Yang ke . --

pmduksi sediaan fitofarmaka pada skala industri adalah: 1. ... Teknologi formulasi yang n ~asiat. keamanan, ... pil, kapsul dan krim...

0 downloads 59 Views 219KB Size
Volume 3 No. 1

Warta lbmbuhan Obat Indonesia

Tablet: Sediaan berbentuk tablit biasanya dibuat dari eksirak total atau selektif yang digranulasilkan terlebih dahulu. Untuk pembentukan tabletnya digunakan bahan pembantu yang dapat berupa bahan pengisi, bahan pengering, bahan penghancur, dan sebagainya Sebagai bahan pengisi digunakan serbuk selulosa, manit, amilum. sakarum laktis, dan sebagainya Sebagai bahan pengering atau pengadsorpsi ekstrak yang higroskopis digunakan "silika-terdispersi" (high disperse silica). Untuk bahan penghancur bentuk sediaan tablet dapat digunakan bahan yang cepat mengembang di dalam air, misalkan berbagai macam tepung (amylum) dan turunannya (modified starch), polivinil pirolidon rantai bercabang, natrium karboksi selulosa, atau alginat. dan sebagainya. Contoh komposisi formula untuk 1 tablet adalah sebagai beribt

RI Granulat e k d kering Laktosa Magnesium stearat Silisiumdioksida kolo' - Selulosa mikrokristal Jumlah

125 60 1.5 5 8,s 200,O

mg mg mg mg mg mg

KONDISI KERJA S e w-a ~ alamiah. simplisia r~abatilebih besar kemungkinannya terccmar oleh mikn)ba atau ja unur meskipun sudah dibersihkan. lebih-lebih pada tuangan Yang ke~lembabann) ra tinggi. Oleh sebab itu, -, ". --I:":" FllJll"p'"1LU1 DIIIYLIJIU p~lkdijaga kebersihannya ruangan +-..Lzrllp secara konsisten Di samping itu, seluruh kegiatan untuk proses produksi sampai dengan pengepakan juga perlu memperhatikan kebersihan lingkungan. ' baik yang menyangkut operatomya (personil yang sehat dan menjaga kebersihan) maupun peralatan dan ruangan kerja Sebagai tindakan preventif dalam rangka menunjang persyaratan produksi fitofarmaka pada skala industri, kesehatan pekerja dan kebersihan peralatan serta ruangan kerja perlu diperiksa secara berkala

--........"""" .

--

DAN PENUTUP

Kapsul: Untuk bentuk sediaan ini dapat digunakan kapsul gelatin keras atau lunak. Dalam kapsul gelatin keras dapat diisikan serbuk atau granulat bahan aktif. Sedangkan dalam kapsul gelatin lunak dapat berisi ekstrak bahan aktif berbentuk pasta Salep: Bentuk ini mengandung ekstrak bahan aktif yang didispersikan secara homogen dalam basis salep yang sesuai. sebagairnana digunakan dalam salep "obat modem". Basis salep yang digunakan dapat bertipe mla (minyak dalam air) atau alm (air dalam minyak) tergantung pada sifat bahan aktif maupun tujuan pengobatan. Salah satu contoh basis salep adalah "basis absorpsi", yakni basis salep yang mengandung tenside Ahingga dapat mengandung tar sampai kadar tertentu. Penggunaan tenside ini diatur sesuai ha& HLB (hidrophilic-lipophilic balance) dari resepnya. Untuk basis absorpsi bertipe a/m dapat digunakan setilalkohol atau stearil alkohol 5-10% dalam basis lipofilik. Sedangkan untuk basis absorpsi bertipe mla digunakan Setilstearil alkohol dalam jumlah yang besar yang diemulsikan dengan campuran parafin dan vaselin. Selain pertimbangan khasiat, keamanan, mutu dan estetika, perlu juga diperhatikan stabilitas bentuk sediaan selama penyimpanan dalam jangka waktu teltentu melalui penerapan teknik formulasi sebagaimana pada pmduksi obat modem. Di samping itu. pemilihan formula juga perlu memperhatikan aspek ketersediaan hayati, efek penutupan terhadap senyawa aktif yang sangat tajam (masking effect). yang dapat menyebabkan keg1 ~ j i a npada subyek per

