observasi ditemukan café yang menggunakan kukusan sebagai armatur lampu, salah

DS| 26

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

satunya adalah Warung Indung di Jl. RE Martanegara (Riau). Pemilik café ini adalah pasangan seniman dan desainer, yaitu Heyi Ma’moen, seorang pelukis beraliran modern dan Ma’mun Mulia seorang desainer interior dan desainer mebel.

Gambar3. Interior Café Warung Indung (foto tahun 2008) Apa yang dilakukan Warung Indung di dalam upaya melestarikan produk kriya ke dalam desain dapat menjadi pendorong untuk dapat melakukan upaya kreatif lainnya guna mengembangkan transformasi produk kriya ke dalam rahan desain. Makalah ini merupakan gagasan awal di dalam upaya mengembangkan desain dengan memanfaatkan potensi dalam produk kriya khususnya upaya meneruskan produksi kriya tetapi ditransformasikan ke dalam desain atau sebagai media di dalam suatu produk desain.

2. Metodologi Salah satu perlengkapan dalam desain interior adalah lampu dan armaturnya yang secara khusus merupakan bagian dari desain pencahayaan lighting design. Di dalam interior, kategori lampu terdiri dari lampu meja (table lamp), lampu gantung (hanging/pendant lamp), lampu dinding (sconce) dan lampu lantai (floor lamp). Penggunaan kukusan sebagai tudung lampu gantung telah ada yang melakukan dan ini mendorong pengembangan lebih lanjut ke dalam berbagai kategori lampu dengan fungsi kukusan,s ebagaimana bentuknya, tetap dipakai sebagai tudung atau shade. Dengan demikian, metoda yang dipakai adalah eksperimen yaitu percobaan dalam bentuk sketsa dan teknik lain seperti montase foto dengan komputer dengan fokus pada pengolahan bentuk kukusan menjadi bagian dari desain armatur lampu dalam berbagai kategori. Bentuk dasar kukusan adalah kerucut atau cone, yang juga ditemukan pada beberapa desain armatur lampu (lighting design).

DS| 27

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 4. Jenis lampu (kiri-kanan): floor lamp, table lamp, pendant lamp, dan sconce yang menggunakan bentuk dasar kerucut (cone)

3. Hasil Diskusi Dari hasil observasi penggunaan kukusan sebagai tudung lampu di atas menunjukkan kemudahan alih fungsi kukusan ke dalam bentuk tudung lampu gantung. Bentuk kukusan tersebut tidak mengalami perubahan atau modifikasi hanya diberi gantungan lampu pada bagian atas. Bentuk kerucut pada kukusan memungkinkan dapat ditransformasikan ke dalam tudung lampu dengan proses yang mudah dan tanpa memerlukan berbagai upaya modifikasi. Berat kukusan yang relatif ringan memungkinkan dapat digantung sebagai tudung lampu gantung.

Gambar 5. Kerucut, bentuk dasar kukusan Bentuk kerucut (cone) yang menjadi bentuk dasar kukusan merupakan pengembangan tiga dimensi dari bentuk segitiga. Karakter bentuk kerucut merupakan salah satu bentuk yang baik untuk penggunaan sebagai tudung lampu karena ada bagian kecil sebagai lokasi lampu dan bagian besar untuk area penyebaran cahaya lampu. Dengan karakter tersebut, kukusan dapat dipakai sebagai tudung lampu juga dapat dipakai untuk lampu lantai (floor lamp), lampu meja dan lampu dinding (sconce) dan variasi kreatif dari penggabungan setiap unit lampu. Lampu Lantai (floor lamp) Untuk tudung lampu lantai, kukusan harus dimodifikasi dengan cara menghilangkan sudutnya yang akan dipakai sebagai dudukan dan diganti dengan pelat kerucut yang digabung dengan tiang dari metal. Varian produk ini dapat diperluas dengan bahan kaki dari kayu.

DS| 28

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 6. Floor lamp dengan tudung kukusan.

Gambar 7. Lampu meja dengan tudung kukusan.

4. Kesimpulan Dari eksperimen pengembangan penggunaan kukusan untuk bermacam tudung lampu di atas dapat disimpulkan bahwa peluang untuk mengembangkan produk kriya ke dalam desain, terutama produk kriya yang sudah tidak lagi dipakai sebagaimana fungsi awal memiliki peluang besar. Material alami seperti bambu merupakan bahan baku yang tersedia di alam yang relatif lebih mudah dan lebih pendek di dalam pemrosesan. Untuk mampu bersaing dengan produk dalam desain armatur lampu, diperlukan upaya peningkatan kualitas pembuatan kukusan, misalnya pemilihan bahan anyaman bambu yang lebih baik dan kualitas proses pembuatan anyaman harus ditingkatkan Desain berbahan alami dapat memenuhi tuntutan eco design atau green-design yang sekarang menjadi issue utama dunia.

DS| 29

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Untuk mampu tampil dalam ranah desain, produk kriya hanya memerlukan relatif sedikit modifikasi dan penambahan material yang akan membuatnya menjadi tampak sebagai produk desain.

Daftar Pustaka [1] Walker, John A. 1989. Design History and the History of Design. London: Pluto Press [2] Dormer, Peter, 1982, Post-war craft, Marxism Today, http://www.unz.org/Pub/MarxismToday1982jul-00036?View=PDF. Diakses 18 November 2015.

DS| 30

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Kajian Karakter Destinasi Wisata Daerah Melalui Media Video Berbasis Teknik Sinematografi Ari Wibowo Jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 [email protected]

Abstrak Seiring dengan kepentingan daerah untuk meningkatkan siklus ekonomi dan pendapatan daerah maka sektor pariwisata perlu diposisikan kembali sebagai salah satu alternatif potensi. Kepentingan untuk menggunakan destinasi wisata guna meningkatkan ekonomi daerah telah secara nyata didukung oleh media sosial dan media visual. Untuk itu perlu membangun karakter destinasi wisata yang unik sesuai dengan kekhasan yang dimiliki. Pemanfaatan media audio visual utamanya adalah video dengan teknik sinematografi dapat menjadi media alternatif yang cukup kuat untuk melaksanakan eksposisi karakter tersebut. Dalam kajian ini akan dipaparkan tentang kapasitas serta kapabilitas media kreatif ini sebagai ujung tombak promosi destinasi wisata daerah. Kata-kata kunci : karakter wisata, promosi wisata, video wisata

1. Pendahuluan Kepentingan untuk melaksanakan promosi wisata sudah menjadi kebutuhan setiap destinasi wisata. Sejumlah destinasi wisata di daerah secara khusus telah menjadi andalan serta prioritas promosi yang ditangani oleh Dinas Pariwisata. Kajian ini secara khusus tidak memaparkan hasil penelitian terkait dengan efektivitas metode promosi yang telah dilaksanakan melainkan lebih menitikberatkan pada paparan tentang bagaimana memperluas kapabilitas promosi destinasi wisata melalui media audio visual dengan paparan sinematografi. Jika dicermati dan dilaksanakan sebuah survei sederhana dengan fasilitas layanan video berbagi online www.youtube.com, maka sebagian besar video yang berhubungan dengan wisata daerah dibuat secara mandiri oleh masyarakat dalam hal ini para traveller. Statistik viewer menunjukkan bahwa dengan menggunakan keywords “wisata kota Bandung” akan diperoleh video dengan angka tertinggi sekitar 73.000 viewers. Adapun video yang ditampilkan merupakan tipe motion graphic yaitu foto-foto yang digerakkan disertai dengan musik dan narasi. Dalam video tersebut belum dimasukkan eksposisi terkait dengan karakter daerah, mengingat teknik yang dipergunakan bukanlah sinematografi. Di sisi lain video yang menggunakan teknik sinematografi dengan judul “Wisata Ka Bandung” di youtube yang dibuat oleh Hardi Anto ditonton sekitar 1.700 viewers. Pertanyaannya adalah apakah penonton video youtube (youtube viewers) tersebut merupakan target audiens yang dibidik sebagai calon wisatawan atau merupakan penonton video berbagi youtube semata. Kajian ini mencoba menggali dan memaparkan hasil survei sekunder yang dikaitkan dengan analisa atas kapasitas video dengan teknik sinematografi untuk mengangkat karakter wisata daerah. termasuk didalamnya solusi kreatif terkait dengan persebaran media video tersebut untuk membidik target audiens potensial secara lebih luas. Karakter dari destinasi wisata daerah merupakan cara untuk membedakan ciri wisata. Dalam kajiannya Vagionis, N. dan Loumioti, M. [1] menyampaikan bahwa video sinematografi dapat memaparkan karakteristik tertentu serta atraksi dari destinasi wisata. Maka penting untuk

DS| 31

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

mengirimkan sebuah “pesan yang jelas terkait dengan ciri wisata daerah” kepada target audiens yaitu wisatawanpotensial. Sinematografi merupakan bagian dari media audio visual yang secara khusus lebih mengutamakan rangkaian cerita berbasis visual primer (yaitu visual yang nyata sesuai dengan realita, contohnya foto). Dari rangkuman sejumlah pengertian secara umum sinematografi adalah rangkaian gambar foto yang bersifat gerak (movie) berdasarkan suatu konsep jalinan cerita guna menyampaikan suatu pesan. Untuk melengkapi penyampaian pesan maka gambar foto yang bersifat gerak tersebut dapat diisi dengan audio yaitu efek suara serta musik. Walaupun terdapat sangat beragam variasi dari definisi sinematografi tetapi paparan di atas dapat dianggap sebagai rangkuman definisi. Contohnya Robert Bresson memaparkan bahwa sinematografi adalah; “cara menulis dengan citra yang bergerak disertai suara”[2]. Pertanyaan kajian ini adalah seperti apa karakter wisata daerah akan ditampilkan dalam media video bukankah sudah cukup untuk membuat video pariwisata dan memaparkannya di media sosial atau media televisi. Jawaban dari pertanyaan ini secara eksak sulit untuk diukur, tetapi setidaknya kajian secara empiris hal ini dapat dirasakan oleh audiens melalui penelitian menggunakan media video dengan teknik sinematografi.

2. Metodologi Pilot penelitian dilaksanakan dengan model survei analysis of variance (ANOVA) satu arah. Yaitu model survei yang memilih diantara 3 buah video promosi wisata tentang Daerah Istimewa Yogyakarta. Masing-masing video diukur dengan variabel; menarik, ingin kesana, nuansa wisata. Penilaian dilakukan dengan memberikan tanda (coret) vertikal pada lajur parameter dari 0 – 100. Jumlah responden untuk uji survei yang bersifat pilot test ini adalah 20 responden saja. Mengingat tujuan survei adalah untuk membuktikan bahwa kesan dari audiens saat melihat stimulan visual berupa video profil wisata dapat diukur. Hal ini bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa karakter destinasi wisata layak untuk dijadikan landasan saat membuat sebuah profil video pariwisata terutama bila menggunakan teknik sinematografi. Tabel di bawah ini menunjukkan hasil dari pilot test dari ketiga video. Sebagai gambaran dari materi stimulan visual maka perbandingan dari masing-masing video adalah : − Video 1 memiliki durasi waktu 08.06 (delapan menit enam detik), menggunakan narasi sebagai ilustrasi pesan. Menggunakan teknik sinematografi dengan menonjolkan slow motion atau gerak lambat. Dibuat oleh Dinas Pariwisata D.I.Y, dan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif tahun 2014. − Video 2 memiliki durasi waktu 02.03 (dua menit tiga detik) tidak menggunakan narasi tetapi teks sebagai ilustrasi pesan. Menggunakan teknik sinematografi dengan menonjolkan time-lapse atau percepatan gerak dinamis. Dibuat oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta tahun 2014. − Video 3 memiliki durasi waktu 02.23 (dua menit dua puluh tiga detik) tidak menggunakan narasi tetapi teks sebagai ilustrasi pesan. Menggunakan teknik sinematografi dengan menonjolkan slow motion atau gerak lambat. Dibuat oleh Badan Promosi Pariwisata Kota Yogyakarta tahun 2012. Tabel 1. Hasil Survei Pilot test penilaian persepsi audiens video profil wisata # Variabel Video 1 Video 2 Video 3 Menarik Ingin Kesana

37,80 63,20

79,90 83,45

64,75 69,05

Nuansa Wisata

49,60

79,30

61,65

Hasil survei di atas merupakan nilai rata-rata (averange rate) dari proses survei ANOVA. Adapun masing-masing penilaian persepsi dari ketiga variabel di atas terkait dengan video stimulan memiliki persebaran sebagai berikut (Gambar 1) :

DS| 32

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

video 1

menarik

ingin kesana

nuansa wisata

100

0 1

2

3

4

5

6

7

video 2

8

9

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

menarik

ingin kesana

nuansa wisata

100

50 0 1

2

3

4

5

6

7

8

video 3

9

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

menarik

ingin kesana

nuansa wisata

100

0 1

2

3

4

5

6

7

8

9

10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20

Gambar 1. Tiga tabel persebaran penilaian persepsi dari audiens atas ketiga video stimulan Terlihat bahwa persebaran penilaian (derivatif) yang paling luas dimiliki oleh video 1 sedangkan video 2 justru memiliki derivatif yang paling kecil. Dalam survei pilot test ini kajian terkait durasi belum dijadikan variabel penelitian. Tetapi dari hasil survei di atas dapat ditarik hipotesa awal bahwa masalah durasi dapat menjadi masalah yang cukup serius dari media video saat menyampaikan pesan promosi wisata daerah.

