Utara

clause, nor sentence thatfound in the both object novel of the research Generation X: Tales of Accelerated Culture (hereafter abbreviated as GX TOAC) ...

0 downloads 5 Views 1MB Size
.---------------------------------------------

Kajim LiIlf{lIL-;li/4 Febmali 2()1/J, I I.i - 127 CoprrigiJt ({)2{)J3~ Program 5llIdi l.dilgllislik 5P-s

------------.

TahuIl Kc-JO, IVO I [jSD~

IS5N 16:93-4660

POSMODERNISME DALAM NOVEL GENERATION X: TALES FOR ACCELERATED CULTURE DAN BILANGAN FU Numl Nayla Azmi [email protected] Thirhaya Zein FIB Universitas Sumatera Utara

Abstract This research is entitled Postmodernism in Novel Generation X: Tale of Accelerated Culture and Bilangan Fu which analyze postmodernism as the concept in both noveL This research is analyzed the postmodernism by theory ofpostmodernism by Baudrillard which divide it into two concept, they are simulacra and hyper reality. The method which is used in this research is descriptive qualitative. The data from this research is word, phrase, clause, nor sentence thatfound in the both object novel ofthe research Generation X: Tales of Accelerated Culture (hereafter abbreviated as GX TOAC) by Douglas Coupland and Bilangan Fu by Ayu Utami. The postmodernism based of Baudrrilard concept, SimulaGTa and hyper reality, are found in both novel and then being compared The findings q{ this research are: simulacra in the novel GX: TOAC electronic media of ,\lTV and Disneyland whereas simulacra in Bilangan FZl are electronic media of Sinetron (Opera soap) and horor moreover technology through gadget and internet. Hyper reality fOlmd in the novel GX:TOAC are in the concept of thinking and act thus hyper reality in the novel Bilangan Fu are emotion control, thinking concept and orientation Key words: Pastmodernism, Modrenism, Simulasi. Simulacra, Hyperreality, society

PENDAHULUAN Kesusasteraan merupakan penciptaan manusia yang merupakan representasi dan kehidupan nyata manusia. Hal ini sesuai dengan pernyataan Wellek dan Warren (1996: 109) yakni melalui medium bahasa sebagai media, kesusasteraan menyajikan kehidupan manusia sebagai individu yang merupakan bagian dari suatu masyarakat yang mempunyai nonna dan nilai-nilai pUla. Sebagaimana kehidupan nyata, dalam kesusasteraan terdapat dunia imaji yang sarna dengan realitas seperti masyarakat, pennasalahan sosiaI ataupun nilai moral yang terdapat di dalamnya. Sejarah pemikiran manusia yang berubah secara bertahap pun juga "terekarn" dalam kesasteraan tersebut. Sehingga dapat dikatakan, kesusasteraan juga berperan sebagai dokumentasi sejarah. Hal ini ditegaskan pula oleh Wellek dan Waren (1996: 135) bahwa: "Memang karya sastra dapat dianggap sebagai dokumen sejarah pemikiran dan filsafat, karena sejarah sastra sejajar dan mencenninkan sejarah pemikiran. Secara langsung ataupun melalui alusi-alusi dalam karyanya, kadang-kadang pengarang menyatakan bahwa ia menganut aliran filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan filsafat-filsafat tertentu, mempunyai hubungan dengan paham-paham dominan pada zamannya atau paling tidak mengetahu garis besar ajaran paham-paham tersebut" Periodesasi pergerakan konsep pemikiran manusia secara sederhana terdiri dari tradisional, modern lalu ada era globalisasi sekarang ini yakni posmodrenisme. Pada saat ini paradigma dan kesadaran pemikiran manusia telah berkembang pesat dan memasuki Pasca Modem atau yang secara umum dikenal dengan istilah posmodemisme. Jika ditinjau secara epistemologi, kata posmodemisme berasal dan bahasa inggris dengan kata modem yang mendapat imbuhan postdan -isme yang sangat menentukan dalam definisi dari kata tersebut. Awalan Post- yang ada pada istilah tersebut merujuk pada beberapa sudut pandang yang berbeda. Akhiran -isme pada

IVimLf NaJia ./Lam

istilah tersebut juga memberikan pengaruh yang cukup krusial pula. Definisi istilah posmodernisme yang merujuk pada sistem pemikiran ataupun ide-ide tertentu yang dalam hal iui tentunya bertentangan dengan ide-ide yang terdapat pada periode sebe]umnya yakni modemisme. Singkatnya, istilah posmodemisme dapat didefmisikan sebagai payung terhadap segal a bentuk apa pun berupa kritik terhadap modemisme. Peny~ian kritik yang diJakukan tentunya dengan menyajikan modemisme dan posmodemisme secara berdampingan. Dengan kata lain, mendiskusikan posmodemisme maka tidak lepas dengan menyandingkannya dengan istilah modemisme. Hal yang disadari bersama bahwa modemisme mempunyai banyak sekali dampak negatif terutama pada lingkungan atau alam karena terlalu berfokus pada Iogika serta universalitas saja. Selain itu pula terdapat tendensi pemm:jinalan pemikiran tradisionaL Pada sisi inilah konsep posmodemisme berdiri yakni sebagai jembatan keduanya yang mana mengetahui secara menyeluruh mengenai konsep modemisme yang mengutamakanlogika dan universalitas namun lantas tidak menyudutkan konsep tradisional sebagai sesuatu yang tidak masuk akal melainkan menggali nilai-nilai kearifan yang terdapat di dalamnya untuk. menjawab pennasalahan sosial yang terdapat pada modrenisme. Pada awaJnya posmodemisme ini hanyalah merupakan gerakan kultural yang bergerak dati barat ke timur namun saat ini telah menyatu pada masyarakat sebagai bagian dati fenomena sosiaL Sebagai salah satu jenis dari karya sastra, novel pun menggambarkan fenomena konsepposmodemisme yang menjadi fenomena sosial pula. Novel GXTOAC karya Douglas Coupland dan Bilongan Fu karya Ayu Utami merupakan dua novel yang berasal dari dna negara berbeda yakni Amerika Serikat dan Indonesia yang merupakan representasi dari masyarakat kontemporer pada kedua Negara tersebut Kedua novel memang sangat dekat dengan kenyataan kehidupan masyarakat kontemporer kedua Negara tersebut karen a dalam proses pembuatannya sendiri pengarang mengadakan penelitian terlebih dahulu dalam kurun waktu yang cukup lama sebelum akhimya hasil penelitian tersebut diadaptasikan sebagai sebuah novel. Karena faktor tersebutlah kedua novel ini dijadikan sebagai objek penelitian karena kedekatannya dengan kenyataan yakni fenomena sosial mengenai konsep posmodemisme pada masyarakat kontemporer Amerika-Eropa (barat) dan Indonesia (timur). Dalam penelitian ini terdapat beberapa rumusan masalah yakni sebagai berikut: 1) Bagaimanakah posmodemisme dalam bentuk simulakra dalam novel GX:TOAC karya Douglas Coupland dan BiZangan Fu karya Ayu Utami? 2) Bagaimanakah posmodernisme dalam bentuk hiperrealitas dalam novel GXTOAC karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami? 3) Bagaimanakah perbandingan posmodemisme dalam bentuk simulakra dan hiperrealitas dalam novel GX·TOAC dan Bilangan Fu? Tumpuan utama dalam penelitian ini merupakan konsep posmodemisme yang dilihat pada kedua novel yakni GXTOAC dan Bi/angan Fu. Memallg, posmodemisme bukaniah sebuah konsep yang baru namun telah sering dibahas oleh banyak ahli. J. Francois Lyotard adalah satu contoh pribadi yang telah terpikat dengan konsep tersebut yang lewat karyanya yang berjudul The Post-Afodern Condition yang mengulas konsep posmodemisme ini. kritikan atas karya The Grand Narrative (narasi besar) yang dianggap sebagai dongeng hayalan hasil karya masa Modernitas. Lyotard merumuskan posmodernisme sebagai suatu peri ode yang mana sega]a sesuatu itu didelegitimasikan. Yang lebih lanjut direvisinya menjadiintensifikasi dinamisme, upaya tak henti-hentinya untuk mencari kebaruml, eksperimentasi dan revolusi kehidupan terus menerus (Sugiharto,1996: 26). Berdasarkan penjelasan tersbeut, dapat disarikan bahwa Lyotard secara kritis dan keras mengkritik nilai-nilai universal yang diagung-agungkan oleh modemisme. Tak dapat dipungkiri memang, segala sesuatu dalam kehidupan tidak dapat dilandasakan pada nilai-nilai yang universal saja karen a banyak sekali nilai-nilai kehidupan yang tidak univelsal namun tetap krusiaL Dengan menguniversalkan segala sesuatu roaka kehidupan manusia akan terasa kaku padahal manusia terus bergerak dinamis.Teori yang digunakan dalam novel ini merupakan teori yang berasal dari Jean Baudrillard mengenai konsep posmodernisme yang terpusat pada dua konsep yakni simulakra dan niperrealitas. Simulakra adalah ruang dimana mekanisme simulasi berlangsung. Merujuk Baudrillard, terdapat tiga

