Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak

saponin, tanin, asam format, sulfur, kalsium oksalat, kalsium oksalat dan kalium sitrat merupakan kandungan senyawa aktif yang terdapat di dalam daun ...

0 downloads 48 Views 361KB Size
277 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285 Tersedia online di https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care ISSN 2527-8487 (online) ISSN 2089-4503 (cetak)

Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Penyebab Infeksi Nifas Tut Rayani Aksohini Wijayanti1, Rani Safitri2 Diploma III Kebidanan Poltekkes RS dr Soepraoen Malang e-mail: [email protected]

1,2

ABSTRACT Puerperal infection is one of the causes of maternal death in Indonesia. The number of diseases caused by Staphylococcus aureus causes a significant increase in the use of antibiotics. Continuous use of antibiotics causes resistance and side effects of therapy. Wuluh starfruit (Averrhoa bilimbi L.) is often used as a traditional medicine by the community. Flavonoids, saponins, tannins, formic acid, sulfur, calcium oxalate, calcium oxalate and potassium citrate are active compounds contained in starfruit leaves. Flavonoids can function as antioxidants, antidiabetic and antibacterial against Escerichia coli and Staphylococcus aureus. The purpose of this study was to examine the activity of starfruit leaf extract on Staphylococcus aureus which is known as the bacteria that causes puerperal infection by seeing whether or not the inhibition zone is formed.Wuluh starfruit leaves were extracted by maceration method using 70% ethanol solvent. Extracts are made in concentrations of 2.5%, 5% and 10%. As a positive control clindamycin was used and negative control was used by Na.CMC The results show that the negative control does not have a inhibitory zone diameter. The average diameter of the starfruit leaf inhibition zone on Staphylococcus aureus with a concentration of 2.5%, 5%, and 10% is 7 mm, 9.67 mm and 14.67 mm and positive control is 17 mm.The conclusion is that wuluh starfruit leaves have antibacterial activity at concentrations of 2.5%, 5%, and 10% to the growth of Staphylococcus aureus. So that starfruit leaf extract can be developed as a treatment in puerperal infection. Keyword: Antibacterial Activity; averrhoa bilimbi L; puerperal infection; staphylococcus aureus, ABSTRAK

Infeksi nifas merupakan salah satu penyebab kematian maternal di Indonesia.Staphylococcus aureus menjadi penyebab utama.Banyaknya penyakit yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus menyebabkan peningkatan yang signifikan dalam pemakaian antibiotik. Pemakaian antibiotik yang terus menerus ini menimbulkan resistensi dan efek samping terapi. Belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) sering digunakan sebagai obat tradisional oleh masyarakat. Flavonoid, saponin, tanin, asam format, sulfur, kalsium oksalat, kalsium oksalat dan kalium sitrat merupakan kandungan senyawa aktif yang terdapat di dalam daun belimbing wuluh. Flavonoid dapat berfungsi sebagai antioksidan, antidiabetes serta antibakteri terhadap Escerichia coli dan Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini untuk menguji aktivitas ekstrak daun belimbing wuluh terhadap Staphylococcus aureus yang dikenal sebagai bakteri penyebab infeksi nifas dengan melihat terbentuk atau tidaknya diameter zona hambat.Daun belimbing Cara mengutip: Wijayanti,T.R.A., Safitri. R.(2018). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa Bilimbi Linn) Terhadap Pertumbuhan Bakteri Staphylococcus Aureus Penyebab Infeksi Nifas. Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan, 6(3), 277-285 Retrieved from https://jurnal.unitri.ac.id/index.php/care/article/view/999

