TINJAUAN GEOGRAFIS TERHADAP UPAYA

faktor fisik tersebut meliputi lokasi, kemiringan lereng, iklim, tanah, hidrologi, geologi dan geomorfologi serta flora/ fauna, sedangkan faktor sosia...

0 downloads 6 Views 255KB Size
TINJAUAN GEOGRAFIS TERHADAP UPAYA PENGEMBANGAN KAWASAN OBYEK WISATA GOA LAWA DI KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURABALINGGA SKRIPSI Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Geografi pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Isnaeni Utrik Susanti 3214000018

FAKULTAS ILMU SOSIAL JURUSAN GEOGRAFI 2005

SARI

Isnaeni Utrik Susanti. 2005. TINJAUAAN GEOGRAFIS TERHADAP UPAYA PENGEMBANGAN KAWASAN OBYEK WISATA GOA LAWA DI KECAMATAN KARANGREJA KABUPATEN PURBALINGGA. Jurusan Geografi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang. Jumlah 125 halaman. Kata Kunci: Faktor-fakor Geografis, Pariwisata dan Pengembangan pariwisata. Geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan. Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang di lakukan secara sukarela, serta bersifat sementara waktu untuk menikmati obyek atau daya tarik wisata. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata. Pengembangan pariwisata adalah suatu proses yang berkesinambungan untuk melakukan matching dan adjusment antara sisi supply dan demand kepariwisataan yang tersedia untuk mencapai misi yang di inginkan. Begitu juga dengan pembangunan dan pengembangan kepariwisataan harus memperhatikan faktor-faktor geografi baik geografi fisik maupun geografi sosial. Dalam pembangunan dan pengembangan kawasan obyek wisata Goa Lawa, kondisi geografi sekitar obyek wisata menjadi faktor yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan dan pengembangan kawasaan obyek wisata agar pembangunan dan pengembangan obyek wisata Goa Lawa sesuai dengan tujuan yang ingin di capai. Jadi, permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor geografi apa sajakah yang berperan dalam upaya pembangunan dan pengembangan kawasan obyek wisata Goa Lawa di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga? Penelitian ini mengambil lokasi di Desa Siwarak Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui faktor-faktor geografis yang mendukung dalam pengembangan obyek wisata. Manfaat dari penelitian ini adalah (1) Memberikan sumbangan bagi pengembanga ilmu geografi , khususnya penegembanngan geografi kepariwisataan dan (2) Sebagai bahan masukan bagi pemerintah (Dinas Pariwisata) untuk menentukan kebijakan-kebijakan dalam bidang pariwisata dengan tetap memperhatikan faktor-faktor geografis di daerah tersebut. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wilayah administrasi desa Siwarak Kecamatan Karangreja.Teknik sampling dalam penelitian ini menggunakan tenik sampel wilayah (area probability sample), sehingga sampel dalam penelitian ini adalah kawasan obyek wisata Goa Lawa. Penelitian ini di lakukan dengan menggunakan metode dokumentasi, angket, observasi, dan wawancara dan analisis data yang di gunakan adalah analisis deskriptif kualitataif untuk mengetahui gambaran faktor-faktor geografis yang mendukung dalam pengembangan obyek wisata Gua Lawa dan analisis kelingkungan (ekologi) untuk mengetahui hubungan antara organisme dengan lingkungannya.

ii

Dari hasil penelitian di ketahui bahwa faktor-faktor geografis yang berperan dalam pengembangan obyek wisata Gua lawa meliputi faktor fisik dan faktor sosial, faktor fisik tersebut meliputi lokasi, kemiringan lereng, iklim, tanah, hidrologi, geologi dan geomorfologi serta flora/ fauna, sedangkan faktor sosial meliputi penduduk, daya tarik, infrastruktur, fasilitas pelayanan, akomodasi, agen pengembang dan modal. Dari faktor-faktor geografi tersebut ada faktor-faktor yang berperan dominan dalam pengembangan obyek wisata yaitu lokasi, faktor iklim, hidrologi, dan kedaan penduduk. Usaha-usaha yang di lakukan oleh Pemerintah Kabupaten Purbalingga dalam pengembangan obyek wisata Goa Lawa adalah pembangunan jalur lingkar untuk menghubungkan obyek-obyek wisata alam di Kecamatan Karangreja dan paket perjalanan wisata satu hari di kabupaten Purbalingga. Dari penelitian di ketahui potensi-potensi wisata yang dapat di kembangkan di dalam kawasan obyek wisata Goa Lawa antara lain fasilitas kolam renag, taman marga satwa, kebun buah Stroberi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa pembangunan dan pengembangan pariwisata tidak lepas dari faktor-faktor geografi, untuk itu dalam pengembangan obyek wisata Goa lawa Dinas Pariwisata dan pengelola obyek wisata harus memperhatikan faktor-faktor geografi setempat, selain itu perlu adanya kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat meningkatkan daya tarik obyek wisata, menambah sarana akomodasi, sarana komunikasi, dan juga menambah koleksi fauna serta mengadakan pelatihan terhadap pemandu wisata agar menjadi profesional dalam bidang kepariwisataan.

iii

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada: Hari

: Selasa

Tanggal : 8 Februari 2005

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Tjaturahono B.S, M.Si. NIP.131781324

Drs. Tukidi NIP. 131286675

Mengetahui: Ketua Jurusan Geografi

Drs. Sunarko, M.Pd. NIP. 130812916

iv

PENGESAHAN KELULUSAN Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang pada: Hari

: Jumat

Tanggal

: 18 Februari 2005

Penguji Skripsi

Drs. Apik Budi Santoso, M. Si. NIP. 131813648

Anggota I

Anggota II

Drs Tjaturahono B. S, M.Si NIP. 131781324

Drs. Tikidi NIP. 131286675

Mengetahui: Dekan Fakultas Ilmu Sosial,

Drs. Sunardi NIP. 130367998

v

PERNYATAAN Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, Februari 2005 Isnaeni Utrik Susanti NIM 3214000018

vi

MOTTO DAN PERSEMBAHAN -

Jadilah orang yang menyusahkan diri sendiri untuk orang lain, jangan menjadi orang yang menyusahkan orang lain untuk diri sendiri.

-

Belajar tanpa pemikiran adalah penghamburan pekerjaan, pemikiran tanpa belajar adalah berbahaya.

Skripsi ini saya persembahkan untuk: 1.

Ibu dan Bapak tercinta atas segala doa, kasih sayang dan motivasinya.

2.

Mas Fauzi dan mba Sukma, keponakanku (Bagus) dan keluarga besarku atas dukungannya.

3.

Sahabatku “K” atas kesetiaannya mendampingiku selama penelitian.

4.

Mba Merry, mba Wahyu, echa, nunik, yanti dan Cah-cah ngapak serta keluarga besar “PAGODA”.

5.

Ik, Nit, Hen, Gat, Lel, mba Sus dan teman-teman Aspi Trisanja serta MAHANGGAKU

6.

Almamaterku.

vii

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehimgga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Dalam skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. DR. A. T Soegito SH. M.M, Rektor Universitas Negeri Semarang 2. Drs. Sunardi, Dekan Fakultas Ilmu Sosial yang telah membantu memperlancar administrasi dalam skripsi ini. 3. Drs. Sunarko M.Pd, Ketua Jurusan Geografi yang telah membantu memperlancar administrasi dalam skripsi ini. 4. Drs.Tjaturahono.B.S. M.Si, sebagai dosen pembimbing I yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam melaksanakan penelitian hingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan rencana. 5. Drs.Tukidi, sebagai dosen pembimbing II yang telah membimbing dan mengarahkan penulis dalam melaksanakan penelitian hingga skripsi ini dapat terselesaikan sesuai dengan rencana. 6. Drs. Apik Budi Santoso. M.Si sebagai dosen penguji skripsi. 7. Bapak dan Ibu dosen Jurusan Geografi yang telah memberikan bekal ilmu yang tak ternilai hingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. 8. Kepala BAPPEDA Kabupaten Purbalingga beserta stafnya yang telah memberi kemudahan selama peneliti melukakan penelitian.

viii

9. Kepala Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga beserta stafnya yang memberikan kemudahan selama peneliti melaksanakan penelitian. 10. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Purbalingga beserta stafnya yang memberikan kemudahan selam penelitian. 11. Kepala BPS Kabupaten Purbalingga beserta stafnya yang telah memberikan kemudahan dalam mencari data yang berhubungan dengan penelitian. 12. Semua pengelola obyek wisata Goa Lawa yang telah memberikan informasi selengkap-lengkapnya kepada peneliti. 13. Orang-orang terkasih yang telah memberikan doa restunya: orang tuaku, kedua kakakku, keponakanku dan keluarga besarku. 14. Teman-teman di jurusan Geografi, khususnya angkatan 2000 “PAGODA”, yang telah menjadi sahabat setia selama kuliah. 15. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat di sebutkan satu persatu. Semoga apa yang telah di berikan kepada penulis akan mendapat imbalan dari Allah SWT. Amin. Akhirnya penulis menyadari bahwa kemapuan yang ada pada penulis sangat terbatas dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca yang budiman.

Semarang, Februari 2005 Penulis

ix

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ......................................................................................

i

SARI ................................................................................................................

ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ................................................................

iii

PENGESAHAN KELULUSAN ....................................................................

iv

PERNYATAAN..............................................................................................

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN.................................................................

vi

KATA PENGANTAR.................................................................................... vii DAFTAR ISI ..................................................................................................

ix

DAFTAR TABEL .......................................................................................... xii DAFTAR GAMBAR...................................................................................... xiii DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................. xv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ............................................................................

1

B. Penegasan Istilah .........................................................................

5

C. Permasalahan................................................................................

6

D. Tujuan Penelitian ........................................................................

7

E. Manfaat Penelitian .......................................................................

7

x

BAB II LANDASAN TEORI A. Pengertian Geografi ..................................................................

8

B. Pengertian Pariwisata ................................................................ 13 C. Bentuk dan Jenis Pariwisata ...................................................... 14 D. Obyek Wisata ............................................................................ 18 E. Pengembangan Pariwisata ......................................................... 18 F. Unsur-Unsur Pokok Pengembangan Pariwisata ........................ 23 G. Faktor-Faktor Geografis Yang Mendukung Pengembangan Obyek Wisata ........................................................................... 25 H. Tinjauan Geografis Terhadap Pengembangan Pariwisata ......... 27 I. Kerangka Pemikiran ................................................................... 30

BAB III METODE PENELITIAN A. Populasi Dan Sampel Penelitian ............................................... 32 B. Variabel Penelitian .................................................................... 34 C. Definisi Operasional ................................................................. 35 D. Metode Pengumpulan Data ....................................................... 38 E. Analisis Data ............................................................................. 40

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Daerah Penelitian ..................................................... 42 1. Kondisi Fisik Kecamatan Karangreja.................................... 42 2. Kondisi Sosial Kecamatan Karangreja .................................. 58

xi

B. Tinjauan Geografis Terhadap Pengembanngan Obyek Wisata

64

C. Goa Lawa Kondisi Umum Kawasan Obyek wisata Goa Lawa 73 1. Deskripsi Dan Sejarah Obyek wisata Goa Lawa .................. 73 2. Kondisi Sarana Dan Prasarana Obyek Wisata ...................... 78 D. Pengelolaan Dan Pengembangan Obyek Wisata ...................... 83 E. Potensi Obyek Wisata GoaLawa ............................................... 90 F. Pembahasan .............................................................................. 91

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ................................................................................ 100 B. Saran .......................................................................................... 101

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 103 LAMPIRAN ................................................................................................... 105

xii

DAFTAR TABEL

1. Tabel 1. Luas wilayah Kecamatan Karangreja .........................................

45

2. Tabel 2. Iklim menurut Schmid Ferguson..................................................

52

3. Tabel 3. Persebaran penduduk ..................................................................

59

4. Tabel 4. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin...............

60

5. Tabel 5. Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan .....................

61

6. Tabel 6. Komposisi penduduk menurut mata pencaharian .......................

63

7. Tabel 7. Nama-nama goa di dalam Goa Lawa........................................... 74 8. Tabel 8. Jumlah wisatawan obyek wisata Goa Lawa.................................

77

9. Tabel 9. Tingkat pendapatan dan jumlah wisatawan obyek wisata ...........

77

10. Tabel 10. Sarana akomodasi di obyek wisata Goa Lawa...........................

78

11. Tabel 11. Fasilitas penunjang di kawasan obyek wisata............................

81

12. Tabel 12. Peranan faktor-faktor geografis dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata............................................

xiii

99

.

DAFTAR GAMBAR

1. Gambar 1. Sistem Ekosistem .....................................................................

11

2. Gambar 2. Sistem Pengembangan Pariwisata............................................

22

3. Gambar 3. Diagram Alir Penelitian ...........................................................

31

4. Gambar 4. Peta Administrasi Kecamatan Karangreja................................

43

5. Gambar 5. Peta Administrasi Desa Siwarak ..............................................

44

6. Gambar 6. Peta Bentuk Lahan Kecamatan Karangreja..............................

47

7. Gambar 7. Peta Kemiringan Lereng Kecamatan Karangreja.....................

48

8. Gambar 8. Peta Geologi Kecamatan Karangreja ........................................

53

3. Gambar 9. Peta Tanah Kecamatan Karangreja ..........................................

55

4. Gambar 10. Hotel di Kawasan Obyek wisata Goa Lawa...........................

79

5. Gambar 11. Fasilitas-Fasilitas Hotel ..........................................................

79

6. Gambara 12. Kondisi Kamar Mandi di Dalam Hotel ................................

80

7. Gambar 13. Kondisi Kamar Tidur di Dalam Hotel....................................

80

xiv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Instrumen Penelitian .................................................................................. 105 2. Peta Administrasi Kabupaten Purbalingga................................................. 111 3. Peta Prioritas Pengembangan Pariwisata Kabupaten Purbalingga............. 112 4. Peta Penggunaan Lahan Kecamatan Karangreja........................................ 113 5. Peta/ Denah Obyek Wisata Gua Lawa ....................................................... 114 6. Tabel Data Curah Hujan Kecamatan Karangreja Tahun 1990-1999 ......... 115 7. Tabel Nama Responden Pengunjung Obyek Wisata Goa Lawa................ 116 8. Foto- Foto di Kawasan Obyek Wisata Goa Lawa...................................... 117 9. Surat-Surat Ijin Penelitian .......................................................................... 121

xv

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pembangunan Nasional merupakan suatu usaha untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan

tantangan

perkembangan

global.

Dalam

pelaksananannya

mengacu pada kepribadian bangsa dan nilai luhur yang universal untuk mewujudkan kehidupan bangsa yang berdaulat, mandiri, berkeadilan, sejahtera, maju, dan kukuh kekuatan moral dan etikanya. (GBHN 1999-2000) Di era globalisasi seperti sekarang ini, pembangunan dunia pariwisata dapat dijadikan sebagai prioritas utama dalam menunjang pembangunan suatu daerah. Pengembangan pariwisata dilakukan bukan hanya untuk kepentingan wisatawan mancanegara saja, namun juga untuk

menggalakan kepentingan

wisatawan dalam negeri. Pembangunan kepariwisataan pada hakekatnya untuk mengembangkan dan memanfaatkan obyek dan daya tarik wisata yang berupa kekayaan alam yang indah, keragaman flora fauna, seni budaya, peninggalan sejarah, benda-benda purbakala serta kemajemukan budaya. Dalam

rangka

mencapai

tujuan

pengembangan

pariwisata

maka

pembanguan pariwisata harus diarahkan pada pemanfaatan sumber daya alam, makin besar sumber daya alam yang dimiliki suatu negara, maka semakin besar pula harapan untuk mencapai tujuan pembangunan dan pengembangan pariwisata.

1

2

Tujuan pengembangan pariwisata akan berhasil dengan optimal bila ditunjang oleh potensi daerah yang berupa obyek wisata baik wisata alam maupun wisata buatan manusia. Yoeti (1985: 5), mengatakan bahwa pembangunan dan pengembangan daerah menjadi daerah tujuan wisata tergantung dari daya tarik itu sendiri yang dapat berupa keindahan alam, tempat bersejarah, tata cara hidup bermasyarakat maupun upacara keagamaan. Dari uraian tersebut diatas sektor kepariwisataan perlu mendapat penanganan yang serius karena kepariwisataan adalah merupakan kegiatan lintas sektoral dan lintas wilayah yang saling terkait ,diantaranya dengan sektor industri, perdagangan, pertanian, perhubungan, kebudayaan, sosial ekonomi, politik, keamanan serta lingkungan. Sebagai salah satu daerah tujuan wisata, Kabupaten Purbalingga memiliki aset wisata yang cukup beragam yang dapat memenuhi segala kebutuhan kepariwisataan jika aset tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal. Berdasarkan Perda Bupati Nomor 15 Tahun 1996 tanggal 18 Desember 1996, Moto dan Etos Kerja Masyarakat Purbalingga adalah Perwira (Pengabdian, Ramah, Wibawa, Rapi dan Aman). Selain itu Purbalingga dikenal pula dengan berbagai macam predikat antara lain: 1. Kota Budaya Karena ditemukannya peningggalan-peninggalan purbakala yang berbentuk candi, batu tulis, lingga, dan yoni 2. Kota Perjuangan Semenjak perjuangan pergerakan kebangsaan Indonesia, Purbalingga tidak pernah ketinggalan dan ikut andil dalam perlawanan terhadap penjajah Belanda

2

3

maupun Jepang. Purbalingga melahirkan seorang Ksatri seperti Panglima Besar Jendral Soedirman. 3. Kota Wisata Kabupaten Purbalingga merupakan daerah yang menyajikan berbagai obyek dan daya tarik wisata yang menarik untuk dikunjungi antara lain berupa wisata alam, atraksi budaya, dan lain sebagainya. (Dishubpar, Purbalingga 2004) Salah satu potensi wisata yang menjadi obyek andalan dan merupakan obyek wisata yang potensial untuk dikunjungi adalah obyek wisata alam Goa Lawa yang terletak di Desa Siwarak Kecamatan Karangreja. Berdasarkan data statistik jumlah pengunjung obyek wisata, maka obyek wisata Goa Lawa merupakan salah satu dari tiga obyek wisata yang selalu diminati oleh para wisatawan setelah Kolam Renang Tirto Asri dan Taman Aquarium Purbasari. Obyek wisata Goa Lawa merupakan obyek wisata dengan latar belakang kondisi alam yang sangat indah dengan pemandangan Gunung Slamet. Obyek wisata ini mempunyai daya tarik tersendiri yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung. Hal tersebut dikarenakan obyek wisata tersebut tidak hanya menyajikan potensi berupa Goa saja tetapi juga didukung oleh potensi yang lain seperti areal bermain untuk anak-anak, bumi perkemahan serta pemandangan yang indah dan udara pegunungan yang sejuk. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Purbalingga tahun 2000. Untuk perencanaan kawasan pariwisata harus

3

4

diperuntukan bagi kegiatan pariwisata saja, yang sampai saat ini masih diperlukan peningkatan sarana dan prasarana. Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah ( RTRW) tersebut ada kriteria-kriteria tertentu untuk pengembangan kawasan pariwisata antara lain: 1. Keindahan alam dan keindahan panorama 2. Masyarakat dengan kebudayaan yang bernilai tinggi dan diminati oleh wisatawan 3. Bangunan peninggalan budaya dan atau mempunyai nilai budaya yang tinggi 4. Tersedianya sarana dan prasaran air dan listrik 5. Mempunyai kepadatan penduduk yang relatif rendah 6. Mempunyai aksesibilitas yang tinggi 7. Lahan tersebut tidak telalu subur dan bukan lahan produktif 8. Adanya lahan yang mungkin bisa digunakan untuk areal perluasan kawasan Berdasarkan kriteria-kriteria tersebut Kecamatan Karangreja merupakan kawasan perencanaan untuk kawasan wisata alam yang dipusatkan pada tempat wisata Goa Lawa. Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk meneliti tentang kondisi obyek wisata tersebut dan pengembangan obyek tersebut dari sudut pandang geografis dengan mengambil judul “Tinjauan Geografis Terhadap Pengembangan Obyek Wisata Alam Goa Lawa Di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga”, dengan mengikuti aturan penulisan dan bersifat obyektif.