116

K;giaIJ LiIJ/jui<;tik,. Tabull ke-lO. No 1

FebmaJi 20J3

tingkatan simulakra (Baudrillard, 2006: 54-56). Pertama, simulakra yang berlangsung semenjak era Renaisans hingga permulaan Revolusi Industri. Pada tingkatan ini, telah terjadi pergeseran mekanisme representasi akibat dampak negatif industrialisasi. Ketiga, s.imuJakra yang Jahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi. Simulakra pada tingkatan ini merupakan wujud silang-sengkarut tanda, citra dan kode budaya yang tidak lagi merujuk pada representasi. Pada SiIamulakra ketiga inilah posmodernisme muneu1 sebagai pendobrakan terhadap nilai-nilai modemisme dan efek dari perkembangan Hmu pengetahuan dan teknologi. Berdasarkan ketiga tahapan simulakra BaudriHard terse but, jelas bahwa saat ini merupakan tahapan simulakra ketiga yang berhubungan dengan pesatoya perkembangan ilmu pengetahuan yang berdampak pada teknologi. Sedangkan Hiperrealitas adalah realitas itu sendiri (Baudrillard, 2006: 183) yakni, era yang dituntun oleh model-model realitas tanpa asal-usul dan referensi (Baudrillard, 2006: 2) dimana yang nyata tidak sekedar dapat direproduksi, namun selalu dan selalu direproduksi (BaudriJlard, 2006: 146). Dengan kata lain, hiperrealitas merupakan suatu keadaan dimana individu ataupun masyarakat yang tetjebak pada dunia simulasi atau buatan sehingga tidak dapat lagi membedakan yang mana kenyataan sebenarnya dan yang mana ilusi. Melalui konsep simulakra, Baudrillard menyoroti pengontrolan masuia secara menyeluruh secara tidak sadar namun sangat efektif lewat berbagai media. Melalui bukunya Simulations (1983), Baudrillard membabas karakter khas masyarakat barat dewasa jni sebagai masyarakat simulasi. Penjelasan tersebut merujuk pada suatu keadaan dimana masyarakat lewat mekanisme simulasi yang terdapat pada simulakrum (bentuk tunggal dan simulakra) diserang bertubi-tubi dengan citra-citra yang tidak terhitung lagi jumlahnya. Dalam simulakrum tersebut, secara visual meIalui media eIektronik televisi misalnya, seseorang yang menontonnya akan disuguhi beragam eitra-citra yang silih berganti dan saling tumpang tindih secara terus meneros. Dalam sebuah iklan body lotion yang merupakan simulasi sebagai contoh kasus, masyarakat akan diperlihatkan suatu citra mengenai kegunaan lotion tersebut lewat seorang gadis cantik yang menjadi "berbeda" setelah memakai prod uk tersebut. Permasalahannya meIijadi kompleks tanpa sadar menyerang orang yang melihat iklan tersebut adalah terdapat banyak lagi produk yang sarna dengan meik serta penyajian yang berbeda pUla. Sehingga citra yang dilihatnya diawal tadi akan tertimpa lagi dengan citra-citra lain yang dilihat selanjutnya. Citra-citra, tanda-tanda ataupun simbol-simbol diberikan secara "brutal" dan tanpa henti. Inilah yang menjadi awal dari efek konsep simulakra Baudril1ard yang awaJ yakni ketetjebakan terhadap dunia buatan atau hiperrealita yang mengurung manusia untuk tidak dapat lagi menggunakan pemikirannya sendiri karena sudah diikat dengan ilusi-i1usi yang tertanam pada pemikiran individu ataupun masyarakat tersebut.

METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada/ah kualitatif deskriptif. DaIam penelitian ini, gejala sosial yang digambarkan merupakan konsep posmodemisme pada masyarakat melalui dua novel yang menjadi objek penelitian yakni GX:TOAC karya Doulas Coupland dan Bilangan Utami karya Ayu Utami sebagai representasi gejala sosial yang tetjadi pada realita masyarakat yang sebenarnya. Data yang dianalisis dalam penelitian ini adalah kata, frasa ataupun kalimat yang diinterpretasi berkenaan dengan posmodernisme. Penelitian ini menggunakan teknik popuJasi di mana keselumham teks dipahami dalam bentuk kata, frase dan kalimat. Setelah di analisis, kemudian dilakukan perbandingan posmodernisme yang ada dalam kedua novel yang dikaitkan dengan fenomena masyarakat kontemporer Amerika-Eropa dan Indonesia. Analisis Posmodernisme dalam Bentuk Simulakra dalam novel GX:TOAC dan Bilangan

Fu Dalam kehidupan manusia terdapat banyak sekaJi simulakra yang dapat mengubah pemikiran dasar untuk disesuaikan dengan tujuan-tujuan pihak tertentu. Seperti yang telah disebutkan