Telah awawan secara nngkas hal-hal yang berkaitan dengan teknologi pembuatan sediaan fitofarmaka pada skala industri. Dari kesemuanya itu, pokok pennasalahan yang perlu diperhatikan untuk pmduksi sediaan fitofarmaka pada skala industri adalah: 1. Ketersediaan bahan bakulsimplisia yang memenuhi persyaratan mutu (identitas, kemumian, kandungan senyawa). 2. Teknologi penanganan simplisia pra-pduksi dan kontrul kualitas. 3. Teknik ekstraksi yang di pilih berdasarkan tujuan penyarian simplisia dalam kaitannya denlgan tipe ekstrak yang ingin diperoleh dan kontrol kualitas ekstralu'Ya 4. Teknologi formulasi yang nlenjamin kl~asiat.keamanan, mutu. ketersediaan hayati, stabilitas sealaan, aan memperhatikan aspek estetika bentuk sediaan. 5. Kebersihan lingkungan kerja d m o p e momya perlu diperhatikan dalam rangka teqaminnya loualitas produk secara nwnyeluruh. Dengan melihat topik-topik tersebut sebagai satu kesatuan sistem produksi, rnaka dihan~pkanbentulk sediaan fil apat menjadi obat altennatif di sam ping obat "'modem".

..

.

1. DepmM I RI. Mateh IMadika Indonelin W. I R.I. Filofamnl k a b m P e d o m a n F ~ 1 9 0 2 . 2 De* 3. Steinagg , R. Pharmakagnosic, Springeryerlse. 1982. . . 4. Haensal. R. Phyiophatmaka. Springer-Verlag. 1991. 5. Bauer, KH.. Fromming. KH., Fuehrer,C.. P h a m m m $ i Technobgk. Qaog Thimma Verlag, hal. 440471, 1888. 6. Wahono Sumaryono. Analisis Pmfil Metab~lnSakundar Beberhpa Kultkar ~phoMvisslstM.Majalah BPPT No. 57, 1994.

ISPEK INDUSTRI .TAMU Dl ..HMAD FUAD AFDHAL si lnstitut Sains dan Teknc~logiNasiional, Jakarta

W

ALAUPUN industri u r n I-m iurnoun s u x a s~~nifikan, konsumen yang menyenangi jamu a n d e ~ n gtidak turun. Ini adalah faktor utama yang mengakibatkan tumbuhnya industri jamu di Indonesia. Daya meningkatkan kineja merupakan keharusan bagi industri jamu, sementara diikuti dengan pemanfaatan teknik manajemen modem dalam berbagai fungsional. Walaupun industri jamu sudah ada di Indonesia sejak awal abad ke-20, baru pada awal dekade 70-an industri jamu berkembang dengan pesat. Perkembangan industri jamu harus diakui disebabkan oleh perekonomian lndonesia yang membaik sejak Orde B m , industri jamu menjadi modem dengan pesat. Jamu yang tadinya serbuk

dikemas dulus K G I I kecil, ~ ~ ~kemudian benlur.nya U G ~ C I U Ilaglm~: pil, kapsul dan krim. Industri jamu kemasan menjadi industri milyaran rupiah dengan jumlah lebih dari 300 pabrik. Bahkan tidak sedikit industri jamu yang mulai mengekspor ke luar negeri, seperti: Malaysia, Singapore, Jerman dan BelarA-

Jamu. xbagai salah satu elemen dalam budaya Indonesia, telah menjadi simbol identitas bangsa Indonesia. Sementara bentuk dan kemasan jamu sudah semakin modem, pada umumnya perusahaan jamu di Indonesia menekankan kepada "warisan nenek moyang". Ada