3. Analisa dan Kajian Perlu disampaikan bahwa media video promosi wisata yang menggunakan teknis animasi dan atau motion graphic tidak dijadikan sebagai stimulan pembanding agar diperoleh persepsi yang sepadan. Dari analisa awal di atas ada kemungkinan bahwa permasalahan durasi media video selayaknya menjadi kajian dalam penelitian lanjutan. Tetapi mungkin hal ini dapat berhubungan dengan penempatan serta persebaran media. Analisa dari hasil survei di atas secara fakta dapat dibandingkan dengan kesan dan persepsi yang diterima oleh target audiens. Secara psikologis audiens dapat memilih serta memilah mana video yang memberikan kesan menarik serta mampu mempersepsikan tentang nuansa wisata yang dimiliki oleh D.I. Yogyakarta.

DS| 33

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Analisa atas media dilaksanakan secara kualitatif empiris yaitu melaksanakan pengamatan dan menghasilkan pendapat secara profesional. Adapun hasil dari analisa persebaran media video adalah : - Media Youtube (kanal berbagi video online) tidak mempermasalahkan durasi, jenis, kualitas, serta tujuan dari video. Video tidak dihargai berdasarkan konsep atau benefitnya tetapi dihargai berdasarkan jumlah penontonnya (viewers). Sehingga media ini menjadi media yang terbuka tetapi belum dapat diukur efektivitasnya untuk menarik wisatawan secara statistik. - Media Bioskop/Cineplex termasuk media periklanan kreatif yang masih sedikit disentuh oleh praktisi periklanan dan promosi wisata daerah. Hasil dari pelaksanaan promosi wisata daerah dengan media ini memang belum dapat diukur secara statistik, tetapi setidaknya target audiens dapat dipilih berdasarkan jenis film yang sedang tayang. - Media TV Bandara juga dimasukkan sebagai perluasan media kreatif untuk menyebarkan pesan promosi wisata daerah dalam bentuk video. Media ini dipilih karena sinergi dari pariwisata dengan transportasi udara sangat erat. Sejumlah maskapai penerbangan memiliki majalah sendiri yang diletakkan dibelakang sandaran kursi penumpang. Didalamnya pasti memuat destinasi wisata pilihan. Tetapi pemanfaatan TV bandara masih sangat minim untuk menyampaikan promosi wisata.

4. Kesimpulan Hasil dari kajian ini menghasilkan sejumlah kesimpulan yaitu : - Media video dengan teknik sinematografi berdasarkan kajian merupakan wahana promosi wisata daerah yang paling sesuai selain media essai fotografi. - Mengingat dinamika pergerakan dan waktu audiens yang cepat saat ini, maka media video dapat menjadi ujung tombak promosi yang dilanjutkan dengan media pendukung lainnya (web, buku panduan wisata, info center, dll.) untuk memberikan detail informasi lanjutan bagi calon wisatawan. - Karakteristik wisata daerah sebaiknya dikonsepkan sebagai landasan pemaparan pesan visual melalui media video. Mengingat walaupun hal tersebut sulit untuk didefinisikan secara praktis, tetapi ternyata dapat dibuktikan melalui uji survei bahwa konsep video yang memaparkan karakter destinasi wisata daerah dapat dirasakan oleh audiens. - Bentuk promosi wisata daerah dan penggambaran karakternya dengan media video memiliki kemungkinan persebaran yang sangat luas baik melalui media massa (TV, internet) maupun media personal (mobile gadget) dibanding dengan jenis promosi lainnya.

Daftar Pustaka [1] Vagionis, N., Loumioti, M. Autumn 2011. Movies As A Tool Of Modern Tourist Marketing. QuarterlyJournal of Economics.Tourismos: An International Multidisciplinary Journal Of Tourism. Volume 6, Number 2, pp. 353-362. [2] Bresson, Robert. 1997. Notes on the Cinematographer.England: Green Integer Book.

DS| 34

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Peran Desain Interior pada Ruang Terapi Autis Bandung Kharista Astrini Sakya, Imam Santosa Program Doktor Ilmu Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha No. 10 Bandung 40132 [email protected]

Abstrak Beberapa tahun belakangan ini kasus kelahiran anak autis semakin meningkat. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan sejak 2010 dengan perkiraan hingga 2016, terdapat sekitar 140 ribu anak di bawah usia 17 tahun menyandang autis. Autis merupakan gangguan perkembangan yang kompleks, disebabkan oleh adanya kerusakan pada otak, sehingga mengakibatkan gangguan pada perkembangan komunikasi, perilaku, kemampuan sosialisasi, sensori dan belajar, dan bukan suatu penyakit mental. (Peeters, 1997). Seringkali dilupakan bahwa yang mempengaruhi perkembangan dan pendidikan seorang anak, bukan hanya pada lingkungan psikis saja, tetapi lingkungan fisik juga memiliki andil yang cukup besar. Oleh karena itu, lingkungan fisik yang ada diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dalam perkembangan anak autis. Maka diperlukan suatu tempat yang dapat mewadahi dengan baik dalam proses penanganan tersebut dengan segala fasilitas yang menunjang di dalamnya. Penelitian ini bertujuan untuk membuat (usulan) desain interior yang sesuai untuk ruang tetapi autis berdasarkan metode dan literatur yang dijadikan referensi dan disesuaikan dengan karakter fisik dan

psikis anak autis di Bandung. Metode penelitian yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah dengan cara observasi. Kata-kata kunci : desain, interior, ruang, terapi, autis,

1. Pendahuluan 1.1 Latar Belakang Generasi penerus bangsa lahir dari potensi yang dimiliki setiap anak manusia yang lahir didunia ini. Akan tetapi akhir-akhir ini semakin banyak ditemukannya kasus gangguan perkembangan yang terjadi pada usia anak-anak. Salah satunya adalah autis. Perkembangam autis yang terjadi sekarang ini kian mengkhawatirkan. Mulai dari tahun 1990-an, terjadi boom autis. Berdasarkan data dari Badan Penelitian Statistik (BPS) sejak 2010 dengan perkiraan hingga 2016, terdapat sekitar 140 ribu anak di bawah usia 17 tahun menyandang autis. Jumlah tersebut kurang lebih tidak jauh berbeda dengan yang diperkirakan oleh badan penelitian dan konsulting, SPIRE. Dari data pemetaan anak berkebutuhan khusus di Indonesia, diperkirakan terdapat 139.000 penyandang autisme dari 400.000 anak berkebutuhan khusus (ABK). Penyebaran paling banyak terdapat pada daerah dengan rasio kepadatan penduduk paling tinggi. Sebagai contoh, daerah dengan perkiraan jumlah kasus autis tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat, dengan total mencapai 25 ribuan (Nelwansyah, Direktur Eksekutif rumah autis). Oleh karena itu, diperlukannya perhatian dan penanganan yang optimal agar anak autis dapat mengambil alih perilaku yang normal. Seringkali dilupakan bahwa yang mempengaruhi perkembangan dan pendidikan seorang anak, bukan hanya pada lingkungan psikis saja dalam hal ini adalah peran keluarga, dokter, psikolog, terapis dan obat, tetapi lingkungan fisik juga memiliki andil yang cukup besar. Lingkungan psikis sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik. Banyak orangtua yang mengalami kesulitan untuk menemukan sekolah atau lembaga yang bersedia menerima kondisi anak tersebut. Pada kenyataannya anak autis sulit berinteraksi dengan lingkungannya sehingga dibutuhkan wadah khusus dimana anak - anak penderita autis dapat mempelajari sesuatu sesuai keadaannya. Menurut UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 44 dan UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 133 dan 139, yang mengamanahkan upaya perlindungan dan peningkatan kesehatan bagi anak dengan disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, termasuk anak autis.

DS| 35

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Menurut American International Journal of Research in Humanities, Arts and Social Sciences, Desain interior dapat berpengaruh positif atau negatif pada psikologis penderita autis. Kebiasaan penderita autis dapat dipengaruhi menjadi lebih baik dengan mengubah lingkungan fisik bangunan (warna, tekstur, orientasi, akustik, dll), (Dr. Inas Hosny, 2015). Beberapa ahli mengatakan bahwa setiap anak harus dipandang sebagai individu yang membutuhkan sistem sosial dan lingkungan yang khusus. Setiap anak membutuhkan lingkungan yang disesuaikan dengan usia dan perkembangannya serta membutuhkan lingkungan fisik yang dapat mendukung kegiatan belajar dan bermain anak. Lingkungan fisik yang ada diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dalam perkembangan anak. Perencanaan lingkungan fisik, termasuk gedung, interior, ruang ruang luar, penataan ruang dan peralatan yang digunakan pada lingkungan fisik untuk anak akan memberikan pengaruh bagi anak. Maka diperlukan suatu tempat yang dapat mewadahi dengan baik dalam proses penanganan tersebut. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas anak autis, diperlukan adanya peran desain interior agar dapat membuat suatu tempat terapi yang memikirkan karakteristik anak autis yang berbeda dengan anak normal lainnya sehingga diharapkan dapat menunjang proses pembelajaran dan penanganan dengan segala fasilitas yang menunjang dan mewadahi didalamnya. 1.2 Identifikasi Masalah Menurut UU No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Pasal 44 dan UU No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 133 dan 139, yang mengamanahkan upaya perlindungan dan peningkatan kesehatan bagi anak dengan disabilitas atau anak berkebutuhan khusus, termasuk anak autis. Selain itu, daerah dengan perkiraan jumlah kasus autis tertinggi ada di Provinsi Jawa Barat, salah satunya Bandung. Sehingga diperlukan peran desain interior untuk mencari solusi dan membuat usulan suatu tempat terapi yang memadai sehingga dapat menunjang proses pembelajaran anak autis dengan menyesuaikan karakter fisik dan psikis anak autis yang membutuhkan ruang khusus saat terapi. 2.1.1 Definisi Autis Anak autis dapat dibagi menjadi 2 kategori yaitu high function dan low function. Menurut Penelitian di Virginia University di Amerika Serikat diperkirakan 75 - 80 % penyandang autis mempunyai kemampuan berpikir di bawah rata-rata / retardasi mental, sedangkan 20 % sisanya mempunyai tingkat kecerdasan normalataupun di atas normal untuk bidang-bidang tertentu. Penyebab anak autis masih belum diketahui secara pasti. Diantaranya adalah menurut teori psikososial, teori biologis, keracunan logam berat, gangguan pencernaan, bahkan virus (Widyawati, 2002). Menurut Power, (1989) dalam Wikipedia, karakteristik anak autis dapat terlihat dari segi komunikasi (Sebagian tidak berkomunikasi baik verbal maupun nonverbal, tidak mampu mengekpresikan perasaan maupun keinginan), bersosialisasi (tidak ada kontak mata, menghindar bertemu orang lain), adaptasi (konsentrasi kosong, bengong, melakukan sesuatu berulang-ulang, menggigit benda, menyakiti diri sendiri, memukul benda), kepekaan sensori (sensitif terhadap suara, sentuhan, menjilat mainan atau benda-benda), pola bermain (menyenangi benda berputar, sering terpaku pada benda tertentu), emosi (sering marah tanpa alasan, sering mengamuk tak terkendali, tiba-tiba tertawa). Jenis terapi yang dapat digunakan adalah terapi medika mentosa, perilaku, psikologis, bermain, fisioterapi, terapi musik, terapi fisik, ABA, wicara, okupasi, perkembangan, visual, biomedik (Yurike, 2009). Tabel 1. Karakteristik Autis High Function dan Low Function (Sumber : Data pribadi) HIGH FUNCTION IQ tinggi Bahasa verbal normal Kuat dan peka terhadap tekstur, bau, suara, penglihatan, peka terhadap kedipan cahaya Tidak menyukai hal abstrak

LOW FUNCTION Retardasi mental/IQ rendah >70 Bahasa non-verbal, bicara sangat minim Kurang peka terhadap tekstur, bau, suara, pencahayaan

DS| 36

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Skill motoric kurang

-

Mudah mengamuk/emosi Tidak suka berbincang-bincang Tidak mengerti humor Memahami konsep cukup baik tetapi bukan yang abstrak

-

Menyakiti diri sendiri/menggigit Terbentur tidak merasakan sakit, tidak takut jatuh, tidak takut ketinggian Suka melakukan hal repetisi/pengulangan seperti melihat roda yang berputar, kipas angina, mengurutkan mainan sejajar Asyik di dunianya sendiri Sulit berjalan/suka terjatuh Suka berjinjit, tepuk tangan, berputar di tempat, suka bermain dengan switch lampu mematikan dan menyalakan lampu Suka memakan/menggigit benda apapun, korden, baju Diam di pojok ruangan Asyik di dunianya sendiri