278 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

wuluh diekstraksi dengan metode maserasi dengan menggunakan pelarut etanol 70%. Ekstrak dibuat dalam konsentrasi 2,5%, 5% dan 10%. Sebagai kontrol positif digunakan clindamycin dan kontrol negatif digunakan Na.CMC. Hasil penelitian menunjukkkan bahwa kontrol negatif tidak memiliki diameter zona hambat. Diameter rata – rata zona hambat daun belimbing wuluh pada Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% yaitu 7 mm, 9,67 mm dan 14,67 mm dan kontrol positif 17 mm.Kesimpulan yaitu daun belimbing wuluh memiliki aktivitas antibakteri pada konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% terhadap pertumbuhan Staphylococcus aureus. Sehingga ekstrak daun belimbing dapat dikembangkan sebagai pengobatan dalam infeksi nifas. Kata Kunci: Aktivitas Antibakteri; averrhoa bilimbi L; infeksi nifas; staphylococcus aureus

PENDAHULUAN

bakar, dan pasien bedah di Rumah Sakit.

Penyakit infeksi di Indonesia merupakan

Staphylococcus

masalah kesehatan yang paling utama di

menyebabkan infeksi luka jahitan di

negara berkembang. Dimana penyakit

daerah perineum sebanyak 50% (Guidice

infeksi ini merupakan penyebab utama

et al., 2011). Selain itu, Staphylococcus aureus

50.000 orang meninggal setiap hari di

sering menyebabkan infeksi luka bekas

seluruh dunia. Infeksi nifas merupakan

operasi

salah satu penyebab kematian maternal di

Thurman et al., 2010). Pada organ

Indonesia dengan angka kejadian 7,3 %

reproduksi

(Kemenkes RI, 2013).Grundmann et al.

aureus

(2006) menyatakan bahwa Staphylococcus

penyakit antara lain mastitis, endometritis,

aureus menyebabkan salah satu dari

radang

penyakit infeksi yang telah dilaporkan

postpartum,

mengalami peningkatan di seluruh dunia.

sepsis.Banyaknya kasus penyakit yang

Termasuk dalam kategori bakteri gram

disebabkan oleh bakteri Staphylococcus

positif yang merupakan flora normal pada

aureus terutama dalam infeksi nifas , hal ini

daerah mukosa dan saluran pernapasan

mengakibatkan adanya peningkatan yang

bagian atas. Bakteri tersebut paling sering

signifikan dalam pemakaian antibiotik.

menyebabkan infeksi pada manusia karena

Pemakaian antibiotik yang terus menerus

bersifat patogen (Brooks et al., 2005).

ini menimbulkan efek positif bagi bakteri

aureus

caesar

dapat

juga

dapat

(Nurkusuma,

perempuan,

Staphylococcus

menyebabkan

panggul,

2009;

infeksi serviksitis,

berbagai

pada

saat dan

Staphylococcus aureus dan merugikan bagi Staphylococcus aureus sering menimbulkan

menusia, yaitu timbulnya resistensi dan

infeksi nosokomial pada bayi, pasien luka

efek samping terapi.

279 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

Salah satu resistensi bakteri yang telah

senyawa aktif yang terdapat di dalam daun

banyak diketahui adalah

belimbing wuluh.

Resistant

Staphylococcus

Methicillin-

aureus

(MRSA)

(Jasmine et al., 2007). Berdasarkan data

Flavonoid

diatas, perlu dikembangkan penelitian

antioksidan, antidiabetes serta antibakteri

untuk menemukan antibakteri alternatif

terhadap Escerichia coli dan Staphylococcus

dalam menghambat penyebaran kasus

aureus (Ardananurdin, 2004). Selain itu,

infeksi yang disebabkan oleh Staphylococcus

daun belimbing wuluh telah banyak

aureus.

digunakan oleh masyarakat luas karena

Indonesia

merupakan

negara

dapat

efek

berfungsi

sebagai

dengan kondisi alam subur dan lembab

memiliki

farmakologis

yang membuat banyak tanaman mudah

mencairkan gumpalan darah, analgesik,

tumbuh, salah satunya adalah tanaman

diuretik, mengatasi radang tenggorokan,

belimbing wuluh.