4

5

B. Penegasan Istilah Tujuan dari penegasan istilah adalah untuk memberikan batasan ruang lingkup permasalahan agar tidak menimbulkan penyimpangan dalam mengartikan permasalahan, sebab tanpa menentukan batasan-batasan dalam penelitian ini maka masalah yang akan dibahas menjadi sangat luas dan ada kemungkinan berada di luar kemampuan penulis juga untuk menghindari terjadinya bermacam-macam interpretasi dan mewujudkan satu kesatuan berpikir tentang sesuatu. Batasanbatasan istilah tersebut adalah: 1.

Tinjauan Tinjauan berarti menyimak/ melihat/ memandang sesuatu kejadian, masalah, fenomena/ kenyataan yang ada pada daerah/ lokasi tertentu. (Poerwodarminto 1990 : 87) Dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada aspek geografis yaitu konsep geosfer, keruangan, kelingkungan dan kewilayahan yang berhubungan dengan kepariwisataan.

2.

Geografi Pengertian geografi menurut Bintarto (1987: 5) adalah ilmu yang mempelajari sifat bumi, menganalisis gejala-gejala alam dan penduduk serta memberi corak yang khas mengenai kehidupan dan mencari fungsi dari unsur-unsur dalam ruang. Menurut Daldjoeni (1982:12) geografi adalah ilmu yang mempelajari seluk beluk permukaan bumi serta interaksi (hubungan timbal balik) antara manusia dengan lingkungannya. Geografi yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah lingkungan geografi fisik dan geografi sosial yang terkait dengan pariwisata.

5

6

3.

Pengembangan Pariwisata Pengembangan pariwisata adalah upaya untuk lebih meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu obyek wisata dengan cara melakukan pembangunan unsur-unsur fisik maupun non fisik dari sistem pariwisata sehinggga meningkatkan produktifitas. Dalam hal ini yang dimaksud dengan produktifitas obyek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh dari kunjungan wisatawan yang masuk. Pengembangan pariwisata dalam penelitian ini adalah tentang upaya-upaya yang di lakukan oleh pemerintah dalam hal ini pemerintah Kabupaten Purbalingga untuk mengembangkan pariwisata.

C. Permasalahan Dari uraian diatas maka penulis dapat merumuskan permasalahan sebagai berikut: 1.

Faktor-faktor geografi apa saja yang dapat mendukung dalam pengembangan obyek wisata Goa Lawa di Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga?

2.

Bagaimana usaha yang dilakukan untuk pengembangan wisata Goa Lawa tersebut?

3.

Potensi-potensi alam apa saja yang dapat di kembangkan sebagai daya tarik tambahan di dalam kawasan obyek wisata Goa Lawa?

6

7

D. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk di maksudkan untuk mengetahui hal-hal sebagi berikut : 1. Mengetahui faktor-faktor geografi yang mendukung dalam pengembangan obyek wisata Goa Lawa. 2. Mengetahui usaha-usaha yang dilakukan oleh pemerintah Kabupaten Purbalingga untuk pengembangan obyek wisata Goa Lawa. 3. Mengidentifikasi potensi-potensi alam yang dapat di kembangkan sebagai daya tarik tambahan di dalam kawasan obyek wisata Goa Lawa.

E. Manfaat Penelitian Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat baik secara teoritis maupun secara praktis. 1. Manfaat secara teoritis Hasil

penelitian

ini

diharapkan

dapat

memberikan

sumbangan

bagi

pengembangan ilmu geografi, khususnya untuk pengembangan geografi kepariwisataan. 2. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi pemerintah daerah, khususnya bagi Dinas pariwisata dalam mengembangkan obyek pariwisata dan menentukan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang menyangkut kepariwisataan dengan tetap memperhatikan faktor-faktor geografi.

7

8

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pengertian Geogarfi Pengertian geogrfi menurut hasil SEMLOK di Semarang tahun 1988 adalah bahwa geografi merupakan ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kewilayahan dan kelingkungan dalam konteks keruangan. Menurut Bintarto, ruang lingkup geografi dibagi menjadi: 1) Lingkup Fisikal, yang meliputi aspek topologi (letak, luas ,bentuk dan batas), aspek fisik (tanah, iklim, air), aspek biotis (manusia, hewan, tumbuhan). 2) Lingkup non Fisikal yang meliputi aspek sosial (tradisi, adat, kelompok, masyarakat),

aspek

ekonomi

(perdagangan,

industri,

perkebunan,

transportasi), aspek budaya (pendidikan, agama, dan budaya). Sedangkan menurut Daldjoeni (1982 : 22), unsur geografi meliputi : 1) Unsur Fisik yang meliputi pantai, cuaca, iklim, relief, tanah, mineral, air, dan jalan. 2) Unsur Biotis yang meliputi tumbuhan, hewan, manusia, dan mikro organisme. 3) Unsur teknis yang meliputi jaringan jalan, alat komunikasi, alat transportasi, perhotelan, rumah makan dan pergudangan. 4) Unsur abstrak yang meliputi bentuk, luas, lokasi, jarak dan waktu

8

9

Dari ruang lingkup geografi tersebut sebenarnya telah disebutkan faktorfaktor geografis yaitu jenis-jenis di dalam faktor alam yang mempunyai pertalian langsung atau tidak langsung dengan kehidupan manusia dalam arti memberikan fasilitas kepadanya untuk menghuni permukaan bumi sebagai wilayah. Tetapi secara lebih rinci, Daldjoeni (1982 : 24) telah menggariskan bahwa faktor-faktor geografi fisik disuatu daerah yang mempengaruhi kehidupan adalah: 1) Lokasi, lokasi suatu tempat dalam suatu wilayah adalah penting juga untuk relasi keruangan yang lain seperti posisi, jarak, luas, serta bentuk. iklim, menentukan hasil pertanian, daerah tropika yang baik untuk berbagai macam perkebunan menjadi rebutan kaum penjajah dimasa lampau, iklim ikut menentukan tata kerja sepanjang tahun. 2) Bentuk relief, mempengaruhi pelaksanaan pengangkutan, perbedaan relief yang menonjol juga akan menyebabkan perbedaan suhu tahunan, keindahan tamasya dan pembuangan air (adanya rawa, danau dan bendungan). 3) Tipe tanah menentukan kesuburan wilayah, tanah berkapur melahirkan daerah dengan penduduk miskin dan kurang gizi. Tanah yang subur mendasari kepadatan penduduk yang membawa berbagai masalah pula. 4) Kontak dengan lautan yang penting. 5) Jenis flora fauna, mempengaruhi kegiatan perekonomian manusia. 6) Kondisi air menentukan dapat tidaknya wilayah dihuni dengan baik sehingga merupakan kunci bagi lahirnya peradaban manusia. 7) Sumber-sumber mineral mempengaruhi dan mendorong perdagangan.

9

10

Berdasarkan pengertian geografi hasil SEMLOK di Semarang pada tahun1988, ada tiga pendekatan yang di gunakan dalam mempelajari geografi yaitu pendekatan keruangan, kewilayahan dan kelingkungan. Begitu pula menurut Bintarto dan Surostopo Hadisumarno (1987:12) dalam bukunya “Metode Analisis Geografi”, mereka menyebutkan tiga pendekatan atau analisis yang di gunakan dalam mempelajari geografi yaitu: 1. Pendekatan Keruangan Pendekatan

keruangan

atau

analisa

keruangan

mempelajari

perbedaan lokasi mengenai sifat-sifat penting atau seri sifat-sifat penting. Dengan kata lain dapat di utarakan bahwa dalam analisa keruangan yang harus di perhatikan adalah pertama, penyebaran penggunaan ruang yang telah ada dan kedua penyediaan ruang yang akan di gunakan untuk pelbagai kegunaan yang di rancangkan. Dalam pendekatan keruangan biasanya di gunakan teori difusi atau teori penyebaran. 2. Pendekatan Ekologi Ekologi

merupakan studi mengenai hubungan antara organisme

hidup dengan lingkungannya. Oleh karena itu untuk mempelajari ekologi seseorang harus mempelajari organisme hidup seperti manusia, hewan dan tumbuhan serta lingkungannya seperti litosfer, hidrosfer dan atmosfer. Pendekatan ekologi dapat di gambarkan sebagai hubungan timbal balik antara organisme dengan lingkungannnya, seperti gambar berikut ini.

10

11

Air

Organisme Hidup

Litosfer

Atmosfer

Gambar 1. Sistem Ekologi (Sumber Bintarto, 1987 :20) Pendekatan ekologi yang di pakai dalam kajian geografi berbeda dengan pendekatan ekologi yang di pakai dalam kajian ilmu biologi, hal iti karena fokus kajian geografi adalah bersifat “human oriented”, dengan demikian interrelalsi antara manusia dan atau kegiatannya dengan lingkungannya menjadi topik utama dalam ilmu geografi. Berdasrkan inventarisasi penelitian yang ada dapat di simpulkan bahwa pendekatan ekologi dalam geografi mempunyai empat tema analisis yaitu: a) human behaviour-environment analysis, fokus kajian pada perilaku manusia terhadap lingkungannya. b) human activity-environment analysis, fokus kajiannya terletak pada kegiatan manusia hubungnnya dengan lingkungan I sekitar kehidupan manusia.

11

12

c) phsyco natural features-environment analysis, analisis ini menekankan pada keterkaitan antara kenampakan-kenampakan fisikal alami dengan elemen-elemen lingkungnnya. d) phsyco artificial features-environment analysis, tema analisis ini menekankan pada lingkungan fisikal yang terjadi sebagai akibat dari aktivitas manusia (hasil budaya manusia) dengan lingkungannya. Dinamika yang terdapat dalam lingkungan sosial dapat menimbulkan perubahan gagasan manusia sehingga dapat menimbulkan penyesuaian dan pembaharuan sikap dan tindakan terhadap lingkungan di mana manusia itu hidup. Di sisi lain lingkungan fisikal di mana manusia tinggal dapat mengalami perubahan bentuk dan fungsi yang di sebabkan oleh campur tangan manusia.(Sabari, 2004 : 9) 3. Pendekatan Kompleks Wilayah Kombinasi antara analisa keruangan dan analis ekologi merupakan analisa kompleks wilayah. Pada analisa ini wilayah-wilayah tertentu di dekati atau di hampiri dengan pengertian areal differentiation, yaitu suatu anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lain, oleh karena itu terdapat permintaan dan penawaran antar wilayah tersebut. Dalam pendekatan ini perlu di perhatikan pula mengenai penyebaran fenomena tertentu (analisa keruangan) dan interaksi antar variabel manusia dengan lingkungannya untuk kemudian di pelajari kaitannya (analisa ekologi).

12

13

B. Pengertian Pariwisata Istilah pariwisata menurut W.J.S. Poewodarmint berarti perpelancongan, sementara dalam Ensiklopedia Nasioanal Indonesia jilid 12 pariwisata berarti kegiatan perjalanan seseorang atau serombongan orang dari tempat tinggal asalnya ke suatu tempat di kota lain atau di negara lain dalam jangka waktu tertentu (Karyono, 1997 : 15). Menurut (Suwantoro (1997) pariwisata adalah kebutuhan manusia di seluruh dunia, sehinggga dengan meningkatnya kesejahteraan dan kemakmuran suatu bangsa dalam bidang ekonomi, maka muncul

sifat

manusia

untuk

melakukan

perjalanan

untuk

sementara

meninggalkan rutinitas di tempat tinggal mereka untuk mencari keseimbangan, keserasian dan kebahagiaan hidupnya. Proses kepergian ini menjadikan terjadinya interaksi, saling berhubungan, perasaan-perasaan, persepsi-persepsi, motivasi, tekanan-tekanan, kepuasan, kenikmatan dan lainya di antara sesama pribadi atau kelompok. Istilah-istilah yang berhubungan dengan kepariwisataan sesuai dengan Undang-undang No.9 tahun 1990 tentang kepariwisataan antara lain : 1) Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut dilakukan secara suka rela, serta bersifat sementara waktu untuk menikmati obyek atau daya tarik wisata. 2) Wisatawan adalah orang yang melakukan kegiatan wisata.

13

14

3) Kepariwisataan

adalah

segala

sesuatu

yang

berhubungan

dengan

penyelenggaraan pariwisata. 4) Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata serta usaha lain yang terkait dengan bidang tersebut. 5) Usaha pariwisata adalah kegiatan yang bertujuan menyelenggarakan jasa pariwisata atau menyediakan atau mengusahakan obyek dan daya tarik wisata. 6) Obyek dan daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. 7) Kawasan pariwisata adalah kawasan dengan luas tertentu yang di bangun atau disediakan untuk memenuhi kebutuhan pariwisata. Dari uraian diatas dapat kita ambil beberapa unsur yang terkandung dalam kepariwisataan, antara lain : a. Perjalanan itu dilakukan untuk sementara waktu. b. Perjalanan itu dilakukan dari tempat satu ke tempat lainnya. c. Perjalannan itu walau apapun bentuknya, harus selalu dikaitkan dengan pertamsyaan atau rekreasi. d. Orang yang melakukan perjalanan tersebut tidak mencari nafkah di tempat yang dikunjunginya dan semata-mata sebagai konsumen di tempat tersebut.

14

15

C. Bentuk dan Jenis Pariwisata Pariwisata merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan maupun kelompok di dalam wilayah negara sendiri atau di negara lain. Berdasarkan keadaan dan karakteristik daerah wisata, secara umum wisata daapt di golongkan menjadi dua (2) yaitu: 1) Pariwisata Alam Kegiatan pariwisata alam secara garis besar dapat di bedakan antara wisata perairan atau wisata bahari (meliputi : berenang,snorkling, menyelam berlayar, berselancar, memancing, berkano/ berdayung dan lain-lain) dan wisata daratan serta dirgantara (meliputi : llintas alam, pendakian gunung, penelusuran goa, berkemamh, jalan santai/ hikin, terbang layang). 2) Pariwisata Budaya Pariwisata budaya merupakan suatu perjalanan wisata dengan tujuan untuk mempelajari adat istiadat, tata cara kemasyarakatan dan kebiasaan di daerah yang di kunjungi. Termasuk dalam jenis pariwisata ini adalah mengikuti misi kesenian ke luar negeri atau untuk menyaksikan festifal seni dan budaya lainnya. Wisata ini dapat berupa kunjungan atau mengunjungi obyek wisata buatan manusia seperti museum, masjid agung, gereja kuno dan lain sebagainya. (Sumber Karyono, 1997 : 18)

15

16

Lebih lanjut di rujuk dari Oka A. Yoeti (1989: 51) dalam bukunya “pemasaran pariwisata”, membedakan pariwisata berdasarkan letak geografis menjadi : a. Pariwisata lokal (Local Tourism), yaitu pariwisata yang lingkupnya sempit dan terbatas. b. Pariwisata Regional (Regional Tourism), yaitu pariwisata yang ruang lingkupnya lebih luas dari pada pariwisata lokal, tetapi lebih sempit dari pariwisata nasional. c. Pariwisata Nasional (National Tourism), yaitu pariwisata yang lingkupnya dalam satu negara. d. Pariwisata Regional Internasional (Regional-International Tourism), yaitu kawasan pariwisata yang berkembang di kawasan internasional yang terbatas tetapi melewati dua batas , dua, tiga negara atau lebih dalam kawasan tersebut, contoh pariwisata ASEAN. e. Pariwisat Internasional (International Tourism), yaitu suatu pariwisata yang lingkupnya dunia. Selain jenis-jenis pariwisata tersebut , wisata dapat dibedakan menurut maksud dan tujuannya, yaitu : a. Wisata Liburan (Holiday Tour) Yaitu suatu perjalanan wisata yang diselenggarakan dan di ikuti oleh anggotanya guna berlibur, bersenang dan menghibur diri.

16

17

b. Wisata Pengenalan (Familiarization Tour) Suatu perjalanan anjangsana yang dimaksudkan guna mengenal lebih lanjut bidang atau daerah yang mempunyai kaitan dengan pekerjaannya. c. Wisata Pendidikan (Education Tour) Yaitu suatu perjalanan yang dimaksudkan untuk memberikan gambaran , studi perbandingan

ataupun

pengetahuan

mengenai

bidang

kerja

yang

dikunjunginya. Wisata jenis ini disebut juga study tour atau perjalanan kunjungan pengetahuan. d. Wisata Pengetahuan (Scientific Tour) Yaitu suatu perjalanan wisata yang tujuan pokoknya adalah untuk memperoleh pengetahuan atau penyelidikan terhadap sesuatu bidang ilmu pengetahuan. e. Wisata Keagamaan (Pileimage Tour) Yaitu perjalanan yang dimaksudkan untuk melakukan ibadah keagamaan. f. Wisata Kunjungan Khusus (Special Mission Tour) Yaitu wisata yang dilakukan tujuan khusus. g. Wisata Program Khusus (Special Programe Tour) Yaitu perjalanan wisata yang dilakukan untuk mengisi kekosongan khusus. h. Wisata Perburuan (Hunting Tour) Yaitu suatu kunjungan wisata yang dimaksudkan untuk menyelenggarakan perburuan binatang yang di ijinkan oleh penguasa atau pemerintah pusat.