Suka tiba-tiba tertawa dan menangis tanpa alasan

2.1.2 Desain Interior dan Ruang Terapi Autis Desain Interior adalah perencanaan, tata letak dan desain ruang interior dalam bangunan (Ching, 2002). Ruang terapi adalah ruangan yang dipergunakan untuk memulihkan orang yang sedang sakit (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1988). Ruang terapi terdapat di dalam rumah sakit, pusat terapi ataupun sekolah untuk anak berkebutuhan khusus, dimana dalam sekolah atau pusat terapi anak autis, terapi tersebut mempunyai tujuan untuk mempersiapkan anak autis untuk melakukan terapi tahap selanjutnya atau untuk menghadapi kehidupan dewasa. Sehingga anak tersebut dapat berintegrasi dalam masyarakat dengan sebaik mungkin (dengan tetap mendapatkan perlindungan) (Peeters, 2004). Proses terapi dilakukan di dalam ruangan terapi yang tertutup, sehingga secara tidak langsung penderita autis akan berinteraksi dengan ruangan selama proses terapi. Hal ini menyebabkan anak autis tidak merasakan apa yang ada di lingkungan luar ruangan. Dalam setiap perancangan selalu terjadi penyesuaian yang didasari oleh kepentingan pengguna, salah satunya adalah penyesuaian perancangan ruang yang akan digunakan oleh anak autis yang mudah terdistraksi oleh stimuli yang ada pada lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, dibutuhkan peran desain interior untuk membuat suatu ruangan yang dapat mendukung proses terapi anak autis di ruang terapi. 1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Untuk membuat usulan desain interior yang sesuai untuk ruang terapi berdasarkan metode dan literature yang dijadikan referensi. Apabila usulan perancangan ruang terapi autis diujicobakan dan berhasil, maka usulan ini diharapkan dapat dijadikan standar bagi ruang terapi autis di lembaga lain selain di studi kasus. 2. Pembahasan 2.1 Metodologi Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan observasi. Observasi merupakan salah satu metode pengumpulan data yang dilakukan dengan cara pengamatan terhadap perilaku & lingkungan, baik sosial dan material individu atau kelompok yang diamati (Gall, 2003). Studi kasus berada di Sekolah Khusus Autis Bunda Bening Selaksahati Bandung. Sekolah Khusus Autis Bunda Bening Selaksahati merupakan satu-satunya sekolah berbentuk yayasan di Bandung yang menangani anak-anak autis dengan cara terapi dan memiliki asrama. Yayasan ini berada di Kampung Cibiru Beet Hilir, Desa Cileunyi Wetan, Kabupaten Bandung. Didirikan oleh Bening Selaksahati sejak tahun 2001. Survey dilakukan selama 1 bulan dengan mengamati perilaku penderita autis dan keadaan interior serta kegiatan dan proses yang terjadi langsung di lapangan. Proses pengamatan dilakukan dengan caramendokumentasikan dengan kamera berupa foto-foto dan wawancara secara langsung dengan pemilik yayasan. Anak autis yang diamati di yayasan ini sebanyak 50 orang. Pendekatan Desain Interior yang dipakai menggunakan teori Hosny (2015), menurut American International Journal of Research in Humanities, Arts and Social Sciences, bahwa desain interior dapat berpengaruh positif atau negatif pada psikologis penderita autis. Kebiasaan penderita autis dapat dipengaruhi menjadi lebih baik dengan mengubah lingkungan fisik bangunan (warna, tekstur, orientasi, akustik, dll).

DS| 37

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

2.2 Analisis Yayasan Bunda Bening Selaksahati Dari survey yang dilakukan, yayasan Sekolah Khusus Autis Bunda Bening Selaksahati berada di tengah gunung dan tepatnya di kampung Cibiru beet hilir. Dari ITB menuju lokasi membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam. Yayasan ini memiliki 2 bangunan utama yaitu rumah sebagai tempat tinggal / asrama anak dan sebagai sekolah / tempat terapi. Rumah terdiri dari 5 kamar tidur, 2 kamar mandi, 1 dapur, 1 ruang tamu, 1 ruang keluarga dan 1 ruang makan. Keadaan rumah seperti rumah tinggal biasa pada umumnya. Sementara pada sekolah, terdiri dari 4 ruang kelas tertutup dan beberapa meja untuk anak belajar dan terapi.

Gambar 1. Foto Yayasan Sekolah Khusus Autis Bunda Bening Selaksahati (Sumber : Dokumentasi Pribadi)

DS| 38

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

2.3 Hasil Diskusi / Analisa Dari lokasi yang disurvey, ternyata belum menerapkan desain interior yang sesuai / khusus untuk penderita autis, hanya seperti ruang kelas biasa untuk proses belajar mengajar, dan memanfatkan rumah tinggal yang memang tidak di desain khusus untuk anak autis. Mengingat anak autis memiliki karakter khusus dibandingkan dengan yang tidak berkebutuhan khusus, seharusnya desain interior dalam ruang terapi disesuaikan dengan penggunanya. Menurut Humprheys (2008), yang melakukan penelitian di Newcastle, United Kingdom, desain interior untuk anak autis sebaiknya : a. Tenang dan sederhana, dimana menggunakan material yang berbahan sama ketika membuatdinding, lantai dan langit-langit (warna yang sama), mengurangi tekstur dan warna-warna yang terlalu banyak karena mengganggu proses terapi anak autis dan dapat menyebabkan distraksi bagi anak. b. Menggunakan proporsi yang sesuai untuk anak seusianya. c. Lebih baik menggunakan pencahayaan alami (jendela), tetapi sebaiknya menggunakan jendela yang berada di langit-langit (skylight) agar mengurangi sensitivitas anak terhadap cahaya matahari. d. Proksimitas. Anak autis memiliki jarak proksimitas yang berbeda dengan anak yang tidak berkebutuhan khusus. e. Memperhatikan aspek keamanan untuk anak autis, seperti pengawasan oleh terapis. f. Akustik / bising perlu diperhatikan karena anak autis peka terhadap suara. Menurut Beaver (2003), arsitek dari Inggris, sebaiknya perancangan ruang dan bangunan untuk anak autis adalah : a. Membuat koridor untuk tempat rehabilitasi autis sebaiknya tidak terlalu panjang, hanya sekedar untuk sirkulasi atau dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermain. b. Membuat ruangan yang cukup (tidak terlalu besar atau terlalu kecil). c. Perhatikan akustik / bising yang ditimbulkan pada ruangan, seperti menaruh karpet di lantai dengan menggunakan material yang lembut sehingga tidak menimbulkan suara dan dapat meredam suara. d. Keamanan sangat penting seperti saat mendesain toilet. e. Jendela sebaiknya diberikan kunci dan menggunakan kaca yang aman, selain itu sebaiknya menaruh penutup jendela agar tidak semua cahaya matahari dapat masuk ke dalam ruangan sehingga menimbulkan distraksi. f. Sebaiknya menggunakan pencahayaan tidak langsung, karena anak autis sensitive terhadap kedipan lampu, walaupun bagi orang yang tidak berkebutuhan khusus tidak pernah menyadarinya. g. Memberikan suatu ruang khusus yang disebut ruang tenang, agar ketika anak autis tantrum / mengamuk, terlalu stress dan banyak tekanan, anak autis dapat tenang jika berada di ruangan tersebut. h. Sebaiknya membuat taman agar membantu merangsang indra visual, pendengaran, peraba, penciuman dan perasa. i. Menggunakan warna-warna yang hangat dalam membuat desain interior seperti pada lantai,dinding, langit-langit. Menurut Hegde (2015), desainer interior dan ahli pencahayaan dari Universitas Texas menyatakan bahwa untuk ruang terapi autis sebaiknya : a. Membuat desain visual sesederhana mungkin dan menggunakan pencahayaan yang terang. b. Menghindari silau. Gunakan pencahayaan secara tidak langsung (indirect lighting). c. Perhatikan penggunaan lampu yang membuat kedipan (flickering) karena anak autis peka terhadap kedipan lampu. d. Suara, lampu, warna dan pola / gambar yang terlalu dekoratif. Memicu anak autis mendapatkan stimulus yang berlebihan.

DS| 39

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Sementara menurut Mayangsari (2006), desainer interior dari Universitas Kristen Petra Surabaya, dalam penelitiannya yang berjudul konsep desain partisipasi dalam desain interior ruang terapi perilaku anak autis, karakter anak autis yang suka memukul, menggigit benda, dan juga peka terhadap suara maka kriteria fisik ruang untuk anak autis juga perlu diperhatikan, seperti : a. Menggunakan material dan bahan yang tidak mengandung racun, non toksit, aman, tidak licin, bentuk tidak tajam. b. Untuk pencahayaan, dibutuhkan pencahayaan yang tidak langsung, agar mereka merasa lebih nyaman, bila mereka nyaman maka keberhasilan kegiatan terapi akan lebih maksimal. c. Pada penggunaan bentuk, yang paling sesuai untuk anak pada umumnya adalah bentuk sederhana dan jelas, seperti bentukan geometris kubus, balok, bola, dsb. Bentukan sederhana ini akan membantu proses belajar mengajar melalui pengenalan bentuk secara nyata, karena anak autis tidak dapat membayangkan sesuatu yang abstrak. Bentukan yang rumit dapat membuat anak autis distraksi sehingga pemusatan perhatian akan terpecah pada benda yang menarik baginya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan para ahli, Matthews (1994), menyimpulkan di dalam thesisnya berjudul Stimulus Oversectivity, Stimulus Generalization, and Visual Context in Adults with Autism, bahwa anak-anak autisme dapat di stimulus dengan bentuk (33%), kemudian warna (26%) dan lokasi (16%). Bentuk yang dapat menstimulus anak autis adalah bentuk kotak yang paling dapat diterima kemudian bentuk segitiga dan oval. Selain bentuk ternyata warna juga dapat menstimulus anak autis. Kriteria konsep warna interior yang sesuai dengan karakter anak autis adalah warna yang dapat meningkatkan konsentrasi, menimbulkan suasana ruang aman, lembut, dan nyaman. Tabel 2. Karakter anak autis dan Kriteria Fisik Ruang (Sumber : Data Pribadi) No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

KARAKTER ANAK AUTIS Suka meniru dan menghafal katakata atau nyanyian Lebih suka menyendiri, tidak tertarik bermain bersama teman Bila mendengar suara keras langsung menutup telinga Senang menjilat mainan/bendabenda Tidak peka terhadap rasa sakit Senang akan bernda-benda yang berputas Sangat suka berputar-putar dan berlari-lari Kadang suka merusak Sulit focus Tidak dapat membayangkan sesuatu yang rumit/abstrak Peka terhadap cahaya Suka mencorat-coret dimana saja

KRITERIA FISIK RUANG Memiliki banyak tulisan bergambar pada ruangan selain untuk pembelajaran Menyiapkan ruangan bersekat, membuat ruangan yang cukup untuk satu anak Kedap suara Material yang tidak beracun, tidak tajam Bentuk furniture tidak tajam Membuat bentuk mainan/furniture yang menarik Membuat ruangan yang tidak terlalu luas Material yang tidak berbahaya, aman, lembut Membuat ruang agar terpusat perhatiannya, memakai warna yang dapat meningkatkan konsentrasi, layout dibuat berhadapan Membuat bentuk furniture yang sederhana dan jelas (kubus, bola) sirkulasi yang sederhana tidak membingungkan Membuat pencahayaan tidak langsung Membuat beberapa dinding ruang dengan ditempel kertas

Selain itu, melihat karakter anak autis yang berbeda dengan anak yang tidak berkebutuhan khusus lainnya, maka harus diperhatikan dalam membuat desain ruang kelas terapi agar dapat mendukung proses belajar / terapi. Oleh karena itu, dilihat dari hasil survey di Yayasan Sekolah Khusus Autis Bunda Bening yang belum menerapkan desain interior yang sesuai untuk anak autis, sebaiknya dapat diperhatikan lagi agar dapat membantu proses terapi.

3. Kesimpulan Pemahaman akan sebuah permasalahan yang terjadi dalam proses perancangan merupakan hal yang penting dan patut untuk dimengerti, agar dalam perancangan desain yang dihasilkan memberikan

DS| 40

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

sebuah solusi yang baik dan tepat untuk menanggapi masalah tersebut. Kebutuhan pengguna serta aktivitas didalamya menjadi sebuah acuan dalam merancang fasilitas-fasilitas dan keputusan desain interior. Penderita autis memiliki karakteristik yang khusus, sehingga diperlukan penanganan yang khusus pula. Desain interior ternyata memiliki peran terhadap suatu peningkatan kegiatan terapi autis. Tentunya dengan desain yang sesuai dengan karakter fisik dan psikis penderita autis. Oleh karena itu, desain ruang terapi autis di Bandung sebaiknya diperhatikan dan menjadi sebuah kajian yang bisa lebih diperdalam lagi agar dapat menjadi sebuah alternatif solusi dalam membuat suatu ruang terapi autis yang dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas anak autis di Bandung.