menyembuhkan

luka,

seperti

mengatasi

keputihan, memperlancar ASI, dan lainnya Tanaman belimbing wuluh tidak terlalu

(Mursito, 2002). Zakaria et al (2007)

membutuhkan perawatan yang intensif

membuktikan bahwa ekstrak air daun

dan bahkan dapat tumbuh pada daerah-

belimbing

daerah yang kering, tandus dan berkapur

2 mg/disk juga dapat menghambat

atau tanah kritis. Selama ini masyarakat

pertumbuhan bakteri gram positif dan

hanya

memanfaatkan

negatif. Selain itu, Candra (2011) juga

bagian buah dari tanaman ini untuk bahan

membuktikan bahwa ekstrak methanol

sayur (Aryantini, 2017). Belimbing wuluh

daun belimbing wuluh pada konsentrasi

(Averrhoa bilimbi L.) sering digunakan

400 µg/disk menghambat pertumbuhan

sebagai obat tradisional oleh masyarakat di

bakteri Bacillus subtilis dengan diameter

daerah yang beriklim tropis. Tanaman ini

zona hambat sebesar 6,5 mm. Sehingga

banyak dijumpai di sejumlah negara

diduga daun belimbing wuluh

seperti Argentina, Australia, Malaysia,

mempunyai efek antibakteri terhadap

Brazil, Filipina, India, Singapura, Thailand,

Staphylococcus aureus. Berdasarkan penelitian

dan

sebelumnya,

mengenal

Venezuela

dan

(Kurniawaty,

2016).

wuluh

maka

pada

perlu

konsentrasi

juga

dilakukan

Flavonoid, saponin, tanin, asam format,

pengujian aktivitas

antibakteri ekstrak

sulfur, kalsium oksalat, kalsium oksalat

daun

wuluh

dan kalium sitrat merupakan kandungan

Staphylococcus aureus secara in vitro.

belimbing

terhadap

280 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

METODE PENELITIAN

(Kristal violet, Lugol, alkohol 96%,

Alat untuk Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Belimbing Wuluh, Identifikasi Bakteri, dan Uji Antibakteri Alat untuk pembuatan ekstrak daun

Safranin), minyak emersi, H2O2 3%, dan

belimbing wuluh adalah oven, blender,

akuades, larutan NAP, dan suspensi

freezer, kertas saring, gelas ekstraksi,

bakteri

seperangkat

106 CFU/ml.

evaporator

vakum,

alat

plasma darah. Bahan untuk uji antibakteri adalah ekstrak etanol daun turi merah, Staphylococcus

aureus

pemanas air, labu penampung hasil evaporasi, tabung pendingin, rotatory

Penelitian dilakukan di Laboratorium

evaporator, bak penampung air dingin,

Mikrobiologi

pompa sirkulasi air dingin, pompa vakum,

Universitas Brawijaya Malang pada bulan

tabung penampung etanol, batu didih,

April 2018.

Fakultas

Kedokteran

cawan penguap, neraca analitik, tabung erlenmenyer ukuran 1 liter, dan botol steril

Pada penelitian ini menggunakan daun

untuk menampung hasil ekstrak. Alat

belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) yang

untuk identifikasi bakteri adalah bunsen,

diambil di daerah Kecamatan Sukun Kota

korek api, ose, gelas objek, gelas penutup,

Malang Provinsi Jawa Timur.

spidol

penelitian ini adalah ekstrak etanol dengan

permanen,

mikroskop. adalah

6

kertas

penghisap,

Alat untuk uji antibakteri plate

kosong

dan

steril,

Sampel

konsentrasi 2,5 %, 5 % dan 10 %. Data

dikumpulkan langsung

dengan pada

cara

mikropipet steril ukuran 10 µl, inkubator,

pengamatan

daerah

ose, tabung reaksi, mesin vortex, bunsen,

hambatan pertumbuhan bakteri kemudian

korek api, dan penggaris.

zona hambatan diukur menggunakan jangka sorong. Data yang diperoleh dari

Bahan untuk Pembuatan Ekstrak Daun Belimbing Wuluh, Identifikasi Bakteri, dan Uji Antibakteri Bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan

hasil pengamatan akan dianalisis secara

ekstrak daun belimbing wuluh adalah daun

BNT untuk melihat pengaruh ekstrak

belimbing wuluh segar, etanol 96%, dan

daun belimbing wuluh terhadap daerah

akuades.