17

18

D. Obyek Wisata Dalam Undang-undang No.9 tahun 1990 disebutkan bahwa obyek wisata adalah

segala sesuatu yang menjadi sasaran wisata. Kegiatan wisata

biasanya merupakan kegiatan yang bisa memberikan respon yang menyenangkan dan dapat memberikan kepuasan. Oleh karena itu suatu obyek wisata hendaknya dapat memberikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan, sehingga menimbulkan kesan yang mendalam. Sedangkan objek wisata menurut M. Ngafenan 1991 dalam bukunya Karyono (1997: 27) “Kepariwisataan”, mengatakan bahwa objek wisata adalah segala objek yang dapat menimbulkan daya tarik bagi wisatawan untuk dapat mengunjunginya, misalnya keadaan alam, bangunan bersejarah, kebudayaan dan pusat-pusat rekreasi modern.

E. Pengembangan Pariwisata Pada dasarnya pengembangan pariwisata adalah suatu proses yang berkesinambungan untuk melakukan matching dan adjustment yang terus menerus antara sisi supply dan demand kepariwisataan yang tersedia untuk mencapai

misi

yang

telah

ditentukan

(Nuryanti,

1994).

Sedangkan

pengembangan potensi pariwisata mengandung makna upaya untuk lebih meningkatkan sumber daya yang dimiliki oleh suatu obyek wisata dengan car melakukan pembangunan unsur-unsur fisik maupun non fisik dari sistem pariwisata sehingga meningkatkan produktivitas. Dalam hal ini yang dimaksud produktivitas obyek wisata berupa meningkatnya pendapatan daerah yang diperoleh dari kunjungan wisatawan yang masuk.

18

19

Disamping

itu

untuk

dapat

melakukan

pengembangan

perlu

memperhatikan berbagai aspek, suatu obyek wisata yang akan dikembangkan harus memperhatikan syarat-syarat pengembangan daerah menjadi obyek wisata yang dapat diandalkan, yaitu : a. Seleksi terhadap potensi, hal ini dilakukan untuk memilih dan menentukan potensi obyek wisata yang memungkinkan untuk dikembangkan sesuai dengan dana yang ada. b. Evaluasi letak potensi terhadap wilayah, pekerjaan ini mempunyai latar belakang

pemikiran

tentang

ada

atau

tidaknya

pertentangan

atau

kesalahpahaman antar wilayah administrasi yang terkait. c. Pengukuran jarak antar potensi, pekerjaan ini untuk mendapatkan informasi tentang jarak antar potensi, sehingga perlu adanya peta agihan potensi obyek wisata. Dari peta agihan diperoleh informasi tentang lokasi dan jarak relatif antar obyek wisata. Melalui informasi jarak antar potensi dapat digunakan untuk menentukan potensi mana yang cukup sesuai untuk dikembangkan. Selain itu melalui peta agihan juga dapat di gunakan untuk alat pemandu pasif bagi wisatawan, teruitama wisatawan yang bersifat individu atau bahkan yang berbentuk rombongan, serta unntuk wisatawan yang berjiwa avontir (tidak mau terikat pada suatu paket wisata misalnya lewat trevel biro yang akan mengggunakan ). (Sujali, 1989:39)

19

20

Selain itu dalam pengembangan pariwisata di perlukan strategi pengembangan pariwisata, adapun strategi pengembangan pariwisata bertujuan untuk mengembangkan produk dan pelayanan yang berkualitas, seimbang dan bertahap. Beberapa kebijakan pengembangan pariwisata antara lain : (a) Promosi Pelaksanaan upaya pemasaran dan promosi pariwisata harus dilaksanakan secara selaras dan terpadu, baik dalam negeri maupun luar negeri. (b) Aksesibilitas Merupakan salah satu aspek penting yang mendukung pengembangan pariwisata, karena menyangkut lintas sektoral, kemudahan dan keefektifan mencapai kawasan. (c) Kawasan Pariwisata Pengembangan kawasan pariwisata dimaksudkan untuk: (1) Meningkatkan peran serta daerah dan swasta dalam pengembangan pariwisata. (2) Memperbesar dampak positif pembangunan. (3) Mempermudah pengendalian terhadap dampak lingkungan. (d) Wisata Bahari Merupakan salah satu jenis produk wisata yang sangat potensial untuk dikembangkan. Jenis wisata ini memiliki keunggulan komperatif yang tinggi terhadap produk wisata sejenis di luar negeri. (e) Produk Wisata Upaya untuk menampilkan produk wisata yang bervariasi dan mempunyai daya saing yang tinggi.

20

21

(f) Sunber Daya Manusia Merupakan salah satu modal dasar pengembangan pariwisata, sumber daya manusia harus memiliki keahlian dan ketrampilan yang di perlukan untuk memberi jasa pelayanan pariwisata. (g) Kampanye Nasional Sadar Wisata Upaya masyarakat untuk mempromosikan dan memperkenalkan jati diri dan karakteristik daerah dengan beberapa kelebihannnya. Untuk pengembangan kepariwisataan daerah atau tingkat nasional di kenal dengan “SAPTA PESONA”. Sapta pesona atau yang dikenal dengan istilah K-7 adalah merupakan tujuh hal yang harus di siapkan untuk menunjang kepariwisatan yakni: keindahan, kesejukan, kebersihan, kenyamanan, keamanan, keramahtamahan dan ketenangan. (Sujali, 1989: 48). Adapun hal penting yang harus di perhatikan dalam industri kepariwisataan adalah sistem yang menyeluruh, terpadu tanpa ada pemisahan di antara sistem pengembangan kepariwisataan yang ada seperti bagan berikut.

21

22

PASAR Adalah target pemasaran obyek wisata

TRANSPORTASI Cara membawa wisatawan ke obyek

PENGEMBANGAN PARIWISATA

OBYEK WISATA Adalah obyek yang dijual

PROMOSI Adalah metode menjual obyek wisata

PELAYANAN Adalah pendukung daya tarik obyek wisata

Keterangan: : Hubungan timbal balik (saling mempengaruhi) : Hubungan searah Gambar 2. Sistem Pengembangan Pariwisata (Sumber: Santoso, 2000 : 56)

Dari bagan di atas dapat di jelaskan bahwa dalam pengembangan pariwisata terdapat lima komponen yang dapat di jadikan sebagai strategi dalam pengembangan kepariwisataan. Komponen-komponen tersebut meliputi pasar. transportasi, obyek wisata, pelayanan dan promosi. Kelima komponen tersebut saling berhubungan satu sama lain dan tidak dapat berdiri sendiri, kelima komponen tersebut merupakan input (masukan) bagi pengembangan pariwisata yang di tunjukan dengan anak panah yang searah, sedangkan masing-masing input tersebut akan berhubungan satu sama lain secara timbal balik atau saling mempengaruhi yang di tunjukan dengan anak panah yang berlawanan arah.

22

23

F. Unsur-Unsur Pokok Pengembangan Pariwisata. Unsur pokok yang dapat menunjang pengembangan pariwisata di daerah tujuan wisata yang menyangkut perencanaan, pelaksanaan pembangunan dan pengembangannya meliputi: a) Atraksi Atraksi

merupakan

pusat

dari

industri

pariwisata.

Menurut

pengertiannya atraksi mampu menarik wisatawan yang ingin berkunjung (Spillane, 1994 : 63). Atraksi atau daya tarik dapat timbul dari keadaan alam (keindahan panorama, flora fauna, sifat kekhasan perairan air laut/ danau), obyek buatan manusia (museum, katedral, masjid kuno, makam kuno dan sebagainya), ataupun unsur-unsur dan peristiwa budaya (kesenian, adat istiadat dan makanan). Atraksi atau daya tarik dalam penelitian ini dapat dibedakan menjadi dua yaitu daya tarik utama dan daya tarik tambahan. b) Fasilitas Pelayanan Walaupun atraksi menarik wisatawan dari rumah atau tempat tinggalnya, namun fasilitas dibutuhkan untuk melayani mereka dalam perjalanan. Fasilitas ini maksudnya memberikan pelayanan dan menyediakan sarana yang dibutuhkan para wisatawan, baik wisatawan asing maupun wisatawan domestik. Fasilitas dan pelayanan yang harus disediakan meliputi fasilitas pelayanan jasa untuk kebutuhan sehari-hari. untuk menginap, untuk tempat makan, untuk menjaga keamanan dan lain sebagainya yang menyangkut kebutuhan wisatawan. Ada satu hal yang harus diperhatikan

23

24

dalam kaitannya dengan kenyamanan untuk menginap, dalam hal ini sebaiknya isi dan susunan hotel/ penginapan tersebut disesuaikan dengan budaya setempat sehingga dengan demikian benar-benar para wisatawan dapat menikmati kehidupan dan budaya setempat. c) Aksesibilitas Aksesibilitas adalah kemudahan untuk mencapai atau bergerak dari satu tempat ke tempat lain dalam satu wilayah. Aksesibilitas dalam penelitian ini menyangkut transportasi dan juga komunikasi-informasi. Dalam kegiatan pariwisata hanya mungkin berkembang dengan dukungan teknologi modern, khususnya di bidang transportasi dan komunikasi. Transportasi ini sangat penting membantu para wisatawan, mengantar dari tempat asal atau tempat penginapan ke obyek wisata. Namun penggunaan transportasi ini tergantung pada jarak dan kebutuhan komunikasi antara tempat di mulainya suatu kunjunngan ke obyek wisata yang akan di kunjungi. (Nyoman S. Pendit, 1986 : 21). d) Infrastruktur Infrastruktur adalah situasi yang mendukung fungsi fasilitas pelayanan, baik yang berupa sistem pengaturan maupun bangunan fisik diatas permukaan tanah maupun di bawah tanah. Penyediaan infrastruktur tersebut meliputi penyediaan saluran air bersih, pembangunan sarana transportasi seperti jalan dan terminal, penyediaan penerangan listrik, sistem komunikasi dan juga saluran pembuangan limbah.

24

25

e) Akomodasi Penyediaan akomodasi atau tempat menginap merupakan salah satu sarana yang penting bagi para wisatawan. Akomodasi merupakan rumah kedua bagi para wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata dengan tujuan untuk menginap. Fasilitas akomodasi menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi keberadaan suatu obyek wisata

G. Faktor-Faktor Geografis yang Mendukung Pengembangan Obyek Wisata a. Lokasi Lokasi dalam hal ini adalah obyek wisata Goa Lawa. Lokasi obyek wisata yang baik adalah yang memenuhi kriteria sebagai daerah tujuan wisata yang baik adalah lokasinya jauh dari daerah industri, daerah pemukiman atau daerah lainnya yang tidak sesuai untuk pembangunan di masa yang akan datang. Lokasi yang jauh dari lokasi industri dan pemukiman di maksud agar kehidupan flora fauna yang ada di dalam kawasan tersebut dapat hidup dengan bebas dari gangguan manusia, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang seperti dalam lingkungan yang alami. Selain faktor diatas lokasi juga mencakup jarak dan biaya, dalam kepariwisataan jarak dan biaya menjadi faktor yang menjadi bahan pertimbangan bagi wisatawan untuk mengunjungi sebuah obyek wisata, jarak juga terkait dengan sarana prasarana seperti jalan dan alat transportasinya.

25

26

b. Kondisi tanah Tanah dalam hal ini berkaitan erat dengan pengkajian tentang batuan dan struktur geologinya. Pengetahuan tentang batuan adalah sangat penting, hal ini di gunakan untuk mengetahui apakah batuan pada lokasi yang ditentukan mempunyai daya. (Sujali, 1989 : 32). Pengetahuan tentang tanah di perlukan untuk mengetahui tingkat kesuburan tanah yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap aktivitas manusia seperti kegiatan pertanian, dalam hal ini pertanian yang dapat menunjang kegiatan pariwisata seperti tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan. Selain tingkat kesuburan tanah, tingkat kemiringan lereng juga juga berpengaruh terhadap aktivitas manusia, dengan mengetahui tingkat kemiringan lereng daerah tersebut maka dapat di ketahui apakah tanah di daerah tersebut rawan longsor atau tahan longsor. c. Kondisi air Ketersediaan air bersih merupakan sarana pelengkap penyediaan fasilitas umum pada daerah obyek wisata. Selain sebagai sarana pelengkap fasilitas pada daerah obyek wisata, kondisi air juga berpengaruh terhadap sektor pertanian penduduk setempat dan merupakan salah satu kebutuhan manusia yang paling fital, untuk kondisi air harus memenuhi berbagai persyaratan agar air tersebut layak untuk di konsumsi oleh makhluk hidup terutama manusia. Syarat air bersih yang dapat di gunakan antara lain :

26

27

(1) Syarat fisik adalah syarat yang paling sederhana karena dalam praktek sehari-hari sering dipenuhi yaitu tidak berwarna, tidak berbau, jernih, di bawah suhu sedemikian rupa sehingga membuat rasa nyaman. (2) Syarat bakteorologis, semua air bersih hendaknya dapat terhindar dari kemungkinan terkontaminasi dengan bakteri terutama yang bersifat fatogen. (3) Syarat kimia, air bersih yang baik tidak tercemar oleh zat-zat kimia dan mineral yang berbahaya bagi kesehatan manusia. (Suriawira, 1996: 36) Untuk menjamin kehidupan yang sehat maka penyediaan air bersih merupakan hal yang penting dan perlu di usahakan sebaik-baiknya, usaha-usaha ini antar lain adalah memanfaatkan sumber-sumber mata air, sumber air bersih harus perlu dikelola dengan baik, pembuatan sumur, penyediaan air ledeng. (Suriawira, 1996; 36). d. Iklim Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam satu periode tertentu. Iklim pada suatu daerah tertentu akan berpengaruh terhadap aktivitas manusia, hewan dan juga terhadap keberadan tumbuh-tumbuhan. Dalam dunia kepariwisataan iklim akan berpengaruh terhadap tumbuhnya pengembangan pariwisata, iklim juga dapat menentukan persebaran kesesuaian obyek wisata serta variasi budaya pakaian. (Sujali, 1989 : 14) H. Tinjauan Geografis Terhadap Pengembangan Pariwisata Proses pembangunan dan pengembangan obyek wisata pada dasarnya adalah meningkatkan unsur-unsur dari pariwisata tersebut seperti daya tarik,

27

28

aksesibilitas,

fasilitas

pelayanan,

infrastruktur

dan

lain

sebagainya.

Pengembangan kepariwisataan juga tidak lepas dari faktor-faktor geografi baik unsur fisik maupun non fisik (sosial, ekonomi, dan budaya). Masing-masing unsur tersebut dalam pengembangannya saling mempengaruhi satu sama lain (terjadi hubungan timbal balik). Sebagai contoh, iklim (curah hujan) menentukan pola pertanian di daerah yang bersangkutan, udara yang sejuk juga merupakan salah satu daya tarik obyek wisata di samping obyek wisata utamanya. Kondisi tanah dan geologi juga berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata khususnya untuk pembangunan sarana fisik seperti hotel, restauran yang bertujuan untuk mengetahui daya dukung tanah atau batuan untuk berdirinya sebuah bangunan. Contoh lain adalah kajian tentang kemiringan lereng, pada kondisi lahan yang mempunyai tingkat kemiringan lereng yang tinggi biasanya sering terjadi tanah longsor, kemiringan lereng juga dapat berpengaruh terhadap pola pertanian masyarakat sekitarnya, juga terkait dengan bentuk jalan yang bervariasi (banyak tikungan dan tanjakan) yang nantinya akan mempengaruhi aksesibilitas wilayah yang bersangkutan. Kondisi hidrologi juga sangat berpengaruh terhadap pengembangan pariwisata seperti untuk pengembangan fasilitas infrastruktur ketersedian air untuk kebutuhan pariwisata.

28

29

I. Kerangka Pemikiran Pembangunan merupakan suatu proses yang terjadi secara terus menerus yang menuju kearah kemajuan sesuai dengan tujuan yang ingin di capai. Begitu juga

dengan

pembangunan

di

bidang

pariwisata.

Pembangunan

dan

pengembangan obyek wisata alam Goa Lawa akan cepat berhasil jika dalam pengembangannya mendasarkan pada faktor-faktor geografis daerah setempat. Pengembangan obyek wisata Goa Lawa akan berhasil jika kita telah mengetahui bagaimana kondisi geografi daerah yang bersangkutan sehingga akan dapat di ketahui bagaimana potensi daerah tersebut sebagai kawasan obyek wisata. Dengan mengetahui potensi suatu daerah wisata tertentu maka kita (pihak yang terkait) dapat mengambil langkah dalam menentukan pembangunan dan pengembangan daerah, khususnya pembangunan dan pengembangan kawasan obyek wisata.

29

30

Obyek Wisata Alam Goa Lawa

Identifikasi Faktor-Faktor Geografis

Faktor Alam: 1. Lokasi 2. Kemiringan Lereng 3. Iklim 4. Flora fauna 5. Tanah 6. Air 7. Geologi dan Geomorfologi

Faktor pengembang: 1. Daya Tarik 2. Infrastruktur 3. Fasilitas Pelayanan 4. Akomodasi 5. Pengelolaan 6. Modal 7. Penduduk 8. Agen Pengembang

Potensi Daerah Obyek Wisata

Mendukung Pengembangan Pariwisata

Tidak Mendukung Pengembangan Pariwisata

Gambar 3. Diagram Alir Penelitian

30

31

BAB III METODE PENELITIAN

A. Populasi dan sampel penelitian 1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan gejala atau fenomena yang akan di teliti. Yang di maksud populasi dalam penelitian ini adalah Seluruh wilayah administrasi Desa Siwarak. Sedangkan untuk melengkapi data di lapangan tentang faktor-faktor geografi dan daya tarik obyek wisata Goa Lawa di Desa Siwarak

Kecamatan

Karangreja

Kabupaten

Purbalingga,

peneliti

menggunakan responden yang terdiri dari: a) Pengunjung obyek wisata Goa Lawa di Desa Siwarak Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga. b) Pengelola obyek wisata Goa Lawa c) Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) dan Dinas Pariwisata 2. Sampel Penelitian Sampel adalah sebagian dari populasi keseluruhan populasi penelitian. Sampel dalam penelitian ini adalah kawasan obyek wisata Goa Lawa di Desa Siwarak. Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan teknik area probability sample (sampel wilayah) yaitu teknik sampling yang di lakukan dengan mengambil wakil dari wilayah dalam

31

32

populasi.(Arikunto,1998: 126), sedangkan untuk mendapatkan informasi tambahan yang

dapat menunjang penelitian, maka peneliti menggunakan

responden yang terkait dengan penelitian yang di lakukan, responden tersebut terbagi menjadi dua kelomppok yaitu : (a) Pengunjung Pengambilan sampel pengunjung di lakukan pada hari libur yaitu hari sabtu dan minggu. Pengambilan sampel ini di lakukan dengan teknik insidental sampling (sampel kebetulan) yaitu apa atau siapa saja yang kebetulan di jumpai di tempat tertentu, di warung-warung, di kafetaria, di lapangan, di stasiun dan sebagainya(hadi, 1993: 227). Pengambilan sampel ini di lakukan pada hari sabtu dan minggu yaitu semua pengunjung obyek wisata Goa Lawa. Sampel pengunjung di gunakan untuk mengetahui karakteristik wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Goa Lawa. (b) Pengelola Sampel pengelola dalam hal ini meliputi pengelola obyek wisata, Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Purbalingga, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Purbalingga.