Daftar Pustaka [1] Beaver, C. 2003. Breaking the mould, Communication 37(3): 40 [2] Ching, Francis D.K. 2002. Architecture, Space and Order. New York : Maxmillan Publishing Company [3] Fauzia, Yurike. 2009. Apa Dan Bagaimana Autisme. Terapi Medis Alternatif. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia [4] Gall, dkk. 2003. Educational Research : an Introduction. Seventh Edition. Boston : Allyn dan Bacon [5] Hedge, Asha. 2005. Sensory Sensitivity and the Built Environment. Designing for Disorders. LD+A : Texas [6] Hosny, Inas. 2015. American International Journal of Research in Humanities, Arts and Social Sciences. Arab Republic of Egypt. [7] Humphreys, S. 2008. Architecture and autism. URL : http://www.auctores.be/auctores_bestanden/UDDA%2003102008%20S%20Humphreys.pdf [8] Matthews, Brian. 1994. Stimulus Overselectivity, Stimulus Generalization, and Visual Context in Adults with Autism. http://som.flinders.edu.au/FUSA/disabstud/Topics /DSRS9019/study/ sect11/thesis-bm/defa… 7/28/2005 [9] Mayangsari, Sriti. 2006. Konsep Desain Partisipasi Dalam Desain Interior Ruang Terapi Perilaku Anak Autis. Fakultas Seni dan Desain Universitas Kristen Petra Surabaya [10] Petters, Theo. 1997. Autism : From Theoretical Understanding to Educational Intervention. J.A Majors Company. [11] Peeters, Theo. 2004. Autisme Hubungan Pengetahuan Teoritis dan Intervensi Pendidikan bagi [12] Penyandang Autis. Jakarta, Dian Rakyat. [13] Widyawati, Ika. 2008. Efektifitas Terapi Warna Biru Terhadap Peningkatan Kualitas Tidur Pasien di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Daerah Purwodadi Kabupaten Grobogan. Undergraduate thesis. Universitas Diponegoro

DS| 41

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Optimalisasi Ruang Pada Desain Interior dengan Pendekatan Virtual Edwin Widia Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 Email : [email protected]

Abstrak Salah satu pendukung industri kreatif saat ini adalah area pajang pada desain interior. Fasilitas ini sangat membutuhkan dukungan dari rencana interior, karena dengan perencanaan desain interior yang baik kebutuhan akan sarana pamer dari produk tersebut dapat meningkat nilai jualnya. Dengan semakin besarnya kebutuhan area pajang karena banyaknya produk tersebut maka kebutuhan ruang pun semakin besar, akan tetapi besaran ruang yang adapun semakin kecil karena semakin mahal dan semakin tingginya area komersil tersebut. Dari hasil penelitan yang dilakukan tentang simulasi ruang pada desain interior dengan pendekatan virtual, maka hipotesa bagaimana aplikasi area pajang virtual dapat dioptimalisasikan secara virtual namun tetap dapat merasakan kedalaman ruang yang konkret. Perkembangan teknologi saat ini semakin pesat, keadaan ini membuat suatu teknologi dari yang tadinya sangat mahal bisa turun drastis ketika menjadi produk masal, contohnya proyektor, produk tersebut sekarang merupakan produk yang mudah didapatkan dengan harga yang relatif tidak terlalu mahal.Teknologi proyektor merupakan salah satu sarana yang dapat memproyeksikan gambar kecil menjadi besar, dengan kemampuan teknologi ini, hal tersebut bisa dijadikan sarana pajang virtual yang dapat mengoptimalisasi ruang dengan cara memproyeksikan sarana tersebut secara flat dan digital. Kata-kata kunci : Simulasi, Area Pajang, Interaksi Virtual, Ruang,

Abstract One of the supporters of the creative industries today is a display area on the interior design. This facility is in dire need of support from the interior plan, because with good interior design plan needs to be a means of showing off of the product can increase the resale value. With an increased demand due to the large product display area is the need for even greater space, but the amount of space while getting smaller as more expensive and increasing the commercial area.From the results of research conducted on simulated space in interior design with the virtual approach, then the hypothesis of how the application of virtual display area can be optimized in a virtual but still can feel the depth of the concrete. The development of technology is currently growing rapidly, this situation makes a technology from being very expensive could fall dramatically when it became a mass product, for example a projector, the product is now a product that is easily available at a price that is not too relatively expensive.Projector technology is one tool which can project a small image becomes large, with the ability of this technology, it can be used as a tool that can optimize the virtual display space by projecting these facilities are flat and digitally. Keywords: Simulation, Area Pajang, Virtual Interaction, Space

1. Pendahuluan Mengacu dari penelitian yang telah dilakukan dengan judul simulasi ruang pada desain interior dengan pendekatan virtual, maka makalah ini dibuat berdasarkan penelitian tersebut yang kemudian disesuaikan dengan seminar nasional yang diadakan oleh institut yang salah satu temanya adalah industri kreatif. Objek dari makalah ini merupakan hasil atau output dari kemungkinan yang

DS| 42

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

dihasilkan dari bagaimana pengaruh dampak virtual dengan teknologi proyektor yang disimulasikan pada suatu bidang dapat dijadikan alat bantu objek benda pamer pada rencana desain interior, sehingga pemanfaat dari ruang interior dapat lebih optimal. 1.1 Latar Belakang Meningkatnya kebutuhan sarana pajang pada area pamer komersil semakin tinggi, begitu juga dengan kecepatan berubahnya sarana pajang tersebut, hal ini merupakan bagian dari strategi dagang suatu area komersil. Proses ini merupakan bagian yang cukup penting untuk dipikirkan oleh perencana interior. Perkembangan teknologi saat ini semakin cepat sehingga banyak teknologi yang sudah dapat dijangkau secara pertimbangan ekonomis, teknologi virtual yang terdapat dalam proyektor merupakan suatu sarana yang cukup penting untuk diperhatikan sebagai bagian dari perencanaan interior, sehingga teknologi ini dapat di aplikasikan kedalam perencanaan interior. 1.2 Identifikasi Masalah Belum optimalnya pemanfaatan teknologi virtual terhadap kondisi desain interior yang membutuhkan dimensi ruang yang lebih besar. 1.3 Batasan Masalah Simulasi virtual melalui pemanfaatan proyektor dengan dengan teknik video mapping pada ruang, sebagai latar belakang pembentuk dimensi dan kedalaman ruang. 1.4 Tujuan Optimalisasi Ruang melalui pemanfaatan teknologi virtual pada area pajang dari desain Interior toko 1.5 Manfaat Mendapatkan metode pengaplikasian area pajang secara virtual yang lebih me-ruang.

2. Metodologi

2.1 Tinjauan Simulasi Ruang Virtual Virtual menurut shield ( 2011 - 44 ) “Teknik virtual menciptakan ilusi kehadiran melalui alat peraga, simulasi. Kehadiran parsial ( seperti suara yang disampaikan oleh telepon atau pikiran yang ditulis dalam buku) dan ritual yang membangkitkan masa lalu dan membuat masa sekarang tidak ada.” Penelitian yang dilakukan ini adalah untuk mendapatkan alat bantu /model ruang virtual yang lebih aktual untuk dirasakan, sehingga secara visual tetap aktual dan konkret namun dapat merasakan ruang tetap konkret. Dengan maksud agar dalam merencanakan desain interior sarana tersebut

DS| 43

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

dapatmendukung dalam menentukan persepsi warna ruang yang lebih akurat dan sesuai dengan rencana desain. Banyak bentuk virtualisasi yang mendukung bidang perencanaan secara akademik desain interior mulai dari yang bersifat 2D hingga 3D, semuanya bertujuan mendapatkan akurasi persepsi dalam menyamakan/ merasakan sensasi kedalaman ruang. Fasilitas tersebut terus meningkat dalam berbagai sarana seiring dengan perkembangan jaman. Dimulai dari layar monitor yang disimulasikan melalui gambar tiga dimensi hingga hologram. Maksud dari simulasi disini adalah membuat model yang bersifat konkret dan aktual namun dapat dilakukan proses perubahan bentuk dan warna secara virtual, sehingga dapat memunculkan efisiensi waktu karena adanya dukungan teknologi digital. Proses tersebut dilakukan dengan dukungan proyektor. 2.1.1 Ruang Virtual • Virtual adalah sebuah “idealisasi nyata’ seperti memori, mimpi, atau niat • Konkret merupakan ‘hal nyata yang aktual’, seperti hal yang dipandang sudah ada seperti itu dari asalnya, ide yang diaktualisasi, dan apapun yang mewujudkan kenangan. Hal ini adalah peristiwa, kehidupan keseharian kita ‘sekarang’ • Konsep abstrak adalah ‘posibilitas yang ideal’ ( dinyatakan sebagai abstraksi murni, konsep); • Probabilitas adalah sebuah ‘posibilitas’aktual. Biasanya dinyatakan secara matematis, seperti presentase.

Ideal Aktual

Tabel 1. Virtual dan Konkret Nyata ( Ada ) Mungkin ( Tidak ada) Virtual ( Nyata secara Ideal ) Abstrak ( Ideal yang mungkin ) Keadaan konkret ( Nyata secara Aktual ) Probabilitas ( Posibilitas yang actual)

Bila melihat tabel diatas dapat dilihat kemampuan virtual dalam membentuk proses yang bersifat ideal namun tidak nyata, namun tidak konkret, hal tersebut yang menjadikan bahan penelitian, apakah sesuatu yang ideal dan bersifat kemungkinan dapat dirasakan lebih nyata atau konkret sehingga dapat lebih aktual dalam menentukan suatu persepsi tentang ruangan yang merupakan elemen dasar dari desain interior. 2.1.2 Persepsi Terhadap simulasi ruang Virtual Dalam teori – teori psikologi sosial sarwono ( 89 – 2013 ) “Empat aspek dari persepsi yang menurut Berlyne (1957 ) dapat membedakan persepsi dari berpikir adalah : 1. Hal – hal yang diamati dari sebuah rangsangan bervariasi, tergantung pola dari keseluruhan dimana rangsang tersebut menjadi bagiannya. 2. Persepsi bervariasi dari orang ke orang lain dan dari waktu ke waktu. 3. Persepsi bervariasi tergantung dari arah (focus) alat – alat indra 4. Persepsi cenderung berkembang kearah tertentu dan sekali terbentuk kecenderungan itu biasanya akan menetap. Menurut kuswana 220 – 2011 Persespsi merupakan proses saat seseorang mengatur dan mengintepretasikan kesan – kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka. Menurut kuswana 219 – 2011 “Sensasi berupa kesan sesaat, saat stimulus baru diterima otak dan belum diorganisasikan sengan stimulus lainnya dan ingatan – ingatan yang berhubungan dengan stimulus tersebut. Bila melihat teori – teori tentang persepsi diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa hal utama yang memunculkan persepsi adalah adanya suatu stimulus, dari bentuk apapun yang diterima oleh indra manusia atau reseptor. Dalam hal ini yang pertama adalah penglihatan dimana mata sebagai indra penglihatan dijadikan alat sensor dalam menerima stimulus. Kemudian stimulus yang dimaksud disini adalah sarana virtual tersebut, namun yang menjadi tujuan utama adalah bagaimana membuat sarana virtual tersebut dapat lebih terasa secara meruang, bukan hanya sekedar pandangan yang data

DS| 44

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

tanpa merasakan kedalaman ruang. Oleh karena itu stimulus tersebut harus dapat di manipulasi agar dapat mendukung tujuan dari sarana ini dalam membentuk kedalaman ruang. Selain persepsi dibutuhkan juga suatu sensasi perasaan yang dapat mendukung manipulasi ruang tersebut secara virtual, agar dapat mendukung pembentukan kedalam interior, seperti poin dibawah, sensasi dialami seseorang apabila terdapat : 1. Objek yang diamati atau kekuatan stimulus; 2. Objek menimbulkan stimulus yang mengenai indra ( reseptor ) sehingga terjadi sensasi, untuk diterima oleh indra diperlukan kekuatan stimulus yang disebut ambang mutlak ( absolute threshold). 3. Kepastian alat indra (reseptor) yang cukup baik serta saraf ( sensoris ) yang baik sebagai penerus kepada pusat otak ( kesadaran ) untuk menghasilkan respons. 2.2 Video Mapping Dalam tujuan membentuk ruang virtual yang bersifat konkret maka dibutuhkan fasilitas pembentuk ruang virtual tersebut. Proses ini dilakukan dengan menggunakan mekanisme video mapping, yaitu suatu proses penggambaran secara video pada suatu bidang dengan menggunakan proyektor sebagai alat penyampaian gambarnya. 2.3 Proyektor Untuk mendapatkan area pajang yang lebih meruang secara virtual maka dibutuhkan sarana khusus yang dapat menjangkau besar ruangan, yang secara dimensi dapat menyesuaikan secara proporsional, hal ini deapat dijangkau dengan adanya proyektor, dimana teknologinya pun semakin berkembang. 2.4 Aspect ratio dan Throw ratio Setelah mengetahui kemampuan dari spesifikasi yang dimiliki oleh proyektor maka kita dapat menentukan batasan dari gambar yang ingin dihasilkan, sehingga optimalisasi dalam memanfaatkan sarana tersebut dapat tercapai. Pertama adalah mengetahui throw ratio dari proyektor tersebut tujuannya untuk membuat ukuran yang optimal dari dimensi layarnya harus berapa jauh jarak antara layar dan proyektor dengan pertimbangan aspect ratio yang digunakan, sehubungan dengan kemampuan proyektor tersebut sesuai dengan spesifikasi diatas. Dalam menentukan nilai tersebut digunakan fasilitas projection calculator dari website projectorcentral, sehingga kita hanya perlu menginput type dari proyektornya dan jarak throw ratio beserta aspect ratio yang digunakan, seperti pada Gambar 1.