Sedangkan

hambatan pertumbuhan bakteri yang

diperlukan

untuk identifikasi

bahan

yang bakteri

adalah biakan bakteri Staphylococcus aureus, NAP, akuades steril, pewarnaan Gram

statistik dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dilanjutkan dengan uji

dihasilkan.

281 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

Sampel daun belimbing wuluh (Averrhoa

tahan terhadap pemanasan disterilkan

bilimbi L) yang diambil sekitar pukul

pada autoklaf pada suhu 121°C selama

07.00–10.00 WIB. Daun yang diambil

15 menit. Sedangkan untuk ose bulat dan

adalah daun segar dengan cara di petik

pinset

satu–persatu dari batangnya, kemudian

langsung pada nyala apibunsen sampai

dibersihkan

merah pijar.

dengan

air

mengalir.

distreilkan

dengan

pemijaran

Kemudian daun belimbing wuluh di potong kecil–kecil, setelah itu dikeringkan

Pembuatan Medium Nutrient Agar

dengan cara diangin–anginkan di udara

(NA) Ditimbang sebesar 2 g NA

terbuka

kemudian dilarutkan dalam 100 ml air

yang

terlindung

dari

sinar

matahari hingga kering.

suling, kemudian dilakukan pengaturan pH yaitu 7,0. Medium yang sudah dibuat

Pembuatan Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.) Untuk ekstrak etanol daun belimbing wuluh sebanyak 600 gram ditambahkan etanol 70 % sampai simplisia terendam seluruhnya

kemudian disterilkan pada autoklaf pada suhu 121°C, tekanan 2 atm selama 15 menit.

kira–kira 2–3 cm

diatas permukaan simplisia, kemudian dilakukan proses

dimasukkan dalam tabung sebanyak 5 ml

ekstraksi metode

maserasi selama 5 hari dan setiap hari dilakukan pengadukan. Hasilnya disaring dengan kain flannel dan diperoleh filtrat. Filtrat kemudian diuapkan dengan rotary

Inokulasi bakteri (peremajaan) Inokulasi bakteri adalah menumbuhkan bakteri dalam tabung reaksi agar yang dibuat. Cara yang

dilakukan

dalam

inokulasi bakteri adalah diambil 1 ose bakteri dan di goreskan dimedia agar miring , lalu diinkubasi selama 24 jam.

evaporator dan dilanjutkan di waterbath sampai didapatkan ekstrak kering. Sterilisasi Alat Semua alat yang digunakan disterilkan dengan tujuan untuk mematikan semua bentuk kehidupan pada alat yang dapat mengganggu penelitian. Alat berupa gelas disterilkan dalam oven pada suhu 180°C selama 2 jam. Sedangkan alat yang tidak

Pembuatan variasi konsentrasi Konsentrasi ekstrak daun belimbing wuluh

(Averrhoa

bilimbi

L.)yang

digunakanan yaitu 2,5%, 5%, dan 10% dalam 10 ml. Cara pembuatan konsentrasi yaitu : Konsentrasi 2,5% dalam 10 ml dibuat dengan cara menimbang 0,25 gram ekstrak yang dilarutkan dalam 10 ml NaCMC. Konsentrasi 5% dalam 10 ml dibuat