32

33

B. Variabel Penelitian Variabel adalah konsep atau gejala yang di beri lebih satu nilai (Singarimbun, 1987: 48). Dalam hal ini penulis mencoba mengungkapkan variabel penelitian, dalam hal ini faktor-faktor geografi yang berkaitan dengan pengembangan obyek wisata Goa Lawa di Desa Siwarak Kecamatan Karangreja Purbalingga, sebagai berikut : a. Kondis Alam a) Lokasi b) Tingkat Kemiringan lereng c) Keadaan Iklim d) Keadaan Flora fauna e) Kondisi Tanah f) Kondisi Air g) Keadaan Geologi h) Kondisi Geomorfologi b. Faktor Pengembang a) Daya tarik b) Infrastruktur c) Fasilitas pelayanan d) Akomodasi e) Pengelolaan f) Permodalan g) Kondisi kependudukan h) Agen pengembang (organisasi)

33

34

C. Definisi Operasional 1) Faktor Alam a. Lokasi Lokasi dalam penelitian ini menyangkut jarak, berapa jarak obyek wisata Goa Lawa dari pusat kota (kota Purbalingga), berapa biaya yang dikeluarkan untuk sampai ke obyek wisata tersebut dari pusat kota Purbalingga. Lokasi ini juga dapat diartikan sebagai lokasi relatif artinya bagaimana hubungan antara obyek wisata Goa Lawa dengan obyek wisata lain yang ada di Kecamatan Karangreja. b. Kemiringan Lereng Kecamatan Karangreja merupakan daerah dengan topografi kasar yaitu berupa pegunungan. Daerah pegunungan mempunyai kemiringan lereng yang

tinggi dan bervariasi. Kemiringan lereng juga sangat

berpengaruh terhadap pembangunan dan pengembangan kepariwisataan. c. Iklim Tipe iklim juga sangat menentukan kegiatan pariwisata, iklim akan menyebabkan perbedaan jenis kegiatan wisata yang di lakukan, menyebabkan perbedaan budaya pakaian dan juga dapat meyebabkan perbedaan aktifitas masyarakat di wilyah yang bersangkutan. Faktor iklim dalam penelitian ini yaitu tentang suhu dan curah hujan. d. Flora fauna Jenis flora fauna juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata, dengan adanya flora fauna akan dapat mempengaruhi kegiatan manusia serta dapat menjadi daya tarik bagi keberadaan obyek wisata tersebut.

34

35

e. Tanah Tipe tanah akan menentukan kesuburan suatu wilayah, di samping itu tanah juga menentukan struktur geologinya dan batuannya. Pengetahuan tentang tanah seperti jenis tanah, PH tanah serta tingkat kesuburan tanah akan berpengaruh terhadap aktifitas penduduk di daerah tersebut seperti perbedaan pola pertanian dan cara bercocok tanam. f. Air Air merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia, kondisi air menentukan ada tidaknya suatu wilayah dapat di huni dengan baik. Air berperan penting dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata terutama untuk memenuhi kebutuhan wisatawan. Air juga berpengaruh terhadap aktivitas pertanian penduduk di daerah tersebut. g. Geologi Struktur geologi suatu wilayah sangat sangat berperan sebagai bahan pertimbangan untuk mendirikan bangunan diatasnya, apakah kondisi batuan tersebut mampu menopang sebuah bangunan atau tidak, hal ini terkait dengan faktor keselamatan dan kenyamanan wisatawan yang berkunjung. h. Geomorfologi Yang dimaksud dengan geomorfologi disini adalah bagaimana bentuk lahan daerah sekitar obyek wisata tersebut. Bentuk lahan akan

35

36

menjadi daya tarik tersendiri bagi keberadaan obyek wisata terutama bagi keberadaan obyek wisata alam. Kondisi geologi dan geomorfologi pada dasarnya saling berkaitan satu sam lain dan berpengaruh terhadap proses pembangunan fisik seperti pembangunan gedung dan sebagianya yang harus mempertimbangkan bentuk lahan daerah yang bersangkutan. 2) Faktor Pengembang a. Daya tarik Atraksi atau daya tarik dalam hal ini terkait dengan apa yang menjadi ciri khas obyek wisata Goa Lawa, baik ciri khas dari Goa itu sendiri ataupun kondisi di sekitar obyek obyek wisata tersebut. b. Infrastruktur Infrastruktur merupakan saran pendukung aktifitas kepariwisataan. Infrastruktur dapat meliputi pembangunan jalan, pelabuhan, bandar udara serta memperbanyak sarana transportasi, selain itu juga penyediaan saluran air minum, penerangan listrik dan juga saluran pembuangan limbah. Penyediaan infrastruktur yang baik akan menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk berkunjung ke lokasi obyek wisata, sebagai contoh kondisi jalan yang beraspal dan lebar tidak akan menyebabkan arus lalu lintas yang melewati jalan tersebut terhambat, malah sebaliknya arus lalu lintas menjadi lancar dan aksesibilitas wilayah tersebut tinggi.

36

37

c. Fasilitas pelayanan Fasilitas pelayanan juga sangat diperlukan dalam menunjang pengembangan obyek wisata Goa Lawa, fasilitas pelayanan tersebut meliputi pertokoan, jasa-jasa perdagangan, fasilitas keamanan dan kenyamanan dan lain sebagainya. d. Akomodasi Tersedianya tempat untuk menginap (losmen, hotel, tempat penginapan, tempat berkemah, tempat untuk bermain dan berolahraga) bagi wisatawan yang berkunjung ke obyek wisata Goa Lawa. e. Pengelolaan Pengelolaan dalam hal ini terkait dengan pihak yang kompeten di bidang pariwisata dalam hal ini adalah dinas pariwisata dan juga pengelola obyek wisata tersebut. Sedanngkan agen pengembang dalam hal ini berperan untuk memperkenalkan obyek wisata kepada masyarakat (wisatawan). Untuk memperkenalkan suatu obyek wisata pihak pengelola maupun instansi yang terkait dapat melakukannya melalui promosi baik lewat media cetak maupun media elektronik. f. Permodalan Sebuah pembangunan memerlukan biaya yang tidak sedikit, begitu juga untuk mengembangkan obyek wisata Goa Lawa tersebut di perlukan modal baik dari pemerintah maupun dari pihak swasta. Modal

37

38

mutlak di perlukan untuk membangun sarana dan prasarana di dalam obyek wisata agar dapat menambah daya tarik obyek wisata tersebut. g. Kondisi Penduduk Kondisi penduduk daerah obyek wisata juga ikut berpengaruh terhadap pengembangan obyek wisata, sebagai contoh bagaimana peran penduduk dalam pengembangan pariwisata, bagaimana tangggapan penduduk terhadap keberadaan obyek wisata serta bagaimana sikap penduduk terhadap wisatawan yang datang ke obyek wisata tersebut. Hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap tingkat kunjungan wisatawan. D. Metode Pengumpulan Data 1. Metode dokumentasi Metode ini di gunakan untuk memperoleh data dalam penelitian dari instansi terkait yaitu dinas pariwisata dan kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) serta kantor pengelola obyek wisata untuk memperoleh data jumlah pengunjung, luas obyek wisata, infrastruktur kepariwisataan dan fasilitas pendukung serta peta lokasi dan denah obyek wisata. Dalam metode dokumentasi di gunakan kajian pustaka dan kajian peta, kajian pustaka di gunakan untuk mengetahui teori-teori yang berhubungan dengan penelitian, sedangkan kajian peta di gunakan untuk mengkaji faktorfaktor geografi fisik yang berkaitan dengan penelitian.

38

39

2. Metode angket Metode ini digunakan dengan cara memberikan pertanyaan kepada pengunjung secara langsung. Item yang di gunakan dalam pertanyaan ini berupa isian dan pilihan untuk mendapatkan data tentang daya tarik wisata dan faktor geografis yang yang menunjang perkembangan obyek wisata Goa Lawa, yang meliputi daya tarik wisata, fasilitas pelayanan, akomodasi, infrastruktur kepariwisataan, aksesibilitas wilayah penelitian dan lain sebagainya. 3. Metode observasi Metode ini di gunakan dengan cara pengamatan secara langsung terhadap obyek untuk memperoleh gambaran nyata sebagai bahan perbandingan hasil metode angket terutama mengenai kondisi infarastruktur kepariwisataan dan fasilitas pelayanan yang tersedia di obyek wisata serta hasil metode dokumentasi selain itu metode ini juga di gunakan untuk pengukuran mengenai kondisi iklim, kondisi geomorfologi, kondisi tanah dan hidrologinya. 4. Metode wawancara Metode digunakan untuk melengkapi data yang diperoleh melalui angket. Metode ini bertujuan untuk memperoleh informasi secara langsung dari instansi yang terkait tentang faktor-faktor geografis yang mendukung dalam pengembangan obyek wisata Goa Lawa, informasi tentang program

39

40

pembangunan obyek wisata Goa Lawa, informasi tentang kondisi obyek wisata baik fisik maupun sosial dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembangunan obyek wisata tersebut.

E. Analaisis Data Setelah melakukan penggalian data di lapangan selanjutnya di lakukan analisis data. Dalam analisis data penulis menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan analisis kelingkungan (analisi ekologi). 1. Analisis Deskriptif Kualitatif Analisis deskriptif kualitatif yaitu pengolahan data dengan melakukan proses mengatur, mengurutkan data yang terkumpul yang terdiri dari catatancatatan lapangan, baik melalui wawancara, observasi, dokumentasi dan angket. Data tersebut di atur dan di urutkan sesuai kebutuhan peneliti, sehingga informasi kualitatif tersebut di susun atas fikiran, intuisi, pendapat dan kriteria tertentu. Dengan melakukan proses analisis tersebut di atas, maka data yang di peroleh akan memberikan gambaran secara deskriptif tentang aspek-aspek yang menjadi fokus penelitian yang kemudian akan memberikan jawaban atas masalah yang sedang di teliti sehingga data tersebut dapat di analisis dengan menginterpretasikan ke dalam suatu urutan dasar berupa suatu kesimpulan dan saran.

40

41

2. Analisis Kelingkungan (analisis ekologi) Analisis kelingkungan merupakan suatu analisis yang di gunakan dalam kajian geografi, yaitu suatu analisis yang mempelajari hubungan timbal balik antara organisme hidup dengan lingkunngannya baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya. Analisis ekologi ini menitik beratkan pada keterkaitan antara physico artificial features- enviroment yaitu lingkungan fisik yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan manusia (dalam hal ini kawasan obyek wisata Goa Lawa) dengan lingkungan (kondisi geografi).(Sabari, 2004. Makalah: Pendekatan Utama Geografi)

41

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dalam penelitian ini di peroleh hasil berupa data-data baik data primer maupun data sekunder. Data tersebut meliputi kondisi fisik, kondisi sosial penduduk, keadaan iklim, dan kondisi obyek wisata.

A. Deskripsi Daerah Penelitian 1. Kondisi Fisik Kecamatan Karangreja a. Letak, Batas dan Luas Kecamatan Karangreja Kecamatan Karangreja merupakan salah satu kecamatan di wilayah Kabupaten Purbalingga yang terletak paling utara dengan jarak dari pusat kota 22km. Secara administratif Kecamatan Karangreja berbatasan dengan: Sebelah Utara

: Kabupaten Pemalang

Sebelah Timur

: Kecamatan Karangjambu

Sebelah Selatan

: Kecamatan Bobotsari dan Kecamatan Mrebet

Sebelah Barat

: Kecamatan Bojongsari

Berdasarkan peta Topografi wilayah Bobotsari sheet 44/ XL-D dan Kethengger sheet 44/ XL-D skala 1:50.000 tahun 1985, secara astronomis Kecamatan Karangreja berada pada 109° 14’ 35,5’’ BT - 109° 20’ 11’’ BT dan 7° 13' 45" LS - 7° 16' 13, 54" LS. Obyek wisata Gua Lawa berada pada lokasi yang strategis karena berada pada jalur lalu lintas yang

51

menghubungkan Kabupaten Purbalingga dengan Kabupaten Pemalang. Secara administratif letak obyek wisata Goa Lawa berada di Desa Siwarak Kecamatan Karangreja dengan jarak 1,5 Km dari kota kecamatan,dengan batas administrasinya sebagai berikut : Sebelah Utara

: Kabupaten Pemalang

Sebelah Timur

: Desa Karangreja

Sebelah Selatan

: Desa Tlahab Lor

Sebelah Barat

: Desa Kutabawa

Letak yang strategis tersebut memberi nilai positif bagi keberadaan obyek wisata Goa Lawa tersebut di samping di dukung dengan keadaan lingkungan yang berupa daerah perbukitan dengan udara yang segar menjadikan wisatawan tertarik untuk berkunjung. Kecamatan Karangreja dengan luas 7.471,36 Ha, tersebut terbagi menjadi tujuh desa, yang sebagian besar wilayahnya berupa tanah lahan kering.

Tabel 1. Luas Wilayah Kecamatan Karangreja Di rinci Perdesa Tahun 2004 No Desa Tanah Sawah Tanah Kering 1 2 3 4 5 6 7

Jumlah

Serang 0,000 2.875,692 2.875,692 Kutabawa 0,000 1.058,460 1.058,460 Siwarak 36,100 845,060 881,160 Tlahab Lor 172,700 772,756 945,456 Tlahab Kidul 115,700 554,349 670,049 Karangreja 79,600 395,939 475,539 Gondang 67,300 497,720 565,020 Jumlah 471,400 6.999,976 7.471,376 (Sumber : Monografi Kecamatan Karangreja dan BPS Purbalingga)

Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha Ha

52

Dari tabel di atas dapat di ketahui bahwa sebagian besar wilayah Kecamatan Karangreja merupakan lahan kering, hal itu juga dapat terlihat dari morfologi daerahnya yang berupa pegunungan. Kondisi lahan kering akan berpengaruh terhadap pola pertanian yang di laksanakan oleh penduduk di kecamatan tersebut. Sedangkan Desa Siwarak yang mempunyai luas sebesar 881,160 Ha terdiri dari tanah kering seluas 845,060 Ha dan tanah basah atau tanah sawah seluas 36,100 Ha dengan obyek wisata Goa Lawa yang menempati areal seluas 11 Ha dan pengelolaannya di bawah Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga dengan modal atau biaya yang berasal dari Anggaran Pemerintah dan Belanja Daerah (APBD) Pemerintah Kabupaten Purbalingga dan pendapatan obyek wisata tersebut.

b. Kondisi Morfologi Kecamatan Karangreja Menurut Pannekoek (1949) Jawa Tengah di bagi menjadi tiga zone, yaitu zone selatan berupa Plateau dengan kemiringan lereng perlapisan batuan kearah selatan sekitar 8°, zone tengah berupa zone depresi yang di tumbuhi oleh gunung api, zone tengah berupa zone antiklinal Kendeng dan Rembang serta dataran aluvial pantai utara Jawa. Berdasarkan pembagian tersebut Kecamatan Karangreja tersebut termasuk dalam zone tengah yang merupakan zone depresi yang terdapat gunung api Slamet, kemudian berturut-turut ke arah timur di tempati oleh

53

vulkan Rogo Jembangan, kompleks pegunungan Dieng dan Ungaran yang menghasilkan endapan-endapan vulkan muda. Sedangkan wilayah Kecamatan Karangreja mendapat pengaruh aktivitas vulkan Slamet. Wilayah ini sudah terdenudasi berat, di beberapa tempat bukit-bukit sisa dengan alur-alur parit yang banyak serta banyak terdapat lembah-lembah hasil dari pengikisan air. Untuk kawasan obyek wisata Goa Lawa yang terletak di desa Siwarak, berdasarkan peta bentuk lahan Kecamatan Karangreja skala 1:50.000 tahun 2000, kawasan ini terbagi menjadi tiga bentuk lahan yaitu bentuk lahan Vulkan, bentuk lahan Denudasional, bentuk lahan Struktural Lipatan, dimana untuk kawasan obyek wisata itu sendiri di dominasi oleh bentuk lahan Struktural Lipatan dengan ketinggian tempat mulai dari 912 mdpl dengan kemiringan lereng antara 25-40%, dengan kondisi daerah yang berbukit-bukit.

c. Kondisi Iklim Kecamatan Karangreja Iklim merupakan keadaan rata-rata cuaca dalam satu periode tertentu. Iklim suatu daerah akan banyak berpengaruh terhadap aktivitas manusia dan hewan, disamping berpengaruh juga terhadap tumbuhan dan juga persebaran tanaman. Faktor iklim yang berpengaruh dalam hal ini adalah suhu dan curah hujan.