117

NIDlli N;l}1a Azmi

sebelumnya, simulakra merupakan ruang tempat dimana simulasi-simulasi dilakukan. Tentu saja, simulakra ini mempunyai ragam bentuk yang berbeda-beda. Dalam novel GX TOA C yang terbit pada tabun 90-an, simulakra yang ditemukan dalam novel ini pun merupakan simulakra yang populer pada saat itu yakni elektronik dan dunia fantasi Disneyland (mal). a. Simnlakra dalam novel GX:TOAC 1) Simnlakrum Media EJektronik: MTV Media elektronik merupakan media yang paling sering diakses oleh masyarakat untuk mendapatkan informasi yang cepat dan mudah. Media elektronik Televisi adalah yang paling sering diakses oleh masyarakat dan hamper semua orang di seluruh dunia memilikinya. Karena itulah, TV merupakan simulakrum yang paling efektif karena hamper semlla orang secara merata mempunyai dan juga secara regular mengakses media tersebut. Hal ini ditegaskan oleh Ritzer bahwa duma simulasi yang dimaksud oleb Baudrillard adalah kecendenmgan kebudayaan yang sebenamya merupakan proses simulasi yang terjadi di dunia televisi, internet dan berbagai situs cyber yang merupakan rentetan dari simulasi (2003: 255). Dalam novel GX: TOAC, peranan media elektronik TV diakui telah membawa banyak pengaruh krusial dalam kebidupan masyarakat kontemporer. Masyarakat barat yang tergambar dalam novel ini dipengaruhi oleh sebuah saluran TV yang terkenal pada saat novel itu beredar yakni awal tahun 90-an yakni MTV (Music Television). Saluran MTV ini telah berhasil mempengaruhi masyarakat kontemporer barat sebagai pembawa perubahan secara kultural dalam kehidupan masyarakat barat. Berikut kutipan yang membuktikan hal ini: "She stole my car. A Ford Gold. If she hadn't done that, i would probably would have married her, too. J dilin't know much about selectivity then. J just remember jerking off under my desk ten times a day and thinking how insulted a date must feel if the date didn't lead to marriage. I was lonely; it was Alberta. We didn't have MTV then. " (1991: 111) "Ia meneuri mobilku. Merk Ford. Warna emas. Jika ia tidak melakukannya, aku mungkin akan menikahinya juga. Aku tidak tabu terIalu banyak mengenai eara memllih. Yang aIm ingat hanyalah bagaimana aku melompat sepuluh kali sehari ke bawah meja kerjaku dan memikirkan bagaimana menyebalkannya sebuah kencan jika tidak menuju ke arab pernikahan. Aku dulu merasa kesepian, Alberta namanya Kami tidak punya MfV pula pada saat itu" (1991: Ill) Dalam pernyataan tersebut juga terdapat beberapa simbol ataupun model-model yang membawa pada makna kesuksesan yakni mobil (car), mefk Ford (a Ford) dan berwarna emas (Gold) merupakan penanda bahwa mobil tersebut merupakan mobil mewah yang berharga mahal yang terlihat dan merk dan warnanya yang mencolok. Namun kalimat yang menyatakan She stole my car (ia mencuri mobilku) membawa makna bahwa ternan wanita Mr. M tersebut merupakan seseorang yang materialistis dan mengambil keuntungan dari pasangannya dengan eara yang licik. Lalu dalam pernyataan terakhir yakni MTV dimunculkan oleh Mr. M sebagai model yang disandingkan berIawanan dari rasa kesepian. MTV membawa makna bahwa makna yang berbeda melebihi se.kadar saJuran teJevisi melainkan telah membawa keriuhan yang mengatasi rasa kesepian. Inilah yang merupakan konsep simulakra Baudrillard yakni melalui MTV yang merupakan saluran TV telah berlangsung mekanisme proses simulasi yang mempengaruhi masyarakat. Adanya model-model, citra-citra dan lain-Jain yang dilihat masyarakat dalam TV menjadi terasa nyata bagi masyarakat sehingga ketika ia merasa kesepian, seseorang tidak perlu lagi mencari orang lain untuk mengatasi kesepiannya melainkan hanya dengan mengakses saluran MTV saja. 2) Simulakrnm Dunia Fantasi: Disneyland Selain MTV, Coupland juga menyoroti mengenai simulakrum berwlljud dunia fantasi yang dibuat menjadi nyata yakni Disneyland. Dalam novel ini, simulakrum tersebut digambarkan dalam satu bab penuh yakni bab ke 28 yang diberi judul Adventure Without a Risk is Disneyland (Petualangan tanpa resiko di Disney/and). Disneyland merupakan sebuah simulakrum yang paling nyata yakni sebuah dunia yang tadinya hanya berupa citra saja namun diwujudkan dalam dunia nyata. Donald Bebek ataupun Putri Salju bukan hanya sebagai tokoh kartun, melainkan

118

K;!iian LiJJgW:'ilik Tabull ke- ](), No 1

Fehmari 2013

telah bernbah mertiadi tokoh yang dapat dilihat secara langsung dan nyata. Inilah simulakrum yang dapat dikatakan paling sering dibahas bahkan dalam novel GXTOAC. "You wouldn'l believe Soho now, Andy. II's like a Disney theme park, exepl with better haircuts and souvenirs. Every one has an IQ of 110 but lords it up likes 140 and every second person on the street is Japanese and carrying oul Andy wharhol and Roy Licteins prints that worth their weight in uranium. And every one looks so pleased with them selves. "(1991: 154). «Kau tidak akan percaya seperti apa Soho sekarang, Andy. Tempat ini seperti taman bennain Disney saja, dengan pengecualian penjunjungnya berpotongan rambut dan cindera mata yang lebih baik. Setiap orang memiliki IQ 110 tapi berlagak seakan 140 dan hampir setiap orang kedua yang terlihat di jalan adalah orang Jepang dan mengenakan kaos bergambar Andy wharhol dan Roy Licteins yang membuat berat badan mereka terIihat seperti terkontaminasi uranium. Dan setiap orang terIihat begitu puas dengan diri mereka sendiri (1991: 154)." Penyebutan kata Disneyland dalam kutipan tersebut merujuk pada fenomena yang dilihat oleh salah seorang tokoh dalam novel ini yakni Claire. Penggunaan kata tersebut merujuk pada fenomena Soho yang berdasarkan pengamatannya linear dengan fenomena Disneyland yakni lebih spesifIknya mengenai penampilan para pengunjungnya berlomba-Iomba menyamai penampilan yang mereka anggap ideal seperti yang mereka lihat dalam televisi. Sehingga kata Disneyland yang digunakan merujuk kepada fenomena berupa upaya sekelompok orang yang berusaha mewujudkan citra-citra Husi menjadi kenyataan. Inilah fenomena yang menjadi pembuktian nyata konsep posmodemisme Baudrillard yakni citra yang dibombardir pada masyarakat saling tumpang tindih yang pada hakekatnya bertumpu pada kepentingan kapitalisme. Masyarakat pun tanpa sadar dipaksa untuk terns membeli barang-barang yang dilihatnya di TV karen a dianggap dapat memberikan kepuasan dan kebahagiaan jika mereka mengenakannya. Namun citra tersebut semakin silih berganti tanpa genti sehingga masyarakat pun berubah merljadi semacam mesin konsumsi yang dipaksa untuk terus menerus membeli barang-barang yang ditampilkan lewat simulasi yang ada di TV. b. Simulakra Dalam Novel Bilangan Fa 1) Simulakrum Media Elektronik: Sinetron dan Tayangan Horor Dunia simulasi bukan saja tetjadi pada masyarakat kontemporer barat saja, namun merata di se]uruh dunia, salah satunya tentu saja Indonesia. DaJam nove] Bilangan Fu, pengaruh simulakra yang sangat krusial pad amasyarakat kontemporer Indonesia dikritisi oJeh Ayu dengan kritis. TV yang dianggapnya sebagai mom ok pennasalahan pada masyarakat selayaknya pada masyarakat kontempore barat. Karena TV merupakan media elektronik yang dimiliki oleh hamper seluruh penduduk Indonesia sehingga simulakrum ini sangat efektif pengeruhnya pada masyarakat Hal ini dinyatakan tegas oleh perkataan dari tokoh Yuda dalam novel Bilangan Fu: "Oialah yang membuat televisi menyala. Kau tahu bagaimana televisi memborbardir kita dengan jeritan hahahihi kakakkikik pembawa acara maupun kuntilanak (apa beda keduanya?), rintihan perempuan sinetron (sebagian dari mereka akan menjadi kuntilanak juga, setelah diperkosa, dihamili dan dibunuhuntunglah, atau semoga, hanya dalam sinetron; (demikianlah cara kuntilanak diproduksi), khotbah para dai yang akan membebaskan para kuntilanak ini dari dendam pribadi sehingga bertobatlah mereka dan lapanglah jalan bagi mereka ke alam baka, yang berselang-seling dengan hahahihi kakakikik iklan yang diuJang tiga kali. KuntiJanak lagi! Suara-suara demikian ini kok membius para pembantu, ibu rumah tangga, sekretaris petugas kasir bank, budak kantor, penjaga toko, pasien dalam antrian, bahkan tukang copet yang sedang cuti." (2008: 25) Namun penyebutan kata dan frase yang merupakan jenis-jenis profesi dalam kalimat yakni yakni pembantu, ibu rumah tangga, sekretaris petugas kasir bank, budak kantor, penjaga toko, pasien dalam antrian, bahkan tukang copel membawa pada pengertian bahwa simulasi ini diterima dengan efektif pada kalangan yang memiliki kelas sosial menengah ke bawah yang