10

1996

Warta Tumbuhan Obat Indonesia

juga, perusahaan jamu yang menggarisbawahi falsafah tradisional Jawa d m dan bahkan ada vane menekaitkan iamu sebaeai "rahasia kceraton Jaw:I Tengah". Pada hakekatnya, setiap suku bangsa di 1Indonesia a~empunyai ash. Birnyak dari Iesep-resep Itradisional ( tradisi dalanI tanaman ~ n)bat n.;n L l . . n n nn R.hGnn t,.,,, bukti tertulis dalam bentuk man uskrip lami1, keluarga raja atau keraton san gat besar minatnya dalam tanamrun obat. Lebih dari itu, i~ d aunsur rn~istikyang dikaitkan dengan pemaltaian tanaman obat. . menuniukkan kaitan tanaman ooar aengan Walaup~ In seiaran k:erajam palda "tempo doeloe", berkembangrlya industri jamu di Indonesia salngat kecil kilitannya dengan hal tentebut. Sejarah "industri ia dimulai F~ a d aawal at)ad ke-20, yang mulaj amu modenI di Indones . . .lnausrn . . .Kecu,, . aan . "~naustri .. mula masln oeroenruK rumah". Beberapa perusahaan tersebut a]ntara lain: P'T. Tawon Jaya (1912, I'vlakassar); Jm u Jago ( I 1918, Wonogin); Jamu IPusaka Ambon (1928, J a ~ a n a ) ;~ a m ulboe (Slurabaya); ()bat Karuhun (Yogyakarta) dan Simona (1933, Semaran1 9 . 2. Perkembangan industri semalkin pesat de:ngan berbal:ai bentuk "modem": kapsul, pi1 dan krim. Akan tetapi, jamu ya ng paling populer tetap berbentuk serbuk, dengan bent standar 7 g dan dikemas dalam bungkus kecil. Jamu serbuk inilah yang dicampur clengan air hangat, banyak disukai masyarakat. Baru-baru ini bahkan sudah ada industri yang memproduksi STMJ (susu, tellur, madu, ji h e ) y a w instant. tinggal diseduh dengan air hangat.

,. .,,.,

,,,.,..

,.,,

.

..

.

..~.--,..~

memprioritaskan kosmetika tradisional; jamu wanita; jamu lelaki clan jamu untuk kesehatan. Upaya industri jamu untuk meredefinisikan kegiatan mereka sebagai industri modem erat hubungannya dengan keinginan untuk meredefinisikan jamu sebagai pruduk modem. Namun, tejadi semacam paradoks, karena di satu pihak jamu pil, kapsul dan tablet adalah produk modem, di lain pihak, mereka harus mampu meyakinkan konslumen b a hra~ produk ini tetap Inemiliki n ilai tradisional. Sejalan dengiu1 upaya mc pengaturan terhadap ja mu nmm-. . , k fito-terapi. Pengaturan mulai dilakukan b.,nl-h semacam ini, agaknya merupakan keinginan lama. namun baru belakangan ini dapat direalisasikan dengan bertahap, perlahan, namun jelas sasarannya. Apakah kegiatan ini akan makin lancar di masa mendatang, masih merupakan pertanyaan yang sulit dijawab mengingat berbagai kendala yang cukup signifikam. Kelihat:nnnya upaya memperoleh "semacam" legitimasi dari Idunia medi!r tidak mudah karena adanya kendala tadi. Yang palin~g mudah (iilakukan oleh industri jamu adalah memperbaiki kualiti, A"" h;&,enis dari jamu yang diproduksi. Kendala untuk melakulkan "klaim' ' bahwa jamu adalah obat, ternyata sulit jika untuk tujuam ekspor kc: negara Barat, oleh k a n a itu pihak industri jamu mengk.lasifikasik;uR jamu sebagai dapat dihindari "makanan sehat". Dengan "positioning" .,.;es pemeriksaan kualitas obat modem. Kegiatan ekspor jamu temyata cukup berhasil, diperkirakan ekspor jamu dapat mencapai tidak kurang dari US$ 10 juta.

.,.., .....,. ..

.,, ..,.

3.2

...,.