54

1)

Suhu Untuk mengetahui kondisi suhu pada suatu daerah dapat menggunakan rumus Braak yang mengacu pada ketinggian tempat, yaitu semakin tinggi tempat maka suhu udara semakin rendah (Ance Gunarsih 1986:12). Wilayah Kecamatan Karangreja dengan ketinggian maksimum mencapai 1500 meter dan ketinggian minimum mencapai 301 meter di atas permukaan air laut, sehingga suhu udara rata-rata di Kecamatan Karangreja dapat di hitung dengan menggunakan rumus Braak yaitu : T=(26,3-0,61.H)C Keterangan: T

: Rata-rata temperatur

26,3° : Rata-rata suhu daerah tropis 0,61° : Konstanta temperatur (penurunan temperatur tiap naik 100 meter) H

: Ketinggian tempat dalam meter

Berdasarkan data yang diperoleh maka kondisi suhu di Kecamatan Karangreja dapat di hitung sebagai berikut: a. Pada tempat tertinggi (1500 m) T = (26,3° - 0,61°.H)C = (26,3° - 0,61° x 1500 )C = (26,3° - 9,15°)C = 17,15°C

55

b. Pada tempat Terendah (301 m) T = (26,3° – 0,61°.H).C = (26,3°– 0,61° x 301).C = (26,3° - 1,84°)C = 24,46°C Dari perhitungan tersebut dapat di ketahui bahwa untuk Kecamatan Karangreja suhu rata-rata tahunannya adalah: 17,15 + 24,46 = 20,80°C 2 2)

Curah Hujan Berdasarkan data curah hujan dari tahun 1990 sampai tahun 1999 dapat di ketahui bahwa besarnya curah hujan rata-rata bulanan berkisar antara 4084,08 mm (lihat data curah hujan pada lampiran). Tipe iklim menurut Schmidt dan Ferguson mendasarkan pada nisbah rata-rata jumlah bulan kering yaitu apabila curah hujan kurang dari 60 mm dan rata-rata jumlah bulan basah apabila curah hujan lebih dari 100 mm, dengan rumus: Q = rata-rata jumlah bulan kering x 100 % rata-rata jumlah bulan basah Dari data curah hujan pada lampiran di ketahui bahwa jumlah rata-rata bulan kering 1dan jumlah rata-rata bulan basah 10,2 sehingga Q = 1: 10,2 x 100 % = 9,8%

56

Tabel 2. Tipe Iklim Menurut Schmidt dan Ferguson Berdasarkan Curah hujan Tipe Sifat Nilai A Sangat Basah 0 % < Q < 14, 3 % B Basah 14, 3 % < Q < 33, 3 % C Agak Basah 33, 3 % < Q < 60, 0 % D Sedang 60, 0 % < Q < 100, 0% E Kering 100, 0 % < Q < 167, 0 % F Agak Kering 167, 0 % < Q < 300, 0 % G Sanat Kering Kering 300, 0 % < Q < 700, 0 % H Sekali 700, 0 % < Q < N Sumber : Gunarsih (Klimatologi), 1986 Berdasarkan nilai Q = 9,8 % yang telah diperoleh, maka dapat di ketahui bahwa Kecamatan Karangreja termasuk pada tipe iklim A dengan sifat sangat basah.

d. Kondisi Geologi Kecamatan Karangreja Kondisi Geologi Kecamatan Karangreja berdasarkan peta Geologi Kabupaten Dati II Purbalingga tahun 1997 dan survei lapangan Kecamatan Karangreja mempunyai dua struktur yaitu struktur patahan dan struktur lipatan. Struktur patahan terjadi terjadi di baigian barat yang merupakan patahan longitudinal, sedengkan wilayah timur mengalami penurunan yaitu lipatan yang terdiri dari sinklinal dan antiklinal. Desa Siwarak yang merupakan kawasan obyek wisata Goa Lawa secara geologis termasuk dalam struktur lipatan. Berdasarkan peta Geologi Kabupaten Dati II Purbalingga tahun 1997 skala 1:50.000, wilayah ini terbentuk pada tiga periode waktu yaitu Pliosin atas yang berumur Kuarter

57

muda, masa Meosin atas yang berumur Tertier dan Plestosin bawah. Jenis batuan pada wilayah ini dapat dikelompokan menjadi menjadai dua yaitu: 1) Young quarteenary (Kuarter muda), yang merupakan endapan vulkanik muda tak teruraikan asal Gunung Slamet yang berupa Breksi, Lava, lapili dan Tufa. 2) Miocene Sedimentary facies, berupa batu pasir Tufaan, batu pasir, Konglomerat, tufa, Breksi dan Lempung. Sedangkan untuk kawasan obyek wisata Goa Lawa di dominasi oleh kelompok batuan Kuarter muda yang terdiri dari Breksi, Lava, lapili dan Tufa. (Lihata lampiran 8 hal 100) e. Kondisi Tanah Kecamatan Karangreja. Tanah merupakan akumulasi tubuh-tubuh alam yang bebas yang menduduki sebagian besar permukaan bumi, yang mampu menumbuhkan tanaman dan memilki sifat-sifat sebagai akibat pengaruh iklim dan jasadjasad hidup yang bertindak terhadap bahan induk dalam keadaan relatif tertentu selama jangka waktu tertentu pula (Jamulya 1983:2). Berdasarkan peta tanah Kabupaten Dati II Purbalingga skala 1:50.000 tahun 1991 (lihat peta tanah pada lampiran 2), wilayah Kecamatan Karangreja dapat di bedakan menjadi tiga jenis tanah yaitu: 1) Asosiasi Latosol coklat dan Regosol coklat dari bahan induk tuf vulkan Intermedier, tanah ini berwarna coklat sampai coklat kelam dan bersifat basa.

58

2) Kompleks latosol merah kekuningan, latosol coklat dan latosol dari bahan induk campuran batuan endapan dan tuf

vulkan, tanah ini

berwarna merah kekuningan dan coklat kelam dan biasanya terbentuk di daerah yang bergelombang sampai bergunung yang mempunyai iklim Humid-tropik tanpa bulan kering. 3) Asosiasi Grumusol kelabu kekuningan, Mediteran merah kekuningan dan Regosol dari bahan induk batu kapur dan napol. Tanah ini berwarna kelabu dan bertekstur remah. 4) Litosol, Tanah mineral tanpa/ sedikit perkembangan profil, batuan induknya batuan beku, selum tanah dangkal (<30 cm) bahkan kadangkadang merupakan singkapan batuan induk, tekstur tanah beraneka dan pada umumnya pasir. Litosol dapat di jumpai pada semua iklim, umumnya di topografi berbukit, pegunungan, kemiringan lereng miring hingga curam. Untuk penggunaan tanah di Kecamatan Karangreja dapat di lihat pada lampiran halaman 108: peta penggunaan lahan Kecamatan Karangreja). f. Kondisi Hidrologi Kecamatan Karangreja Wilayah Kecamatan Karangreja yang sebagian besar berupa wilayah perbukitan juga sangat mempengaruhi kondisi air di wilayah tersebut, sumber air yang digunakan oleh penduduk berasal dari mata air yang memngalir melalui bidang-bidang lapisan batuan atau bidang-bidang rekahan batuan. Aliran-aliran air yang berasal darai mata air tersebut akan menyatu membentuk aliran yang lebih besar yaitu berupa sungai.

59

Di wilayah ini banyak di jumpai sungai-sungai yang mengalir, aliran sungai tersebut bergabung membentuk sungai dengan tipe dendritis dan merupakan sub DAS Serayu. Sungai-sungai tersebut memiliki jenis yang berbeda ,jenis yang paling banyak adalah jenis sungai semi permanen, yaitu sungai yang mengalir deras pada musim penghujan dan pada musim kemarau aliran akan berkurang bahkan kering, sungai tersebut meliputi Sungai Cibaya, Sungai Serang dan Sungai Soso. Selain sungai semi permanen juga terdapat sungai permanen dan sungai hujan. Sungai permanen merupakan sungai yang alirannya tetap sepanjang tahun, sungai tersebut meliputi Sungai Tlahab dan Sungai Klawing, sedangkan sungai hujan adalah sungai yang alirannya hanya pada musim penghujan saja, pada musim kemarau alirannya mati sungai tersebut adalah Sungai Pring. Kedalaman efektif tanah mencapai 30-90 meter pada kedalaman tersebut banyak di temukan lava flow sebagai pembawa air (aquiver) dan biasanya air tanah tersebut berupa mata air yang oleh penduduk dimanfaatkan untuk keperluan sehari-hari dengan cara mengalirkan dari tempat-tempat yang tinggi kerumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa atau selang air. g. Kondisi Flora/ Fauna Kecamatan Karangreja Tumbuhan dan hewan merupakan bagian dari ekosistem yang ada di muka bumi. Tumbuhan merupakan bagian yang penting yang dapat

60

menjadi daya tarik tersendiri bagi sebuah obyek wisata. Tumbuhan juga berpengaruh terhadap kondisi udara di sekitarnya, semakin banyak tumbuhan maka udara di sekitarnya juga semakin segar. Obyek wisata alam Goa Lawa yang terletak di desa Siwarak Kecamatan Karangreja yang dahulu berupa kawasan huutan banyak di dominasi oleh tanaman-tanaman besar, sebagian besar pohon adalah pohon pinus dan pohon cemara yang dapat memberikan pemandangan yang indah dan udara yang segar. Selain berupa tanaman-tanaman besar, di dalam obyek wisata Goa Lawa juga banyak di jumpai berbagai jenis tanaman hias, di dalam obyek wisata tersebut juga terdapat taman bunga yang terletak di sebelah kantor pengelola obyek wisata. Obyek wisata Goa Lawa sebagai wisata alam, secara ideal juga harus di lengkapi dengan koleksi berbagai jenis fauna yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Namun obyek wisata alam Goa Lawa sampai saat ini belum memiliki koleksi fauna tersebut. 2. Kondisi Sosial Kecamatan Karangreja a. Jumlah Penduduk Berdasarkan data statistik tahun 2003 Kecamatan Karangreja memiliki jumlah penduduk 37.661 jiwa dengan laki-laki berjumlah 18.515 orang dan perempuan 19.146 orang.

61

b. Persebaran Penduduk Persebaran penduduk di Kecamatan Karangreja sangat variatif, hal ini dapat di buktikan dengan jumlah penduduk yang berbeda pada tiap desa. Persebaran ini sangat penting dalam mengambil kebijaksanaan dalam pengembangan kawasan obyek wisata Goa Lawa. Tabel 3. Persebaran Penduduk Di wilayah Kecamatan Karangreja Tiap Desa Tahun 2004 Desa Jumlah Penduduk (jiwa) 1. Serang 6197 2. Kutabawa 4640 3. Siwarak 5978 4. Tlahab Lor 5404 5. Tlahab Kidul 8038 6. Karangreja 4290 7. Gondang 3114 Jumlah 37661 Sumber : Monografi Kecamatan Karangreja Tahun 2004

c. Kepadatan Penduduk Kecamatan Karangreja dengan luas wilayah sebesar 7.471,376 Ha, sedang untuk Desa Siwarak luasnya adalah 881,160 Ha. Berdasarkan luas wilayah dan jumlah penduduknya, maka kepadataan penduduk di kecamatan karangreja adalah 766 jiwa/ km² dan untuk Desaa Siwarak kepadatan penduduknya adalah 958 jiwa/ km², sehingga ini termasuk dalam kategori rendah (500-1000 jiwa/ km²). Berdasarkan kepadatan penduduk di Kecamatan Karangreja dan Desa Siwarak yang termasuk dalam kategori rendah sangat berperan dalam mendukung pengembangan obyek wisata, dengan kepadatan penduduk

62

yang rendah tersebut secara otomatis dapat mengurangi polusi udara baik yang di ciptakan oleh kegiatan rumah tanga maupun oleh asap kendaraan bermotor, untuk kawasan wisata alam kondisi udara yang segar merupakan salah satu daya tarik bagi wisatawan. d. Komposisi Penduduk Komposisi

Penduduk

adalah

gambaran

susunan

penduduk

menurutu karakteristik yang sama. Komposisi penduduk tersebut meliputi : a)

Komposisi Penduduk Menurut Umur dan jenis kelamin Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin merupakan variabel yang penting, karena dengan di ketahuinya komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin akan dapat diketahui jumlah penduduk yang produktif dan yang tidak produktif. Tabel 4. Komposisi Penduduk menurut umur dan Jenis kelamin Umur Laki-laki Perempuan Jumlah total Persentase 0 -10 tahun 2144 2190 4304 11,43 11-20 tahun 3392 3172 6564 17,43 21-30 tahun 4229 4387 8616 22,88 31-40 tahun 2711 2856 5567 14,78 41-50 tahun 2254 2492 4746 12,60 51-60 tahun 2017 1983 4000 10,62 + 60 tahun 1798 2066 3864 10,26 Jumlah 18515 19146 37661 100 Sumber : Purbalingga dalam angka 2003

Berdasarkan tabel diatas dapat di ketahui bahwa penduduk di Kecamatan Karangreja di domonasi oleh kelompok umur 21-30 tahun yang berjumlah 8616 jiwa atau 22,88 % dari jumlah keseluruhan

63

penduduk di Kecamatan Karangreja, kelompok umur tersebut termasuk dalam kelompok umur produktif. b)

Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Pendidikan merupakan sesuatu yang amat penting bagi setiap orang, kesempatan memperoleh pendidikan adalah hak bagi setiap warga negara Indonesia. Oleh karena itu ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan di setiap Kecamatan menjadi sangat penting. Disamping itu pendidikan juga sangat beperan dalam menunjang pembangunan nasional termasuk dalam hal ini adalah pembangunan sektor pariwisata. Dengan mengetahui komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan akan dapat diketahui kualitas dari penduduk tersebut yang akan berimplikasi pada kesadaran untuk berperan serta dalam pembangunan pada umumnya dan pembangunan pariwisata pada kkhususnya, sehingga proses pembangunan dapat berjalan sesuai dengan rencana. Tabel 5. Komposisi Penduduk Menurut Tingkat Pendidikan Di Kecamatan Karangreja No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase 1 Perguruan Tinggi 183 0.50 2 SLTA 1239 3.65 3 SLTP 2274 6,74 4 Tamat SD 7916 23,47 5 Tidak Tamat SD 7540 22,36 6 Belum Tamat SD 7228 22,92 7 Blm/ Tdk Pernah Sekolah 7344 21,78 Jumlah Sumber : Karangreja Dalam Angka 2003

33724

100

64

Dari tabel tersebut terlihat bahwa tingkat pendidikan di Kecamatan Karangreja masih sangat rendah terbukti bahwa penduduk yang mencapai tingkat pendidikan SLTA baru 3,65%, kondisi seperti itu

sangat

berpengaruh

terhadap

proses

pembangunan

dan

pengembangan obyek wisata Goa Lawa. Dengan tingkat pendidikan yang masih tergolong rendah serta pengetahuan tentang kepariwisataan yang masih sangat dangkal akan menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengembangan kepariwisataan, sebagai contoh seorang pemandu wisata yang tidak berkompeten di bidang pariwisata tidak dapat menawarkan potensi wisata dengan baik dan dampaknya wisatawan tidak puas dengan pelayanan yang ada di obyek wisata tersebut. c)

Komposisi Penduduk menurut Mata Pencaharian Salah satu usaha yang di lakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup adalah dengan bekerja. Wilayah Kecamatan Karangreja dengan jumlah penduduk 37.661 jiwa tersebut, mereka bekerja pada sektor yang bervariasi. Komposisi penduduk menurut mata pencaharian dapat memberikan gambaran tentang kondisi sosial ekonomi masyarakat setempat, hal ini merupakan sumbangan yanag sangat penting bagi proses

pembangunan,

khususnya

pembangunan

dalam

sektor

kepariwisataan, adanya partisapasi aktif dari masyarakat, baik sebagai pedagang, tenaga kerja maupun berperan dalam menciptakan lingkungan yang bersih di sekitar obyek wisata sehingga dapat menimbulkan kesan nyaman bagi wisatawan yang berkunjung.

65

Tabel 6. Komposisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian No Mata Pencaharian Jumlah Persentase 1 Petani Sendiri 11.431 38,45 2 Buruh: - Tani 3.572 12,02 - Industri 366 1,23 - Bangunan 862 2,90 3 Pengusaha 57 0,19 4 Pedagang 866 2,91 5 Angkutan 131 0,44 6 Pegawai Negeri: - Sipil 233 0,78 - ABRI 9 0,03 7 Pensiunan 123 0,41 8 Lain-lain 12076 40,62 Jumlah 29726 100, 00 Sumber : Monografi Kecamatan Karangreja 2004

Dari tabel dapat diketahui bahwa mata pencaharian penduduk di Kecamatan Karangreja di dominasi oleh petani yaitu sebesar 38,45 % dan buruh tani sebesar 12,02% sehingga penduduk di Kecamatan Karangreja mengarah pada sektor agraris. Hal itu sangat berpengaruh terhadap perkembangan kepariwisataan, dengan penduduk yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani, dengan adanya kawasan obyek wisata Goa Lawa di harapkan akan dapat menambah penghasilan penduduk dengan jalan berjualan dan sebagainya, serta memberi masukan bagi penduduk bahwa mereka tidak hanya menggantungkan kehidupan ekonomi mereka pada sektor pertanian saja dengan ikut berpartisipasi dalam setiap kebijakan yang di buat oleh pemerintah.

66

B. Tinjauan Geografis Terhadap Pengembangan Obyek Wisata Goa Lawa a. Faktor Alam 1. Faktor Lokasi Lokasi dapat di artikan sebagai letak suatu tempat atau obyek. Dalam pembangunan dan pengembangan pariwisata faktor lokasi sangat penting peranannya, karena dengan lokasi dapat memberikan penjelasan berbagai hal tentang gejala yang akan di pelajari. Lokasi juga sangat menentukan berhasil atau tidaknya pembangunan dan pengembangan pariwisata, terkait dengan aspek jarak, biaya, kondisi jalan serta bagaimana mencapai lokasi tersebut. Menurut Daljoeni (1982: 2) menyebutkan bahwa lokasi suatu tempat adalah sangat penting, kaitannya dengan relasi keruangan seperti posisi dan jarak. Lokasi dalam hal ini juga dapat diartikan sebagai lokasi relatif yaitu lokasi suatu tempat di pandang dari tempat atau daerah lain. Di sini jelas bahwa faktor lokasi sangat berperan dalam menunjang pembangunan, khususnya pembangunan dan pengembangan pada sektor pariwisata sebagai bahan masukan bagi pemerintah setempat dalam mengambil kebijakan di bisang pariwisata. Goa Lawa yang berada di sebelah utara kota Purbalingga, di lihat dari lokasinya berada pada posisi yang strategis dan dapat diandalkan sebagai kawasan wisata alam yang potensial. Jarak obyek wisata Goa Lawa dari ibukota kecamatan mencapai 2 km dengan waktu tempuh sekitar 15 menit

67

dengan menggunakan angkutan umum dengan biaya seberas Rp 1.000,(seribu rupiah), sedangkan dari pusat kota Kabupaten Purbalingga mencapai 25 Km dengan waktu tempuh 30-45 menit serta biaya sebesar Rp 4000,(Empat ribu rupih) di hitung dari pusat kota. Obyek wisata Goa Lawa selain menawarakan pesona sebuah goa yang terbentuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku, juga di dukung oleh suasana lingkungan yang menyenangkan sebagai tempat berekreasi, dengan pemandangan alam yang indah, Gunung Slamet yang tampak dari obyek wisata serta kondisi udara pegunungan yang menyegarkan dan faslitas-fasilitas wisata lain yang juga tidak kalah menariknya. Selain lokasi yang mudah di capai, lokasi obyek wisata Goa Lawa juga merupakan satu paket lokasi wisata alam dengan kawasan wana wisata Baturaden yang terdapat di Kabupaten Banyumas dan tempat rekreasi Guci yang berada di Kabupaten Tegal, dan keberadaan Curug Silintang dan Silawang yang terletek di Desa Tlahab Kecamatan Karangreja hal tersebut sangat mendukung dalam pengembangan pariwisata yaitu dalam rangka peningkatan jumlah pengunjung obyek wisata. Obyek Wisata Goa Lawa tidak hanya di datangi oleh para orang tua. Dengan adanya arena bermain bagi anak-anak obyek wisata ini juga banyak di kunjungi oleh anak-anak yang datang bersama orang tua mereka.