119

N,mLi IVayJa .IIzll1i

menjadikan TV sebagai a]at untuk mengatasi kebosanan dan menghabiskan banyak waktu di depan layar kaca dan menerima bulat-bulat citra-citra ataupun ilusi-ilusi yang diberikan oJeh simulasi dalam bentuk tontonanhoror dan sinetron. Hal ini membawa makna tersendiri bahwa kelas atas ataupun kelas cendikia agakoya tidak terlalu menyukai tontonan semacam ini. Citra lamtilanak yang merupakan sesosok makhluk halus benvujud perempuan berbaju putih dengan tahapan penyebab kemunculan sebagai berikut: rintihan perempuan sinetron, sebagian dari mereka akan menjadi kuntilanok juga (setelah diperkosa, dihamili dan dibunuhuntunglah, atau semoga, hanya dalam sinetron), khotbah para dai yang akan membebaskan para kuntilanak ini dari dendam pribadi sehingga bertobatlah mereka dan lapanglah jalon bagi mereka ke alam baka, yang berselang-seling dengon hahahihi kakakikik iklan yang diulang tiga kali. Kalimat-kalimat tersebut merupakan tahapan simulasi yang ada pada dunia simulasi sinetron yang selalu menampilkan seorang perempuan yang lalu diperkosa kemudian dibulluh lain menjelma menjadi lamtilanak yang hendak membalas dendam dan pada akhirnya digambarkan hid up dengan damai menuju alam baka setelah didoakan dan dibimbing oleh seorang Ustad atau Dai yang ketika kuntilanak tersebut menghilang menuju ke alam baka tadi ditutup dengan sosokuya yang menghiJang dan suara hahahihi kakakikik yang diuiallg tiga kali. Tahapan tema Kuntilanak yang selalu berkutat seperti tahapan simulasi di atas telah membuat konsep bahwa jika ada perempuan yang diperkosa dan dibunuh maka secara otomatis, pemikiran masyarakat akan mengadakall penyesuaian seperti citra yang mereka lihat daJam TV suatu tempat teIjadinya peristiwa kriminal berbentuk pemerkosaan pada perempuan dan korban yang tersebut dibunuh maka tempat tersebut pasti dihuni makhluk halus yang merupakan transfonnasi dari arwah korban yang menjadi mengerikan dan terbakar dendam. Inilah bukti hanya efektifnya simulakrum TV lewat tayangan horror seperti sinetron horror. 2) Simulakra Teknologi: Gadget dan Internet Se]ain TV lewat sinetron dan tayangan horornya, terdapat pula simulakra yang lain yang digambarkan oleh Ayu da]am novel Bilangall Fu ini adalah mengenai gadget seperti laptop atau komputer dan internet serta pengaruhnya pada msayarakat yang pada hal ini lebih digambarkan pada anak muda. "Tiga orang kini yang ada, sepasang pacar dan satu cewek jomblo yang tidak menarik. Yang lelaki mengeluarkan apple mac dan memperlihatkan situsnya pada kami. Aku tertarik padanya sebab ia begitu tertarik pada dirinya sendiri. Tapi ketertarikanku hanya berlangsung se1ama tiga belas menit saja. (2008: 194) Da1am paragraf yang dikutip dari nove] Bilangan Fu di atas terdapat beberapa gambaran dari simulakra yang berbentuk tekoologi yakni gadget aaple mac dan situsnya. Hal terse but menunjukkan bahwa masyarakat kota Indonesia terutama anak muda pada masa ini yang menggunakan gadget sebagai orientasi penentu prestisenya. Dengan memakai gadget canggih yakni apple mac yang merupakan laptop buatan Amerika yang berharga mahal dan canggih maka seseorang merasa puas. Tren memiliki situs sendiri juga merupakan tendensi wajib bagi anak muda masa kini akibat perkembangan internet. Website pribadi seperti blog,jacebook atau twitter menjadi suatu kewajiban yang tanpa sadar membuat seseorang semakin memuja diri mereka sendiri dan narsis. Inilah citra anak muda masa sekarang yakni merasakan adanya dorongan pemikiran bahwa memakai gadget mahaJ dan canggih serta mempunyai website pribadi menunjukkan eksistensinya untuk dianggap di mata orang lain. Fenomena ini sejalan dengan rumusan posmodernime Baudrilldard yang menyatakan bahwa simulakra posmodernisme merupakan simulakra ketiga yang lahir sebagai konsekuensi berkembangnya ilmu dan teknologi informasi. Simulakra pada tingkatan ini merupakan wujud silang-sengkarut tanda, citra dan kode budaya yang tidak lagi merujuk pada representasi. Internet sebagai wujud dari pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi informasi telall merubah kehidupan masyarakat Indonesia. Seperti yang diketahui bersama, masyarakat Indonesia pada saat ini telah akrab dengan dunia maya bahkan mengakses dunia maya ini diIakukan o/eh masyarakat Indonesia setiap harinya, terutama anak-anak muda. Dengan banyakoya website populer yang digunakan maka semakin seringlah akses internet ini dilakukan sehingga simulakrum ini terbukti dengan efektif mempengaruhi masyarakat kontemporer Indonesia pula.

120

-----

---------------------------------------------------------

Kyiarl L1i~!Jlli~tik. TabUJJ .ke- J0, No J

Febmari 2013

Perbandingan Simulakra dalam Novel GX:TOAC dan Bilangan Fu Dalam kedua novel yang menjadi objek peneJitian yakni novel GX:TOAC dan Bilangan Fu ditemukan mengenai simulakrum yang dideskripsikan oleh pengarang menjadi salah satu fenomena yang mempengaruhi masyarakat kontemporer barat dan timur. Simulakra yang terdapat dalam novel GXTOAC terdapat pada media elektronik yang dalam hal ini MTV dan dunia fantasi Disneyland. Setiap simulakrum berisi citra-citra, simbol-simbol, tanda-tanda dan lain-lain sebagai simulasi yang mendorong masyarakat yang melihatnya menganggap bahwa hal-hal tersebut merupakan suatu hal nyata. Sedangkan pada novel yang kedua yakni Bilangan Fu juga terdapat simulakra yang terdapat pada masyarakat timur yakni dalam bentuk media elektronik TV dengan tayangan Sinetron dan horror, Mal dan juga teknologi yakni gadget serta internet Melalui simulasi-simulasi tersebut ditampilkan citra-citra buatan mengenai segala aspek kehidupan masyarakat kontemporer barat dan timur tanpa disadari oleh masyarakat tersebut. PadahaJ, penciptaan simulasi yang terwujud meIalui citra-citra, simbof-simbol ataupun tanda-tanda yang ada pada simulakra ini berujung pada kepentingan kapitalis semata. Inilah fenomena masyarakat kontemporer yakni masyarakat yang terjebak pada dunia simulasi.