Gambar 1. Throw Ratio Epson PowerLite S9 (http://www.projectorcentral.com/Acer-PD100-projection-calculator-pro.htm)

DS| 45

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Melalui proses pengukuran jarak antara bidang yang akan ditembak sinar proyektor terhadap proyektor itu sendiri, maka kita dapat mengukur jarak yang optimal agar kualitas gambar yang ditampilkan pada bidang yang diproyeksikan dapat lebih maksimal. Untuk mendapatkan kualitas tersebut maka bisa dilakukan secara terukur dengan menggunakan calculator proyektor secara online, dengan proyektor tersebut tipe – tipe dari proyektor sudah dijadikan library sehingga pre-set dan spesifikasinya sudah terrekam dalam library-nya, sebagai pengguna kita tinggal memasukan ukuran jarak dan kebutuhan bidang dan ruang yang tersedia. Untuk mengukur tingkat kualitas dari hasil gambar yang dihasilkan penulis melakukan eksperimen, tentang bagaimana persepsi orang dalam melihat hasil proyektor tersebut, eksperimen tersebut dilakukan dengan membuat simulator, kemudian reponden diberiikan kuesioner untuk mendapatkan tingkat persepsinya terhadap kualitas yang dialami dengan melihat objek pada simulator. Responden terdiri dari mahasiswa desain interior pada mata kuliah digital interior II, sebanyak 32 orang terdiri dari 8orang pria dan 24 wanita. Eksperimen Persepsi tampilan proyeksi gambar virtual No.

1

Kegiatan Eksperimen dilakukan dengan membuat boks simulator sebagai sarana latar untuk proyeksi dari proyektor dalam mendapatkan hipotesa bagaimana persepsi mahasiswa terhadap bidang virtual yang konkrit. Proses pembuatan boks simulator dilakukan dengan menggunakan metode 1 titik hilang, dengan tujuan untuk mendapat kan efek 3 dimensi dimana hal tersebut menjadi prinsip dasar dalam mendapatkan pandangan interior, yaitu lantai, dinding dan atap.

Keterangan

Untuk jarak proyektor terhadap simulator adalah 150 cm mengikuti ukuran dari calculator

Gambar 1. eksperimen simulator 2.

Setelah mendapatkan bentuk boks simulator, maka dibuat gambar yang dapat mewakili kebutuhan interior (lanttai, dinding dan atap) kemudian dibuat suatu sudut pandang yang dapat disesuaikan dengan boks simulator yang menggunakan metode gambar 1 titik hilang.

Gambar 2. Gambar yang digunakan pada simulator

DS| 46

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

3.

Dari gambar virtual yang terdapat di dalam layar monitor maka gambar tersebut dilanjutkan pada proyeksi boks simulator, pada proses ini terdapat penurunan kualitas warna dan tekstur, namun tingkat kedalaman ruang lebih dapat dirasakan.

Gambar 3. Simulator dengan contoh gambar 4.

Setelah melakukan eksperimen dalam pembuatan boks simulator, maka proses dilanjutkan dengan pengambilan sampel dari responden, Responden terdiri dari mahasiswa desain interior pada mata kuliah digital interior II, sebanyak 32 orang terdiri dari 8 orang pria dan 24 wanita. Proses ini dilakukan dengan cara tiap mahasiswa diberikan kuesioner, kemudian mereka diminta untuk memperhatikan simulator. Gambar 4. Proses mengambil sampel

3. Hasil dan Pembahasan

1

Tabel 2. Kuesioner eksperimen simulasi ruang pada desain interior dengan pendekatan virtual Dari Simulasi virtual ini, anda dapat merasakan Kedalaman ruang Sangat Setuju (15)

2

6

Sangat tidak Setuju

Setuju(17)

Netral(8)

Tidak Setuju

Sangat tidak Setuju

Setuju(12)

Netral(3)

Tidak Setuju

Sangat tidak Setuju

Dari Simulasi virtual ini, anda dapat merasakan perbedaan Dimensi Sangat Setuju (8)

5

Tidak Setuju

Dari Simulasi virtual ini anda dapat merasakan Perbedaan Lantai, Dinding dan Plafon Sangat Setuju (17)

4

Netral(2)

Dari Simulasi virtual ini, anda dapat merasakan Suasana ruang Sangat Setuju (6 )

3

Setuju(14)

Setuju(19)

Netral(4)

Tidak Setuju

Sangat tidak Setuju

Dari Simulasi virtual ini, anda apakah dapat merasakan Ruang 3Dimensi bila dibandingkan dengan monitor Sangat Setuju (16) Setuju(13) Netral (2) Tidak Setuju Sangat tidak Setuju Dari Simulasi virtual ini, anda dapat menentukan pilihan warna atau pola yang sesuai kebutuhan desain anda Setuju (16) Netral(10) Tidak Setuju Sangat Setuju (5) Sangat tidak Setuju

DS| 47

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

7

8

Dari Simulasi virtual ini, anda dapat menentukan komposisi warna yang dibutuhkan desain anda Sangat Setuju (6) Setuju(19) Netral(6) Tidak Setuju Sangat tidak Setuju Dari Simulasi virtual ini, anda dapat menentukan proporsi volume warna pada desain anda Sangat Setuju (8)

9

Setuju (19)

Netral (5)

Tidak Setuju

Sangat tidak Setuju

Apakah simulasi virtual ini akan dapat membantu kinerja anda pada mata kuliah studio desain interior Netral (7) Sangat Setuju (11) Setuju (13) Tidak Setuju Sangat tidak Setuju

Bila melihat hasil dari kuesioner yang diberikan maka dapat dilihat mayoritas mahasiswa dapat merasakan persepsi yang sama terhadap pengaruh virtual yang diciptakan oleh proyektor, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh virtual dengan proyektor cukup memberikan dampak visual yang baik.

4. Analisa Ruangan dengan lemari pajang konkrit Bila melihat gambar denah dibawah maka dapat dilihat bagaimana suatu lemari pajang yang biasanya berukuran tebal 60cm akan cukup memakan ruang bila berada pada lokasi ruang yang berdimensi kecil, hal ini merupakan latar belakang masalah yang harus dicari solusinya. Namun solusi tersebut haruslah dapat memberikan nilai lebih bila dilihat dari sudut pandang proses memajang objek benda pamer. Lebar ruang yang ada biasanya kita dapatkan bila kita menyewa ruko pada area komersil yang biasanya lebar 500cm, dengan ukuran 250cm berarti kita dapat melakukan efisiensi dengan menjadikan ruang tersebut untuk dua pemilik bila dibagi dua.

DS| 48

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Efektif sirkulasi hanya 190 cm

Gambar 6. Isometri Gambar 7. Denah studi ruang terhadap area pajang

Memberikan Kesan mendominasi ruangan , sehingga memberikan kesan ruang menjadi Sempit, hal tersebut sangat berpengaruh pada kondisi kenyamanan ruang komersil yang biasanya memiliki tingkat lalu lintas yang tinggi Gambar 8. Perspektif studi ruang terhadap area pajang

Ruangan dengan lemari pajang Virtual Dengan merubah area pajang menjadi rata dengan tembok, hal tersebut dapat memberikan efek yang lebih luas dari kebutuhan ruang yang ada, efek ini cukup efektif dalam mendpatkan besaran ruang, sehingga lebar ruang sebesar 250 cm dapat maksimal digunakan untuk sirkulasi. Dan tidak ada kesan berat yang didapatkan dari tebalnya dimensi cabinet yang biasa sering digunakan.

DS| 49

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Efektif sirkulasi penuh 250 cm

Gambar 9. Denah studi ruang

Gambar 10.Isometri

Kesan mendominasi ruangan hilang, sehingga memberikan kesan ruang menjadi luas, hal tersebut sangat berpengaruh pada kondis ruang komersil yang biasanya memiliki tingkat lalu lintas yang tinggi

Gambar 11.Perpektif

DS| 50

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Gambar 12.Eksperimen dengan ukuran 1 banding 1 sesuai dengan proporsi Contoh penempatan display buku pada area kerja sebagai elemen interior ruang kerja, dari contoh gambar diatas dapat dilihat optimalisasi ruangan dengan memberikan rak buku pada dinding diatas meja kerja namun, tidak memberikan kesan berat pada area kerja dibawahnya.

5. Kesimpulan Dari hasil eksperimen diatas maka dapat disimpulkan bahwa, Dalam penyampaian secara visual penelitian ini dapat memberikan ruang cukup efisien, sehingga dapat membantu mendapatkan ruang sirkulasi yang lebih luas, dengan mendapatkan ruangan yang lebih luas maka pemanfaatan ruangan bisa lebih optimal dalam menambahkan kebutuhan-kebutuhan lain pada perencanaan desain interior yang bersifat permanen, sehingga benda – benda besar yang biasa mendominasi ruangan dapat di redam sehingga kesan luas pada ruangan dapat dirasakan. Namun masih banyak variabel lain, seperti ,Teknologi proyektor terkini, Ergonomi, Lighting, Mekanisme penggantian benda pajang

Daftar Pustaka [1] Kuswana , Wowo Sunaryo. 2011. Taksonomi Berpikir. Rosda. [2] Sarwono, Sarlito Wirawan. 2011. Teori – Teori Psikologi Sosial. Rajawali Pers [3] Virtual, Shields, Rob 2003. Sebuah pengantar komprehensif. [4] William Lidwell, Kritina Holden, Jill Butler (2003). Universal Principles of Design, United States of http://www.projectorcentral.com/Acer‐PD100‐projection‐calculator‐pro.htm

DS| 51

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Ragam Hias Betawi dalam Industri Kreatif Asih Retno Dewanti Prodi Des. Interior, Fak. Seni Rupa dan Desain Universitas Trisakti Kampus A - Jl. Kyai Tapa No. 1, Grogol, Jakarta - Barat e-mail: [email protected]

Abstrak Manusia sebagai mahluk sosial untuk tetap mempertahankan dan menjaga keberlangsungan hidup penting untuk berpikir kreatif. Berpikir kreatif adalah salah satu faktor membuat rangkaian gagasan atau ide yang disebut ‘desain’. Pengertian desain sendiri tidak dapat terlepas dari seni yang berhubungan dengan keindahan atau estetika. Keindahan dalam sebuah karya seni yang merupakan ungkapan, ekspresi dan buah pikiran seorang individu yang berupa sebuah produk atau karya visual yang dapat dinikmati melalui pandangan mata ke dalam pikiran dan perasaan. Pembahasan pada tulisan ini terkait dengan desain dekoratif lokal jenius kota Jakarta dengan budaya Betawinya, dalam hal ini adalah ondel-ondel, tarian topeng betawi dan dekorasi pada rumah tradisional Betawi. Terkait dengan industri kreatif, penulis mengusung Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang memperoleh Hibah Dikti tahun 2012 – IbM (Ipteks bagi Masyarakat) pada Kelurahan Petojo – Jakarta Pusat. Bentuk pemberdayaan masyarakat (Ibu-Ibu rumah tangga dan Remaja Putri) dengan hubungan kerjasama Institusi Perguruan Tinggi di Wilayah Sekitar yaitu Universitas Trisakti dengan Memanfaatkan Limbah kain perca menjadi benda dekoratif dengan teknik ‘Qiulting’ yang mempunyai nilai jual. Kata-kata kunci : Kreatif, Desain, Seni, Betawi dan quilting.

1. Pendahuluan Peranan desain dan implementasi lokal konten dalam industri kreatif, sesuai dengan topik di atas yang tidak terlepas dari hubungan seorang individu dengan cara berpikirnya. Setiap mahluk hidup sejak dilahirkan akan terus menggunakan pikirannya untuk terus dapat berkembang, maju dan beradaptasi yang juga dipengaruhi lingkungan sekitarnya dimana dia hidup dan dibesarkan. Setiap lingkungan mempunyai adat istiadat dan Kebudayaan sendiri yang akan menjadi suatu ciri khas tersendiri atau akan menjadi penanda asal kedaerahan tertentu. Seperti kota Jakarta dikenal dengan budaya Betawinya, seperti di ketahui bahwa budaya Betawi bukan merupakan budaya asli kota Jakarta. Karena seperti kota-kota lain yang merupakan daerah pesisir terdapar percampuran budaya karena adanya hubungan perdagangan melalui laut. Kota yang terletak disebelah Barat Laut pulau Jawa ini dulunya dikenal dengan nama Sunda Kelapa yang kemudian mengalami beberapa kali pergantian nama sebelum akhirnya berubah menjadi Jakarta. Seperti sumber yang penulis kutip perubahan nama tersebut adalah: • Sunda Kelapa 7 sebelum tahun 1527 • Jayakarta 7 antara tahun 1527 – 1619 • Batavia atau Jaccatra7 1619 - 19421 Masih dari dari sumber yang sama, sebagai kota urban penduduk asli kota Jakarta merupakan isemilasi dari percampuran penduduk lokal yang juga berasal dari beberapa daerah di Indonesia seperti: Jawa, Sunda, Sulawesi dengan negara luar antara lain: Portugis, Belanda, China dan India. Untuk Portugis dan Belanda merupakan 2 (dua) negara yang menjajah Indonesia sedangkan untuk 2 1

Darmawanhafid.blogspot.co.id/2013/01

DS| 52

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

(dua) negara terakhir merupakan hubungan dagang dan budak yang dibawa sebagai juru masak dan tukang kayu. Rekam jejak dan peninggalan pengaruh baik dari dalam maupun luar masih dapat dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ada, seperti: • Bangunan-bangunan Kolonial yang hingga kini menjadi bangunan jagar budaya, antara lain: Bangunan di kota Tua (dekat dengan Pelabuhan Sunda Kelapa – dulunya), beberapa gedung yang dipergunakan sebagai museum (Museum Gajah, Gedung Sumpah Pemuda, Istana Merdeka, Gedung Balai Kota, Museum Sumpah Pemuda dansebagainya) • Untuk kesenian Betawi sendiri banyak dipengaruhi budaya China, antara lain:

Gambar 1. Tari Topeng (Sumber: khantydwi.blogspot.co.id, diunduh 22 Nov’ 2015)

Gambar 2 Gambang Kromong (Sumber: khantydwi.blogspot.co.id, Diunduh22 Nov’ 2015)

Gambar 3 Ondel-ondel – Boneka Penjaga khantydwi.blogspot.co.id, (Sumber: diunduh 22 November 2015)



Bangunan tradisionalnya dipengaruhi bangunan rumah Jawa dengan dekorasinya dipengaruhi dekorasi China dan Arab. Bentuk rumah betawi sendiri mempunyai 4 (empat) bentuk, yaitu : Tipe Gudang, tipe Bapang atau Kebaya, tipe Joglo dan Tipe Panggung.