68

2. Faktor Relief/ Morfologi Relief adalah perbedaan tinggi rendah suatu dan kemiringan permukaan tanah (Prawiro 1979: 36), dengan demikian komponen relief adalah ketinggian tempat, kemiringan lereng, panjang lereng, hadap lereng dan bentuk lembah. Dalam penelitian ini akan di bahas tentang ketinggian tempat dan kemiringan lereng serta bentuk lahan di Kecamatan Karangreja, khususnya di kawasan obyek wisata Goa Lawa, kaitannya dengan pembangunan dan pengembangan pariwisata. Kemiringan lereng akan berpengaruh terhadap kondisi tanah, lereng yang curam biasanya tanahnya rawan longsor. Dengan ketinggian tempat mencapai 912 m di atas permukaan air laut dan pada kemiringan lereng antara 25-40 %, obyek wisata Goa Lawa dapat memberikan pemandangan yang menarik yaitu berupa perbukitanperbukitan dengan lembah-lembah di bawahnya yang dapat di manfaatkan kawasan perkemahan di dalam obyek wisata Goa Lawa tersebut. Kondisi lereng yang cukup terjal harus di pertimbangkan dalam pembangunan sarana dan prasarana yang bersifat fisik seperti pembangunan gedung atau hotel di daerah obyek wisata Goa Lawa tersebut. 3. Faktor iklim Iklim adalah keadaan udara rata-rata di suatu tempat yang luas dan dalam waktu atau periode yang relatif lama, iklim merupakan salah satu bagian dari ekosistem alam yang sangat berpengaruh terhadap kehidupan

69

manusia, hewan dan tumbuhan. Faktor iklim sangat di pengaruhi oleh keadaan suhu dan curah hujan. Iklim suatu daerah atau wilayah tertentu sangat berpengaruh terhadap aktivitas manusia dan juga pola-pola pembangunan di wilayah yang bersangkutan. Keberadaan iklim dalam pembangunan pariwisata perlu di ketahui karena keadaan iklim suatu daerah dapat menimbulkan variasi bentang alam dan bentang budaya yang lebih banyak, sehingga akan menarik wisatawan untuk berkunjung. Sujali (1989: 15) mengatakan bahwa iklim merupakan salah satu faktor geografis yang mampu menumbuhkan atau menimbulkan variasi lingkungan alam dan budaya, sehingga dalam pengembangan pariwisata iklim sangat penting peranannya. Sedangkan Sumaatmadja (1988 : 34) mengatakan bahwa iklim dan cuaca merupakan faktor geografis yang berpengaruh terhadap kehidupan, sehingga harus di perhitungkan bagi kepentingan pembangunan baik yang bersifat fisik maupun non fisik termasuk di dalamnya pembangunan dalam bidang pariwisata. Atas dasar klasifikasi iklim menurut Schmidt-Ferguson Kecamatan Karangreja (obyek waisata Goa Lawa) termasuk dalam tipe iklim A dengan sifat sangat bash dengan nilai Q = 9,8 % dan suhu udara 20,80º C. Dengan kondisi iklim tersebut obyek wisata Goa Lawa sangat cocok untuk kegiatan pariwisata terutama wisata alam. Menurut Yoeti (1985: 23) keadaan suhu

70

udara antara 15-25ºC sangat cocok untuk pengembangan pariwisata. Keadaan iklim suatu tempat juga di pengaruhi oleh vegetasi daerah setempat. 4. Faktor Tanah Tanah merupakan hasil pelapukan dan pengendapan batuan karena terkena erosi atau terkena tenaga oksigen (Djenan dan Wayong, 1976: 113). Keadaan tanah akan menentukan jenis tanaman yang cocok di tanam pada tanah tersebut. Berdasarkan peta tanah Kecamatan Karangreja skala 1:70.000, kawasan obyek wisata Goa Lawa di dominasi oleh jenis tanah latosol kekuningan, latosol coklat dan latosol dari bahan induk campuran batuan endapan tuf dan vulkan. Dari pengukuran di lapangan di ketahui bahwa PH tanah di sekitar obyek wisata alam Goa Lawa adalah 6-6,7, PH tanah tersebut termasuk normal dan baik untuk tumbuhnya tanaman, tekstur lempung, struktur remah hingga gumpal, tanah ini biasanya terdapat pada daerah iklim basah dengan curah hujan lebih dari 300 mm/ tahun dan pada ketinggian antara 300-1000 m. 5. Faktor Air Air merupakan kebutuhan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia serta mahkluk hidup yang lain, kondisi air menentukan ada tidaknya suatu wilayah dapat di huni dengan baik. Air adalah senyawa oksigen dan hidrogen dengan rumus H2O (Prawiro,1979: 36), air dapat berbentuk cairan yang biasa di gunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sehingga tanpa adanya air, maka mahkluk hidup tidak dapat bertahan hidup.

71

Air dapat berbentuk air permukaan, air yang mengalir, air tanah, air danau,air laut yang merupakan salah satu potensi sumber daya yang dapat mempengaruhi

proses

pertumbuhan

mahkluk

hidup

dan

proses

pembangunan. Kondisi air di pengaruhi juga oleh keadaan iklim, vegetasi dan kondisi tanah. Air dalam pembangunan pariwisata berperan untuk menciptakan ketertarikan

wisatawan

yang

berkunjung

ke

obyek

wisata

yang

bersangkutan, baik di gunakan untuk keperluaan fasilitas wisata maupun sebagai sarana prasarana pendukung obyek wisata. 6. Faktor Flora/ Fauna Tumbuh-tumbuhan dan hewan merupakan bagian dari ekosistem. (Organisme Hidup). Dimana komponen utama dari sebuah ekosistem terdiri dari empat (4) unsur yaitu: unsur biotik (organisme hidup), hidrologi, litosfer dan atmosfer. Ke empat unsur tersebut akan saling mepengaruhi satu sama lain (terjadi interaksi). Dari uraian di atas di ketahui bahwa flora fauna dalam sebuah ekosistem merupakan komponen dari organisme hidup, yang berpengaruh terhadap kompenen-komponen lain seperti litosfer, hidrosfer dan atmosfer. Begitu juga dalam kawasan obyek wisata, tumbuhan merupakan bagian yang penting yang dapat mempengaruhi kondisi lingkungan di sekitar obyek wisata dan dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan yang berkunjung. Obyek wisata Goa Lawa yang di jadikan sebagai sentra bagi

72

pertumbuhan obyek wisata alam yang ada di Kabupaten Purbalingga memiliki berbagai macam jenis tumbuhan yang didomonasi oleh pohon Pinus. Kawasan Obyek wisata Goa Lawa yang menempati area seluas 11 Ha yang berada di desa Siwarak menyajikan kondisi alam yang sangat menarik dengan Hutan Pinus yang tersebar di dalam obyek wisata, selain itu juga terdapat berbagai macam bunga yang di tanam sepanjang jalan yang ada di dalam obyek wisata dan tanaman bunga yang di budidayakan di dalam pot dan di jual yang di kelola oleh pengelola obyek wisata itu sendiri dengan harga minimal satu pohon mencapai Rp 5.000,- (lima ribu rupiah). Sementara itu Koleksi fauna sangat terbatas bahkan dapat di katakan obyek wisata ini tidak memiliki koleksi berbagai jenis hewan yang dapat di nikmati oleh pengunjung. b. Faktor Sosial dan pengembang 1. Penduduk Penduduk pembangunan,

merupakan begitu

juga

komponen dengan

yang

pembangunan

penting

dalam

dalam

bidang

kepariwisataan. Kondisi penduduk baik di lihat dari tingkat pendidikan maupun dari kondisi sosial ekonominya sangat berperan dalam pengembangan obyek wisata. Dilihat dari tingkat pendidikannya, tingkat pendidikan penduduk di Kecamatan Karangreja masih tergolong rendah, penduduk yang mencapai jenjang pendidikan sampai ke SLTA hanya sekitar 3,65 %, sedangkan perguruan tinggi hanya mencapai 0,50 % dari

73

jumlah penduduk yang ada. Tingkat pendidikan yang rendah akan akan berpengaruh terhadap cara pandang masyarakat dalam menanggapi suatu fenomena atau permasalahan yang ada, mereka cenderung tertutup dan acuh terhadap berbagai fenomena dan permasalahan yang muncul dalam lingkungan mereka, termasuk terhadap keberadaan obyek wisata dan para wisatawan yang datang ke obyek wisata. Untuk kawasan wisata alam, sektor pertanian sangat mendukung dalam pengembangan obyek wisata alam, karena dengan sektor pertanian maka aktivitas yang di lakukan penduduk sebagian besar tidak merubah fungsi lahan sebagai lahan pertanian yang ada di wilayah tersebut. Menurut Leopold (dalam Maryati, 2003: 91) jika 50 % penduduk bekerja pada sektor pertanian maka daerah tersebut sangat cocok di jadikan sebagai kawasan obyek wisata alam. Kondisi penduduk yang sedemikian rupa akan berpengaruh terhadap peran serta mereka dalam pembangunan dan pengembangan obyek wisata Goa Lawa. 2. Modal Modal dan pendanaan dalam pengembangan obyek wisata sangat menentukan dalam menunjang kemajuan suatu obyek wisata. Perbaikan dan penambahan sarana dan prasarana mutlak memerlukan dana yang tidak sedikit. Modal dan pendanaan ini di peroleh dari hasil penjualan tiket dan sebagian tiket parkir serta anggaran dari pemerintah daerah.

74

3. Organisasi Organisasi merupakan perangkat yang lunak yang bertujuan untuk mengatur pengelolaan, perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan kepariwisataan di dalam obyek Wisata Goa Lawa agar semua kegiatan yang ada di dalam obyek wisata dapt terkontrol dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang telah di canangkan oleh pemerintah Kabupaten Purbalingga. Organisasi yang terkait langsung dengan pengembangan obyek wisata Goa Lawa adalah pengelola obyek wisata itu sendiri. 4. Akomodasi Selain modal faktor yang tidak kalah penting dalam menunjang pengembangan pariwisata adalah tersedianya sarana akomodasi yang dapat memenuhi semua kebutuhan yang di inginkan oleh wisatawan baik dari segi kuantitas yaitu jumlah kamar yang dapat menampung wisatawan yang berkunjung/ menginap serta dari segi kualitasnya yaitu fasilitas-fasilitas di dalam hotel atau penginapan tersebut seperti TV, AC, sarana telokomunikasi dan sebagainya. 5. Fasilitas pelayanan dan infrastruktur Fasilitas pelayanan dan infrastruktur di dalam obyek wisata perlu mendapat perhatian yang serius. Fasilitas pelayanan yang mendukung dalam pengembangan obyek wisata Goa Lawa antara lain warung-warung makan, pusat belanja sovenir, fasilitas telekomunikasi dan sebagainya. Begitu juga dengan fasiliats infrastruktur baik kondisi jalan maupun sarana angkutan dan kondisi terminal yang menuju ke lokasi obyek wisata.

75

6. Daya Tarik Daya tarik atau atraksi adalah segala sesuatu yang ada di dalam obyek wisata yang menarik dan bernilai yang dapat di kunjungi dan di nikmati oleh pengunjung obyek wisata tersebut. Daya tarik dapat berupa daya tarik utama dan daya tarik tambahan. Daya tarik utama Obyek wisata Goa Lawa adalah berupa fenomena gua yang terbentuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku, sedangkan daya tarik tambahan berupa pemandangan alam yang indah, taman bermain untuk anak-anak, taman rekreasi, serta kesenian daerah setempat yang dapat di saksikan setiap hari minggu pada awal bulan seperti seni Kuda Lumping, seni Kentongan (thek-thek) dan kerajinan-kerajinan yang dapat di jadikan sebagai sovenir yang tersedia di toko-toko di kawasan obyek wisata tersebut.

C. Kondisi Umum Kawasan Obyek Wisata Goa Lawa 1. Deskripsi dan Sejarah Obyek Wisata Goa Lawa Obyek wisata Goa Lawa yang terletak di Desa Siwarak Kecamatan Karangreja dengan jarak dari kota kecamtana sekitar 1,5 km dan sekitar 25 km dari pusat kota Kabupaten ke arah utara, merupakan tempat yang cukup strategis karena berada pada jalur lalu lintas yang menghubungkan Kabupaten Purbalingga dengan Kabupaten Pemalang, serta kondisi udara yang sejuk karena berada pada kaki Gunung Slamet dengan pemandangan alam berupa perbukitan-perbukitan sangat cocok untuk di jadikan sebagai kawasan wisata alam andalan bagi pemerintah Kabupaten Purbalingga.

76

Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) tahun 2000, obyek wisata Goa Lawa merupakan kawasan obyek wisata yang menjadi prioritas utama dalam pengembangannya. Goa Lawa yang mempunyai panjang 1,5 km dengan luas 5 km merupakan goa yang terbentuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku di bawah pemukaan tanah. Goa Lawa merupakan gua kars karena terbentuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku. Selain merupakan goa kars, goa ini juga masih sangat alami terbukti dengan masih banyak terdapat kelelawar dan anak-anak goa yang tidak boleh di masuki di dalam goa tersebut. Di dalam goa tersebut terdapat anak goa yang mempunyai daya tarik tersendiri. Berikut ini namanama goa di dalam Goa Lawa.

Tabel 7. Nama-nama gua di dalam Goa Lawa No Nama Goa Keterangan 1 Waringin Seto Berupa relief pada dinding gua yang menggambarkan pohon beringin. 2 Goa Istana Lawa Tempat bersarang Lawa 3 Goa Dada Lawa Berbentuk seperti dada Lawa dan sendang di bawahnya. 4 Pancuran dan Sendang Airnya di yakini dapat membuat awet muda. Drajat 5 Goa Langgar Bentuknya menyerupai sebuah Mushola. 6 Goa Panembahan 7 Goa Rahayu Tempat Orang melakukan ritual keagamaan. 8 Goa Cepet Goa yang sangat gelap dan di larang untuk di masuki. 9 Goa Ratu Ayu Dahulu merupakan tempat persembunyian dua orang puteri. Sumber: Dinas pariwisata dan pengelola obyek wisata

77

Setelah kawasan obyek wisata ini dinyatakan resmi menjadi daerah tujuan wisata, kawasan ini telah mengalami tiga tahap pembangunan yang dimulai pada tahun 1980, tiga tahap pembangunan tersebut adalah: a) Tahap I merupakan tahap awal pembangunan yaitu pembukaan area goa, yang di awali dengan pengadaan penerangan dengan listrik di dalam goa, yang menghabiskan dana kurang lebih Rp 270.000.000 (Dua ratus tujuh puluh juta rupiah). b) Tahap II, meliputi pembangunan fasilitas-fasilitas pelayanan seperti fasilitas penginapan, lavatory (MCK), tempat parkir, gasebo (tempat istirahat), ventilasi-ventilasi goa, gerbang masuk kawasan wisata, loket penjualan karcis, panggung terbuka dan fasilitas-fasilitas yang lain yang menelan biaya sebesar Rp. 1.112.576.000,- (satu milyar seratus dua belas juta lima ratus tujuh puluh enam ribu rupiah) c) Tahap III, pembangunan ini meliputi pembangunan pagar keliling seluas 11 Ha serta pembangunan obyek wisata penunjang yaitu Taman Kenangan, taman bermain anak yang menelan dana sebanyak Rp 400. 650.000,(empat ratus juta enam ratus lima puluh ribu rupiah). a. Keanekaragaman obyek wisata Kawasan obyek wisata Goa Lawa yang terletak di desa Siwarak, dengan latar belakang pemandangan alam yang sangat indah serta obyek utama berupa fenomena goa yang masih sangat alami dan merupakan goa kars terbesar di propinsi Jawa Tengah bahkan terbesar di Indonesia ini terbentuk dari endapan batu gamping dan aliran lava yang membeku di bawah

78

permukaan tanah di lereng Gunung Slamet. Selain untuk tujuan wisata kawasan ini juga sering menjadi pusat penelitian oleh para pakar geologi baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, kebanyakan dari mereka tertarik dengan fenomena gua yang masih sangat alami itu bahkan para pakar geologi dari bandung pernah mnegadakan penelitian untuk menguji kekuatan goa terhadap getaran gempa dengan cara gempa buatan. b. Daya tarik obyek wisata Selain kondisi alam yang sangat indah serta fenomena goa, daya tarik lain yang dapat menjadikan obyek ini banyak di kunjungi adalah adanya obyek wisata tambahan yaitu taman bermain anak, taman bunga, lokasi perkemahan dan juga tempat rekreasi (Taman Kenangan) yang menghadap ke arah Gunung Slamet dan adanya fasilitas tempat-tempat untuk berteduh (gasebo) bagi para pengunjung. c. Potensi Wisatawan 1) Asal Wisatawan Berdasarkan hasil wawancara dengan pengelola obyek wisata serta angket yang di berikan kepada pengunjunng dapat di ketahui bahwa sebagian besar pengunjung obyek wisata Goa Lawa merupakan wisatawan lokal yaitu wisatawan dari Kabupaten Purbalingga dan kota-kota di sekitar Kabupaten Purbalingga. Selain wisatawan lokal juga ada wisatawan dari mancanegara yaitu wisatawan dari Belanda dan Prancis yang mengadakan penelitian di obyek wisata Goa Lawa pada tahun 2003 yang berjumlah 12 orang.

79

Tabel 8. Jumlah Wisatawan Obyek Wisata Goa Lawa Berdasarkan Daerah Asal No Asal daerah Jumlah Persentase 1 Kabupaten Purbalingga 17 42,5 2 Kabupaten Banjarnegara 3 7,5 3 Kabupatean Pemalang 3 7,5 4 Kabupaten Banyumas 7 17,5 5 Kabupaten Cilacap 3 7,5 6 Prop. Jawa Barat 3 7,5 7 Lain-lain 4 10,0 Jumlah 40 100 Sumber : Hasil angket

2) Tingkat Kunjungan Wisatawan Tingkat kunjungan wisatawan ke Obyek wisata Goa Lawa mengalami peningkatan, berdasarkan data pada kantor pengelola dan Dinas Pariwisata di ketahui bahwa selama 3 (tiga) tahun berturut-turut pendapatan obyek wisata Goa Lawa mengalami peningkatan. Tingkat kunjungan wisatawan tertinggi biasanya terjadi pada hari-hari setelah lebaran Idul Fitri (sepuluh hari setelah lebaran). Pada hari-hari biasa jumlah wisatawan hanya berkisar antara 20-30 wisatawan. Berikut tabel tingkat pendapatan dan jumlah pengunjung obyek wisata Goa Lawa tahun 20022004.