282 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

dengan cara menimbang 0,5 gram ekstrak

larutan Na.CMC 1% b/v sampai volume

yang kemudian dilarutkan dalam 10 ml

100,0 ml (stok 1 = 1000 ppm), diukur

Na-CMC. Konsentrasi 10% dalam 10 ml

2,5 ml stok 1 lalu diencerkan dengan

dibuat dengan cara menimbang 1 gram

aquadest

ekstrak yang kemudian dilarutkan dalam

(stok 2 = 50 ppm).

sampai

volume

50,0

ml

10 ml Na-CMC. Peremajaan Kultur Murni Bakteri Bakteri uji Staphylococcus aureus dari biakan

Pengujian Aktivitas Antibakteri Pertama–tama dimasukkan medium Nutrient Agar steril yang telah dibuat

murni diambil satu ose secara aseptis dan

kedalam 6 buah cawan petri ± 10 ml dan

digoreskan pada medium Nutrient Agar

didinginkan hingga memadat pada suhu

(NA) miring kemudian diinkubasi pada

sekitar 40°C - 50°C. Setelah memadat,

suhu 37 o C selama 24 jam.

kemudian dimasukkan suspensi biakan murni Staphylococcus aureus (3 buah cawan

Pembuatan Suspensi Bakteri Uji Membuat larutan suspense bakteri Staphylococcus aureus diambil 1 ose bakteri, dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi yang berisi 10 ml larutan NaCl fisiologi 0,9% dengan biakan murni Staphylococcus aureus dalam reaksi dikocok sampai homogenkemudian distandarkan dengan Mc Farland 0,5.

petri)

sebanyak

0,1

ml

dengan

menggunakan swap steril hingga merata. Setelah itu paper disk direndam dalam ekstrak daun belimbing wuluh untuk konsentrasi 2,5% b/v, 5% b/v, 10% b/v dan juga dalam Na-CMC dan clindamycin (kontrol positif dan negatif) selama 15 menit setelah itu, diletakkan pada permukaan

inokulum

dengan

hati– hati dengan jarak kurang lebih sama Pembuatan Suspensi Na.CMC 1 % b/v Panaskan aquadest sebanyak 100 ml hingga pada suhu 60 – 70oC, timbang Na CMC sebanyak 1 gram masukkan kedalam lumpang,

ditambahkan

sedikit

demi

sedikit aquadest, digerus hingga homogen.

dengan lainnya. Selanjutnya, diinkubasi pada suhu 37oC selama 24 jam dalam inkubator

kemudian

dilakukan

pengamatan dan pengukuran zona daya hambatan yang terbentuk. HASIL

Pembuatan Suspensi Clindamycin Ditimbang serbuk kapsul clindamycin 100 mg, kemudian disuspensikan dengan

Berdasarkan Tabel 1 didapatkan hasil pengukuran diameter zona hambat ekstrak

283 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

daun

belimbing

wuluh

terhadap

maka semakin teliti penaksiran parameter

Staphylococcus aureus dengan masa inkubasi

perbedaan,

24 jam pada suhu 37°C yang dapat dilihat

variable yang diteliti sehingga hasil

pada tabel berikut ini.

penelitian semakin reliable.

PEMBAHASAN

Metode pour plate digunakan sebagai uji

Penelitian ini menguji aktivitas ekstrak

untuk melihat diameter zona hambat

daun

pertumbuhan Staphylococcus aureus dalam

belimbing

wuluh

terhadap

hubungan

pengaruh

Staphylococcus aureus yang dikenal sebagai

berbagai

bakteri penyebab infeksi nifas dengan

belimbing wuluh. Pour plate lebih efektif

melihat terbentuk atau tidaknya diameter

untuk menghambat pertumbuhan bakteri

zona hambat.

maserasi

karena zat aktif dapat berdifusi langsung

digunakan sebagai proses mendapatkan

tanpa penghalang kertas cakram. Selain

zat aktif yang terkandung dalam ekstrak

itu, dengan metode ini diameter zona

daun belimbing wuluh. Setelah daun

hambat terlihat sangat jelas. Diameter

belimbing wuluh dibuat ekstrak, maka

zona hambat merupakan tanda kepekaan

didapatkan ekstrak dengan konsentrasi

bakteri uji, semakin besar zona hambat

2,5% b/v, 5% b/v dan 10% b/v serta

maka aktivitas antibakteri semakin besar

sebagai kontrol negatif menggunakan

pula.