DS| 53

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5



Untuk hiasan atau dekorasi rumah trasional diperaruhi budaya china dan Arab, seperti:

Gigi Balang

Gambar 4. Sisir Gantung atau Gigi Balang (Sumber: restahandika.wordpress.com, diunduh 22 Nov’ 2015)

2. Pembahasan Program IbM ini harus mengusung ‘Lokal Konten’ kedaerahan yang terkait dengan Lokasi dimana program ini akan dijalankan. Seperti Universitas Trisakti yang terletak di Propinsi DKI (Daerah Khusus Ibukota) Jakarta yang dikenal dengan Kebudayaan Betawinya. Lokal konten daerah harus mempunyai bentuk yang ‘unik’ atau khas sehingga mudah untuk diingat. Seperti diketahui bahwa Kebudayaan Betawi yang banyak mengadopsi dari budaya China dan Arab hingga kini menjadi Ikon Betawi, antara lain: • Ondel-ondel 7 Sepasang boneka raksasa yang melambangkan kekuatan jahat dan kekuatan baik (yang Laki-laki berwajah merah, berkumis dan berpakaian gelap dan boneka perempuan berwajah putih dan berpakaian warna terang) yang dilambangkan sebagai penjaga masyarakat Betawi atau penolak bala. • Tari Topeng 7 Sebagai tarian selamat datang untuk menyambut tamu yang sudah dikenal tahun 1872. • Hiasan atau dekorasi pada rumah tradisional Betawi. Bagi masyarakat Betawi pada umumnya ke-3 Ikon ini lah yang menjadi ‘Trademark’ serta diaplikasikan pada bangunan-bangunan Pemerintahan serta diusung setiap perayaan hari jadi atau ulang tahun kota Jakarta. Seperti dalam uraian di atas, lalu ‘bagaimana aplikasinya dalam Desain’ terkait dengan industri kreatif yang mengaplikasikan dalam kegiatan PKM yang penulis lakukan pada program hibah Dikti tahun 2012. Dimana program IbM (Ipteks bagi Masyarakat) ini mengusung lokal konten daerah yaitu Jakarta yang dikenal dengan budaya Betawinya. Kegiatan ini dilaksanakan di Kelurahan Petojo – Jakarta Pusat, dengan memberdayakan masyarakat yaitu: Ibu-ibu Karang taruna dan remaja Putri. Kelurahan Petojo merupakan pemukiman padat penduduk yang merupakan kaum pendatang dengan masyarakatnya yang sebagian besar adalah kaum buruh atau pekerja disektor industri dengan

DS| 54

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

penghasilan rendah. Dimana sebagian besar kaum wanitanya merupakan ibu-ibu rumah tangga. kalau pun ada merupakan buruh jahit pada industri rumah konveksi, dimana banyak waktu luang sehari-hari. Untuk itulah maka program IbM sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Daerah sangatlah sesuai untuk dijalankan pada Kelurahan Petojo yang letaknya berdekatan dengan Universitas Trisakti – Jakarta. Bentuk kegiatan ini adalah memanfaatkan limbah kain atau perca yang diperoleh dari sisa-sisa home industry (konveksi dan sprei) yang dimanfaatkan kembali dengan teknik jahit Quilting. Teknik ini tidak memerlukan modal besar, karena teknik jahit dilakukan secara manual. Kegiatan ini dimaksudkan untuk menambah penghasilan bagi para ibu rumah tangga dan remaja putri yang banyak mempunyai waktu luang. Dengan kegiatan ini diharapkan mereka (ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri) dapat mengisi waktu luang yang ada dengan melakukan kegiatan yang bermanfaat serta diharapkan akan mendapatkan tambahan pemasukkan sehingga secara tidak langsung dapat meningkatkan taraf perekonomian mereka. Hibah IbM yang kami peroleh melibatkan 4 (empat) Fakultas, yaitu: • Fakultas Seni Rupa dan Desain (Penulis) 7 Teknik jahit quilting. • Fakultas Ekonomi 7 Kemasan dan Pemasaran • Fakultas Hukum 7 Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) • Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (Arsitektur) 7 Pengolahan Limbah Lingkungan (Kompos) Kegiatan ini tidak hanya memberikan ketrampilan dalam seni dengan menggunakan teknik jahit quilting saja, melainkan juga menambah wawasan untuk mengolah limbah kain atau perca saja tetapi juga memberikan wawasan untuk: Kemasan dan pemasaran produk yang dihasilkan, Haki dan pengolahan limbah dilingkungan Kelurahan Petojo. Untuk dapat dengan mudah dipahami, dipergunakan desain dan pola-pola sederhana. Pada dasarnya setiap wanita dapat menjahit secara manual, seperti: ‘jelujur dan tikam jejak’. Ke-2 teknik inilah yang dipergunakan pada program IbM ini. Ada 3 (tiga) ikon Betawi yang dipergunakan dalam kegiatan IbM pada Kelurahan Petojo – Jakarta Pusat ini yang diaplikasi dalam produk dekoratif interior yaitu ‘Bantal Kursi’ dengan ukuran (40 X 40) cm, seperti pada gambar di bawah ini:

Lisplang ‘Gigi Balang’ 7 Terdapat pada Rumah Tradisional Betawi.

Ondel-ondel

Topeng Betawi

Gambar 5. Bantal Kursi ukuran (40 X 40) cm (Dokumentasi Pribadi: Asih RD, 2012) Program IbM yang penulis jalankan ini menggunakan teknik jahit quilting secara manual, teknik ini sangat mudah dilakukan karena merupakan teknik dasar menjahit serta tidak memerlukan modal yang besar. Dengan sedikit kreativitas dan ketrampilan, limbah kain atau perca yang tadinya terbuang

DS| 55

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

dengan percuma dapat dipergunakan dan dimanfaatkan kembali menjadi produk-produk lain sehingga mempunyai nilai jual. Untuk bentuk desain dari program IbM sendiri, kami memberikan pengetahuan yang meliputi unsurunsur desain secara garis besar, seperti komposisi-komposisi: • Warna (primer, sekunder dan tersier), perpaduan warna-warna yang dipergunakan pada komposisi pola dan modul pada bantalan. • Garis (lengkung, lurus secara vertikal dan horisontal serta diagonal) 7 yang akan diaplikasikan pada teknik arah menjahit. • Bidang7 dalam hal ini akan dibentuk dari pemakaian warna (Terang dan gelap). • Tekstur 7 Pada program IbM ini untuk penggunaan teksture memakai ‘motif’ atau corak kain perca yang dipergunakan. Komposisi ini diaplikasikan dalam pola-pola desain, sehingga akan mengandung unsur-unsur estetika seperti: Keseimbangan, skala, proporsi pada desain dan produk quilting ini sesuai dengan unsur kedaerahan yaitu ‘Betawi’. Industri kreatif dalam melibatkan masyarakat dengan mengusung lokal konten tidak saja hanya menampilkan kebudayaan kota Jakarta dalam bentuk yang lain, melainkan juga membantu perpanjangan tangan Pemerintah untuk membentuk masyarakat berpikir kreatif dan mandiri untuk dapat dan mampu beradaptasi dengan segala kemungkinan yang terjadi terkait dengan keberlangsungan hidup yang layak. Tidak hanya mengandalkan bantuan Pemerintah saja tetapi juga dapat menciptakan lapangan kerja bagi dirinya sendiri. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) pada perguruan tinggi juga merupakan salah satu kegiatan industri kreatif yang melibatkan masyarakat untuk turut serta berperan aktif menjadi masyarakat yang kreatif dan mandiri dan siap untuk menyambut MEA di tahun 2016 yang akan datang.

3. Kesimpulan Kesimpulannya terkait dengan judul penulisan ini menyangkut: Untuk Pemerintah Daerah, Untuk masyarakat, Untuk Institusi dan Untuk Program Jangka Panjang. • Untuk Pemerintah Daerah Industri kreatif harus menjadi konsentrasi utama bagi Pemerintah dan Pemerintah Daerah Khususnya dalam rangka membentu masyarakat yang mampu untuk berpikir kreatif memanfaatkan potensi Daerah dibidang desain dan seni secara mandiri untuk mampu bersaing secara Nasional maupun Internasional, seperti: • Untuk Masyarakat Program IbM ini dapat membantu Pemerintah untuk memberdayakan masyarakat dan mampu menciptakan lapangan kerja sendiri, sehingga diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat khususnya ibu-ibu rumah tangga dan remaja putri di Kelurahan Petojo – Jakarta. • Untuk Universitas Trisakti Turut berperan aktif dengan mentransfer ilmu pada sebagian kecil masyarakat yang mampu menjadi generator dibidang usaha kecil pada lingkungan sekitar (khususnya Kelurahan Petojo)l dalam bidang industri kreatif. • Untuk Program Jangka Panjang Program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) IbM adalah salah satu program Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Tinggi yang merupakan perpanjangan tangan melalui perguruan tinggi dengan pemberdayaan masyarakat untuk turut berperan aktif sebagai penggerak menciptakan lingkungan kreatif dan komunitas kreatif untuk mampu berkreativitas dan berinovasi salah satunya dengan memanfaatkan limbah kain atau perca menjadi produk estetis yang mempunyai nilai jual, mampu menciptakan lapangan kerja dan bisa menjadi daya tarik wisatawan sehingga secara tidak langsung menjadikan kota yang kreatif dan mampu bersaing menyambut MEA.

DS| 56

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Daftar Pustaka [1] Hatori, Sanae, 2004, Quilt Renaissance, Japan: Sanae Hatory Publisher. [2] Janet Haeght, 2004, Japanese Inspirations in Easy – to – Make Patchwaork’. [3] Yoshiko, Jizenji, 2000, Quilt Quest, Jepang: Bunka Book Publisher. [4] Yoshiko, Jizenji, 2002, Quilt Creation in Develop a New World of Quilted Texture’, Japan: Nohon Vogue – sha Publisher. [5] Darmawanhafid.blogspot.co.id/2013/01 [6] khantydwi.blogspot.co.id, diunduh 22 Nov’ 2015. [7] restahandika.wordpress.com, diunduh 22 Nov’ 2015

DS| 57

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Sanctuary-Based Education: Sebuah Pertimbangan Dalam Pendidikan Desain Pada Era Industri Kreatif Sulistyo Setiawan Jurusan Desain Produk, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Nasional Jl. PKH. Mustapha No. 23, Bandung 40124 [email protected]

Abstrak Era Industri Kreatif merupakan sebuah era yang membutuhkan sumber daya manusia yang cerdas secara holistik. Pendidikan secara umum dengan berbagai realitasnya dan pendidikan desain secara khusus yang merupakan salah satu pendidikan yang mengimplementasikan model pendekatan pendidikan studio-based rupanya sudah tidak lagi mampu menjawab kebutuhan era tersebut. Untuk itu pendidikan desain yang ada perlu melakukan transformasi model pendekatan pendidikannya yakni dengan sanctaury-based. Melalui kajian pustaka perihal tersebut ditelaah pada makalah ini. Kata-kata kunci : pendidikan, pendidikan desain, era industri kreatif, sanctuary-based

A. Antara Cita-cita dan Realita Pendidikan Pada tahun 1937 Ki Hadjar Dewantara (1889 – 1959) di dalam salah satu tulisannya menyatakan tujuan pendidikan demikian (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962: 20): Adapun maksudnja pendidikan jaitu: menuntun segala kekuatan kodrat jang ada pada anakanak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggauta masjarakat dapatlah mentjapai keselamatan dan kebahagiaan jang setinggi-tingginja. Tokoh pendidikan lainnya, N. Driyarkara (1913 – 1967), menyebutkan bahwa pendidikan hakekatnya adalah suatu perubahan fundamental dalam bentuk komunikasi antarpribadi, dan dalam komunikasi tersebut terjadi proses pemanusiaan manusia muda seperti dinyatakannya demikian (Basis, 1980: 8586): Artinya, manusia muda dipimpin dengan cara yang sedemikian rupa, sehingga dia bisa berdiri, bergerak, bersikap, bertindak sebagai manusia. Dan ini tidak hanya terbatas apa yang minimal. Belum cukuplah, jika manusia hanya tidak merangkak dengan “kaki empat” dan “menggonggong”. Manusia tidak hanya harus menjadi homo (manusia): dia juga harus menjadi homoyang human, artinya berkebudayaan lebih tinggi. Dari kedua cita-cita yang mulia tersebut dapat disimpulkan bahwa sejatinya pendidikan bertujuan mendampingi dan mempimpin siswa sebagai subjek didik menjadi pribadi-pribadi yang kaffah, holistik, beradab, dan berbudaya. Namun, apakah setelah melewati tiga orde – Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi – cita-cita yang dinyatakan oleh dua tokoh tersebut berhasil diwujudnyatakan? Marilah kita cermati beberapa realita berikut ini antara lain seperti dinyatakan Djohar yang merupakan hasil evaluasinya pada tahun 2003 demikian (Yamin, 2009: 26): …selama ini pendidikan kian jelas tidak berhasil melakukan penataan pendewasaan diri terhadap anak didiknya. Lembaga pendidikan di bumi pertiwi ini gagal melakukan penataan pranata sosial yang mampu membangun karakter bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai normatif kebangsaan yang diidealkan. Justru, yang terbangun saat ini adalah perilaku elit negeri yang bertolak belakang dengan nilai sosial dan kehendak masyarakat…