Tabel 9. Tingkat Pendapatan dan Jumlah Wisatawan Obyek Wisata Goa Lawa No Tahun Jumlah wisatawan Jumlah Pendapatan 1 2002 12.149 Rp 36.648.350,2 2003 16.675 Rp 51. 025.200,3 2004 34.395 Rp 112.029.950,Sumber : Kantor pengelola obyek wisata

80

2. Kondisi Sarana dan Prasarana Obyek Wisata a) Akomodasi Sarana akomodasi yang tersedia di lokasi obyek wisata sudah cukup memadai, dari hasil pengamatan dilapangan diketahui bahwa ada dua hotel yaitu hotel Pondok Cemara dan Hotel Semi Asih dengan jumlah kamar masing-masing adalah 8 buah sehingga berjumlah 16 kamar dengan fasilitas kamar mandi air panas dan TV serta pelayanan yang sangat memuaskan dari pemilik hotel tersebut dan kondisi kebersihan yang sangat terjaga serta di lengkapi juga dengan kantin sederhana. Kondisi sarana dan prasarana akomodasi di dalam obyek wisata Goa Lawa masih sangat kurang, dimana dari hasil pengamatan dilapanagn di ketahui bahwa hanya terdapat dua hotel di sekitar obyek wisata Goa Lawa tersebut. Hotel tersebut merupakan hotel melati dengan tarif Rp 40.000,- (empat puluh ribu rupiah) untuk satu kamar. Selain dua hotel tersebut, rumah-rumah penduduk yang berada di sekitar obyek wisata Goa Lawa banyak yang di sewakan sebagai tempat penginapan.

Tabel 10. Sarana Akomodasi di Obyek Wisata Goa Lawa No Nama Hotel Jumlah Fasilitas Kamar 1 Pondok Cemara 8 Fan dan TV Kantin 2 Hotel Semi Asih 8 Fan dan TV Jumlah 16 Sumber : Survei Lapangan

Jumlah Pelayan 6 5 11

81

b) Fasilitas Penunjang Berdasarkan hasil pengamatan, fasilitas penunjang yang terdapat di kawasan obyek wisata Goa Lawa meliputi fasilitas tempat makan, fasilitas telekomunikasi, pusat informasi, fasilitas tempat belanja sovenir, fasilitas tempat berteduh (gasebo), fasilitas untuk MCK, fasilitas untuk tempat ibadah, dan lain-lain yang disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 11. Fasilitas Penunjang Di Kawasan Obyek Wisata Goa Lawa Tahun 2004 Jenis Fasilitas Penunjang Jumlah Keterangan No (buah) 1 Warung makan 3 Sederhana, menetap 2 Telekomunikasi 1 Menetap 3 Pusat informasi 2 Permanen, Berfungsi 4 Belanja/ sovenir 4 Menetap 5 Insidental 5 Tempat Istirahat/ gasebo 8 Permanen dan berfungsi 6 Fasilitas MCK/ WC 5 Permanen dan berfungsi 7 Pramuwisata (guide) 7 orang Sebagian lulusan kepariwisataan 8 Tempat ibadah 1 Permanen dan berfungsi 9 Panggung tebuka 1 Permanen dan berfungsi 10 Aula terbuka 1 Permanen dan kurang berfungsi Sumber : Kantor Pengelola obyek wisata Goa Lawa, 2004

c) Prasarana Wisata Prasarana wisata secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap perkembangan pariwisata. Untuk kawasan obyek wisata Goa Lawa kondisi parasaran wisatanya sudah cukup memadai. Prasarana tersebut meliputi:

82

1.

Prasarana jalan dan transportasi Kondisi jalan yang ada sudah beraspal termasuk jalan di dalam kawasan obyek wisata Goa Lawa, keadaan wilayah yang berupa pegunungan dengan banyak lereng tidak menjadi kendala dalam bidang transportasi karena keseluruhan jalan sudah beraspal. Jalan yang menuju ke arah Kecamatan Karangreja merupakan jalan Kolektor Primer dengan lebar 7 (tujuh) meter, sedangkan dari arah Kecamatan Karangreja menuju ke obyek wisata kondisi jalan juga sudah beraspal dengan lebar jalan 5 (lima) meter. Hampir semua jalan yang menuju ke obyek wisata

sudah mnggunakan aspal dengan kualitas tinggi

(Hotmix). Sarana transportasi juga sudah cukup memadai dengan jumlah bus dan juga mobil angkutan umum yang cukup banyak. Untuk mencapai obyek wisata dari pusat kota dapat ditempuh dengan menggunakan angkutan bus Purbalingga-Pemalang dan angkot langsung menuju ke obyek wisata dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dan biaya sebesar Rp 4000,- (empat ribu rupiah). 2.

Prasarana air bersih Penyediaan sarana air bersih bagi pengunjung di peroleh dari mata air yang di tampung dalam bak penampungan. Sampai saat penelitian ini di lakukan kondisi air di kawasan obyek wisata Goa

83

Lawa masih dapat mencukupi kebutuhan para pengunjung hal itu terlihat dari kondisi MCK yang tidak pernah kekurangan air, bahkan pada musim kemarau pun tidak pernah kekeringan air. Hal itu juga di lakukan oleh penduduk di Kecamatan Karangreja yang memanfaatkan mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan hampir tidak di jumpai adanya sumur-sumur air di sekitar wilayah tersebut. 3.

Prasarana atau jaringan listrik Obyek wisata Goa Lawa merupakan obyek wisata alam yang menjadi andalan bagi pemerintah Kabupaten Purbalingga, sehingga sejak pertama kali di bangun pada tahun 1980 kawasan ini sudah di lengkapi dengan fasilitas jaringan listrik yang cupuk memadai bahkan di dalam goa sendiri sudah di beri penerangan dengan listrik.

4.

Jaringan telepon Jaringan telepon yang tersedia di kawasan obyek wisata masih sangat terbatas dan belum memadai. Dari hasil pengamatan hanya ada satu jaringan telpon yaitu wartel yang lokasinya berada di samping pintu masuk obyek wisata di sepanjang deretan toko-toko/ warung makan dan toko sovenir.

5.

Sarana wisata Kawasan obyek wisata Goa Lawa dengan luas 11 Ha, memiliki berbagai sarana wisata yang dapat di manfaatkan oleh pengunjung, sarana wisata tersebut meliputi :

84

a) Pos keamanan, terletak di depan loket dan pintu masuk. b) Kantor informasi, ada dua kantor informasi yaitu satu yang berada pada jalur pintu masuk obyek wisata dan yang satunya lagi berada di sebelah rumah diesel (cadangan listrik jika aliran listrik mati) yang bersifat insidental artinya kantor informasi tersebut di gunakan pada saat ada kegiatan-kegiatan tertentu seperti perkemahan dan lain sebagainya. c) Kamar mandi dan WC yang berjumlah 5 unit yang tersebar di dalam obyek wisata dengan kondisi yang cucup bersih. d) Sarana beribadah berupa mushola kecil yang berada di sebelah kantor pengelola. e) Aula terbuka, aula ini biasanya di gunakan oleh para pengunjung yang datang dengan jumlah rombongan yang banyak dan juga untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat pendidikan. f)

Tempat parkir, berada di depan pintu gerbang obyek wisata, tempat parkir tersebut di kelompkan menjadi tiga yaitu parkir kendaraan roda dua, prkir kendaraan roda empat dan bus serta parkir untuk angkutan umum.

g) Petunjuk arah, yang berfungsi untuk menunjukan ke arah obyek wisata serta fasilitas-fasilitas wisata lain. h) Lapangan Olah Raga, lapangan ini di gunakan sebagai sarana olah raga dan juga sebagai lokasi perkemahan.

85

i)

Gasebo yang berjumlah 8 buah merupakan tempat istirahat yang menyenangkan sambil menikmati pemandangan alam yang menyenangkan dengan hembusan udara yang sejuk.

j)

Panggung Terbuka, panggung ini di gunakan untuk menampilkan kesenian-kesenian asli Purbalingga seperti Kentongan (thek-thek), Kuda lumping, Orkes yang di adakan tiap satu bulan sekali pada awal bulan pada hari minggu.

D. Pengelolaan dan Pengembangan Obyek Wisata Pengelolaan dan pengembangan pariwisata adalah suatu hal yang sangat penting dalam menciptakan suatu kawasan wisata yang dapat menjadi andalan dan dapat memberi sumbangan bagi pendapatan daerah yang bersangkutan. Untuk itu perlu adanya pengelolaan dan perencanaan yang terarah dan teratur. Adapun pengelolaan dan pengembangan obyek wisata Goa Lawa yang berada di Kecamatan Karangreja tersebut meliputi : 1. Kebijakan Pemerintah di Bidang Pariwisata Dalam pengelolaan dan pengembangannya obyek wisata Goa Lawa, pada dasarnya mengacu pada kebijakan pemerintah Kabupaten Purbalingga, berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Purbalingga tahun 2000, rencana pengembangan kawasan wisata alam di Kabupaten Purbalingga akan di pusatkan pada Kecamatan Karangreja denga fokusnya obyek wisata Goa Lawa dan Curug Silintang dan Silawang.

86

Rencana pengembangan obyek wisata alam tersebut meliputi: a) Rencana pengembangan jangka pendek Rencana pengembangan jangka pendek yang akan di mulai tahun 2005 berupa pembuatan jalur lingkar yang menghubungkan obyek wisata Goa Lawa dengan Curug Silintang dan Silawang yang merupakan satu paket perjalanan wisata alam di Kecamatan Karangreja serta menambah fasilitas sarana dan prasarana di dalam obyek wisata. b) Rencana pengembangan jangka panjang Pengembangan kepariwisataan jangka panjang mengacu pada program pemerintah tahun 2005 yaitu pengembangan kepariwisataan secara keseluruhan tidak hanya pada obyek wisata alam saja, pengembagan tersebut juga di mulai dari obyek wisata alam Goa Lawa yang terletak di sebelah utara kota Purbalingga. Rencana pengembangan ini di beri nama “ One Day in Purbalingga”. Paket ini menawarkan paket perjalanan satu hari di wilayah Purbalingga dengan obyek kunjungan pertama adalah obyek wisata alam Goa Lawa di Kecamatan Karangreja dan berakhir pada pusat perbelanjaan keramik di kota purbalingga dan Desa Wisata Karangbanjar sebagai tempat makan yang menyuguhkan aneka masakan khas Purbalingga. 2. Badan Pengelola/ Organisasi Badan pengelola dalam hal ini adalah Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga yang bertugas untuk mengatur, mengelola,

87

merencanakan, melaksanakan serta mengawasi jalannya kegiatan di dalam obyek

wisata

tersebut.

Berdasakan

Peraturan

Daerah

(Perda)

No.556/254/02/1998 Dinas Pariwisata yang dalam hal ini adalah Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga mempunyai tugas sebagai berikut: 1) Penyiapan perumusan kebijakan teknis operasional, pemberian bimbingan dan penyuluhan, koordinasi teknis, pemberian perijinan berdasarkan kebijakan yang di tetapkan oleh Bupati sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. 2) Pelaksanaan pendaftaran, pendataan, dan pembinaan terhadap hotel, restoran, usaha rekreasi dan hiburan umum serta sarana pariwisata, kesenian dan kebudayan. 3) Pemberian perijinan dan pelaksanaan pelayanan umum di bidang usaha kepariwisataan sesuai dengan

peraturan perundang-undangan yang

berlaku. 4) Pelaksanaan tugas perencanaan, pengendalian operasional dan koordinasi teknis di bidang pariwisata. 5) Pemantauan dan pengendalian pelaksanaan tugas sesuai dengan kebijakan yang di tetapkan Bupati berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 6) Pembinaan terhadap unit pelaksana teknis dinas dan cabang dinas dalam lingkup tugasnya.

88

7) Penyelenggaraan urusan tata usaha dan rumah tangga Dinas Pariwisata. 8) Pelaksanaan tugas lain yang di berikan oleh Bupati sesuai dengan tugas dan fungsinya. Dengan mengacu pada peraturan daerah tersebut, maka dalam pelaksanakannya di perlukan susunan organisasi baik sebagai organisasi pelaksana maupun sebagai organisasi koordinasi. Sebagai organisasi pelaksana dalam kegiatan tersebut adalah pengelola obyek wisata alam Goa Lawa tersebut yang terdiri dari seorang menejer Obyek wisata Goa lawa di bantu oleh pemandu wisata yang berjumlah 7 (tujuh) orang. Sedangkan yang bertindak sebagai organisasi koordinasi adalah Bupati dan badan pengawas serta Dinas Perhubungan dan Pariwisata Kabupaten Purbalingga. 3. Pemeliharaan Obyek wisata Seperti telah di sebutkan di atas bahwa sebagai pelaksana dalam kegiatan di dalam obyek wisata Goa Lawa adalah pengelola obyek wisata tersebut, maka untuk pemeliharaan juga menjadi tanggungjawab pihak pengelola obyek wisata Goa Lawa tersebut, di samping itu dalam pemeliharaannya pihak pengelola di bantu oleh masyarakat setemapt yang berperan dalam menjaga lingkungan di sekitar kawasan obyek wisata Goa Lawa tersebut agar tetap bersih.

89

4. Promosi Wisata Promosi wisata bertujuan untuk memasarkan atau memperkenalkan daya tarik obyek wisata serta potensi-potensi yang terdapat di dalam suatu obyek wisata. Promosi wisata dalam hal ini menjadi tanggungjawab Dinas Pariwisata setempat, promosi tersebut dapat mengguanakan media baik media elektronik maupun media cetak. 5. Modal Modal

dalam

sangat

penting

dalam

mengembangkan potensi kepariwisataan, modal

meningkatkan

dan

tersebut di peroleh dari

anggaran pendapatan dan belanja daerah, pendapatan dari obyek wisata serta investor swasta. Modal yang di gunakan untuk pengembangan obyek wisata Goa Lawa berasal dari APBD pemerintah yang di salurkan melalui Dinas Perhubungan Dan Pariwisata serta pendapatan obyek wisata Goa Lawa dari hasil penjualan tiket sebesar Rp 4000,-/ orang dan tiket Parkir untuk kendaraan roda dua sebesar Rp1000,-/ sepeda motor dan Rp 2000,-/ mobil. Dana tersebut di gunakan untuk memperbaiki sarana dan prasarana di dalam obyek wisata yang sudah rusak serta menambah fasilitas yang dapat menunjang bagi pengembangan obyek wisata tersebut agar dapat bersaing dengan obyek wisata di sekitarnya, apalagi dengan adanya obyek wisata baru berupa aquarium raksasa yang saat ini banyak di minati oleh wisatawan karena lokasinya yang dekat dengan pusat kota dan sangat banyak meyerap pengunjung.

90

E. Potensi Obyek Wisata Goa Lawa Dari hasil pengamatan di lapangan dapat di ketahui bahwa di dalam kawasan obyek wisata Goa Lawa di jumpai beberapa daya tarik penunjang yaitu, arena tempat bermain anak, taman rekreasi (taman kenangan) serta taman bunga yang selalu menjadi perhatian para pengunjung obyek wisata. Selain itu kawasan obyek wisata Goa Lawa mempunyai potensi daya tarik (atraksi) wisata yang dapat di kembangkan sebagai daya tarik wisata sehingga akan dapat meningkatkan pendapatan obyek wisata dengan peningkatan jumlah pengunjung. Potensi-potensi alam yang dapat di kembangkan di kawasan obyek wisata Goa Lawa sebagai daya tarik tambahan antara lain: 1) Wisata olah raga (kolam renang) Yaitu pembangunan kolam renang dimana dari hasil penelitian di ketahui bahwa kondisi hirologi kawasan obyek wisata Goa Lawa cukup baik dengan mata air yang mengalir sepanjang tahun di tunjang dengan curah hujan yang tinggi sepanjang tahun serta kawasan hutan pinus yang berfungsi sebagai penyimpan air maka di kawasan obyek wisata Goa Lawa sangat potensial di bangun kolam renang. 2) Taman Margasatwa Kawasan obyek wisata Goa Lawa yang masih sangat alami dengan hutan pinus yang cukup luas sangat potensial jika pada kawasan ini di bangun taman marga satwa, selain dapat menambah daya tarik wisata, keradaan taman

91

marga satwa juga dapat di jadikan sebagai tempat untuk melindungi hewanhewan langka yang menjadi ciri khas daerah setempat agar tidak punah. Selain itu keberadaan vegetasi juga harus di imbangi dengan 3) Kebun buah Dari hasil pengamatan di lapangan di jumpai adanya taman bunga dan juga budi daya tanaman buah yang di lakukan oleh salah satu pengelola obyek wisata yang tinggal di dalam kawasan obyek wisata tersebut yaitu tanaman Stroberi. Tanaman ini sangat cocok di tanam di daerah yang beriklim sejuk dan dingin seperti di kawasan obyek wisata Goa Lawa. Oleh karena itu kawasan ini sangat cocok untuk mengembangkan tanaman stroberi dengan jalan membuat sebuah taman atau kebun budi daya tanamna tersebut. Dengan adanya kebun buah tersebut dapat menambah daya tarik obyek wisata Goa Lawa selain adanya taman bunga di obyek wisata tersebut. F. Pembahasan Peranan faktor-faktor geografis dalam pengembangan obyek wisata alam Goa Lawa di Kecamatan Karangreja secara garis besar dapat di bahas dan di jelaskan sebagai berikut: 1. Faktor lokasi, lokasi obyek wisata Goa Lawa yang jauh dari pusat kota dengan jarak 25 km sangat tepat sebagai kawasan obyek wisata alam, jarak yang cukup jauh dari pusat kota kabupaten tidak menjadikan obyek wisata ini sepi di kunjungi oleh wisatawan. Selain itu lokasi obyek wisata Goa Lawa juga

92

dekat dengan obyek wisata lain seperti Wana Wisata Baturaden dan obyek wisata Guci di Tegal yang merupakan satu paket perjalanan wisata alam di wilayaha Karisidenan Banyumas. Untuk pengembangan pariwisata terkait dengan faktor lokasi, pemerintah Kabupaten Purbalingga membangun sarana transportasi seperti pembangunan jalan dan terminal serta menambah jumlah angkutan umum yang menuju ke obyek wisata Goa Lawa agar aksesibilitas ke obyek wisata goa Lawa tinggi sehingga wisatawan tertarik untuk berkunjung. Dalam hal ini faktor lokasi tidak menjadi kendala dalam pembangunan dan pengembangan kawasan obyek wisata Goa Lawa sebagai kawasan wisata andalan di Kabupaten Purballingga. 2. Faktor relief, relief merupakan faktor alam yang perlu menjadi bahan pertimbangan dalam pembangunan. Dalam pengembangan dan pembangunan di kawasan obyek wisata Goa Lawa yang letaknya berada pada daerah perbukitan dengan ketinggian 912 mdpl dan kemiringan lereng yang bervaraiasi yaitu 25-40 %, dengan kemiringan lereng yang tergolong curam menyebabkan daerah ini rawan bencana tanah longsor, yanng berakibat pada sektor pertanian penduduk setempat, namun para penduduk serta pengelola obyek wisata menggunakan teknik terrasering dan menanam tanaman penyangga teras untuk mencegah terjadinya tanah longsor. Selain itu faktor ini juga di gunakan sebagai pertimbangan dalam menentukan lokasi obyek wisata serta menentukan bangunan yang akan di bangun demi menjaga keselamatan wisatawan. Selain sebagai penentu kebijakan dalam menentukan lokasi dan

93

bangunan, faktor relief dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Kondisi daerah-daerah yang berbukit-bukit merupakan pemandangan yang indah bagi wisatawan yang berkunjung. 3. Faktor Iklim, dengan lokasi yang berupa perbukitan dengan ketinggian 912 mdpl dan suhu udara rata-rata mencapai 20,80ºC dengan kondisi udara yang sejuk pada siang hari dan dingin pada malam hari dengan kecepatan angin berkisar antara 50-60 km/ jam dan kelembaban udara berkisar antara 76-89 % sangat mendukung bagi keberadaan obyek wisata alam, begitu juga untuk obyek wisata alam Goa Lawa yang terletak di lereng gunung Slamet, kondisi iklim tersebut sangat mendukung dalam proses pengembangan pariwisata. Menurut Yoeti (1985: 23) keadaan suhu udara anatara 15-25ºC sangat cocok untuk pengembangan pariwisata. 4. Faktor flora/ fauna, berdasarkan pengamatan di lapangan dan hasil wawancara dengan pengunjung obyek wisata, di ketahui bahwa selain fenomena gua, kondisi lingkungan juga merupakan daya tarik tersendiri seperti adanya kawasan hutan pinus yang menawarkan kesejukan udara di dalam obyek wisata serta keberadaan taman bunga yang sangat menarik. Namun keberadaan hutan pinus dan taman bunga tersebut belum di imbangi dengan keberadaan fauna. Goa Lawa sebagai obyek wisata alam, dengan adanya kawasan hutan pinus dan taman bunga tersebut dapat menambah daya tarik wisatawan dan dapat mendukung pengembangan obyek wisata tersebut. 5. Faktor Tanah, berdasarkan peta jenis tanah Kecamatan Karangreja, sebagian dari wilayah ini di dominasi oleh jenis tanah latosol coklat dan latosol merah.