PERKEMBIANGAN dustri jamu , dengan t)asis Undang-undang Berkemt No. 7 tahun 1963 tentang Farmasi mulai t e m a sejak awal 1970. Dengan adarlya basis legal ini, industri jamu menerima "kekuatan". Dalam hal i ni, peranan industri jamu diakui keberadaannya seperti industri fam~asimodem . Namun, dengan adanya peraturan ini, juga merupakan ..,,.,,,k.'. ,";;ha" h,agi industri jamu untuk menerima peraturan pemerintah. Popularitas jamu yang semakin baik di mata masyarakat dapat diperkirakan dikarenakan oleh: (1) manfaat jamu dan (2) upaya promosi yang tepat. Akan halnya manfaat jamu, di tengah gegap gempitanya promosi obat modem, oleh sebagian besar bangsa Indonesia dianggap lebih tepat untuk penyakit tertentu seperti sariawan, pegal linu dan diet. Rahkan, untuk mempercantik din dan kesegaran tubuh, jamu dipemya lebih manjur. Selain itu, masyarakat yakin. bahwa jamu tidak memiliki efek-samping. Sementara itu, promosi besar-besaran dirasakan manfaatnya dalam.strategi "push-pull". akan tetapi iklan saja tidak cukup, karena temyata peranan para penjual jamu baik distributor d m agen justru sangat penting. Hal ini dapat dijelaskan, karena mereka terutama agen penjual jamu dan warung penjaja jamu sangat dekat dengan konsumen. Remajuan dan pertumbuhan yang dialami oleh industri jamu, bagaimanapun tidak dapat dilepaskan dari kestabilan politik dan pertumbuhan ekonomi yang pesat selama Orde Baru. Hal lain, dengan ditekannya inflasi dari "triple digit" sebelum 1966, menjadi "single digit" dalam waktu yang singkat merupakan suatu "anugerah bagi industri farmilsi umumnya dan industri jamu khususnya. Iklim investasi yang kondusif memang me,rupakan prasyarat bagi bertambahnya investasi, termasuk industri jamu. Produksi jamu dalam bentuk baru, pil, kapsul dan tablet, merupakan wujud keberhasilan industri jamu melakukan modemisasi. Jelas bahwa dengan demikian industri jamu membutuhkan mesin dan alat-alat canggih serta teknik manufaktur yang modem pula. Bahkan, sulit dihindari adanya semacam obsesi dari industri jamu terhadapan "kehebatan" teknologi yang dimiliki industri farmasi modem. Modernisasi semacam ini telah membawa praktek manajemen modern, diversifikasi produk, bahkan spesialisasi produk. Untuk menunjang ini, teknik promosi sebagaimana halnya teknik pemasaran modem lainnya, diadopsi oleh industri jamu. Persaingan antar industri ~ a m umemaksa mereka memiliki spesialisasi. Hal ini terlihat dengan adanya perusahaan yang

Industri jamu cli Indonesia tetap mem]punyai pros] uk. . .. . . . .. . . . Namun, perlu dlcatat bahwa walaupun JUmlah ~ndustnobat tradlslond (dapat diasumsikan semuanya adalah industri jamu) setelah PerMenKes No. 246/MenKesN/1990, cenderung meninghat, sebagian besar adalah industri kecil (6). Atas dasar keadaan ini, sulit untuk memperoleh data penjualan jamu di Indonesia. Altematif jalan keluar untuk mengetahui pasar jamu di Indonesia adalah dengan melihat kepada data produksi dari Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan. Nilai produksi pada 1993 adalah Rp. 104.1 M, lebih kecil dari nilai produksi pada 1992 yang mencatat Rp. 124.2 M. Mengingat adanya peluang untuk faktor kesalahan, diperkirakan data produksi ini lebih kecil dari kekuatan yang sebenamya. Salah satu argumentasi untuk ini, nilai produksi agaknya mempunyai hubungan dengan harga jual pabrik ke distributor, jadi bukan harga ke pasar. Sementara itu, sarana produksi industri jamu sebagian besar berada di.DK1 Jakarta dan Jawa Tengah. Berbeda dengan ini, industri jamu yang kecil, penyebarannya cukup merata. Data ini cukup berbicara mengingat kedudukan DKI Jakarta sebagai pusat ekonomi dan Jawa Tengah sebagai "asal muasalnya" jamu. Yang menggembirakan juga bahwa sarana distribusi bagus penyebarannya, terutama toko. Besamya pasar jamu dapat juga diperkirakan dari belanja iklan. Biasanya belanja iklan antara 10% dari nilai penjualan. Menurut catatan PPPI (Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia), belanja iklan untuk tahun 1993 mencapai Rp. 14 M. Dengan demikian. nilai pasar jamu diperkirakan Rp. 140 M. Menyongsong tahun 2000, sulit diperkirakan pasar jamu akan menurun, mengingat loyalitas konsumen pada jamu, apalagi pada merek tertentu. Faktor lain yang menunjang perkembang industri jamu adalah pertumbuhan ekonomi kita yang sampai dengan tahun 2000 diperkirakan akan berkisar antara 6%-8%. Sementara itu pendapatan perkapita akan meningkat terus, ditambah dengan jumlah penduduk tetap merupakan pasar yang menafiL-

1. Afdhal. Ahmqd Fuad. The Rim ot m e Modern Jamu Industry in Indonssk A Preliminary Overview dalarn The Contert ol Medicines in Developing Countries". V.d. Geest, Sjaak den Whyta. Susan Reynolds (editor). DordrechVsostonjLondon:Kluwer Academic Publisher. 1988: 149-172.