DS| 58

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Selain perilaku elite yang buruk, rupanya para remaja kita (usia 12 hingga 22 tahun) yang masih berstatus siswa atau mahasiswa berkarakter buruk pula yang salah satunya ditunjukkan oleh Kepmenpora pada laporannya tahun 2009 yang menyebutkan bahwa pada kasus HIV/AIDS di empat provinsi – DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Papua –terdapat 11.092 kasus dengan Jawa Barat sebagai provinsi dengan kasus HIV/AIDS tertinggi, 2.888 kasus. Kemerosotan karakter tersebut sesungguhnya oleh Ki Hadjar Dewantara dinyatakan – yang ditulis pada tahun 1940 – sebagai akibat dari pendidikan yang menekankan pada akal semata dan menegasikan akal budi yang berguna untuk mempertajam kepekaan sosial para siswa (Yamin, 2009: 172). Jika Djohar dan Kepmenpora menyoroti pendidikan pada segi pembangunan karakter, United Nation Development Program (UNDP) pada tahun 2002 berdasarkan pemantauan dan penelitiannya mengungkapkan bahwa kualitas akademik pendidikan Indonesia berada pada peringkat 110, tepat satu tingkat di bawah Vietnam yang menduduki peringkat 109 (Yamin, 2009: 37). Selain itu, sejak tahun 2000 sesungguhnya pada segi yang berbeda yakni kemampuan membaca pemahaman siswa di Indonesia sudah beberapa kali diukur oleh Programme for International Student Assessment (PISA) yang pada tahun tersebut memiliki skor 371 per 1000 dan menduduki negara dengan kemampuan membaca terendah ketiga dari negara-negara yang dinilai; pada tahun 2003 skornya 383 yang menempatkan Indonesia pada peringkat 39 dari 40 negara; tahun 2006 skornya sebesar 393 yang menduduki peringkat 48 dari 56 negara; tahun 2009 skornya 402 yang menempati peringkat 57 dari 69 negara yang dinilai (Abidin, 2014: 25). Sementara itu pada segi kreativitas yang oleh Semiawan (1992: 5) yang disebut sebagai kemampuan khas manusia dibandingkan makhluk hidup lainnya belumlah dikembangkan seperti dinyatakannya, Manusia yang berbakat unggul diharapkan memberikan darma baktinya kepada bangsa dan negara lebih dari sesama lainnya, namun fakta empiris membuktikan belum terpenuhi kebutuhan mereka. Padahal, bila kita bandingkan manusia dengan makhluk lainnya, kekhasan yang membedakan pada umumnya – apalagi manusia yang berbakat unggul – dari makhluk hidup lainnya ialah kemampuannya yang kreatif. Pernyataan senada juga diungkapkan oleh Munandar(1999: 5) sebagai berikut: ... dalam kehidupan keluarga tampak kecenderungan kuat ke arah penstereotipan (klise), seakan-akan perilaku orisinal atau yang “lain daripada yang lain” dirasakan sebagai sesuatu yang aneh bahkan berbahaya. ... Gambaran yang sama tampak dalam bidang pendidikan. Penekanannya lebih pada hafalan dan mencari satu jawaban yang benar terhadap soal-soal yang diberikan. Proses-proses pemikiran tinggi termasuk berpikir kreatif jarang dilatih. Supriadi(1994) melontarkan: Kita sudah sepakat bahwa ada tantangan besar di hadapan kita, yaitu membangun bangsa ini agar menjadi bangsa yang maju, terhormat, sejahtera, aman, dengan mangacu kepada nilainilai Pancasila. Kita juga sudah sepakat bahwa ada yang memerlukan pembenahan dalam bangsa ini untuk menghadapi tantangan itu, di antaranya masih lemahnya prakarsa dan kreativitas masyarakat, … Lebih dari sepuluh tahun kemudian berdasarkan pencermatan Piliang (dalam Tabrani, 2006: xviii) ternyata pernyataan-pernyataan tentang tidak berkembangnya kreativitas bangsa ini tetap tidak mengalami perkembangan seperti yang dinyatakannya demikian, Krisis kemanusiaan yang melanda bangsa, semestinya dapat memunculkan berbagai pemikiran, ide, gagasan atau konsep-konsep baru yang kreatif … Akan tetapi, ironisnya, rangkaian krisis mahadasyat itu tidak kunjung mampu juga menghasilkan pemikiran-pemikiran kreatif. Sebaliknya, semangat yang tumbuh adalah semangat imitasi, kesenangan meniru, dan kebiasaan menjadi pengekor bangsa lain. Sepertinya ada yang salah dengan manusia Indonesia, sehingga tidak mampu menjadikan kreativitas sebagai fondasi utama dalam mengangkat manusia dari jurang inhumanitasnya. Apa yang terjadi adalah minimalisme kreativitas…

DS| 59

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Pada tahun yang sama Seto Mulyadi mengungkapkan bahwa Anak-anak Indonesia mengalami proses pemandegan kreativitas setelah mereka mulai mengikuti pendidikan di sekolah dasar. Ketika berada di bangku sekolah seorang anak dilatih untuk memilih hanya satu jawaban yang benar atas suatu persoalan. Hal ini menjadikan potensi berpikir kreatif tidak berkembang optimal. Pernyataan tersebut ditegaskan pula oleh Arief Rachman (2010) bahwa persoalan mendasar pendidikan Indonesia antara lain bahwa sistem pendidikannya belum menyentuh aspek kreativitas. Dari semua pernyataan itu – baik dari hasil penelitian maupun pencermatan – dapat disimpulkan bahwa kondisi pendidikan kita secara umum buruk meskipun pada masa Orde Reformasi sudah muncul berbagai kebijakan dan kurikulum – KBK dan KTSP – juga Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang diterbitkan pada tahun 2003 yang dimaksudkan untuk mendongkrak kualitas pendidikan. Itulah realita pendidikan kita yang jika kita sandingkan dengan cita-cita yang diungkapkan pada awal tulisan ini secara singkat dapat dinyatakan masih “jauh panggang dari api”. Lalu, bagaimana realita tersebut ketika harus menghadapi Era Industri Kreatif yang menawarkan berbagai peluang bagi bangsa ini untuk maju berkembang bersaing dengan bangsa-bangsa lain? Sejauh manakah era tersebut menghendaki kualitas manusia-manusia yang akan terlibat di dalamnya? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu berikut ini akan dipaparkan sekilas tentang industri kreatif dan perkembangannya yang terjadi di Indonesia berdasarkan buku Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025 terbitan Departemen Perdagangan Republik Indonesia (2008).

B. Sekilas Tentang Industri Kreatif Di Indonesia Jika mengacu pada studi yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan Republik Indonesia tahun 2007 industri kreatif didefinisikan sebagai (2008:4), “Industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut”. Adapun subsektor industri yang berbasis kreativitas adalah: 1. Periklanan 6. Fesyen 2. Arsitektur 7. Video, Film dan Fotografi 3. Pasar Barang Seni 8. Permainan Interaktif 4. Kerajinan 9. Musik 5. Desain 10. Seni Pertunjukkan

11. Penerbitan dan Percetakan 12. Layanan Komputer dan Piranti Lunak 13. Televisi dan Radio 14. Riset dan Pengembangan

Berdasarkan studi pemetaan yang dilakukan oleh Departemen Perdagangan pula, industri kreatif ini telah memberikan sumbangan kepada PDB (Produk Domestik Bruto) nasional secara signifikan yaitu dengan rata-rata kontribusi periode 2002-2006 sebesar 104,637 triliun rupiah. Persentase kontribusi PDB subsektor industri kreatif terhadap sector industry kreatif pada tahun 2006, didominasi oleh subsektor Fesyen (43,71% = 45,8 triliun rupiah); Kerajinan (25,51% = 26,7 triliun rupiah); dan Periklanan (7,93% = 8,3 triliun rupiah). Sementara itu jika dilihat dari penyerapan tenaga kerja oleh industri kreatif periode 2002-2006 relatif besar, yaitu mencapai 5,4 juta pekerja atau sebesar 5,79% dari total tenaga kerja di Indonesia. Sedangkan pada tahun 2006 menyerap 4,9 juta pekerja yang merupakan sektor ke-5 yang menyerap tenaga kerja terbanyak setelah Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan, Perdagangan, Hotel dan Restoran, Jasa Kemasyarakatan, dan Industri Pengolahan. Untuk produktivitas kerja, sektor industri kreatif ini cukup baik yakni berada pada peringkat ke-7 yaitu Rp 21,375 juta/pekerja pada tahun 2006 mengungguli sektor Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan, Jasa Kemasyarakatan, Perdagangan, serta Hotel dan Restoran. Hingga tahun yang sama jumlah perusahaan di Indonesia yang bergerak di sektor ini mencapai 2,19 perusahaan melebihi perusahaan pada sektor Listrik, Gas, dan Air Bersih; Keuangan, Real Estat, dan Jasa Perusahaan; Pertambangan dan Penggalian; Bangunan; dan Jasa Kemasyarakatan.Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa sektor

DS| 60

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

industri kreatif sangat berpeluang mampu menyejahterakan masyarakat secara luas dan membawa harapan bagi bangsa ini untuk bisa bersaing dengan bangsa-bangsa lain. Namun demikian semua itu bukan tanpa kendala terutama yang dihadapi SDM kreatif Indonesia yakni: 1. SDM kreatif berbasis artistik belum memahami konteks kreativitas di era industri kreatif secara menyeluruh. Sehingga mesyarakat melihat dunia artistik sebagai dunia yang eksklusif dan tidak merakyat. 2. SDM kreatif berbasis non-kreatif (sains dan teknologi) terlalu mikroskopis dalam melihat keprofesiannya sehingga kadang terlalu mekanistis dalam berpikir sehingga kurang inovatif. 3. SDM kreatif yang berrbasis artistik maupun yang non-artistik kekurangan sarana untuk bereksperimen dan berekspresi sehingga hasil karya mereka masih kurang kreatif dan kurang inovatif. Akibatnya industri lokal dan internasional belum melihat kepentingan yang besar untuk mengadopsi ide-ide baru dari mereka. Kondisi tersebut memberi peluang kepada lembaga pendidikan untuk mendidik para siswa atau mahasiswanya menanamkan pola pikir kreatif yang lebih kontekstual yang bisa diterapkan di segala segi kehidupan sehingga kurikulum yang hanya bersifat menghafal harus segera diakhiri masa berlakunya karena tidak menumbuhkembangkan daya juang dan rasa ingin tahu yang merupakan gerbang pertama untuk berolah kreativitas. Lebih lanjut, Departemen Perdagangan merekomendasikan agar lembaga pendidikan harus mampu merumuskan sistem pendidikan yang dapat menciptakan: 1. Kompetensi yang kompetitif: Sesuai namanya, kompetensi membutuhkan latihan, sehingga sektor pendidikan harus memperbanyak kegiatan orientasi lapangan, eksperimen, riset dan pengembangan serta mengadakan proyek kerjasama multidisipliner yang beranggotakan berbagai keilmuan, dari sains, teknologi maupun seni. 2. Intelejensia Multi Dimensi: Teori-teori intelejensia saat ini telah mengakui pula bahwa tidak hanya kecerdasan rasional (IQ) yang menjadi acuan tingkat pencapaian manusia, tetapi manusia juga memliki kecerdasan emosi (EQ) dan kecerdasan spiritual (SQ). Perimbangan ketiganya diharapkan dapat menghasilkan SDM yang rasional dan memiliki kreativitas yang tinggi. Ketika dicermati rekomendasi tersebut dapat disimpulkan bahwa, Era Industri Kreatif menghendaki sumber daya manusia yang holistik yang tidak hanya unggul dalam kecerdasan rasionalnya namun juga kecerdasan emosi dan spiritualnya yang mampu bekerjasama multidisipliner bahkan transdisipliner baik secara intelektual maupun vokasional. Pertanyaannya adalah, sudahkah pendidikan desain yang selama ini pendidikannya berbasis studio mampu menghasilkan sumber daya manusia yang dikehendaki oleh Era Industri Kreatif sementara sebagian besar mahasiswanya berasal dari sistem pendidikan yang menghasilkan manusia-manusia yang fragmented?