Posmodernisme DaJam Bentuk Hiperrealitas Dalam Novel GX:TOAC Karya Douglas Coupland Dan Bilangan Fu Karya Ayu Utami a. Hiperrealitas Dalam Novel GX:TOAC Sarup (2008: 260) menegaskan bahwa hiperrealitas adalah kondisi barn dimana ketegangan lama antara realitas dan ilusi, antara realitas sebagairnana seharusnya, hi Iang. Penegasan ini merujuk pada konsep realitas yang diamati oleh Baudrillard pada rnasyarakat mertiadi hiper atau dalam artian melampaui sesuatu yang dalam hal ini adalah realitas. Pada hakekatnya, hiperreaJitas merupakan dampak yang diakibatkan oJeh simuJakra yakni ka;ena dibombaridimya masyarakat pada citra-citra, sirnbol-simbol atau tanda-tanda sehingga muncuUah masyarakat yang tidak dapat lagi membedakan yang mana sekedar ilusi yang dihadirkan oleh simulakra dan yang mana berupa realitas yang sebenar-benarnya realitas. Dalam novel GXTOAC hiperrealitas juga dideskripsikan sebagai permasalahan masyarakat kontemporer.

1) Hiperrealitas Konsep Pemikiran Dalam novel GXTOAC, hiperreaJitas merupakan fenomena yang digambarkan oleh Coupland sebagai fenomena negatif pada kebudayaan kontemporer masyarakat barat terutama dalam konsep pemikiran. "In era when nearly all real estate is coveted and developed, West Palm Springs Village is a true rarity; a modern ruin and almost deserted save for a few hearty souls in airstream straillers and mobile homes, who gives us cautious eyes upon our arrival through the lown's welcoming sentry-an abandoned texaco gasoline stations surrounded by a chain link fence and lines of dead and blackened Washingtonia Palms that seem to have agent-oranged The mood is vaguely reminesent of Vietnam war movie set." (1991: 14) "Pada masa ketika hampir semua real estate didambakan dan dikembangkan, West Palm Springs Village merupakan suatu tempat yang benar-benar langka, nilai modern seakan menghiJang dan menyimpan suasana sepi llntukjiwa hangat sedikit bagi jiwa yang pernberontak dan rumah yang selalu berpindah-pindah, yang rnemberikan kita pemandangan ke arah gapllra penyambut, sebuah porn bensin yang ditinggalkan tanpa penjaga yang dikelilingi oleh pagar dan batasan akhir dan pohon Palem Washington yang mulai berubah warna menjadi orange. Suasana yang mengingatkan kita samar-samar sebuah film dengan latar perang Vietnam." (1991: 14) Kutipan yang merupakan dialog dari salah satu tokoh utama dalam novel ini yakni Andy yang mendeskripsikan suatu tempat yang dilihatnya secara nyata namun secara otomatis membandingkannya dengan suasana sebuah film dan menyandingkannya dengan lalar perang vietnam merupakan wujud dari Andy yang terperangkap dalam pada ilusi realitas. Ia membandingkan dllnia yang nyata yakni sebuah tempat yang bemama West Palm Springs

121

NI/J7/i NaJia AZllli

Villange dengan suasana sebuah dunia imaji yang menjadi latar sebuah film. Berdasarkan hal tersebut dapat diinterpretasi babwa Andy mengalami fenomena hiperrealitas yakni ia memiliki kecenderungan untuk membandingkan sesuatu yang ia lihat dengan tayangan yang dilibatnya di televisi. Citra yang ia lihat dalam sebuah film di TV tanpa sadar dijadikannya sebagai rujukan. Kesenjangan realita nyata dan buatan pada tokoh Andy membuatnya tak dapat membedakan yang mana realita nyata yang dilihatnya ]angsung dan mana yang berupa imaji buatan yang dilihatnya di televisi di dalam pemikirannya. Ketikasuatu hal terpatri sebagai konsep pemikiran maka secara otomatis hal tersebut akan berulang dalam pemikiran seseorang terutama ketika ia berpikir pada suatu hal maka konsep berpikir yang ia pakai adalah menggunakan konsep tersebut yang dalam hal ini adalah hiperrealitas. Pom bensin yang ditinggal tanpa penjaga dan pohon Palem Washington yang mulai berubah warna menjadi orange yang dilihatnya pada dunia nyata diaggap sebagai sebuah gambaran situasi yang sesuai dengan realitas buatan yang pernab dilihat olehnya pada latar film perang Vietnam. Kecenderungan Andy untuk membandingkan tontonan yang hanya sebatas citra kepada realitas nyata yang dilihatnya secara langsung. Dalam pemikiran Andy, terdapat citra-citra yang tumpang tindih sehingga menimbulkan i1usi yang tercampur pada kenyataan yang dilihatnya secara langsung, inilah hiperrealitas pada konsep pemikiran. 2) Hiperrealitas Perbuatan Ketika suatu konsep melekat pada pemikiran seseorang, maka konsep pernikrian tersebut akan telWUjud rnelalui perbuatan. Dengan kata lain" hiperrealitas yang kedua ini merupakna tahap lanjut dari hiperrealitas sebelumnya. Dalam novel GX.:TOAC yang merupakan novel yang menyajikan kritik sosial mengenai masyarakat kontemporer, maka dalam hiperrealitas perbuatan ini, Coupland menyajikan suatu konsep yang bukan sekedar hiperrealitas saja. Yang dideskripsikan lewat tokoh utarna adalab kesadaran tokoh utama pada konspirasi simulasi yang menjebak masyarakat sehingga hiperrealitas yang dialarni oleh tokoh utama ini diwujudkan pada kesadaran pada tujuan utama simulakra dan memutuskan untuk memutuskan untuk bersikap frontal untuk melawan hiperrealitas sebagai bentuk dari kritik sosial.

"1 was actually one ~f those putzes you see driving a sport car dawn to the financial district every morning with the roof down and a baskeball cap on his head, cocksure and pleased with how friski and complete his look I was both thrilled alld flattered and achieved small thrill of power to think that most manufacturers of life-style accecories in Western world considered me their most desirable target market." (1991: 18) "Sebenarnya aku dulu adalab salah satu dari kelompok yang mengendarai mobil

sport meJewati daerah pusat finansial setiap pagi dengan atap mobil yang diturunkan dan topi baseball di kepala, terlihat keras dan puas dengan lincah dan betapa sempurna ia kelihatannya. Aku dulu merasa senang dan tersanjung dan tidak merasa kekuatan untuk cemas sedikit pun babwa para produsen perhiasan gaya hidup di dunia Barnt telah menjadikanku sebagai target pemasaran yang paling mereka perlukan" (199]:18) Kalimat-kalimat di atas merupakan kalimat yang berisi pemyataan Dag mengenai keadaannya yang teIjebak pada citra-citra yang menyimbolkan kesuksesan. Hal tersebut terJihat dari katakata yakni mobil :-:.port, daerah pusat finansial, atap mobil terbuka dan topi baseball di kepala. Kata benda-kata benda tersebut merupakan aksesoris penanda gaya hidup dan simbol kesuksesan yang dipakai oleh Yuppie (YOWlg Urban Professional) yang merupakan istilah yang merujuk pada karyawan muda yang berpenampilan mewah dan mengendarai kendaraan mewah untuk menunjukkan kesuksesannya. Barang-barang terse but rnerupakan penanda kesuksesan ala masyarakat modern ala Amerika. Karena pada masyarakat modernisme, kesuksesan diidentikkan dengan mempunyai materi yang berlirnpah yang terlihat dari penampilan. lni merupakan wujud dari kesadaran Dag pada pemabamannya terhadap perrnasalahan sosial rnasyarakat kontemporer yakni keteIjebakan pada dunia simulasi. Sehingga ia memabami pula bahwa masyarakat yang dikontrol oleh simulasi akan men gal ami hiperrealitas yang terlihat dengan cara mereka yang berusaha untuk mewujudkan citra-citra, simbol-sirnbol atau tanda-