Metode

konsentrasi

dan

ekstrak

daun

Na.CMC sedangkan untuk control positif menggunakan clindamycin. Tujuan dari

Diameter zona hambat pada kontrol

variasi

untuk

negatif yang menggunakan Na-CMC tidak

membandingkan aktivitas dari setiap

terbentuk, hal ini menunjukan bahwa

konsentrasi

aktivitas antibakteri tidak dipengaruhi oleh

konsentrasi yang

tersebut bersifat

antibakteri

terhadap Staphylococcus aureus.

faktor

Pada penelitian ini setiap kelompok

antibakteri yang dilakukan merupakan

perlakuan diuji sebanyak tiga kali replikasi.

potensi yang dimiliki oleh ekstrak dari

Menurut rumus Federer, replikasi ini

daun belimbing wuluh. Kontrol positif

bertujuan untuk menghasilkan data yang

clindamycin

reliable atau konsisten serta hasil yang

dengan konsentrasi 50 ppm dengan rata

didapatkan bukan karena factor peluang

zona hambat 17 mm. Berdasarkan hasil

melainkan

penelitian aktivitas antibakteri ekstrak

pengaruh

dari

perlakuan.

Semakin besar ukuran sampel yang diuji

daun

pelarut

yang

belimbing

sehingga

digunakan

wuluh

aktivitas

dibuat

terhadap

284 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

Staphylococcus

aureus

didapatkan

zona

hambat pada konsentrasi 2,5%, 5%, 10% dengan

rata–rata

masing–

konsentrasi dari tiga replikasi 7 mm, 9,67 mm, 14,67 mm.

masing

Tabel 1. Hasil Pengukuran Diameter Zona Hambatan Ekstrak Daun Belimbing Wuluh Terhadap Pertumbuhan Staphylococcus aureus Replikasi Kontrol Kontrol Diameter Zona Hambatan (mm) Ekstrak Negatif (mm) Positif (mm) daun Belimbing Wuluh 2,5% 5% 10% 1 0 18 8 10 16 2 0 15 5 9 14 3 0 18 8 10 14 Jumlah 0 51 21 29 44 Rata-rata 0 17 7 9,67 14,67 Sebagai

antibakteri,

menghambat

kerja

tannin enzim

dapat

konsentrasi 2,5%, 5%, dan 10% dengan

reverse

kontrol negatif dan konsentrasi 2,5%, 5%,

transkriptase dan DNA topoisomerase

dan 10% dengan kontrol positif.

sehingga sel bakteri tidak terbentuk (Nuria, et al,. 2009). Sedangkan flavonoid

KESIMPULAN

dapat bekerja sebagai antibakteri dengan

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik

membentuk

kesimpulan sebagai berikut : Ekstrak daun

protein

senyawa

ekstraseluler

kompleks serta

dan

terlarut

belimbing

wuluh

memiliki

aktivitas

sehingga merusak membran sel bakteri

antibakteri terhadap Staphylococcus aureus

dan diikuti dengan keluarnya senyawa

pada konsentrasi 2,5%, 5% dan 10% yaitu

intraseluler. Peroksidase dapat digunakan

7 mm, 9,67 mm dan 14,67 mm dan

sebagai antiseptik yang efektif dan non

kontrol positif 17 mm. Semakin besar

toksik.