C. Sanctuary-Based Education Berdasarkan pencermatan dan pengalaman penulis sebagai pengajar pendidikan desain lebih dari dua dasawarsa, pendidikan desain yang berbasis studio kurang sekali memfasilitasi para mahasiswanya untuk berkembang kecerdasaannya secara holistik. Tugas-tugas dan proyek-proyek yang diberikan oleh para pengajar atau yang diusulkan oleh para mahasiswa masih sebatas hanya memerlukan kemampuan kecerdasan rasional dan emosional, sedangkan kecerdasan spiritual yang antara lain meliputi moralitas dan integritas dianggap bukan termasuk yang harus dikembangkan. Selain itu menurut pencermatan penulis, pendidikan desain selama ini selalu asyik dengan dirinya sendiri, dan hedonisik. Benar apa yang dinyatakan oleh Yamin (2009: 77) bahwa pendidikan dibentuk untuk melahirkan produk-produk pendidikan yang hanya mengenal kebendaan, pendidikan yang direkayasa demi pembangunan karakter hidup hedonis material. Lebih jauh, pendidikan desain juga

DS| 61

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

telah menjauhkan diri dari realitas masyarakat dan terlibat aktif untuk memecahkan persoalanpersoalan sosial yang mereka hadapi dan juga masalah-masalah global seperti ekologi – pemanasan global, krisis enerji – dan pembangunan bekelanjutan. Pendidikan desain sudah tidak lagi kontekstual dan transformatif yang menciptakan nalar berpikir peduli terhadap realitas masyarakat dan mengalami langsung bersama masyarakat. Hal ini terjadi karena pendidikan lebih mementingkan kecerdasan pikiran dan ilmu pengetahuan seperti dinyatakan oleh Ki Hadjar Dewantara (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1961: 72) demikian, Oleh karena ketjerdasan fikiran dan ilmu pengetahuan itu selalu mempengaruhi dengan kuat bertumbuhnja egoisme (hanja mementingkan diri sendiri) dan budi keduniawian (materialisme), maka atjapkali sistem sekolahan jang tak berdjiwa itu berpengaruh anti sosial. Dalam kerjasama multidispliner pendidikan desain juga jarang sekali memprakarsai mahasiswanya untuk melakukannya baik lintas program studi di lingkungan Fakultas Seni Rupa dan Desain atau Fakultas Industri Kreatif maupun lintas fakultas. Sehingga pemahaman terhadap disiplin ilmu lain sangatlah terbatas bahkan cenderung teoritis karena hanya berdasarkan kepustakaan yang mereka baca. Kerjasama yang dilakukan adalah kerjasama semu karena tidak bertatap muka dan terlibat langsung dalam sebuah kerjasama dengan para narasumber yang menguasai disiplin ilmu non desain atau non senirupa. Dari situasi dan kondisi seperti itu akan sangat sulit pendidikan desain menjawab kebutuhan sumber daya manusia yang dibutuhkan oleh Era Industri Kreatif. Untuk itukah maka diperlukankan sebuah model pendekatan pendidikan yang memampukan seluruh mahasiswa dan dosen berkembang secara utuh dan seimbang yakni Sanctuary-Based Education. Sebelum mengungkapkan model pendekatan pendidikan tersebut lebih jauh perlu dipahami terlebih dahulu arti dari sanctuary. Menurut O’Sullivan sanctuary merupakan sebuah tempat yang sunyi yang merupakan “rahim” dari jiwa . Lebih jauh Secretan (Miller, 2000: 109-110) menyebutnya, ..., the sanctuary is “not a collection of parts but an integrated system of souls – not so much a place but a state of mind in which they may flourish” (Secretan, p. 38). In the sanctuary, people’s feelings are acknowledged, as well as their thoughts. Human solutions are not diminished by technological solutions. The soulful school, then, feels like the sanctuary. Both teachers and students look forward to being at school, as they feel that their souls are nourished by the environment they find there. This environment is one of respect, caring, and even reverence. People in the soulful school feel validated as human beings and can speak authentically from their hearts. Love predominates rather than fear. Sanctuary dinyatakan oleh Secretan sebagai soulful school yang memelihara jiwa para pendidik dan para siswa/mahasiswa dalam sebuah lingkungan yang menghormati, memperhatikan, dan berbicara secara autentik yang keluar dari hati mereka. Cinta atau kasih lebih menonjol daripada rasa takut. Pendidikan ini memiliki visi yang terdiri dari lima tingkatan yakni, 1. Manusia sebagai pribadi yang utuh – fisikal, emosional, intelektual, sosial, estetik, dan spiritual – dimana keenam unsur itu penting dikembangkan secara berimbang dalam pembelajaran; 2. Proses pembelajaran harus semakin memperkokoh hubungan manusia yang tepat baik antar siswa/mahasiswa maupun komunitas yang melingkupinya sehingga hubungan antar manusia semakin berkualitas; 3. Pendidik harus menyadari adanya krisis sosial sehingga mereka harus mendidik masyarakat untuk menjadi warga negara dunia yang bertanggung jawab serta berperan aktif dalam pembangunan demokrasi yang menciptakan masyarakat global yang berbasis pada nilai-nilai keberlanjutan (sustainability), kerja sama, perdamaian, dan pengembangan yang seimbang; 4. Seluruh proses pembelajaran yang terjadi dalam konteks global harus menjadi minat para pendidik yang menerima krisis lingkungan hidup menjadi pembelajaran untuk mendidik masyarakat akan kesadaran global serta tanggung jawab terhadap alam; 5. Dimensi spiritual akan eksistensi manusia merupakan puncak dari sumber sejati jati diri manusia yang memberikan makna kehidupan Di dalam konteks ini cinta universal, persaudaraan, perdamaian, dan kasih berkembang yang dapat dipahami melalui pengalaman langsung.

DS| 62

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Kelima visi tersebut tidak dapat diwujudnyatakan ketika sebuah lembaga pendidikan tidak mentransformasi dirinya menjadi sebuah lembaga pendidikan yang menjadi rahim bagi jiwa pribadipribadi yang berada di dalamnya. Ketika proses transformasi itu terjadi maka siswa/mahasiswa merupakan pribadi-pribadi yang sangat diperhatikan perkembangannya dan dikembangkan hubungan antar pribadi juga dengan masyarakatnya secara harmonis. Pendidikan yang transformasional adalah pendidikan yang berhasil yang mampu mengaktualisasikan diri, pendidikan yang dapat mengembangkan karakter emosional, intelektual, dan spiritual siswa/mahasiswanya (Nurjunaedah dalam Musfah, 2012: 200). Pendidik haruslah terlibat di dalam proses pencerahan realitas secara permanen bersama siswa/mahasiswa dalam rangka memerangi pengaburan realitas (Shor dan Freire, 1987: 77). Proses transformasi itu dapat dimulai dengan beberapa hal sederhana yang perlu dilakukan seperti dipaparkan oleh Miller (2000: 110-112) berikut ini: 1.

2. 3.

4.

5.

6.

Recognize the importance of the nonverbal. ... When we focus on the nonverbal, or that silent space, we become aware of how we carry ourselves, how we engage others through eye contact, and the tone of our voice. ... When we become aware of the nonverbal, then a balance can develop between talk and silence. ... A warm smile directed to a child can send a massage of support and love. Pay attention to the aesthetic environment of the school and classroom. We can help transform schools into sanctuaries by making the physical environment more beautiful. Tell stories about the school. Every school has a story or, more accurately, a set of stories. Teachers and students can collect these stories and put them together in a booklet or tell them on special school occasions. ... The set of stories eventually can create a mythology for the school. This mythology is a shared sense of meaning and values for the school. By telling stories about the school recurring themes will emerge that can form the heart of the school’s mythology. Have celebrations and rituals. ... Rituals help give people a sense of connection to their communities. ... Rituals can be part of the daily life of the school. ..., the students of the entire school meet every morning to sing and perhaps listen to an elder from the community. This meeting every morning helps form a deep sense of community in the school. Truth and Authenticity. ... that telling the truth is an important aspect of cultivating soul in the workplace. When we live in an atmosphere where people are not telling the truth, integrity and community break down. ... On the other hand, when we work with someone who we feel is trustworthy and authentic we can feel empowered. ... This energy can empower others to take risks and be creative. Nourishing Voice. A soulful school is a place where people can speak without fear.

Selain keenam hal tersebut perlu dilakukan peran pendidik juga sangatlah penting. Peran tersebut antara lain pertama-tama pendidik haruslah menjadikan dirinya sebagai subjek dan makhluk yang menyubjek dan hidup secara aktif di dunia ini. Merasakan segala persoalan hidup dan ikut terlibat dalam lika-liku kehidupan adalah sebuah keniscayaan yang tak terbantahkan seperti yg dinyatakan oleh Paulo Freire (Yamin, 2009: 145) sehingga mampu mendorong sebuah upaya guna melahirkan bangunan berpikir yang gelisah terhadap realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Selanjutnya Suwendi (Musfah, 2012: 389) berpendapat bahwa pendidik (guru/dosen) yang mampu mendampingi siswa/mahasiswanya berkembang secara holistik adalah seseorang yang memiliki waktu khusus untuk merenung seperti pernyataannya, Yang dimaksud merenung di sini bukan melamun, melainkan memikirkan cara-cara yang dapat ditempuh untuk meningkatkan kemampuan mendidiknya sehingga setiap kali ia berdiri di depan kelas, ia tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik, merangsang pertumbuhan kesadaran nilai-nilai pada para siswa-mahasiswa. …; mampu mengilhami para siswamahasiswa untuk menginginkan hal yang besar dalam dirinya. Inilah yang dinamakan pembinaan konatif dan volitif, yang seharusnya merupakan kelanjutan dari pembinaan kognitif dan afektif. Kemampuan seperti ini dapat dicapai apabila guru mempunyai waktu untuk merenung.

DS| 63

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

Ini juga ditegaskan oleh Miller (2000: 138): Through contemplation we can nourish our own souls, which will in turn help create a positive environment for our children’s souls. There is connection between our inner and outer lives and in our culture and we have tended to ignore this relationship. By living contemplatively we can begin to create deep and powerful change in our world. Seorang pendidik yang demikian oleh Carol Flake disebutnya sebagai holistic educator (Nava, 2001: 151) yang memiliki visi pedagogis demikian: • Holistic educators recognize and make creative use of alternative visions and multiple forms of knowledge. • Holistic educators recognize spirituality as the principles and formative force of implicate order or transcendental reality. • Holistic educators recognize the importance of asking questions that allow us to delve into the new and unknown. • Holistic educators affirm that the process is as important as the product. • Holistic educators look at learning in the context of family, school, community, global society, and the cosmos. • Holists also take into account the spiritual mystery of life and the universe as well as empirical reality.

D. Penutup Cita-cita dan realita pendidikan, serta tantangan yang harus dihadapi dalam Era Industri Kreatif haruslah disikapi dengan arif oleh semua pihak termasuk pendidikan desain sebagai sebuah institusi yang menghasilkan sumber daya manusia yang akan kiprah di dalam era tersebut. Ketika pendidikan desain yang selama ini mengimplementasikan model pendekatan pendidikan studio-based belum mengembangkan pribadi-pribadi yang terlibat di dalamnya – mahasiswa dan dosen – secara tepat untuk menjadi manusia-manusia yang holistik maka sudah selayaknyalah melakukan tranformasi. Proses transformasi tersebut membutuhkan sebuah model pendekatan pendidikan yang lebih tepat yakni, Sanctuary-Based Education yang menempatkan dosen sebagai holistic-educator.

Daftar Pustaka [1] Abidin, Y. 2014. Desain Pembelajaran Dalam Konteks Kurikulum 2013. Bandung: PT Refika Aditama. [2] Basis. 1980. Driyarkara Tentang Pendidikan. Yogyakarta: Penerbitan Yayasan Kanisius. [3] Departemen Perdagangan Republik Indonesia. 2008. Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025. Jakarta: Departemen Perdagangan Republik Indonesia. [4] Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. 2009. Laporan Tahun 2009. Jakarta: Kepmenpora. [5] Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa. 1961. Karya Ki Hadjar Dewantara Bagian Pertama Pendidikan. Jogjakarta: Madjelis Luhur Persatuan Taman Siswa. [6] Miller, J.P. 2000. Education and the Soul:Toward A Spiritual Curriculum. New York: State University of New York Press. [7] Munandar, S.C. 1999. Kreativitas dan Keberbakatan: Strategi Mewujudkan Potensi Kreatif dan Bakat. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. [8] Musfah, J. (Ed.). 2012. Pendidikan Holistik: Pendekatan Lintas Perspektif. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. [9] Nava, R.G. 2001. Holistic Education Pedagogy of Universal Love. Brandon: Foundation for Educational Renewal. [10] O’Sullivan, E. 1999. Transformative Learning. Educational Vision for the 21st Century. Toronto: OISE with University of Toronto Press. [11] Semiawan, C.R. 1992. Pengembangan Kurikulum Berdiferensiasi. Jakarta: Program Pascasarjana, Program Studi Psikologi Universitas Indonesia dan PT Gramedia Widiasarana Indonesia. [12] Shor, I., Freire, P. 1987. Menjadi Guru Merdeka. Petika Pengalaman. Yogyakarta: LKiS.

DS| 64

ISBN: 978‐602‐74127‐0‐5

[13] Supriadi, D. Kreativitas, Kebudayaan dan Perkembangan Iptek. Bandung: Alfabeta. [14] Tabrani, P. Kreativitas dan Humanitas: Sebuah Studi Tentang Peranan Kreativitas Dalam Perikehidupan Manusia. Yogyakarta: Jalasutra. [15] Yamin. M. 2009. Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar dari Paulo Freire dan Ki Hajar Dewantara. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media.

DS| 65