122

K;yian LiJJgui<;tik Tabun ke- 10. 1VO 1

Fcbmari 2013

tanda pada dunia nyata rnereka sehari-hari. Tokoh Dag yang rnenyadari keterjebakan ini hadir bukan saja sekadar mernaharni situasi yang probJematik tersebut namun hadir sebagai sosok yang berdiri me1awan keadaan tersebut. Menyadari bahwa pekerjaannya yang semula sukses dengan rnateri (modem) yang ia punya tidak membawanya pada kebahagiaan maka ia berani mernilih kehidupan yang berbanding terbalik yakni mengembalikan fungsi pekeJjaan pada konsep awal (tradisional) yakni bekeIja hanya untuk mendapatkan penghasilan untuk menyambung hidup bukan mendapatkan materi berlimpah namun terjebak pada kehidupan yang konsumerisme sehingga penghasilan yang didapatkan tidak pemah dirasakan cukup. b. HiperreaJitas Dalam Novel Bilangan Fu 1) Hiperrealitas Pengontrolan Emosi Dalam novel Bilangall Fu, hiperrealitas sebagai fenomena rnasyarakat kontemporer yang merupakan juga menjadi rnomok pada masyarakat Indonesia. Salah satu tokoh utama dalam novel ini yakni Sandhi Yuda hadir sebagai media pengarang untuk menyampaikan kritiknya nan kritis terhadap fenomena ini. "Dan, ya Tuhan, mereka sungguh-sungguh bisa tertawa jika pembawa acara memerintahkan mereka untuk tertawa. Percayalah, pembawa acara itu sama sekali tidak melucu, apalagi lucu. Ia hanya rnernerintahkan penonton untuk tertawa. Dan rnereka rnenurut. Orang-orang yang rnenghadap televisi itu juga sungguh-sungguh bermuka sedih jika diperintahkan berduka o]eh televisi. Ketika remaja aku telah rnencoba rnenonton televisi, baik dari depan ataupun belakang. Kedua-duanya rnenarnpakkan adegan kebodohan yang sarna rnengerikan. Maka aku berhenti rnenonton televisi." (hal. 25) Kutipan di atas terdiri dari kalirnat-kalirnat yang mengandung makna hiperrealitas. Kata dan frase yang rnernbawa rnakna hiperrealitas terse but adalah tertawa, pembaca aeora, memerintahkan, meZucu, ]ucu, bermuka sedih, berduka, dan teZevisi. Semua kata dan frase terbut merujuk pada makna pengontrolan penuh TV terhadap masyarakat bahkan sampai pada perbuatan dan perasaan. Jika diperintahkan untuk tertawa rnaka penonton TV akan tertawa, lalu jika diperintakan untuk bermuka sedih dan berduka rnaka penontonton pun akan rnenurutinya pula. Inilah adegan-adegan TV yang membuat Yuda merasa bahwa TV merupakan sebuah alat pernbodohan massal masyarakat yangbahkan anehnya tidak disadari bahkan masyarakat cenderung rnenikmati pengontrolan tersebut. Hal ini sejaJan dengan konsep Baudrillard rnengenai hiperreaJitas sebagai rangkaian yang teIjadi setelah rnekanisrne sirnulasi dilakukan. Masyarakat yang tergambar pada kalimat-kalimat pemyataan di atas tidak lagi dapat rnenyadari realitas yang ada disekitamya, karena ia telalu terpaku pada simulasi yang terjadi pada TV yakni berupa simulasi-sirnulasi yang dilakukan oleh pembawa acara dan bagaimana mereka harus bereaksi terhadap simulasi tersebut. Tertawajika distimulasi dengan adegan yang dirasakan lucu lalu bermuka sedih jika suasana yang digarnbarkan oleh pembaca acara mensimulasi dengan suasana duka. Padahal belurn tentu penonton TV tersebut rnengenaJ atau mengalarni situasi yang digambarkan oleh si pembawa acara tidak punya mendapatkan manfaat apa pun dari pengontrolan tersebut. Namun penonton tidak rnernpertanyakan tersebut, mereka tertawa jika disuruh, menangis jika diarahkan. Hal ini merupakan menurunan derajat rnanusia yang seakan berubah menjadi robot. Namun kernampuan masyarakat untuk rnemilah dan menganaJisis sesuatu tidak lagi dapat teIjadi karena bahkan masyarakat terse but lebih merasa nyata dan dekat dengan pembaca acara secara visual. Padahal secara realitas, penonton dan pembawa acara merupakan orang yang sarna sekali asing dan tidak rnengenal satu sama lain. Dengan kata lain, dalarn novel Bi/angan Fu pengarang secara eksplisit mendeskripsikan hiperrealitas yang berwujud pada pengontrolan ernosi masyarakat. 2) Hiperrealitas Konsep Pemikiran Setain pengontrolan emosi, perubahan akan suatu konsep pemikiran juga terjadi sebagai wujud dari hiperrealitas ini. Ketidakrnarnpuan rnasyarakat untuk rnenyesuaikan suam citra, sirnbol atau tanda yang ia Iihat pada TV yang hanya berupa ilusi dengan menyandingkannya pada logika dan