Dari hasil analisis statistik

konsentrasi semakin besar pula efek

ANAVA, Diperoleh FH > FT yang

antibakterinya. Sehingga ekstrak daun

menunjukan adanya aktivitas antibakteri

belimbing wuluh dapat digunakan sebagai

ekstrak daun belimbing wuluh terhadap

pengobatan dalam infeksi nifas.

semua konsentrasi. Berdasarkan uji Beda Nyata Terkecil pada Staphylococcus aureus menunjukan nilai berbeda nyata atau signifikan pada konsentrasi 2,5% dengan 10%, konsentrasi 5% dengan 10%,

REFERENSI Ardananurdin, A., Winarsih, S., Widayat, M. (2004). Uji Efektivitas Dekok Bunga Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) sebagai Antimikroba Terhadap Bakteri

285 Care: Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol .6, No.3,2018,hal 277-285

Salmonella typhi In Vitri. Jurnal Kedokteran Brawijaya. Vol XX. No 1, 30-34 Aryantini, D., Sari, F., Juleha. (2017). Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Aktif Terstandar Flavonoid Dari Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L). Jurnal Wiyata. Vol 4. No 2. 143-150 Brooks, GF., Butel, JS., Morse, SA. (2005). Jawetz, Melnick, & Adelberg’s Medical Microbilogy, 25th Ed. Mikrobiologi Kedokteran Jawetz, Melnick, & Adelberg, Edisi 23, Candra, D.S., Shapna, S., Sumon, R., & Sheikh, S.H.(2011).Antibacterial and cytotoxic activities of methanolic extracts of leaf and fruit parts of the plant Averrhoa bilimbi (Oxalidaceae), American Journal of Scientific and Industrial Research, 2 (4), 531-536. Grundmann, H., Sousa, MAD., Boyce, J., Tiemersma, E. (2006). Emergence and Resurgence of Meticillin-Ressistant Staphylococcus aureus As A Public Health Threat. Lancet, 368 (9538): 874-885 Guidice, P Del., Bes, M., Hubiche, T., Blac, V., Lina, G., Vandenesch, F., Etienne. J. (2011). Clinical manifestations and outcome of skin infections caused by the communityacquired Methicillin-resistant Staphylococcus aureus clone ST80-IV. Journal of the European Academy of Dermatologt and Venerology. Huriwati Hartanto, dkk (penterjemah).(2010). Jakarta: EGC, hal. 225-232

Jasmine, R., Selvakumar, B.N., Daisy. (2007). Saponins from Eugenia jambolane with Antibacterial Activity Against BetaLactamase Producing Methicillin Resistant Staphylococcus aureus. Pakistan. Research Journal of Medicinal Plant (1): 1-6 Kurniawaty, E., Lestari, EE. (2016). Uji Efektivitas Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L) sebagai Pengobatan Diabetes Melitus. Majority; Vol 5. No. 2, Mursito B.(2002). Ramuan Tradisional Untuk Pengobatan Jantung. Jakarta: Penebar Swaday; 47-48. 7 Nuria, MC., Faizatun, A., Sumantri. (2009). Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Jarak Pagar (Jatropha curcas L) terhadap Bakteri Staphylococcus aureus ATCC 25923, Escherichia coli ATCC 25922, dan Salmonella typhi ATCC 1408. Jurnal Ilmuilmu Pertanian; Vol 5. No 2, 26 – 37 Nurkusuma, DD. (2009). Faktor yang Berpengaruh terhadap Kejadian Methicillin Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Kasus Infeksi Luka Pasca Operasi di Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. Tesis. Program Pascasarjana Magister Ilmu bedah Universitas Diponegoro, Semarang Zakaria, Z. A., Zaiton, H., Henie, E. F. P., Mat Jais, A. M., & Zainuddin, E. N. H.(2007).In vitro Antibacterial Activity of Averrhoa bilimbi L. Leaves and Fruits Extracts. International journal of Tropical Medicine, 2 (3), 96-100.