94

Sedangkan untuk kawasan obyek wisata Goa Lawa yang terletak di Desa Siwarak di dominasi oleh tanah latosol merah kekuningan yang berasal dari batuan endapan dan vulkan, sifat tanah ini adalah solum tanahnya mencapai ketebalan 1,5-10 m, teksturnya liat, strukturnya remah, tingkat keasamannya rendah, Phnya 6,4, permeabilitasnya tinggi, tingkat bahaya erosinya kecil Tanah seperti ini biasanya produktifitasnya rendah, hal ini akan berpengaruh pada keberadan tanaman terutama tanaman yang membutuhkan tingkat kesuburan yang tinggi, sehingga untuk wilayah Desa Siwarak jenis tanaman yang ditanam

meliputi tanaman pangan yaitu jagung, ketela pohon dan

sayuran dan tanaman perkebunan berupa kopi dan the yang tidak terlalu membutuhlan unsur hara yang tinggi.. Untuk meningkatkan hasil pertanian penduduk melakukan konservasi dalam bidang pertanian seperti pembuatan terasering, menanam tanaman penguat teras, membuat pesemaian tanaman tahunan. 6. Faktor air, kondisi iklim yang sangat sejuk dengan tara-tara curah hujan tahunan mencapai 4084, 489 mm/ tahun dengan suhu udara rata-rata 20,47 ºC, menyebabkan kondissi air di wilayah ini cukup melimpah. Air di peroleh dari mata air yang mengalir melalui celah-celah tanah dan bongkahan-bongkahan batu, air tersebut di tampung dalam bak penampungan yang besar yang di salurkan melalui pipa-pipa atau selang-selang besar. Air di merupakan kebutuhan yang utama bagi kehidupan. Begitu juga bagi sektor pariwisata, air di gunakan untuk memenuhi kebutuhan di dalam obyek wisata seperti kebutuhan untuk MCK yang sangat penting. Dengan penggunaan air seperti

95

tersebut sangat penting dan menjadikan air sangat berperan dominan bagi keberadaan obyek wisata alam Goa Lawa dan pengembangannya. 7. Faktor geologi dan geomorfologi, struktur batuan pada wilayah ini adalah struktur lipatan, jenis batuannya merupakan kelompok batuan kuarter muda dengan bentuk lahan denudasional, menurut Leopold (dalam Maryati 2003: 91), kondisi seperti ini cukup kuat untuk menopang bangunan, faktor ini juga berperan dalam menentukan lokasi yang tepat untuk mendirikan sebuah bangunan. Hal itu sangat penting daalm menunjang pengembangan pariwisata terkait dengan faktor keselamatan wisatawan. 8. Faktor Penduduk, Peranan penduduk secara langsung di sekitar obyek wisata alam Goa Lawa dalam pengembangan pariwisata lebih berorientasi pada sektor ekonomi yaitu dengan jalan menjadi pedagang baik yang menetap dengan mendirikan toko-toko atau warung-warung di dalam maupun di luar obyek wisata tersebut. Selain itu bentuk partisipasi yang lain yaitu menciptakan lingkungan yang bersih di sekitar kawasan obyek wisata Goa Lawa akan menjadi nilai tambah bagi keberadaaan obyek wisata tersebut. Kondisi pedesaan yang identik dengan pertanian dan dari hasil penelitian di ketahui bahwa 50,47 % penduduk bekerja pada sektor pertanian sangat cocok sebagai daerah wisata dengan latar belakang alam bserta jiwa gotong royong yang tinggi di tunjukan dengan cara mereka dalam menyambut para wisatawan dengan baik dan ramah sangat mendukung dalam pengembangan obyek wisata.

96

9. Modal, merupakan salah satu faktor yang sangat mendukung dalam pembangunan dan pengembangan obyek wisata. Modal ini di gunakan untuk biaya penambahan dan pemeliharaan sarana prasarana wisata yang di peroleh dari penjualan tiket, uang parkir dan Anggaran Pemerintah dan Belanja Negara (APBD) dari pemerintah. Dari hasil wawancara dengan pengelola obyek wisata, modal yang ada dan anggaran dari pemerintah belum dapat mencukupi kebutuhan yang nantinya dapat menunjang pembangunan dan pengembangan obyek wisata Goa Lawa. 10. Pengelolaan dan agen pengembang (organisasi), merupakan sebuah perangkat yang bertujuan untuk menjalankan segala aktivitas yang berhubungan dengan obyek wisata, oraganisasi ini di bagi menjadi dua yang masing-masing tugasnya berbeda-beda, organisasi tersebut meliputi organisasi pelaksana dan organisasi koordinasi. Bertindak sebagai organisasi pelaksana yaitu pengelola obyek wisata Goa Lawa yang terdiri dari menejer utama, bagian administrasi, bagian keuangan dan di bantu oleh 7 (tujuh) orang pemandu wisata, sedangkan organisasi koordinasi terdiri dari Bupati, badan pengawas dan lembaga penelitian dengan bantuan Dinas Pariwisata. Untuk pengelolaan dan organisasi obyek wisata Goa Lawa sudah cukup baik, tetapi untuk pemandu wisata masih kurang profesional dalam bidangnya. 11. Daya tarik, berdasarkan pengamatan di lapangan daya tarik obyek wisata Goa lawa yang utama adalah fenomena goa dan didukung dengan daya tarik tambahan yaitu adanya arena bermain anak, taman kenangan serta lokasi

97

perkemahan. Selain itu atraksi atau daya tarik yang lain adalah kesenian khas daerah tersebut yaitu seni kentongan (Thek-thek) yang selalu menjadi perhatian para wisatawan yang berkunjung. 12. Infrastruktur kepariwisataan, fasilitas infrastruktur yang terdapat di dalam obyek wisata Goa Lawa sudah cukup memadai seperti kondisi jalan, penyediaan air bersih, penerangan listrik, saluran pembuangan limbah dan sarana transportasi menuju obyek wisata sudah cukup memadai, tetapi untuk sarana komunikasi di obyek wisata Goa Lawa masih sangat kurang, karena hanya ada satu sarana komunikasi di obyek wisata Goa lawa. 13. Fasilitas pelayanan, selain daya tarik yang menjadi fokus utama bagi para wisatawan yang berkunjung, fasilitas pelayanan di dalam obyek wisata harus dapat memenuhi dan menyediakan semua kebutuhan yang di perlukan oleh wisatawan, berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara dengan wisatawan, fasilitas pelayanan di dalam obyek wisata sudah cukup baik, satu hal yang menjadi sorotan dari para wisatawan terutama para wisatawan yang datang dengan tujuan untuk mengadakan penelitian dan sebagainya adalah pemandu wisata, di mana pemandu wisata yang ada kurang berkompeten di bidangnya. 14. Akomodasi, berdasarkan hasil pengamatan di lapangan di ketahui bahwa jumlah sarana akomodasi di obyek wisata Goa Lawa adalah dua (2). Kedua hotel tersebut merupakan hotel melati. Jumlah tersebut belum dapat mencukupi kebutuhan para wisatawan yang datang berkunjung ke obyek wisata dengan jumlah yang besar, hal itu juga terbukti dengan banyaknya

98

rumah-rumah penduduk yang di sewakan sebagai tempat penginapan pada waktu-waktu tertentu ketika jumlah wisatawan yang menginap sangat banyak. Dari pembahasan tentang peranan faktor-fakor geografis dalam pembangunan dan pengembangan obyek wisata Goa Lawa diatas dapat di sederhanakan dalam bentuk tabel sebagai berikut.

99

Tabel 12. Peranan Faktor-Faktor Geografis dalam Pembangunan dan Pengembangan Pariwisata. No

Faktor Geografis

1

Lokasi a. jarak dari pusat kota

2

b. Jarak dengan wisata lain

3

Kemiringan lereng

4

Kondisi iklim a. suhu udara b. curah hujan

5

flora fauna

6

Tanah a. jenis tanah b. tekstur tanah

Kriteria (Leopold Hasil dengan modifikasi) Penelitian

Mendukung Dekat dan 25 km aksesibilitas tinggi Satu paket satu paket Mendukung obyek perjalanan wisata perjalanan wisata Tidak 25-40% 0-25 % mendukung 20,80º C 4084,489 mm/ tahun Hutan dengan Hutan, satwa tidak di koleksi satwa jumpai 15-25º C >1000 mm/ tahun

Struktur lipatan Kuarter muda

Mendukung

denudasional

Mendukung

Mendukung Tidak Mendukung Tidak pernah Tidak pernah Mendukung kekeringan dan kekeringan dan tidak tidak banjir pernah banjir

8

Geologi a. struktur batuan

Struktural lipatan

b. jenis batuan

Kuarter

10

Penduduk a. tingkat pendidikan

b. aktivitas penduduk

Tidak mendukung

Latosol Liat (halus)

Air

Geomorfologi bentuk lahan

Mendukung Mendukung

Andosol dan latosol Sedang-kasar

7

9

Keterangan

Struktural, denudasi, vulkanik

Mendukung

30 % pendidikan 4,15% Tidak pendidikan menengah mendukung menegah ke atas 50,47 % 50 % pertanian Mendukung

100

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Dari hasil penelitian dapat di ambil kesimpulan bahwa dalam pengembangan obyek wisata, tidak lepas dari peranan faktor-faktor geografis. Dan masing-masing faktor-faktor geografis tersebut pada dasarnya saling mempengaruhi satu sama lain, di sini kawasan obyek wisata Goa Lawa merupakan suatu lingkungan fisik yang terjadi sebagai akibat dari kegiatan manusia, sedangkan faktor-faktor geografis yang terdiri dari faktor alam (lokasi, kemiringan lereng, iklim, flora fauna, tanah, air, geologi dan geomorfologi) faktor pengembang yang meliputi daya tarik, infrastruktur, fasilitas pelayanan, akomodasi, pengelolaan, permodalan, penduduk dan agen pengembang merupakan faktor penyebab adanya kawasan obyek wisata Goa Lawa tersebut. Di sini lah terjadi hubungan timbal balik antara lingkungan baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial dengan lingkungan/ kawasan obyek wisata. Dari hasil penelitian dapat di ketahui faktor-faktor geografis yang berperan dominan dalam mendukung pengembangan obyek wisata goa Lawa meliputi lokasi, kondisi hidrologi, keadaan iklim, geologi dan geomorfologi dan keadaan penduduk (aktivitas penduduk). Sedangkan faktor-faktor geografis yang kurang mendukung dalam pengembangan obyek wisata alam Goa Lawa adalah kemiringan lereng, flora fauna, tanah dan tingkat pendidikan penduduk.

100

101

Usah-usaha yang di lakukan peerintah kabupaten Purbalingga dalam pengembangan kawasan obyek wisata goa Lawa meliputi : 1) Rencana pengembangan jangka pendek yaitu pembuatan jalur lingkar yang menghubungkan obyek wisata goa Lawa dengan wisata alam yang ada di Kecamatan Karangreja. 2) Rencana penembangan jangka panjang yaitu paket perjalanan satu hari di purbalinggga yang di beri nama ”One Day in Purbalingga” Sedangkan potensi-potensi wisata yang dapat di kembangkan di kawasan obyek wisata Goa Lawa adalah wisata olah raga (pembuatan kolam renang), taman marga satwa, taman atau kebun buah.

B. Saran Untuk menciptakan iklim wisata yang baik yang dapat menarik wisatawan berkunjung serta mempromosikan obyek wisata agar menjadi obyek wisata unggulan tidak terlepas dari perannan faktor-faktor geografi. Dari uraian di atas dapat di ketahui bahwa dalam rangka pengembangnan obyek wisata Goa Lawa pelu memperhatikan berbagai hal antara lain: 1. Dalam memilih dan menempatkan lokasi untuk kawasan bermain, tempat berkemah, tempat piknik dan jalan setapak harus memperhatikan faktor fisik yaitu kondisi tanah dan kemiringan lereng.

101

102

2. Pihak pengelola maupun Dinas Pariwisata harus lebih intensif dalam pengelolaan obyek wisata terkait dengan topografi di kawasan obyek wisata yang berupa perbukitan dengna lembah dan lereng yang terjal. 3. Mengadakan pelatihan tentang kepariwisataan dan menajemennya bagi pengelola dan pemandu obyek wisata. 4. Menambah koleksi fauna agar dapat mengimbangi koleksi flora yang sudah ada serta budi daya tanaman Stroberi di dalam obyek wisata tersebut sehingga dapat menjadi daya tari tambahan bagi keberadaan obyek wisata Goa Lawa tersebut. 5. Membangun fasillitas koalm renang untuk menambah daya tarik obyek wisata serta memanfaatkan potensi kawasan obyek wisata tersebut. 6. Perlu mengadakan kerjasama dengan berbagai pihak yang dapat menambah daya tarik wisata serta dapat memberikan bantuan dana bagi pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur pariwisata seperti pembangunan dan perbaikan jalan menuju obyek wisata.

102

103 DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1994. Perencanaan Pembangunan Regional Dan Kawasan Untuk Kepariwisataan Alam _______. 2000. Kontribusi Geografi dalam Kepariwisataan Arikunto, Suharsimi.

2002 Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek . Jakarta: Rineka Cipta

Bintarto, R. dan Hadisumarno, S. 1987. Metode Analisis Geografi. Jakarta:LP3ES Daljoeni, N. 1982. Pedesaan Lingkungan Dan Pembangunan. Bandung: Alumni Dishubpar. 2004. Potensi Pariwisata Kabupaten Purbalingga Gunarsih, Ance. 1986. Klimatologi. Jakarta: Bina Aksara Jamulya. 1983. Pengantar Geografi Tanah. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada Jurnal pariwisata. 2000. Bandung Karyono,A. Hari.1997. Kepariwisataan. Jakarta : Gramedia. Widrasarana.Indonesia Kecamatan Karangreja dalam angka 2003 Maryati, 2003. Studi Tentang Penentuan Potensi Wisata Alam Dengan Metode Lanscape Assesment Pada KPH Surakarta Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Nazir, Moh. 1998. Metode Penelitian . Jakarta. Ghalia, Indonesia. Nuryanti, Wiendu. 1994. Perencanaan pembangunan regional dan kawasan untuk kepariwisataan alam, makalah disampaikan pada diklat peningkatan mutu profesionalisme pengelola obyek dan daya tarik pariwisata. Pendit, Nyoman S. 1987. Ilmu Pariwisata Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Paramita. Poerwadarminta, W. Js. 1985. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka PP No.24 th 1976 Pasal 1 Kepariwisataaan Purbalingga dalam angka 2003

104 Prawiro, Ruslan. 1979.Ekologi dan Lingkungan. Jakarta : Bina Aksara RTRW. Kabupaten Purbalingga Tahun 2000 Santoso, Apik Budi. 2002. Pengembangan Potensi Obyek Wisata Kawasan Nusa Kambangan Kabupaten Cilacap Tesis.Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada. Singarimbun, Masri. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta: LP3ES Soekadijo,R.G. 2000. Anatomi Pariwisata ( memahami pariwisata sebagai “ system linkage”). Jakarta : Gramedia Pustaka Utama Spillane.James S. 1987. Pariwisata Indonesia Sejarah dan Prospeknya. Yogyakarta : Andi _____________. 1994. Pariwisata Indonesia Siasat Ekonomi dan Rekayasa Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius Sujali, 1989. Geografi Pariwisata dan Kepariwisataan. Yogyakarta: Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Sumaatmadja, Nursid. 1981. Studi Geografi Suatu Pendekatan Dan Analisa Keruangan. Bandung: Alumni. Suriawira, U. 1996. Air Dalam Kehidupan Dan Lingkungan Yang Sehat. Bandung: Alumni Suwantoro, Gamal. 1997. Dasar-dasar Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi Undang-undang No. 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan Wahab, Salah dkk. 1992. Pemasaran Pariwisata . Jakarta : Pradya Paramita Widiyanto dan suprapto. Pelatihan Evaluasi Sumberdaya Lahan Untuk Pariwisata, angkatan VI 1996. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Yoeti, Oka A. 1985. Pemasaran Wisata melestarikan Budaya Yang Nyaris Punah. Bandung: Angkasa. ___________. 1997. Perencanaan Dan Pengembangan Pariwisata. Jakarta : Pradnya Paramita. ____________. 1999. Psikologi Pelayanan Wisata. Jakart : Gramedia Pustaka Utama