Num/ i~"-Vla .!iZIlli

pengetahuan sebeJumnya mengenai konsep tersebut pun tidak dapat teIjadi. Masyarakat seakan menelan bulat-bulat citr~ simbol atan tanda tersebut dan tanpa disadari telah merubah konsep pemikiran mereka semula terhadap sesuatu. Seperti yang ter/iliat pada penyataan Yuda selanjutnya yakni: " ... Selama ini aku merasa kisah RatuPantai Selatan itu murahan. Terutarna ketika dijelmakan sebagaifilm horor. Film horor pertama yang bisa kuingat rasanya dimainkan oleh bintang Suzanna di masa jayany~ ketika kau masih memakai popok. Nyai Blorong! Ah, dia adalah kuntilanak yang pertama! Dialah biang knntilanak! Nenek moyang Sunde1 Bolong yang sekarang! Dan dia memerankan Nyai Rara Kidul atau Nyai Blorong atau sejenisnya dalam sebuah pertunjukan layar perak yang membuat misteri jadi merosot. Tak heran aku ikut merendahkan Ratn Pantai Selatan. (2008: 47) Hal di atas merupakan ungkapan dari pemikiran Yuda setelah mendapatkan kesadaran konsep berpikir barn mengenai konsep legenda atau mitos dari Jati. Ratu Pantai Selatan, Nyai Rara KiduJ atau Nyai Blorong merupakan penanda yang membawa pada petanda misteri pada nilainjlai tradisional. Misteri mempunyai nilai yang agung serta tinggi, tidak jeJas dan mana berasal ataupun makhluk apa sebenamya namun kepercayaan masyarakat yang begitu teguh terbadap sosok ini yang terwujud pada upacara-upacara tradional yang teratur dilaksanakan seperti upacara pemberian sesajen dan lain sebagainya Narnun misteri ini berubah posisinya menjadi murahan semenjak tokoh ini diusung ke layar kaca pada era 80-an dimana pemeran yang memerankan sosok ini adalah pemeran yang sarna dengan yang memerankan tckoh hantu kuntilanak ataupun sunde] bolong yakni Suzanna. Hal ini memicu hiperrealitas yang secara tidak langsung menurunkan standar keagungan dari Ratu pantai Selatan tadi. Posisi Ratu Pantai Selatan yang semula adalah misteri penuh keagungan berubah menjadi horor murahan dengan teriakan kakakiki hahahihi. Masyarakat agaknya tidak bisa Jagi membedakan yang mana tokoh KUDtilanak, Ratu Pantai Selatan ataupun sosok sesunguhnya dan artis fim era 80-an yakni Suzanna. Jika berbicara mengenai Kuntilanak maka sosok yang muncul di dalam pemikiran masyarakat adalah sosok Suzanna yangberbaju putih, berarnbut panjang, w~iah yang pueat dan mata melotot menyeramkan, begitu pula sebaliknya Inilah perwujudan hiperrealitas masyarakat Indonesia yang telah merubah konsep pemikiran masyarakat yang semula pada pemikiran tradisional sangat mengagungkan konsep Rantu Pantai Selatan sebagai sosok yang misterius penuh dengan misteri keagungan laIu berubab menjadi sekedar mitos dan menjadi sosok hantu dan mitos murahan dalam masyarakat. Lebih pelik lagi ketika pemeran dari sosok Ratu Pantai Selatan ini adalah orang yang sarna dengan pemeran hantu berwujud Kuntilanak yang membawakannya dengan ekspresi horor yang sarna yakni Suzannna Sehingga posisi Ratu Panta; Selalan pun menjadi sarna dengan posisi kuntilanak.Padahal secara turun menurun sosok Pantai Selalan merupakan konsep yang disanjung dan disakralkan. Inilah wujud dan hiperrealitas yang terjadi pada seseorang yang bahkan tidak mempertanyakan dan merasa keganjiJan terhadap citra-citra yang saling tumpang tindih. Peru bah an konsep pemikiran mengenai Ratu Pantai Selatan yang semula sakral diubah menjadi sosok hantu tahayul yang menakut-nakuti masyarakat sehingga sosok tersebut bukan lagi sacral melainkan sosok yang menakutkan seJayaknya hantu. Konsep tradisional yakni kesakralan berubah menjadi konsep modern yakni makhluk menakutkan semacam monster atau bantu tanpa disadari oleh masyarakat. Hal ini pulalah yang juga teIjadi pada masyarakat Indonesia. Fenomena mengenai Ratu Pantai Selatan yang berubah posisinya menjadi sosok yang menakutkan Jayakoya monster atau hantu. 3) Biperrealitas Orientasi Ketika simulasi semakin tertanarn bukan saja sebagai pengontrol emosi namun merasuk pula menjadi konsep pemikiran maka selanjutnya adalah hiperreaiitas yang berwujud orientasi sehingga apa pun yang dilihat, didengar atau dirasakan maka orientasi yang dipakai adalah simulakra yang dapat berwujud TV, Internet dan lain-lain. Hal ini juga dibahas dalam novel Bilangan Fu:

124

K;yiall LIil!{Uistik, TalllUl ke-](Y, No 1

Feblll:rri 2013

"BeJakangan ini kota semakin penuh oleh kaum medioker yang sangat tertarik pada dirinya sendiri. Cowok metroseksual yang ada dihadapan Marja ini misalnya. Ia begitu kemp ling, otot-otot itu pasti didapatnya melalui gym. Beda mereka dari pemanjat itu adalah ini: mereka berJatih mendapatkan sixpac, pemanjat berlatih untuk mendapatkan kemampuan. Bagi kami, perut-kitab-kitab adalah efeksamping-apa-boleh-buat. Buat mereka itu adalah cita-cita. Mereka berlatih di ruang tertutup ber-AC sebab mereka tak mau kulit mereka terpanggang matahari. Tujuan mereka adalah penampilan Sebab, yang menjadi ketertarikan mereka adaJah diri sendiri. Apa-apa di luar diri hanya menarik kalau menambah daya tarik sendiri" (2008: 194) Berdasarkan kutipan paragraf di atas maka terlihat bagaimana gambaran masyarakat kota yang mana para pria berlomba-lomba untuk tampil berotot untuk menunjukkan citra yang kuat dan gagah seperti yang ditampilkan oleh 1V. Kata sixpack, gym, ruang tertutup ber-AC merupakan gambaran terhadap gaya hidup pria metroseksual ala masyarakat kota yang sangat perduIi pada penampilan. Mereka berolah raga di gym yang berfasilitas lengkap, tidak terpanggang oleh matahari sehingga kulit mereka tetap mulus dan putih seperti cita yang ada di TV yang menggambarkan sosok pria gagah sempurna yang berotot, perut sixpack namun berkuJit putih terawat. Inilah citra dari pria sempurna yang ditiru sebisa mungkin oleh pria metroseksuaI masyarakat kota yang menciptakan pria-pria yang begitu terobsesi dengan penampilan dan citra terhadap dirinya sendiri. Citra-citra yang mereka lihat di TV mereka ciptakan pada dunia nyata yang sangat berpengaruh pada pola pemikiran mereka yang narsis dan egois. Pada hiperrealitas ini, masyarakat seakan lumpuh dan kehilangan kemampuannya untuk melihat kenyataan yang teIjadi di sekelilingnya. Masyarakat seakan kehilangan perasaan dan pemikiran yang sebenarnya merupakan hakekat dasar manusia. Dengan kata lain, akibat orientasi yang terlalu berpaku pada ilusi, manusia pun perlahan kehilangan "kemanusiaan"-nya sendiri.Ibarat robot yang telah deprogram dan dikontrol untuk tujuan tertentu saja yakni kehidupan konsumerisme dan target pasar oJehkapitaJisme.

Perbandingan Hiperrrealitas dalam Novel GX:TOAC dan BiJangan Fu Hiperrealitas yang ditemukan dalam novel GXrOAC adalah hiperrealitas konsep pemikiran dan perbuatan. Hal iill tentunya sesuai dengan karakteristik masyarakat Amerika-Eropa yakni perbuatan terrentu merupakan buah dari suatu pemikiran tertentu. Fenomena hiperrealitas pada masyarakat Amerika-Eropa yakni terdapat tendensi dalam masyarakat untuk selalu mengaitkan antara realitas yang di)ihatoya melalui simulasi seperti reality show, suasana film hitam putih dan lain-lain. Masyarakat menganggap bahwa realitas yang mereka lihat ada)ah realitas pula. Baudrillard pun merumuskan fenomena ini sebagai hiperrealitas dan sebagaimana memang pemikiran mereka yang lebih maju dibandingkan dengan dunia timuT, masyarakat pun mulai menyadarinya. Sementara itu dalam novel Bikmgan Fu. hiperrealitas yang ditemukan adalah dalam bentuk pengontrolan emosi, konsep pemikiran dan orientasi. Ketiga hiperreaJitas ini merupakan hiperrealitas bertahap dan berkesinambungan. Masyarakat Indonesia yang teIjebak pada tahapan simu/akra lantas kehilangan kodratnya sebagai manusia karen a emosi, pemikiran dan orientasinya telah berpusat pada ilusi yang merupakan buatan bukannya yang sebenarnya sehingga masyarakat ibarat robot yang dapat diatur sesuai dengan kegunaan yang diinginkan oleh pembuatnya, yang dalam hal ini pencipta simulasi yakni kapitalisme dengan tujuan mendapatkan keuntungan karena mengubah fungsi masyarakat sebagai target market saja, bukan manusia yang bebas dan merdeka. Persamaan pada kedua novel mengenai konsep hiperrealitas yakni pada hiperrealitas pemikiran yakni hiperrealitas yang menguasai pemikiran masyarakat sehingga masyarakat pun tidak mampu lagi berpikir secara alami melainkan terkontaminasi terhadap citra yang ia lihat pada simulakrum. Manusia seakan kehilangan kemampuan observasi dan pemahaman alami mengenai kehidupan. Tanpa disadari,inilah yang membuat pikiran manusia tidak dapat berpikir rasional sesuai dengan realitas yang sebenarnya. Tentu saja, fenomena ini cukup mengerikan

125

NumlNa)1a Azmi

yakni manusia kehilangan sifat alamiahnya sebagai makhluk yang berpikir menjadi semacam robot yang dikendalikan pemikirannya. Sedangkan perbedaan pada kedua novel cukup rnenonjol yakni dalam novel GX:TOAC hiperrealitas terlihat dalam pemikiran yang terimbas pada perbuatan. Dalam hal ini pun rnasyarakat terbagi pada dua golongan yakni masyarakat yang tidak menyadari konspirasi simuJasi ini sehingga mengejar hiperrealitas semu yang tenvujud pada perbuatan konsumerisme dan juga masyarakat yang menyadari konspirasi simulasi sehingga mendobrak kehidupan konsumerisme dan mulai kembali ke sifat alamiah dasar rnanusia serta kepedulian terhadap alamo Pemikiran masyarakat barat yang bel~ar dari pengaJaman dan berpikiran terbuka mengakibatkan golongan pertama semakin sedikit dan golongan kedua sernakin globaL Semantara itu, dalam novel Bilangan Fu, konsep hiperrealitas terlihat menguasai rnasyarakat Indonesia yang terJihat pada tiga hiperreaJitas yang menjadi ternuan pene1itian ini yakni hiperrealitas pengontrolan emosi, konsep pemikiran dan orientasi. Ketiga hiperreaJitas ini rnenunjukkan masyarakat Indonesia yang teIjebak dalam konspirasi simulasi dan tanpa menyadarinya sarna sekali. Kesadaran pada situasi ini hanya terbatas pada cenderkiawan ataupun pengamat sosial saja. Masyarakat Indonesia dikuasai oJeh realita semu ciptaan simulasi sehingga masyarakat berlomba rnewujudkan citra-citra tersebut pada kenyataan. Pennasalahannya citra-citra dalam simulakrum sHih berganti dengan cepal serta saling tumpang tindih sehingga usaha me'W'Ujudkan citra-citra tersebut seakan menjadi situasi "kejar-kejaran" yang tidak berujung. Inilah yang menjadikan masyarakat Indonesia sebagai target market produksi dunia-dunia maju. Prestise yang dirasakan melekat pada sebuah benda menjadi suatu yang hal yang dapat menjanjikan kebahagiaan. Dalam novel Bilangan Fu, Ayu rnemperkenalkan konsep pemikiran posmooernisme dan menyinggu fenomena hiperrealitas ini. Deskripsi mengenai masyarakat posmodern yang menolak pola kehidupan masyarakat modem yang hanya mengejar ilusi-ilusi citra semata saja Iewat nilai-nilai yang dikatakan universal. Lewat karakter Sandhi Yuda dan Parang Jati, Ayu mengutarakan kTitikannya secara kritis mengenai kehidupan masyarakat modern ini. Pemikiran kritis ala posrnodemisme ini dianggap merupakan jawaban ideal ternadap permasalahan masyarakat kOlltemporer Indonesia yang perJahan mulai kehilangan jati dirinya sebagai manusia.

KESIMPULAN Simpulan penelitian ini adalah posmodemisme dalam bentuk simulakra dalam novel GX:TOAC karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami terletak padajenis Simulakrumllya yakni pada novel GX: TOA C terdapat simu lakra yakni TV (dalam wujud MTV) dan dunia fantasi Disneyland. Sementara dalam novel Bilangan Fu, simulakra yang ditemukan adalah TV(dalam wujud tayangan horor dan Sinetron), mal, gadget dan internet (lewat website seperti blog dan lainnya). Posmodemisme dalam bentuk hiperrealitas dalam novel GX:TOAC karya Douglas Coupland dan Bilangan Fu karya Ayu Utami yakni da)am novel GX:TOAC hiperrealitas yang dialami oleh masyarakat merupakan hiperrealitas konsep pemikirall dan perbuatan sementara dalam novel Bilangan Fu hiperrealitas yang ditemukan adalah hiperrealitas pengontrolan emosi, konsep pemikiran dan orientasi. Perbedaan yang ditemukan pada novel GX:TOAC dan Bilangan Fu pada konsep posmodernisme simulakra dan hiperrealitas yaitu terdapat dua simulakra dalam novel GXTOAC yakni Simulakrum media elektronik televisi dan dunia tlllltasi Disneyland sementara dalam Bilangan Fu juga terdapat dua buah simulakra yakni simulakrum media elektronik lewat tayallgan sinetron dan tayangan horror, simulakrum teknologi yaklli gadget dan internet. Lalu terdapat dua hiperrealitas dalam novel GX:TOAC yakni hiperrealitas pemikiran dan perbuatan semelltara pada novel Bilangan Fu hiperrealitas ditemukan pada 2 bentuk yakni hiperrealitas pengontrolan emosi, pemikiran dan orientasi. Perbedaall pada sirnulakra yakni lewat simulasi MTV dan dunia fantasi Disney/and setta Sinetron, tayangan horror, gadget dan internet

126

K,YJ3IJ Lin."uui<;tik.. TabUJ1.ke- ](), No]

FeblUati 2013

diakibatkan oleh factor budaya dan fak10r talmn beredarnya novel ini sehingga dalam novel GX: TOA C yang beredar pada awal 1990-an hanya terbatas pada media elektronik TV saja. Perbedaaan hiperreaIitas dalam kedua novel tersebut terdapat pada hanya kesadaran hiperrealitas pada masyarakat kontemporer Amerika yang tinggi sementara kesadaran hiperrealitas dalam rnasyarakat konternporer Indonesia sangat minim dan terbatas pada cendikia dan yang rnemiliki pola pemikiran kritis saja.

DAFTAR PUSTAKA Baudrillard, Jean. 2006. Lupakan Postmodemisme. Diterjernahkan oleh Jimmy Firdaus. Sugiharto. I. Bambang. Postmodemisme: Tantangan bag; Filsafat. 1996. Yogyakarta : WeUek, Rene & Austen Warren. 1996. Teori Kesusasteraan. Jakarta: Gramedia http://wikipedia.com http://goodreads.com http://v{ww.jour.unr.eduJoutpostlspecialslgenx.overvw2.html

127